Sudah dua hari berlalu
sejak berakhirnya ujian nasional. Aku belum juga memulai untuk mengemasi
barang-barangku. Sedangkan teman-teman seasrama sudah sibuk membeli kardus
bekas. Kupikir, barang-barangku tidak terlalu banyak sehingga tidak membutuhkan
waktu lama untuk berkemas. Aku masih harus membaca novel ini, menyelesaikannya
hingga tamat sebelum esok hari, sebelum buku ini diambil kembali oleh si
empunya.
Ada pemandangan yang
tak biasa, pemandangan yang membuatku untuk menutup novel ini sejenak,
pemandangan yang belum pernah ada sejak enam tahun terakhir ini. Ada banyak
kardus besar yang sudah terbungkus rapi. Kardus-kardus yang berisi seluruh
kenangan pemiliknya selama hidup di pondok ini. Ups bukan hanya kenangan milik si pemilik, namun kenangan milik
bersama. Karena aku ingat, aku pernah meminjam bukunya, bajunya hingga meminta
parfumnya. Ah sudahlah, mengingat
kenangan itu artinya hanya akan melamun berkepanjangan. Mumpung asrama sedang
sepi, kupikir aku harus mulai berkemas.
Sudah satu jam berlalu,
namun belum ada satu barang pun yang berpindah dari lemari ke dalam kardus.
Rupanya ada satu buku yang sudah lama tidak kubuka, hanya tersimpan rapi di
sudut lemari. Tahun terakhir ini memang benar-benar menyita waktu malamku
hingga buku ini tak tersentuh. Ada sebuah foto di sampul bagian dalam, foto
yang kupasang sejak malam ketiga puluh aku resmi menjadi penghuni pondok ini.
***
“Sini wit, cepat, ada
namamu disini”, Tara yang sedang mengamati papan pengumuman tiba-tiba menarik
lenganku.
“Dimana ?”, Aku pun
bergegas bangun dan menyimpan mushaf di rak musholla.
Jadwal
Penceramah Kultum Ba’da Sholat Dhuhur. Judul itu benar-benar aku baca dengan
seksama. Kenapa harus aku, belum genap sebulan aku tinggal disini. Ini salah
ketik, pikirku.
Setelah
keluar dari musholla aku langsung menuju asrama teteh pengurus musholla. Dan
jawabannya benar aku yang mendapat urutan pertama menjadi penceramah dari kelas
satu.
“Bagaimana
wit?, bener kan pengumuman itu?”, Raut muka Tara jelas menunjukkan sedang
merayakan kebahagiaan di atas penderitaan temannya.
“Pegang
mimbar saja belum pernah. Aku harus bicara apa disana?”, suaraku bernada kesal.
“Tenang
wit, setelah makan siang nanti kita ke perpus yuk. Barangkali aja ada materi
kultum disana”, Tara memberi usulan nyata. Dan aku hanya bisa menjawab dengan
anggukan mengiyakan.
Sudah
satu pekan aku bolak-balik ke perpus,
sudah berlembar-lembar catatan yang aku salin. Tapi tetap hati ini masih ragu,
sedangkan keberanian juga belum kunjung terbit dalam diri ini. Dan tiga hari
lagi aku sudah harus berada di atas mimbar itu setelah jamaah sholat dhuhur.
Kulangkahkan
kaki ke wartel. Kuberanikan diri menghubungi seorang lelaki yang belum pernah
berbicara lama denganku di telepon. Biasanya hanya menanyakan kabar lalu
mengucap “Semoga Wita sehat”. Sejujurnya aku selalu sungkan dan segan setiap
mengajakya bicara di telepon. Namun kemampuan ceramahnya yang tidak diragukan
lagi itu mungkin bisa memberiku motivasi. Aku sudah menyiapkan kertas dan
pulpen, barangkali ada banyak hal yang harus kucatat.
“Ada
apa wit?”, itu pertanyaan yang kau ajukan setelah prolog perihal tanya kabar
selesai. Dan pertanyaan itu yang memang sering kau ajukan, yang membuatku
selalu berpikir harus ada apa-apa dahulu untuk menghubungimu. Padahal cukup
kata kangen yang menjadi alasan, namun kata itu belum pernah terucap dari
lisanku.
“Ini,
wita ada tugas kultum”, malu-malu aku mengungkapkannya.
Dia
langsung menjawab dengan uraian yang panjang. Dia memberi contoh materi yang
ringan, yang sesuai untuk aku bawakan. Dia juga memberi kiat untuk tampil
percaya diri. Di akhir telepon, aku merasakan terbitnya keberanian dalam
diriku. Dan aku tersenyum, belum pernah se-lama ini aku berbincang dengannya di
telepon.
Lembaran-lembaran
yang berisi salinan catatan dari perpus aku simpan. Aku cukup hanya membawa
satu lembar ini untuk nanti naik ke atas mimbar. Satu lembar bukti aku pernah
berbicara cukup lama di telepon dengan idolaku.
Ya, dia menjadi idolaku
sejak saat itu, semestinya sejak aku dilahirkan. Namun aku terlambat
menyadarinya. Menyadari bahwa aku mengidolakannya, lebih tepatnya diam-diam
menjadikannya idola. Karena aku hanya menyimpan gambanya di buku harian, bukan
membuat posternya dan menempelkan di pintu lemari.
***
Rasa
kekagumanku mencapai puncaknya pada suatu pagi di akhir bulan November empat tahun
yang lalu. Saat dia menjabat tangan seorang pemuda yang belum dia kenal lama,
saat dia akan memindahkan tanggunjawabnya kepada pemuda itu, saat dia mengucap
kalimat ijab dengan semakin meninggikan suaranya dan semakin mengeratkan
jabatan tangannya. Tak terasa air mata ini mengalir memandanginya, aku ingin
segera duduk bersimpuh di hadapannya. Namun prosesi dari KUA sungguh membuatku
tak sabar karena memperlambat pertemuanku dengan idolaku itu.
Ya,
dia-lah idolaku sampai detik ini, dan sampai detik-detik selanjutnya, hingga
Allah berkenan menjumpakan kami di alam-Nya yang kekal dan abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar