Pagi ini, Mamak kembali
menelepon, menanyakan bagaimana kondisi kehamilanku. Apa sudah mengalami
kontraksi atau belum. Ini memang sudah mendekati hari perkiraan lahir, namun
belum ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya kontraksi, dan aku masih
beraktifitas seperti biasa. Di akhir telepon, Mamak kembali mengingatkan untuk
tidak berlama-lama di dapur. Tidak baik katanya memasak ketika hamil tua, nanti
janinnya kepanasan. Aku hanya mengiyakan. Mamak memang ahlinya mitos seputar
kehamilan. Sejak aku memulai masa kehamilan, sudah lebih dari sepuluh mitos
yang aku dengar. Dan aku hanya mengiyakan. Aku hanya mengacu dari buku-buku
ilmiah yang telah kubeli.
Aku ingat betul ketika
kehamilanku mencapai usia empat bulan. Saat itu aku sering memasak aneka olahan
ikan. Suatu hari Mamak berkunjung ke rumahku dan melihat banyak stok ikan beku
di dalam lemari pendingin. Ketika Mamak pulang, stok ikan pun dibawanya pulang.
Katanya, tidak baik ibu hamil sering makan ikan. Padahal ikan mengandung
protein yang baik untuk kesehatan, terutama ikan laut untuk kecerdasan bayi.
Mitos-mitos yang
disampaikan Mamak adakalanya lucu dan tidak masuk akal. Seperti jangan melilit
handuk di leher karena khawatir janinnya akan terlilit tali pusar, atau jangan
melihat orang-orang yang buruk rupa karena khawatir bayinya akan lahir dengan
wajah yang jelek. Aku biasanya hanya menahan tawa dan tersenyum mengiyakan.
Malam ini, aku melihat
ada bercak merah keluar dari jalan lahir. Satu jam kemudian, aku sudah berada
di klinik bersalin bersama suami. Status jalan lahirnya memang sudah terbuka.
Aku mengingatkan suami untuk tidak mengabari keluarga di rumah. Aku pikir sebaiknya
Mamak langsung mendapat kabar kelahiran, daripada proses kelahiranku diselingi
mitos-mitos tak berguna.
Pukul
sepuluh malam, status pembukaan jalan lahir sudah mencapai angka lima. Aku
mulai terbaring tak berdaya di atas ranjang, menahan rasa nyeri luar biasa yang
muncul tenggelam. Suami sedang membaca Al-Quran, sesekali melihat keadaanku.
Ketika pandangannya tertuju padaku, tanganku memberi isyarat supaya dia
mendekat, dan aku lebih jelas mendengar lantunan ayat suci-Nya.
Satu
jam kemudian, nyeri ini semakin meruntuhkan benteng pertahanan kekuatanku. Aku
mulai lemas. Aku hanya mampu mengenggam tangan suami. Seketika pikiranku
melayang jauh. Ya Allah…, inilah yang dialami Mamak dua puluh lima tahun yang
lalu. Dan sampai saat ini, aku masih belum dapat membayar kesakitan yang Mamak
alami saat itu. Ya Allah, terimalah ampunanku sebelum engkau memantaskan diriku
menjadi seorang ibu. Terimalah jihad Mamak dua puluh lima tahun yang lalu
sebagai tiket masuk ke surga-Mu kelak. Dan malam ini, sampaikan rasa cintaku
yang terdalam kepada Mamak. Tak terasa air mata mulai menetes dari pelupuk
mataku. Suami bertanya-tanya padaku penuh kecemasan. Suaraku tercekat di
kerongkongan, padahal aku ingin menyampaikan sesuatu. Suami langsung menekan
tombol panggilan darurat. Tak lama kemudian perawat datang, dan memeriksa jalan
lahir, sudah memasuki angka tujuh.
Memasuki
pergantian hari, aku sudah berada di ruang bersalin. Dua orang perawat hilir
mudik mempersiapkan proses persalinan. Suami terus menggenggam tanganku dan membisikkan
doa-doa. Aku menggenggam tangannya, aku menatapnya, aku ingin menyampaikan
sesuatu, tapi tak satu katapun dapat keluar dari mulutku. Ya Allah, hanya pada-Mu
aku menyampaikan pintaku ini. Dokter datang, dan proses persalinan akan segera
dimulai. Dokter sempat menyapaku dengan senyuman khasnya, dan mengatakan semua
akan baik-baik saja sesuai kehendak-Nya. Ah.. aku tak sanggup menahan, air mata
ini turun deras tak terbendung. Suami dan dokter pun bertanya-tanya, dan aku
tetap tak mampu menjawab.
Pintu
ruang bersalin terbuka, ada seseorang yang datang. Perawat mempersilakannya
masuk. Terimakasih Ya Allah, Engkau mengabulkan pintaku, Engkau mendatangkan
seorang bidadari-Mu di saat yang tepat. Di saat aku akan meneruskan estafet
perjuangan ini, perjuangan seorang bidadari Surga. Aku tersenyum pada dokter
dan suami, aku siap memulai proses ini, dan tanganku menggenggam kuat tangan
Mamak, tangan seorang bidadari Surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar