Rabu, 24 Februari 2016

Dialah Idolaku


Sudah dua hari berlalu sejak berakhirnya ujian nasional. Aku belum juga memulai untuk mengemasi barang-barangku. Sedangkan teman-teman seasrama sudah sibuk membeli kardus bekas. Kupikir, barang-barangku tidak terlalu banyak sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk berkemas. Aku masih harus membaca novel ini, menyelesaikannya hingga tamat sebelum esok hari, sebelum buku ini diambil kembali oleh si empunya.
Ada pemandangan yang tak biasa, pemandangan yang membuatku untuk menutup novel ini sejenak, pemandangan yang belum pernah ada sejak enam tahun terakhir ini. Ada banyak kardus besar yang sudah terbungkus rapi. Kardus-kardus yang berisi seluruh kenangan pemiliknya selama hidup di pondok ini. Ups bukan hanya kenangan milik si pemilik, namun kenangan milik bersama. Karena aku ingat, aku pernah meminjam bukunya, bajunya hingga meminta parfumnya. Ah sudahlah, mengingat kenangan itu artinya hanya akan melamun berkepanjangan. Mumpung asrama sedang sepi, kupikir aku harus mulai berkemas.
Sudah satu jam berlalu, namun belum ada satu barang pun yang berpindah dari lemari ke dalam kardus. Rupanya ada satu buku yang sudah lama tidak kubuka, hanya tersimpan rapi di sudut lemari. Tahun terakhir ini memang benar-benar menyita waktu malamku hingga buku ini tak tersentuh. Ada sebuah foto di sampul bagian dalam, foto yang kupasang sejak malam ketiga puluh aku resmi menjadi penghuni pondok ini.
***
“Sini wit, cepat, ada namamu disini”, Tara yang sedang mengamati papan pengumuman tiba-tiba menarik lenganku.
“Dimana ?”, Aku pun bergegas bangun dan menyimpan mushaf di rak musholla.
            Jadwal Penceramah Kultum Ba’da Sholat Dhuhur. Judul itu benar-benar aku baca dengan seksama. Kenapa harus aku, belum genap sebulan aku tinggal disini. Ini salah ketik, pikirku.
            Setelah keluar dari musholla aku langsung menuju asrama teteh pengurus musholla. Dan jawabannya benar aku yang mendapat urutan pertama menjadi penceramah dari kelas satu.
            “Bagaimana wit?, bener kan pengumuman itu?”, Raut muka Tara jelas menunjukkan sedang merayakan kebahagiaan di atas penderitaan temannya.
            “Pegang mimbar saja belum pernah. Aku harus bicara apa disana?”, suaraku bernada kesal.
            “Tenang wit, setelah makan siang nanti kita ke perpus yuk. Barangkali aja ada materi kultum disana”, Tara memberi usulan nyata. Dan aku hanya bisa menjawab dengan anggukan mengiyakan.
            Sudah satu pekan aku bolak-balik ke perpus, sudah berlembar-lembar catatan yang aku salin. Tapi tetap hati ini masih ragu, sedangkan keberanian juga belum kunjung terbit dalam diri ini. Dan tiga hari lagi aku sudah harus berada di atas mimbar itu setelah jamaah sholat dhuhur.
            Kulangkahkan kaki ke wartel. Kuberanikan diri menghubungi seorang lelaki yang belum pernah berbicara lama denganku di telepon. Biasanya hanya menanyakan kabar lalu mengucap “Semoga Wita sehat”. Sejujurnya aku selalu sungkan dan segan setiap mengajakya bicara di telepon. Namun kemampuan ceramahnya yang tidak diragukan lagi itu mungkin bisa memberiku motivasi. Aku sudah menyiapkan kertas dan pulpen, barangkali ada banyak hal yang harus kucatat.
            “Ada apa wit?”, itu pertanyaan yang kau ajukan setelah prolog perihal tanya kabar selesai. Dan pertanyaan itu yang memang sering kau ajukan, yang membuatku selalu berpikir harus ada apa-apa dahulu untuk menghubungimu. Padahal cukup kata kangen yang menjadi alasan, namun kata itu belum pernah terucap dari lisanku.
            “Ini, wita ada tugas kultum”, malu-malu aku mengungkapkannya.
            Dia langsung menjawab dengan uraian yang panjang. Dia memberi contoh materi yang ringan, yang sesuai untuk aku bawakan. Dia juga memberi kiat untuk tampil percaya diri. Di akhir telepon, aku merasakan terbitnya keberanian dalam diriku. Dan aku tersenyum, belum pernah se-lama ini aku berbincang dengannya di telepon.
            Lembaran-lembaran yang berisi salinan catatan dari perpus aku simpan. Aku cukup hanya membawa satu lembar ini untuk nanti naik ke atas mimbar. Satu lembar bukti aku pernah berbicara cukup lama di telepon dengan idolaku.
Ya, dia menjadi idolaku sejak saat itu, semestinya sejak aku dilahirkan. Namun aku terlambat menyadarinya. Menyadari bahwa aku mengidolakannya, lebih tepatnya diam-diam menjadikannya idola. Karena aku hanya menyimpan gambanya di buku harian, bukan membuat posternya dan menempelkan di pintu lemari.
            ***
            Rasa kekagumanku mencapai puncaknya pada suatu pagi di akhir bulan November empat tahun yang lalu. Saat dia menjabat tangan seorang pemuda yang belum dia kenal lama, saat dia akan memindahkan tanggunjawabnya kepada pemuda itu, saat dia mengucap kalimat ijab dengan semakin meninggikan suaranya dan semakin mengeratkan jabatan tangannya. Tak terasa air mata ini mengalir memandanginya, aku ingin segera duduk bersimpuh di hadapannya. Namun prosesi dari KUA sungguh membuatku tak sabar karena memperlambat pertemuanku dengan idolaku itu.

            Ya, dia-lah idolaku sampai detik ini, dan sampai detik-detik selanjutnya, hingga Allah berkenan menjumpakan kami di alam-Nya yang kekal dan abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar