Jumat, 26 Februari 2016

PROLOG


Alhamdulillah.
Bagaimana perasaanmu saat pertama kali kau mengetahui siapa yang akan menjadi ibumu, apa kau masih ingat?.
Bagaimana perasaanmu?.
Aku tahu, sepertinya memorimu tak sanggup memutar kembali ke saat itu.
Kau beruntung, aku disini ingin berbagi perasaan yang sedang kualami saat ini. Perasaan ini tidak dapat kutuliskan dengan kata-kata karena aku belum belajar menulis, dan perasaan ini pun tidak dapat kugambarkan dengan lukisan karena aku tak tahu bagaimana cara menggambar. Perasaan ini tentu pernah kau alami, karena kau mengalami kejadian sama seperti yang sedang aku alami saat ini. Perasaan yang tidak akan pernah kau bayangkan selama hidupmu. Kau hanya lupa, lupa akan perasaan pada saat kejadiaan yang sesungguhnya pernah kau alami, seperti yang sedang aku alami saat ini. Jika kau dapat melihat kehidupan ibumu sebelum kau terlahir di dunia, tentu kau tak akan pernah sanggup melukai hati ibumu bahkan untuk menunjukkan wajah murungmu.
Sekali lagi, kau beruntung, aku akan menceritakan sebuah kisah untukmu disini jika kau bersedia untuk duduk sejenak membacanya. Aku adalah satu jiwa, begitu juga kalian yang memiliki satu jiwa –tidak lebih-. Aku adalah satu jiwa yang sedang dipersiapkan oleh Sang Penggenggam Jiwa ini untuk pergi ke suatu kota, aku tak tahu dimana itu. Tapi kata temanku, kota itu sangat indah dan menantang. Karena itu, Dia Yang Mulia memberiku kesempatan untuk sementara berada disini dan mencari tahu banyak hal.

--- ooo ---

Pada suatu tengah malam, di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter, seorang gadis kecil sedang gelisah. Dia sudah berusaha memejamkan mata, namun tetap saja tidak dapat memungkiri bahwa otaknya sedang berpikir keras. Pikirannya kembali mengingat apa yang diucapkan oleh sang ayah kepada kakaknya di ruang tamu. Saat itu dia mendengar ayahnya mengatakan -kenapa kamu menangis nak?- kepada kakaknya, namun ia sudah terlanjur melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar dan tidak mungkin  kembali lagi keluar. Karena sesaat sebelumnya, ia telah diminta sang ayah untuk segera masuk kamar dan tidur. Bagaimana jadinya jika ia tiba-tiba keluar kamar, tentu kakak dan ayahnya tidak jadi berbincang di ruang tamu. Gadis kecil itu berharap setelah menutup pintu kamar tetap dapat mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya, meskipun samar. Namun ternyata ia tak dapat mendengar apapun suara dari luar. Hanya satu hal yang membuatnya sangat ingin tahu terhadap isi percakapan itu, karena ia belum pernah sekalipun melihat kakaknya menangis.
Di tengah malam itu, si gadis kecil berusaha keras mengingat seluruh kejadian di hari-hari sebelumnya. Mungkin ada suatu hal yang menyebabkan kakaknya menangis. Semakin ia mengingatnya, semakin tidak menemukan jawabannya. Ia sampai berpikir apakah penyebab kakaknya menangis itu sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikiran gadis berusia sepuluh tahun.
Akhirnya, gadis kecil itu tertidur pulas setelah lewat tengah malam. Setelah pikirannya penuh dengan rasa penasaran. Hingga ia bangun terlambat 45 menit setelah adzan shubuh. Segera ia beranjak bangun untuk berwudhu dan sholat shubuh sebelum orangtuanya menyadari bahwa ia bangun kesiangan.
Tiba-tiba ada yang menghentikan langkahnya setelah keluar dari kamar mandi menuju musholla kecil yang ada di belakang rumah. Ia melihat sosok gadis cantik mengenakan baju terusan panjang berwarna biru laut dengan jilbab warna kuning lembut, dua warna berbeda yang sangat serasi membalut tubuh dan wajah cantik sosok itu.
Pikirannya kembali bekerja, mengingat bahwa tidak pernah ada anggota keluarganya yang memiliki pakaian seperti itu. Mulai dari ibunya, kakaknya ataupun ia sendiri tidak pernah menggunakan pakaian seperti itu. Pikirannya kembali tersadarkan setelah sosok gadis itu berbalik dan menatap tajam ke arahnya, lalu sedetik kemudian ia sadar bahwa gadis itu tidak cantik lagi bahkan ia langsung sadar bahwa wajah itu tidak lain dan tidak bukan adalah wajah galak kakaknya yang sering ia lihat.
“Sudah bangun jam segini kok malah melamun, cepat segera sholat sebelum Allah mengambil waktu shubuhmu”. Ucapan kakaknya selalu singkat, padat, jelas dan sedikit dengan nada galak yang selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik menghindar daripada mendapat omelan panjang. Seusai sholat shubuh disertai dengan doa kilat, tanpa pikir panjang ia segera menuju kamar kakaknya untuk menanyakan maksud kakaknya mengenakan pakaian seperti itu di waktu yang masih terbilang sangat pagi ini. Namun ia tidak dapat menemukan kakaknya di kamarnya.
Ia melihat kakaknya sedang duduk manis di ruang tamu, lalu terdengar suara ayahnya sedang berbicara kepada kakaknya. “Insya Allah Abi ikhlas jika itu sudah keputusanmu, Abi bangga atas keberanianmu mengambil keputusan itu.
Suasana hening, ia tidak dapat melihat lagi kakaknya karena tempatnya berdiri mendengar perbincangan itu tepat di belakang lemari yang berada di belakang kursi kakaknya. Ia hanya mendengar kakaknya berpamitan lalu pergi keluar rumah.

--- ooo ---

Gadis kecil itu bernama Cyra, aku tidak tahu nama lengkapnya. Kakak yang pada malam harinya menangis dan pagi harinya bergegas pergi keluar rumah, memiliki nama yang cantik secantik parasnya, Aland, untuk kali ini aku benar-benar lupa siapa nama lengkapnya.
Aland adalah gadis berusia 22 tahun, anak pertama dari ayah dan ibunya. Adik satu-satunya yang sering ia marahi namun sejatinya itu tanda sayang seorang kakak kepada adiknya, berusia 10 tahun. Aland terlahir di Kota Garut, tiga belas bulan setelah pernikahan ayahnya dengan seorang gadis sunda yang terpaut sepuluh tahun lebih muda. Sembilan tahun setelah ayahnya menyelesaikan studi masternya di Inggris, saat ini keluarga kecil itu menetap di Indonesia, tepatnya di Kota Gresik.
Jika Cyra adalah seorang gadis belia yang tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada kakaknya, tentu aku disini lebih tidak mengerti. Namun, ada sirat kebaikan yang aku tangkap dari cerita di atas. Aku juga tak tahu apakah sirat kebaikan itu dari pakaian terusan kakaknya yang berwarna biru, atau kepergiannya meninggalkan rumah selepas shubuh, atau bahkan karena dia menangis. Tetapi aku harus jujur, kenyataan sang kakak menangis membuatku ikut menangis, apapun sebabnya yang aku tahu menangis itu muncul karena ada getaran dari hati, sedangkan aku merasa seluruh ragaku adalah hati. Jadi bisa kau bayangkan bagaimana ragaku bergetar hebat melihat sebuah tangisan, khususnya tangisan sang kakak, Aland.

Aku ingin Aland baik-baik saja, dan dia memang harus baik-baik saja disana.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. @Zaki, komentarnya yg oke donk zak..
      Misal : kebanyakan koma, kata ganti, dan apalah yg lain.. ;)

      Hapus