Assalamu’alaikum Ibu…
Semoga Allah senantiasa merangkul Ibu
dimanapun kau berada.
Apa kabar Ibu hari ini?,
Mengingatmu di saat jauh, aku selalu
ingin mengulang memoriku. Rekaman otak saat aku pertama kali menghirup udara
ini, saat aku terpaksa keluar dari rahimmu yang membuatku selalu nyaman
tertidur. Ahh aku benar-benar tidak dapat menemukan rekaman itu dalam otakku.
Hanya kau yang punya.
Memandangi fotomu di saat jauh, aku
selalu ingin mengulang memoriku. Rekaman otak saat kau menyusuiku dengan
senyuman yang menghiasi parasmu, saat kau menggendongku agar aku tertidur, saat
kau terkadang bermukamasam karena tangisanku tanpa sebab. Ahh aku benar-benar
tidak dapat menemukan rekaman itu dalam otakku. Hanya kau yang punya.
Tiba-tiba memoriku berhenti disini Bu..
Kala itu,
Aku mendapati rumah dalam keadaan kosong
setelah aku pulang sekolah. Sesaat kemudian aku baru ingat bahwa asisten rumah
sedang pulang kampung. Aku tidak suka ini, sepi sendiri di rumah. Aku menuju
tempat telepon, ada satu nomor telepon yang selalu kuingat.
“Buk, aku mau ke kantor ibuk ya. Di
rumah sendiri. Aku mau naik sepeda kesana”. Tidak banyak penjelasan ibu yang
aku tangkap. Hanya kata “hati-hati” di akhir telepon yang aku dengar. Aku sudah
tak sabar ingin melakukannya. Pembuktian bahwa aku anak yang berani, pikirku
kala itu.
Aku segera mengeluarkan sepeda dan
menyusuri jalanan kota. Jarak dari rumah ke kantor ibu sekitar tiga kilometer.
Menyeberang jalan besar, ikut berhenti ketika lampu merah dan melihat deretan
toko-toko. Aku merasa bangga melakukan pembuktian ini, dalam hati tak sabar
melihat ekspresi ibu nanti.
Sampailah aku di kantor ibu, setelah
mengayuh sepeda selama kurang lebih dua puluh menit. Dan benar seperti
dugaanku, ibu telah menunggu di pos satpam. Senyum ibu membuat kayuhan sepeda
semakin cepat. Syukurlah ibu tidak marah, batinku setelah tiba di samping ibu.
Ibu langsung mengajakku masuk ke dalam ruangan dan menyuruhku makan siang.
Sementara mulutku tak berhenti menceritakan apa saja yang kutemui di sepanjang
perjalananku tadi dengan mengendarai sepeda.
Kala itu,
Aku menatap punggungmu yang berjalan
semakin menjauh dari tempatku berpijak. Kau hanya sekali menoleh dan tersenyum,
lalu kembali berjalan menjauh dariku. Aku tak mampu menerka bagaimana paras
wajahmu selama aku hanya dapat menatap punggungmu pergi menjauhiku.
Yang aku tahu, senyuman itu membuatku
tetap berdiri di atas pijakanku, senyuman itu membuatku tidak berlari mengejarmu,
dan senyuman itu membuatku bertahan berada di tempat ini.
Apa kau sedih atau bahagia kala itu?,
sejujurnya aku penasaran hingga saat ini. Bagaimana kau membuat hatimu tangguh,
hingga ketangguhan menyelusup masuk ke relung hati anakmu. Kelak aku akan
banyak belajar ketangguhan itu darimu.
Kala itu,
Kita duduk berdampingan. Kau di samping
kananku, dan ada satu wanita sepuh di samping kiriku. Wajahmu nampak tenang,
padahal kau akan berbagi panggilan ibu dengan wanita di samping kiriku ini. Apa
kau tidak gelisah?, aku tak akan benar-benar tahu hingga tiba waktunya nanti
aku menjadi sepertimu.
Sesaat setelah lafaz ijab dan qobul
terdengar, hatiku berguncang. Ada serbuan dari berbagai macam perasaan yang
memasuki relung hatiku, dengan sangat cepat. Air mata ini akan segera tumpah,
meskipun aku sudah berjanji dalam hati tidak akan menangis pada momen ini. Dan demi
melihat senyum bahagianya, air mataku benar-benar mampu tebendung. Aku ingin
menjadi wanita tangguh sepertimu.
Dan setelah afifah lahir,
Kau tidak pernah mengucapkan "kalau
ibu dulu begini, kalau ibu dulu begitu...". Kau telah mengantarkanku
menjadi seorang ibu. Memberiku kesempatan untuk benar-benar menjadi seorang
ibu. Kita adalah ibu di masa yang berbeda.
Terimakasih ibu....
Seperti doa yang selalu kupinta
kepada-Nya usai sholat. Ya Allah, curahkanlah kasih sayang-Mu kepadanya. Kepada
mereka yang telah bersusah payah membesarkanku. Jadikan mereka kelak penghuni
surga-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar