“Dek Maru, lihat sini ada yang lucu!!”.
Maru yang merasa dipanggil segera berada
di samping kakaknya. Kakak beradik itu lantas tertawa kecil dengan pandangan
mata tetap ke arah layar tablet.
Mada, si kakak, jemarinya sudah lihai
mengoperasikan tablet milik Ibu. Usianya baru menginjak sembilan tahun, namun
matanya sudah berkacamata minus tiga. Mada sedang menunjukkan sesuatu kepada
adiknya, sesuatu yang membuat mereka tiba-tiba tertawa namun tertahan setelah
pandangan mereka menuju tempatku duduk.
Aku hanya memperhatikan tingkah laku
mereka berdua dari sudut kamar. Sebenarnya aku cukup penasaran, tapi aku ingat
bahan bacaanku masih banyak untuk ulangan besok di sekolah.
Mada dan Maru masih berbisik-bisik
sambil menahan tawa. Jelas sekali mereka sedang membicarakanku. Aku segera
membatasi halaman yang sedang kubaca.
Aku berniat mengejutkan kedua adikku itu
dari belakang mereka. Namun sebelum terjadi, mataku menangkap foto-foto seorang
anak kecil yang muncul bergantian di layar tablet itu. Mataku ikut mengamati
foto-foto itu. Seorang anak kecil, berusia sekitar empat tahun, bergaya lucu
dengan selembar kain yang menutupi rambutnya. Kain bercorak bunga-bunga besar
itu begitu rapi terpasang di kepalanya, dengan hiasan bros besar yang menempel
di bagian bawah leher.
“Yee Mba Mira ikut-ikutan lihat,
bukannya belajar!”. Suara Mada jelas membuatku sadar kembali. Kenapa jadi aku
yang dikagetin, batinku.
“Foto siapa tadi?, kok Mba belum pernah
lihat,” Aku mencoba mengambil tablet dari genggaman Mada.
Mada langsung memberikan tablet itu
kepadaku. Dia memang adik yang baik, tidak pernah melawan kata-kataku. Aku
kembali mengamati foto-foto dalam tablet itu.
***
“Eyaaang, ambilin jilbab eyang itu lho
yang paling atas, yang warna kuning!”. Eyang berusaha mencari barang yang
dicari cucunya.
“Yang mana Kak?, Di lemari ini tidak ada
jilbab,” Eyang cukup kebingungan.
“Itu lho, yang paling atas warna
kuuuning!” Si cucu jelas sudah tidak sabar dengan permintaannya.
“Owalah, ini dek?”
“Iya iya,” Si cucu berseru riang.
Eyang mengambil sesuatu yang berwarna
kuning. Ternyata yang dimaksud si cucu adalah taplak meja. Pantas, Eyang
kebingungan.
Si cucu segera beraksi di depan meja
rias milik Eyang. Kotak berisi peniti dan bros sudah ia siapkan. Ia mulai
dengan menyisir rambut pendeknya, kemudian memakai bedak. Lalu ia mencari-cari
sesuatu di atas meja, kali ini ia tidak mengadu ke Eyang, ia berusaha mencari
sendiri. Akhirnya, sesuatu yang ia cari ditemukan di dalam rak bawah meja. Ia
segera membuka dan memoleskannya di bibir kecilnya.
Taplak meja itu ia bentangkan di atas
ranjang, lalu dilipat menjadi persegi panjang. Tangannya bergerak kesana
kemari, ke atas kepala, ke belakang bahu, dan berakhir di depan dadanya. Dan
taplak meja itu akhirnya sudah terpasang rapi menutupi rambutnya, layaknya
jilbab.
“Eyang, lihat aku!, aku cantik ga?” Si
cucu sekarang sudah bergaya di ruang tamu.
Sang ibu, yang sejak tadi sibuk
menggendong bayi, pun perhatiannya teralih. Raut wajahnya bahagia dihiasi
dengan senyuman kecil, dari mulutnya tidak keluar satu kata pun. Namun jauh di
dalam lubuk hatinya, ia sedang mengucap doa, doa yang sangat indah untuk anak
yang sedang bergaya dengan taplak meja itu.
“Kak Mira, Eyang foto ya. Di taman
samping saja yuk, supaya bagus ada latarnya.” Eyang segera mengambil kamera,
diikuti si cucu yang tangannya terus sibuk merapikan ‘jilbab’ itu.
Tak lama Eyang dan si cucu berada di
taman samping, terdengar teriakan bersambung dengan tangisan kencang. Jelas
sekali tangisan itu berasal dari mulut kecil si cucu. Tapi apa yang membuatnya
tiba-tiba menangis tak terkonrol, tak ada yang tahu.
Si cucu tidak mau didekati siapapun
bahkan oleh ibunya. Ia kembali duduk di depan meja rias, menangis kencang
dengan teriakan yang tidak jelas.
Eyang kembali dibuat kebingungan oleh
kelakuan si cucu.
“Perasaan eyang, tadi ga ada apa-apa
setelah sesi foto,” Eyang masih menatap
si cucu dari pintu kamar.
Senyuman kecil di wajah sang Ibu telah
berubah bentuk, berganti dengan mata yang tajam dan mulut yang meluncurkan
rentetan kata-kata. Namun tetap, si anak masih belum bisa ditenangkan dalam
waktu seperempat jam. Eyang sudah memundurkan langkah, berganti menggendong
bayi, lalu menuju ke taman samping.
Sang Ibu memeluk si anak yang masih
sesenggukan menangis. Dalam peluk erat itu, air mata Ibu mengalir deras. Ia
mengutuki kata-kata yang baru saja ia ucapkan, dengan dalih untuk menghentikan
tangis si anak, namun yang terjadi si anak ketakutan.
Hanya kalimat istighar dan maaf yang
terus berulang Ibu ucapkan. Tangisan si anak sudah berhenti, wajahnya berubah
kebingungan, dalam pelukan hangat Ibu.
***
Aku berusaha keras menggali kekuatan memoriku.
Itu baru terjadi sepuluh tahun yang lalu, aku tentu bisa mengingatnya, batinku.
Cerita Ibu benar-benar menggantung dan membuatku penasaran. Giliran Ibu
sekarang yang serius mengamati foto-foto itu.
“Ayolah Bu, ceritanya diselesaikan!,
kenapa waktu itu aku tiba-tiba menangis?” Aku terus merayu Ibu. Semakin aku
merayu, Ibu justru semakin senang. Sekarang Ibu sudah kembali dengan pekerjaan
rajutannya, jelas tidak peduli dengan rasa penasaranku.
Mada, sang penemu foto purba itu hanya
terdiam menyaksikan perbincangan Ibu denganku tadi. Ia mungin tak menyangka
foto purba yang ditemukannya memunculkan reaksi yang menggemparkan ketenangan
malam ini di rumah.
“Stop. Jangan sentuh tablet itu. Malam
ini, tablet akan menginap di kamar Mba. Ok.”
Mada kaget, merasa kecolongan karena sudah
berusaha mengendap-endap untuk mengambil tablet yang tadi diletakkan Ibu di
lantai.
“Masa Mba Mira mau main tablet, kan
besok mau ulangan,” Mada jelas merayu. Barang kesayangannya akan berpisah satu
malam dengannya.
“Keputusan tidak dapat diganggu gugat.
Mba juga pinjam satu malam saja. Maaf ya adikku, mala mini melototin buku saja,
biar sesekali jadi kutu buku bukan kutu tablet!” Aku tertawa melihat adikku
bermuka kecut. Kemudian aku masuk kamar dan menutup rapat pintu, dengan tablet
dalam genggaman tangan, dan tanpa protes dari Mada lagi.
Sebelum kembali melahap bahan ulangan
besok, mataku kembali mengamati foto purba itu. Semua ada sepuluh foto yang
diambil Eyang di taman samping, dengan berbagai macam pose dan tentu senyum
manis nan imut yang menghias wajah mungilku.
Tiba-tiba layar tablet meredup. Ada
peringatan bahwa baterai sudah hampir habis. Aduh malas sekali harus keluar
kamar untuk minta charger pada si kutu tablet itu, pikirku. Sepuluh detik
kemudian layar tablet sudah benar-benar mati, tak bisa kunyalakan kembali.
Aku hanya menangkap bayangan wajahku di
layar gelap itu. Wajahku yang masih dibalut dengan jilbab, bahkan sebelum aku
tidur. Pandangan mataku kosong menatap layar karena pikiranku sudah menerawang
entah kemana.
Sejak kapan aku kecanduan memakai
jilbab, tiba-tiba pertanyaan itu terlintas. Aku tak pernah menyadari betul
kapan aku mulai merasa diatur dengan kewajiban berjilbab ini. Sejak duduk di
bangku sekolah dasar, aku sudah memakai jilbab, bahkan di taman kanak-kanak aku
juga selalu memakai jilbab, seingatku. Keluar rumah, aku langsung memakai
jilbab. Ketika ada tamu, aku langsung memakai jilbab. Ketika di rumah Eyang pun
aku juga tidak pernah melepas jilbabku, hanya ketika di kamar mandi saja.
Jilbab selalu aku letakkan di gantungan
belakang pintu. Kita harus mudah dan cepat memakai jilbab, begitu kata Ibu. Ibu
selalu mengingatkan untuk mengganti jilbab yang sehari-hari kita pakai maksimal
dua hari sekali. Ibu juga mengatakan agar membeli jilbab yang nyaman untuk
dipakai selama berjam-jam. Dan Ibu selalu berpesan untuk memakai jilbab yang
panjang agar menutupi dada kita.
Aku memejamkan mataku. Ibu tidak
benar-benar secerewet itu berbicara tentang jilbab. Aku yang menyimpulkan itu
semua, karena aku melihatnya, aku bersamanya setiap hari.
Aku tak perlu bersusah payah untuk
berjilbab. Aku tak perlu berguru mengaji kemanapun untuk memutuskan berjilbab.
Aku tak merasa berat dengan kewajiban berjilbab yang tercantum dalam kitab
suci. Karena aku melihat Ibu. Ya, karena aku melihat Ibu.
Tak terasa ada aliran air mata dari
celah mata yang terpejam. Hidungku tersumbat. Namun bibirku tersenyum.
Terimakasih Ibu. Ibu adalah teladan yang membangun landasan iman di hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar