Rabu, 24 Februari 2016

Taplak Meja Milik Eyang


“Dek Maru, lihat sini ada yang lucu!!”.
Maru yang merasa dipanggil segera berada di samping kakaknya. Kakak beradik itu lantas tertawa kecil dengan pandangan mata tetap ke arah layar tablet.
Mada, si kakak, jemarinya sudah lihai mengoperasikan tablet milik Ibu. Usianya baru menginjak sembilan tahun, namun matanya sudah berkacamata minus tiga. Mada sedang menunjukkan sesuatu kepada adiknya, sesuatu yang membuat mereka tiba-tiba tertawa namun tertahan setelah pandangan mereka menuju tempatku duduk.
Aku hanya memperhatikan tingkah laku mereka berdua dari sudut kamar. Sebenarnya aku cukup penasaran, tapi aku ingat bahan bacaanku masih banyak untuk ulangan besok di sekolah.
Mada dan Maru masih berbisik-bisik sambil menahan tawa. Jelas sekali mereka sedang membicarakanku. Aku segera membatasi halaman yang sedang kubaca.
Aku berniat mengejutkan kedua adikku itu dari belakang mereka. Namun sebelum terjadi, mataku menangkap foto-foto seorang anak kecil yang muncul bergantian di layar tablet itu. Mataku ikut mengamati foto-foto itu. Seorang anak kecil, berusia sekitar empat tahun, bergaya lucu dengan selembar kain yang menutupi rambutnya. Kain bercorak bunga-bunga besar itu begitu rapi terpasang di kepalanya, dengan hiasan bros besar yang menempel di bagian bawah leher.
“Yee Mba Mira ikut-ikutan lihat, bukannya belajar!”. Suara Mada jelas membuatku sadar kembali. Kenapa jadi aku yang dikagetin, batinku.
“Foto siapa tadi?, kok Mba belum pernah lihat,” Aku mencoba mengambil tablet dari genggaman Mada.
Mada langsung memberikan tablet itu kepadaku. Dia memang adik yang baik, tidak pernah melawan kata-kataku. Aku kembali mengamati foto-foto dalam tablet itu.
***
“Eyaaang, ambilin jilbab eyang itu lho yang paling atas, yang warna kuning!”. Eyang berusaha mencari barang yang dicari cucunya.
“Yang mana Kak?, Di lemari ini tidak ada jilbab,” Eyang cukup kebingungan.
“Itu lho, yang paling atas warna kuuuning!” Si cucu jelas sudah tidak sabar dengan permintaannya.
“Owalah, ini dek?”
“Iya iya,” Si cucu berseru riang.
Eyang mengambil sesuatu yang berwarna kuning. Ternyata yang dimaksud si cucu adalah taplak meja. Pantas, Eyang kebingungan.
Si cucu segera beraksi di depan meja rias milik Eyang. Kotak berisi peniti dan bros sudah ia siapkan. Ia mulai dengan menyisir rambut pendeknya, kemudian memakai bedak. Lalu ia mencari-cari sesuatu di atas meja, kali ini ia tidak mengadu ke Eyang, ia berusaha mencari sendiri. Akhirnya, sesuatu yang ia cari ditemukan di dalam rak bawah meja. Ia segera membuka dan memoleskannya di bibir kecilnya.
Taplak meja itu ia bentangkan di atas ranjang, lalu dilipat menjadi persegi panjang. Tangannya bergerak kesana kemari, ke atas kepala, ke belakang bahu, dan berakhir di depan dadanya. Dan taplak meja itu akhirnya sudah terpasang rapi menutupi rambutnya, layaknya jilbab.
“Eyang, lihat aku!, aku cantik ga?” Si cucu sekarang sudah bergaya di ruang tamu.
Sang ibu, yang sejak tadi sibuk menggendong bayi, pun perhatiannya teralih. Raut wajahnya bahagia dihiasi dengan senyuman kecil, dari mulutnya tidak keluar satu kata pun. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia sedang mengucap doa, doa yang sangat indah untuk anak yang sedang bergaya dengan taplak meja itu.
“Kak Mira, Eyang foto ya. Di taman samping saja yuk, supaya bagus ada latarnya.” Eyang segera mengambil kamera, diikuti si cucu yang tangannya terus sibuk merapikan ‘jilbab’ itu.
Tak lama Eyang dan si cucu berada di taman samping, terdengar teriakan bersambung dengan tangisan kencang. Jelas sekali tangisan itu berasal dari mulut kecil si cucu. Tapi apa yang membuatnya tiba-tiba menangis tak terkonrol, tak ada yang tahu.
Si cucu tidak mau didekati siapapun bahkan oleh ibunya. Ia kembali duduk di depan meja rias, menangis kencang dengan teriakan yang tidak jelas.
Eyang kembali dibuat kebingungan oleh kelakuan si cucu.
“Perasaan eyang, tadi ga ada apa-apa setelah sesi foto,”  Eyang masih menatap si cucu dari pintu kamar.
Senyuman kecil di wajah sang Ibu telah berubah bentuk, berganti dengan mata yang tajam dan mulut yang meluncurkan rentetan kata-kata. Namun tetap, si anak masih belum bisa ditenangkan dalam waktu seperempat jam. Eyang sudah memundurkan langkah, berganti menggendong bayi, lalu menuju ke taman samping.
