Kamis, 18 Februari 2016

Surat di Bulan Desember


Assalamu’alaikum Ibu…
Semoga Allah senantiasa merangkul Ibu dimanapun kau berada.
Apa kabar Ibu hari ini?,
Mengingatmu di saat jauh, aku selalu ingin mengulang memoriku. Rekaman otak saat aku pertama kali menghirup udara ini, saat aku terpaksa keluar dari rahimmu yang membuatku selalu nyaman tertidur. Ahh aku benar-benar tidak dapat menemukan rekaman itu dalam otakku. Hanya kau yang punya.
Memandangi fotomu di saat jauh, aku selalu ingin mengulang memoriku. Rekaman otak saat kau menyusuiku dengan senyuman yang menghiasi parasmu, saat kau menggendongku agar aku tertidur, saat kau terkadang bermukamasam karena tangisanku tanpa sebab. Ahh aku benar-benar tidak dapat menemukan rekaman itu dalam otakku. Hanya kau yang punya.

Tiba-tiba memoriku berhenti disini Bu..
Kala itu,
Aku mendapati rumah dalam keadaan kosong setelah aku pulang sekolah. Sesaat kemudian aku baru ingat bahwa asisten rumah sedang pulang kampung. Aku tidak suka ini, sepi sendiri di rumah. Aku menuju tempat telepon, ada satu nomor telepon yang selalu kuingat.
“Buk, aku mau ke kantor ibuk ya. Di rumah sendiri. Aku mau naik sepeda kesana”. Tidak banyak penjelasan ibu yang aku tangkap. Hanya kata “hati-hati” di akhir telepon yang aku dengar. Aku sudah tak sabar ingin melakukannya. Pembuktian bahwa aku anak yang berani, pikirku kala itu.
Aku segera mengeluarkan sepeda dan menyusuri jalanan kota. Jarak dari rumah ke kantor ibu sekitar tiga kilometer. Menyeberang jalan besar, ikut berhenti ketika lampu merah dan melihat deretan toko-toko. Aku merasa bangga melakukan pembuktian ini, dalam hati tak sabar melihat ekspresi ibu nanti.
Sampailah aku di kantor ibu, setelah mengayuh sepeda selama kurang lebih dua puluh menit. Dan benar seperti dugaanku, ibu telah menunggu di pos satpam. Senyum ibu membuat kayuhan sepeda semakin cepat. Syukurlah ibu tidak marah, batinku setelah tiba di samping ibu. Ibu langsung mengajakku masuk ke dalam ruangan dan menyuruhku makan siang. Sementara mulutku tak berhenti menceritakan apa saja yang kutemui di sepanjang perjalananku tadi dengan mengendarai sepeda.

Kala itu,
Aku menatap punggungmu yang berjalan semakin menjauh dari tempatku berpijak. Kau hanya sekali menoleh dan tersenyum, lalu kembali berjalan menjauh dariku. Aku tak mampu menerka bagaimana paras wajahmu selama aku hanya dapat menatap punggungmu pergi menjauhiku.
Yang aku tahu, senyuman itu membuatku tetap berdiri di atas pijakanku, senyuman itu membuatku tidak berlari mengejarmu, dan senyuman itu membuatku bertahan berada di tempat ini.
Apa kau sedih atau bahagia kala itu?, sejujurnya aku penasaran hingga saat ini. Bagaimana kau membuat hatimu tangguh, hingga ketangguhan menyelusup masuk ke relung hati anakmu. Kelak aku akan banyak belajar ketangguhan itu darimu.

Kala itu,
Kita duduk berdampingan. Kau di samping kananku, dan ada satu wanita sepuh di samping kiriku. Wajahmu nampak tenang, padahal kau akan berbagi panggilan ibu dengan wanita di samping kiriku ini. Apa kau tidak gelisah?, aku tak akan benar-benar tahu hingga tiba waktunya nanti aku menjadi sepertimu.
Sesaat setelah lafaz ijab dan qobul terdengar, hatiku berguncang. Ada serbuan dari berbagai macam perasaan yang memasuki relung hatiku, dengan sangat cepat. Air mata ini akan segera tumpah, meskipun aku sudah berjanji dalam hati tidak akan menangis pada momen ini. Dan demi melihat senyum bahagianya, air mataku benar-benar mampu tebendung. Aku ingin menjadi wanita tangguh sepertimu.

Dan setelah afifah lahir,
Kau tidak pernah mengucapkan "kalau ibu dulu begini, kalau ibu dulu begitu...". Kau telah mengantarkanku menjadi seorang ibu. Memberiku kesempatan untuk benar-benar menjadi seorang ibu. Kita adalah ibu di masa yang berbeda.

Terimakasih ibu.... 

Seperti doa yang selalu kupinta kepada-Nya usai sholat. Ya Allah, curahkanlah kasih sayang-Mu kepadanya. Kepada mereka yang telah bersusah payah membesarkanku. Jadikan mereka kelak penghuni surga-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar