Alhamdulillah.
Bagaimana perasaanmu saat pertama kali kau
mengetahui siapa yang akan menjadi ibumu, apa kau masih ingat?.
Bagaimana
perasaanmu?.
Aku tahu,
sepertinya memorimu tak sanggup memutar kembali ke saat itu.
Kau beruntung, aku
disini ingin berbagi perasaan yang sedang kualami saat ini. Perasaan ini tidak
dapat kutuliskan dengan kata-kata karena aku belum belajar menulis, dan perasaan
ini pun tidak dapat kugambarkan dengan lukisan karena aku tak tahu bagaimana cara
menggambar. Perasaan ini tentu pernah kau alami, karena kau mengalami kejadian sama seperti yang sedang aku alami saat
ini. Perasaan yang tidak akan pernah kau bayangkan
selama hidupmu.
Kau hanya lupa, lupa akan perasaan pada
saat kejadiaan yang sesungguhnya pernah kau alami, seperti yang sedang aku alami saat ini.
Jika kau dapat melihat
kehidupan ibumu sebelum kau terlahir di dunia, tentu kau tak akan pernah sanggup melukai hati ibumu
bahkan untuk menunjukkan wajah murungmu.
Sekali lagi, kau
beruntung, aku akan menceritakan sebuah kisah untukmu disini jika kau bersedia untuk duduk sejenak
membacanya. Aku adalah satu jiwa,
begitu juga kalian yang memiliki satu jiwa –tidak lebih-. Aku adalah satu jiwa
yang sedang dipersiapkan
oleh Sang Penggenggam Jiwa
ini untuk pergi ke suatu kota,
aku tak tahu dimana itu.
Tapi kata temanku, kota itu sangat indah dan menantang. Karena itu,
Dia Yang Mulia memberiku kesempatan untuk sementara berada disini dan mencari
tahu banyak hal.
---
ooo ---
Pada suatu
tengah malam,
di sebuah ruangan
berukuran tiga kali empat meter,
seorang gadis kecil sedang gelisah.
Dia sudah berusaha
memejamkan mata,
namun tetap saja tidak dapat
memungkiri bahwa otaknya
sedang berpikir keras. Pikirannya kembali mengingat apa yang diucapkan oleh sang ayah kepada kakaknya di
ruang tamu. Saat
itu dia mendengar ayahnya mengatakan -kenapa kamu menangis
nak?- kepada kakaknya, namun ia
sudah terlanjur melangkahkan
kaki masuk ke
dalam kamar dan tidak mungkin kembali lagi
keluar.
Karena sesaat sebelumnya, ia telah diminta sang ayah untuk segera masuk kamar
dan tidur. Bagaimana
jadinya jika ia tiba-tiba keluar kamar, tentu kakak dan ayahnya tidak jadi
berbincang di ruang tamu. Gadis kecil itu
berharap setelah menutup pintu kamar tetap
dapat mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya, meskipun samar. Namun ternyata ia tak dapat
mendengar apapun suara dari luar. Hanya satu hal yang
membuatnya sangat ingin tahu terhadap isi
percakapan itu, karena ia
belum pernah sekalipun melihat kakaknya menangis.
Di tengah
malam itu,
si gadis kecil berusaha keras
mengingat seluruh kejadian di hari-hari sebelumnya.
Mungkin ada suatu hal yang
menyebabkan kakaknya menangis. Semakin ia mengingatnya, semakin tidak
menemukan jawabannya.
Ia sampai berpikir
apakah penyebab kakaknya menangis itu sesuatu yang tidak pernah ada dalam
pikiran gadis berusia sepuluh
tahun.
Akhirnya, gadis kecil itu tertidur pulas setelah lewat tengah malam. Setelah pikirannya penuh
dengan rasa penasaran.
Hingga ia bangun
terlambat 45 menit setelah adzan shubuh. Segera ia beranjak bangun untuk berwudhu
dan sholat shubuh sebelum orangtuanya menyadari bahwa ia bangun kesiangan.
Tiba-tiba
ada yang menghentikan langkahnya setelah keluar dari kamar mandi menuju
musholla kecil yang ada di belakang rumah.
Ia melihat sosok gadis
cantik mengenakan baju terusan panjang berwarna biru laut dengan jilbab warna
kuning lembut, dua warna berbeda yang sangat serasi membalut tubuh dan wajah
cantik sosok itu.
Pikirannya
kembali bekerja,
mengingat bahwa tidak pernah ada anggota keluarganya yang memiliki pakaian
seperti itu.
Mulai dari ibunya,
kakaknya ataupun ia sendiri tidak pernah menggunakan pakaian seperti itu. Pikirannya
kembali tersadarkan setelah sosok gadis
itu berbalik dan menatap tajam ke arahnya,
lalu sedetik kemudian ia
sadar bahwa gadis itu tidak cantik lagi bahkan ia langsung sadar bahwa wajah
itu tidak lain dan tidak bukan adalah wajah galak kakaknya yang sering ia
lihat.
“Sudah bangun jam
segini kok malah
melamun, cepat segera
sholat sebelum Allah mengambil waktu shubuhmu”.
Ucapan kakaknya selalu
singkat, padat, jelas dan sedikit dengan nada galak yang selalu berhasil
membuatnya merasa lebih baik
menghindar daripada mendapat omelan panjang. Seusai sholat shubuh disertai dengan doa kilat,
tanpa pikir panjang ia segera menuju kamar kakaknya untuk menanyakan maksud
kakaknya mengenakan pakaian seperti itu di waktu yang masih terbilang sangat
pagi ini. Namun ia tidak dapat
menemukan kakaknya di kamarnya.
Ia melihat
kakaknya sedang duduk manis di ruang tamu,
lalu terdengar suara ayahnya
sedang berbicara kepada kakaknya. “Insya Allah Abi ikhlas jika itu sudah
keputusanmu, Abi bangga atas keberanianmu mengambil keputusan itu.”
Suasana
hening, ia tidak dapat
melihat lagi kakaknya karena tempatnya berdiri mendengar perbincangan itu tepat
di belakang lemari yang berada di belakang kursi kakaknya. Ia hanya mendengar kakaknya berpamitan lalu pergi keluar
rumah.
---
ooo ---
Gadis kecil itu bernama
Cyra, aku tidak tahu nama lengkapnya. Kakak yang pada malam harinya menangis
dan pagi harinya bergegas pergi keluar
rumah, memiliki nama yang cantik secantik parasnya, Aland,
untuk kali ini aku benar-benar lupa siapa nama lengkapnya.
Aland adalah gadis
berusia 22 tahun, anak pertama dari ayah
dan ibunya.
Adik satu-satunya yang
sering ia marahi namun sejatinya itu tanda sayang seorang kakak kepada adiknya, berusia 10 tahun. Aland terlahir
di Kota Garut, tiga belas
bulan setelah pernikahan ayahnya dengan seorang gadis sunda yang terpaut sepuluh tahun lebih muda.
Sembilan tahun setelah ayahnya menyelesaikan studi masternya di Inggris, saat ini keluarga
kecil itu menetap di Indonesia, tepatnya di Kota Gresik.
Jika Cyra adalah seorang gadis
belia yang tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada kakaknya, tentu
aku disini lebih tidak mengerti. Namun, ada sirat kebaikan yang aku tangkap
dari cerita di atas. Aku juga tak tahu apakah sirat kebaikan itu dari pakaian
terusan kakaknya yang berwarna biru, atau kepergiannya meninggalkan rumah selepas
shubuh, atau bahkan karena dia menangis. Tetapi aku harus jujur, kenyataan sang
kakak menangis membuatku ikut menangis, apapun sebabnya yang aku tahu menangis
itu muncul karena ada getaran dari hati, sedangkan aku merasa seluruh ragaku
adalah hati. Jadi bisa kau bayangkan bagaimana ragaku bergetar hebat melihat
sebuah tangisan, khususnya tangisan sang kakak, Aland.
Aku ingin Aland
baik-baik saja, dan dia memang harus baik-baik saja disana.
Keren mbak....
BalasHapus@Zaki, komentarnya yg oke donk zak..
HapusMisal : kebanyakan koma, kata ganti, dan apalah yg lain.. ;)