Sang Ibu memeluk si anak yang masih sesenggukan menangis. Dalam peluk erat itu, air mata Ibu mengalir deras. Ia mengutuki kata-kata yang baru saja ia ucapkan, dengan dalih untuk menghentikan tangis si anak, namun yang terjadi si anak ketakutan.
Hanya kalimat istighar dan maaf yang terus berulang Ibu ucapkan. Tangisan si anak sudah berhenti, wajahnya berubah kebingungan, dalam pelukan hangat Ibu.
***
 Aku berusaha keras menggali kekuatan memoriku. Itu baru terjadi sepuluh tahun yang lalu, aku tentu bisa mengingatnya, batinku. Cerita Ibu benar-benar menggantung dan membuatku penasaran. Giliran Ibu sekarang yang serius mengamati foto-foto itu.
“Ayolah Bu, ceritanya diselesaikan!, kenapa waktu itu aku tiba-tiba menangis?” Aku terus merayu Ibu. Semakin aku merayu, Ibu justru semakin senang. Sekarang Ibu sudah kembali dengan pekerjaan rajutannya, jelas tidak peduli dengan rasa penasaranku.
Mada, sang penemu foto purba itu hanya terdiam menyaksikan perbincangan Ibu denganku tadi. Ia mungin tak menyangka foto purba yang ditemukannya memunculkan reaksi yang menggemparkan ketenangan malam ini di rumah.
“Stop. Jangan sentuh tablet itu. Malam ini, tablet akan menginap di kamar Mba. Ok.”
Mada kaget, merasa kecolongan karena sudah berusaha mengendap-endap untuk mengambil tablet yang tadi diletakkan Ibu di lantai.
“Masa Mba Mira mau main tablet, kan besok mau ulangan,” Mada jelas merayu. Barang kesayangannya akan berpisah satu malam dengannya.
“Keputusan tidak dapat diganggu gugat. Mba juga pinjam satu malam saja. Maaf ya adikku, mala mini melototin buku saja, biar sesekali jadi kutu buku bukan kutu tablet!” Aku tertawa melihat adikku bermuka kecut. Kemudian aku masuk kamar dan menutup rapat pintu, dengan tablet dalam genggaman tangan, dan tanpa protes dari Mada lagi.
Sebelum kembali melahap bahan ulangan besok, mataku kembali mengamati foto purba itu. Semua ada sepuluh foto yang diambil Eyang di taman samping, dengan berbagai macam pose dan tentu senyum manis nan imut yang menghias wajah mungilku.
Tiba-tiba layar tablet meredup. Ada peringatan bahwa baterai sudah hampir habis. Aduh malas sekali harus keluar kamar untuk minta charger pada si kutu tablet itu, pikirku. Sepuluh detik kemudian layar tablet sudah benar-benar mati, tak bisa kunyalakan kembali.
Aku hanya menangkap bayangan wajahku di layar gelap itu. Wajahku yang masih dibalut dengan jilbab, bahkan sebelum aku tidur. Pandangan mataku kosong menatap layar karena pikiranku sudah menerawang entah kemana.
Sejak kapan aku kecanduan memakai jilbab, tiba-tiba pertanyaan itu terlintas. Aku tak pernah menyadari betul kapan aku mulai merasa diatur dengan kewajiban berjilbab ini. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, aku sudah memakai jilbab, bahkan di taman kanak-kanak aku juga selalu memakai jilbab, seingatku. Keluar rumah, aku langsung memakai jilbab. Ketika ada tamu, aku langsung memakai jilbab. Ketika di rumah Eyang pun aku juga tidak pernah melepas jilbabku, hanya ketika di kamar mandi saja.
Jilbab selalu aku letakkan di gantungan belakang pintu. Kita harus mudah dan cepat memakai jilbab, begitu kata Ibu. Ibu selalu mengingatkan untuk mengganti jilbab yang sehari-hari kita pakai maksimal dua hari sekali. Ibu juga mengatakan agar membeli jilbab yang nyaman untuk dipakai selama berjam-jam. Dan Ibu selalu berpesan untuk memakai jilbab yang panjang agar menutupi dada kita.
Aku memejamkan mataku. Ibu tidak benar-benar secerewet itu berbicara tentang jilbab. Aku yang menyimpulkan itu semua, karena aku melihatnya, aku bersamanya setiap hari.
Aku tak perlu bersusah payah untuk berjilbab. Aku tak perlu berguru mengaji kemanapun untuk memutuskan berjilbab. Aku tak merasa berat dengan kewajiban berjilbab yang tercantum dalam kitab suci. Karena aku melihat Ibu. Ya, karena aku melihat Ibu.

Tak terasa ada aliran air mata dari celah mata yang terpejam. Hidungku tersumbat. Namun bibirku tersenyum. Terimakasih Ibu. Ibu adalah teladan yang membangun landasan iman di hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar