Kamis, 18 Februari 2016

Menanti Datangnya Bidadari Surga


Pagi ini, Mamak kembali menelepon, menanyakan bagaimana kondisi kehamilanku. Apa sudah mengalami kontraksi atau belum. Ini memang sudah mendekati hari perkiraan lahir, namun belum ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya kontraksi, dan aku masih beraktifitas seperti biasa. Di akhir telepon, Mamak kembali mengingatkan untuk tidak berlama-lama di dapur. Tidak baik katanya memasak ketika hamil tua, nanti janinnya kepanasan. Aku hanya mengiyakan. Mamak memang ahlinya mitos seputar kehamilan. Sejak aku memulai masa kehamilan, sudah lebih dari sepuluh mitos yang aku dengar. Dan aku hanya mengiyakan. Aku hanya mengacu dari buku-buku ilmiah yang telah kubeli.
Aku ingat betul ketika kehamilanku mencapai usia empat bulan. Saat itu aku sering memasak aneka olahan ikan. Suatu hari Mamak berkunjung ke rumahku dan melihat banyak stok ikan beku di dalam lemari pendingin. Ketika Mamak pulang, stok ikan pun dibawanya pulang. Katanya, tidak baik ibu hamil sering makan ikan. Padahal ikan mengandung protein yang baik untuk kesehatan, terutama ikan laut untuk kecerdasan bayi.
Mitos-mitos yang disampaikan Mamak adakalanya lucu dan tidak masuk akal. Seperti jangan melilit handuk di leher karena khawatir janinnya akan terlilit tali pusar, atau jangan melihat orang-orang yang buruk rupa karena khawatir bayinya akan lahir dengan wajah yang jelek. Aku biasanya hanya menahan tawa dan tersenyum mengiyakan.
Malam ini, aku melihat ada bercak merah keluar dari jalan lahir. Satu jam kemudian, aku sudah berada di klinik bersalin bersama suami. Status jalan lahirnya memang sudah terbuka. Aku mengingatkan suami untuk tidak mengabari keluarga di rumah. Aku pikir sebaiknya Mamak langsung mendapat kabar kelahiran, daripada proses kelahiranku diselingi mitos-mitos tak berguna.
            Pukul sepuluh malam, status pembukaan jalan lahir sudah mencapai angka lima. Aku mulai terbaring tak berdaya di atas ranjang, menahan rasa nyeri luar biasa yang muncul tenggelam. Suami sedang membaca Al-Quran, sesekali melihat keadaanku. Ketika pandangannya tertuju padaku, tanganku memberi isyarat supaya dia mendekat, dan aku lebih jelas mendengar lantunan ayat suci-Nya.
            Satu jam kemudian, nyeri ini semakin meruntuhkan benteng pertahanan kekuatanku. Aku mulai lemas. Aku hanya mampu mengenggam tangan suami. Seketika pikiranku melayang jauh. Ya Allah…, inilah yang dialami Mamak dua puluh lima tahun yang lalu. Dan sampai saat ini, aku masih belum dapat membayar kesakitan yang Mamak alami saat itu. Ya Allah, terimalah ampunanku sebelum engkau memantaskan diriku menjadi seorang ibu. Terimalah jihad Mamak dua puluh lima tahun yang lalu sebagai tiket masuk ke surga-Mu kelak. Dan malam ini, sampaikan rasa cintaku yang terdalam kepada Mamak. Tak terasa air mata mulai menetes dari pelupuk mataku. Suami bertanya-tanya padaku penuh kecemasan. Suaraku tercekat di kerongkongan, padahal aku ingin menyampaikan sesuatu. Suami langsung menekan tombol panggilan darurat. Tak lama kemudian perawat datang, dan memeriksa jalan lahir, sudah memasuki angka tujuh.
            Memasuki pergantian hari, aku sudah berada di ruang bersalin. Dua orang perawat hilir mudik mempersiapkan proses persalinan. Suami terus menggenggam tanganku dan membisikkan doa-doa. Aku menggenggam tangannya, aku menatapnya, aku ingin menyampaikan sesuatu, tapi tak satu katapun dapat keluar dari mulutku. Ya Allah, hanya pada-Mu aku menyampaikan pintaku ini. Dokter datang, dan proses persalinan akan segera dimulai. Dokter sempat menyapaku dengan senyuman khasnya, dan mengatakan semua akan baik-baik saja sesuai kehendak-Nya. Ah.. aku tak sanggup menahan, air mata ini turun deras tak terbendung. Suami dan dokter pun bertanya-tanya, dan aku tetap tak mampu menjawab.

            Pintu ruang bersalin terbuka, ada seseorang yang datang. Perawat mempersilakannya masuk. Terimakasih Ya Allah, Engkau mengabulkan pintaku, Engkau mendatangkan seorang bidadari-Mu di saat yang tepat. Di saat aku akan meneruskan estafet perjuangan ini, perjuangan seorang bidadari Surga. Aku tersenyum pada dokter dan suami, aku siap memulai proses ini, dan tanganku menggenggam kuat tangan Mamak, tangan seorang bidadari Surga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar