“Cyra..., kau sedang
apa?, sepedamu sudah Abi siapkan di depan, ayo segera!” Abi berteriak dari
teras rumah.
Teriakan Abi jelas
mengganggu lamunan Cyra yang masih memikirkan kakaknya. Cyra masih di dalam
kamar setelah sholat shubuh tadi, dan ia
sedang berpikir keras. Tiba-tiba
terlintas sebuah ide
setelah Cyra mendengar teriakan Abi tadi.
“Tunggu bi, Cyra lagi ganti baju
dulu,” Cyra berteriak tidak
kalah keras dari teriakan Abi. Cyra berpikir dengan olahraga pagi bersama Abi
tentu akan Cyra manfaatkan untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan kakaknya.
Setiap hari Ahad, Abi
tidak pernah luput sekalipun mengajak Cyra olahraga pagi, baik bersepeda
mengelilingi kota atau sekedar lari pagi di alun-alun kota. Pesan Abi yang
selalu diingat Cyra yaitu jangan pernah mengeluh sakit kalau tidak rajin
olahraga. Abi bukan seorang atlet olahraga, tapi komitmennya untuk berolahraga
melebihi seorang atlet lari. Bahkan tidak ada pengurangan jatah waktu olahraga
pagi di Bulan Ramadhan. Olahraga pagi setiap hari Ahad itu hanya pernah absen
ketika bersamaan dengan Hari Raya Idul Fithri, Hari Raya Idul Adha, dan ketika
Abi sedang dalam perjalanan. Konon tiga
jam sebelum Abi mengucapkan ijab qobul saat
menikahi Mami, Abi menyempatkan untuk lari pagi keliling kampung halamannya
Mami.
“Ayo Bi, Cyra
suda siap. Abi,
nanti kita ngebubur dulu ya di
alun-alun,”
Cyra menghampiri Abi yang sudah siap menaiki
sepedanya. Cyra pun mengambil sepedanya setelah melihat anggukan Abi. Cyra dan Abi pun
mulai
bersepeda.
Sekitar
150 meter dari rumahnya, Cyra sudah tertinggal di belakang Abi. Cyra segera
mempercepat lajunya dan bertekad untuk memulai penyelidikannya perihal Kak Aland yang bertingkah
aneh dari semalam.
“Abi.., Kak Aland
kemana?, kenapa hari ini boleh absen olahraga pagi?” Cyra bertanya dengan
setengah berteriak karena Abi berada dua meter di depan Cyra. Abi pura-pura
tidak mendengar dan tetap santai mengayuh sepedanya.
“Abi !! Kak Aland
kemana?” Cyra meninggikan suaranya. Namun Abi tetap pura-pura tidak mendengar.
Setelah tiga kali Cyra berteriak, Abi memperlambat laju sepedanya hingga sejajar dengan
sepeda Cyra.
“Kak Aland ada
keperluan yang membuatnya harus berangkat pagi-pagi, jadi tidak bisa ikut olah raga pagi, tapi
Kak Aland berjanji besok pagi akan besepeda sendiri,” Abi tersenyum menggoda Cyra.
Senyuman Abi membuat
senyuman terbalik di bibir Cyra. Itu sama sekali bukan jawaban yang diharapkan
Cyra. Cyra memasang muka kesal
ketika Abi melihatnya.
“Yang jelas Kak Aland
pergi bukan dengan alasan olahraga bersama teman padahal akhirnya bermain di rumah
teman,” Abi menambah
kekesalan Cyra dengan menyinggung kebohongan yang pernah Cyra lakukan sebulan
yang lalu.
Kemudian
Abi mempercepat kayuhan sepedanya meninggalkan Cyra di belakang, sambil
berteriak “ Ayo... siapa tadi yang mau
sarapan bubur ayam.”
Cyra jelas kesal, ia melambatkan kayuhan
sepedanya dan
berpikir akan membiarkan
Abi menunggunya di alun-alun.
Namun sampai
di tenda bubur ayam yang menjadi tempat kesukaannya,
ia tidak melihat Abi. Ia kebingungan sambil kembali mengelilingi alun-alun, barangkali ia akan
melihat Abi. Tiga kali putaran ia
tetap tidak melihat Abi. Terpaksa ia
harus pulang tanpa bubur ayam, karena ia tidak menemukan Abi dan menyadari bahwa ia tidak membawa uang sepeser
pun.
Cyra segera pulang
dengan lelah, lapar dan haus. Rencana
penyelidikannya sementara menguap diganti dengan
kekesalan kepada Abi yang telah meninggalkannya. Ia mengayuh sepeda sangat pelan karena
tenaganya sudah cukup terkuras. Tiba
di rumah, ia melihat Mami sedang berkebun di halaman depan.
Mami sedang merapikan
tanaman yang sudah mulai tidak beraturan di taman kecilnya depan rumah. Mami
memang jarang ikut Abi olahraga pagi, dan Abi tidak pernah memaksanya. Mami selalu beralasan
senam yang diikutinya dua
kali sepekan sudah cukup untuk menjaga kesehatan badannya. Pernah sekali Mami
ikut Abi olahraga pagi, namun waktu
istirahatnya di alun-alun dua kali lebih lama dari waktu bersepedanya. Maka dari itu Abi lebih menuntut dua
putrinya untuk mengikuti rutinitasnya olahraga pagi.
Mami melihat putri bungsunya tiba rumah dengan raut wajah terlipat kusut,
Mami hanya tersenyum kepada Cyra.
“Taruh saja sepedanya di
samping sepeda Abi, nanti Mami yang masukkan
ke garasi,”
Mami membantu mengurangi kelelahan Cyra. “Oiya
bubur ayamnya sudah Mami siapkan di atas meja makan,” Mami jelas mengurai
raut wajah Cyra yang terlipat.
“Trimakasih Mi...”
Cyra tersenyum.
Di ruang makan, Abi telah
menghabiskan bubur ayamnya. Cyra mengambil bubur ayamnya tanpa menghiraukan Abi
di depannya. Cyra memilih menyantap bubur ayamnya di teras rumah sambil
menemani Mami yang masih sibuk mengurusi tanaman.
Kepada Mami, Cyra
melanjutkan penyelidikannya
sambil menyantap bubur ayam.
“Mi, Kak Aland pergi kemana sih
pagi-pagi?.., Abi ga mau ngasih tau tuh”
Cyra menyantap bubur ayam sambil memulai penyelidikannya.
Mami yang sedang
memotong ranting-ranting pohon berpikir
harus memberi jawaban apa kepada Cyra.
“Kak Aland akan bertemu
seseorang yang Kakak hormati,
makanya kakak berusaha berpenampilan
rapi dan berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat dengan janjinya bertemu orang
tersebut,” Mami
terus merapikan pohon kamboja
kesayangannya.
“Cyra ga ngerti mi, siapa orang itu?” Cyra
bertanya-tanya sambil terus menyantap bubur ayamnya yang hampir habis.
“Cyra sekarang usianya
berapa?”
“Sepuluh tahun Mi,
kenapa?”
“Usia Cyra 10 tahun, usia Kak Aland 22
tahun. Nanti Cyra akan mengerti urusan Kak Aland ketika usia Cyra menginjak 22 tahun,
bisa lebih cepat atau lebih lama. Sudah, sekarang urusan untuk gadis berusia 10 tahun yaitu segera masuk ke dalam dan
bawa piring kotor ke dapur. Ok.” Penjelasan Mami membuat Cyra malas untuk
melanjutkan bertanya lagi dan segera mengikuti apa yang diperintah Mami. Cyra
masuk ke dalam, ia kembali
memasang muka kesal
ketika berpapasan dengan Abi.
Hari Ahad itu, Cyra menghabiskan waktu seharian di rumah
membantu Mami.
Di dapur, membersihkan rumah,
dan kembali berkebun bersama Mami di
sore hari. Cyra ingin memanfaatkan waktu jika ada kesempatan untuk melanjutkan penyelidikannya.
Cyra tidak peduli
urusan macam apa untuk manusia berusia 22 tahun, yang penting dia ingin tahu
ada apa dengan kakaknya akhir-akhir ini. Dalam hatinya berbisik, “Aku tidak peduli
urusan apa itu, tapi yang jelas
urusan itu telah mencuri waktuku
bersama kakak. Sepekan ini aku tidak ada waktu
bercerita dengan kakak, ketika kakak di rumah sering hanya berdiam di dalam
kamar dan tidak ingin diganggu. Jika urusan itu benar-benar akan mengambil waktuku bersama kakak, lalu
siapa yang akan mengajakku jalan-jalan ke toko buku, Abi tidak pernah mau
berlama-lama di toko buku apalagi Mami di ajak ke toko buku pun tak mau.
Sepekan lalu aku diajarkan cara memakai
jilbab
untuk berangkat sekolah, lalu berjilbab untuk sekedar jalan-jalan, ke rumah
teman dan ketika olahraga bagaimana, kakak belum memberi tahuku caranya. Kakak
jangan meninggalkan Cyra
ya.” Tiba-tiba hatinya berdesir.
---
ooo ---
Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Aland sudah
tiba di rumah disambut Abi yang sedang bersiap pergi ke masjid. Abi memang
harus sudah sampai di masjid
sebelum adzan berkumandang, jika Abi terlambat pergi ke masjid maka adzan di
komplek perumahan itu pun akan terlambat berkumandang. Abi adalah muadzin utama
di masjid itu, di hari libur Abi mengumandangkan adzan 5 kali sehari, namun
hanya 3 kali di hari kerja.
Abi hanya sempat
menjawab ucapan salam Aland.
Aland disambut Mami dan
Cyra yang sedang menyiapkan makan malam di ruang makan. Aland ikut duduk
bergabung di ruang makan.
“Hmm Mami masak apa nih?”
Aland penasaran sambil melihat-lihat apa saja yang ada di meja makan.
Tapi bukan Mami yang
menjawab pertanyaan Aland, melainkan
Cyra.
“Kita masak spesial Kak,
karena Kakak seharian ini pergi bertemu dengan orang yang Kakak hormati,
betul ya Kak?” Cyra sudah tidak sabar ingin menyelidiki
kakaknya.
Aland dan Mami saling
pandang. Aland mengerutkan kening dan Mami hanya tersenyum.
“Orang itu siapa Cyra?”
Aland berbalik tanya kepada Cyra.
“Kata Mami, Kakak hari
ini bertemu dengan orang yang Kakak hormati, makanya Kakak pagi-pagi sudah
berangkat dengan penampilan yang sangat rapi,”
Cyra melanjutkan penyelidikannya.
Tidak ingin
dipersalahkan, Mami memotong perbincangan Aland dan Cyra, “Cyra, ayo segera
wudhu, kita sholat di masjid. Kak Aland tentu lelah, biarkan Kak Aland mandi dulu dan
sholat di rumah.”
Aland menyambut baik
kata-kata Mami, “Iya Mi,
Aland ke kamar dulu ya,”
Aland senyum kepada adiknya kemudian segera berlalu ke kamarnya.
Cyra menyambut tidak
baik dengan muka kesal,
lalu bergegas ke kamar
mandi untuk berwudhu.
Cyra sangat senang
sholat berjamaah di masjid, ia
senang suasana pergi ke masjid bersama Mami dan Kak Aland, juga suasana pulang
bersama Abi, Mami dan Kak Aland. Namun saat itu Cyra hanya pergi berdua bersama
Mami.
“Mami, kenapa tadi Kak
Aland tidak menjawab pertanyaan Cyra?” Cyra bertanya sambil menutup pagar
rumah. Ia merasa ada yang
disembunyikan oleh Mami.
“Ssst...kita akan pergi ke masjid, Cyra mau pahala langkah kita ke masjid hilang hanya karena kita
membicarakan orang lain?” jawaban Mami menjadi senjata ampuh yang membungkam mulut Cyra.
“Tidak,” kemudian Cyra memilih
diam selama perjalanan ke masjid.
Masjid komplek
perumahan itu merupakan satu-satunya masjid bagi sekitar 500 penduduk yang
tinggal di perumahan itu. Masjid itu terletak di samping pintu gerbang masuk
perumahan, sedangkan rumah Abi terletak di belakang perumahan, jarak ke masjid
sekitar 200 m. Untuk Abi yang
bertugas sebagai muadzin utama, jarak itu tidak menjadi masalah, apalagi
perjalanan pulang dari masjid di waktu Maghrib selalu bersama Mami dan kedua
putrinya, hanya saja Aland sering absen karena aktivitasnya yang membuat Aland
sering pulang ke rumah selepas Maghrib.
Saat perjalanan
pulang dari masjid ke rumah, Cyra memilih diam. Meskipun Abi bercerita tentang
perkembangan jamaah di masjid,
itu sama sekali tidak menarik perhatian Cyra. Cyra berpikir bahwa Abi dan Mami
tidak mempedulikan keingintahuannya. Ia
bergegas jalan, ia
ingin segera sampai di rumah dan bertanya kepada Aland.
Sampai di rumah, Cyra
mendengar Kak Aland sedang mengaji. Sebelum membuka pintu kamar Aland, Mami
sudah menyuruhnya terlebih dahulu.
“Cyra, tolong siapkan
piring dan gelas di meja makan ya!”
Mami mengetahui apa yang akan
Cyra lakukan. Terpaksa Cyra harus melakukan apa yang Mami perintahkan.
Tidak lama kemudian
Abi, Mami dan Kak Aland sudah berkumpul di meja makan. Perbincangan selama di
meja makan dikuasai oleh Abi
yang semangat menceritakan tentang peningkatan jamaah di masjid. Abi sama
sekali tidak menyinggung kepergian Aland seharian ini. Cyra pun menjadi tidak berminat melakukan penyelidikannya
saat makan malam, karena ia
berpikir Abi dan Mami memang sengaja membuatnya
tidak perlu tahu apa yang telah Aland kerjakan seharian ini. Ia berniat setelah sholat
Isya nanti ia
akan ngobrol dengan Aland berdua.
Cyra sudah tidak sabar menyudahi makan malamnya.
Setelah sholat Isya,
Cyra segera menuju kamar Aland.
“Kak, Cyra malam ini
tidur bareng kakak ya,” Cyra memulai rencananya.
“Kenapa?, bulan kemarin
Cyra sudah berjanji lho
seterusnya akan tidur di kamar
sendiri, Cyra kan sudah gadis yang berani
sekarang,” Aland tersenyum
mencoba untuk menolak permintaan
Cyra.
“Cyra bukan tidak
berani Kak, tapi Cyra sedang
ingin cerita sama Kakak,” Cyra tetap memaksa Aland.
“Hari ini Kakak
benar-benar lelah,
besok malam Kakak janji tidur di kamar Cyra, bagaimana?” Aland mencoba
memberikan pilihan lain
kepada adiknya.
“Tapi kakak janji ya.”
“Iya, sekarang Cyra ke
kamar, belajar lalu
tidur ya.”
Setidaknya Aland memiliki waktu untuk memikirkan
bagaimana cara menjelaskan ke Cyra, adik yang sangat ia sayangi. Cyra sudah
beranjak menjadi gadis remaja, keingintahuannya sangat tinggi. Satu hal pasti
yang membuat Aland belum dapat menjelaskan ke Cyra yaitu ungkapan Cyra setahun
lalu ketika Abi membujuk Cyra untuk masuk sekolah asrama di luar kota, “Cyra ga mau berpisah dengan Kakak, sebelum
Cyra benar-benar jadi perempuan shalihah
seperti Kakak. Tidak perlu sekolah di asrama, Kakak juga pasti akan membimbing
Cyra”. Saat itu Cyra bersikeras menolak permintaan Abi, Abi pun tidak dapat memaksa putri bungsunya.
---
ooo ---
Ahaa...
Aku sudah tahu nama lengkap kakak yang cantik itu, bahkan nama lengkap seluruh
penghuni rumah itu.
Temanku yang memberi tahuku, ia mendapatkan informasi itu dari
sebuah buku yang dibawa oleh makhluk
bersayap. Aku tak tahu siapa itu, yang lebih penting aku telah mendapatkan
informasi tentangnya.
Ya, ia yang ingin kuceritakan padamu.
Abi, sang ayah Aland
dan Cyra ini bernama lengkap Arman Farabi, dipanggil Abi sejak usia 1 tahun
hingga saat ini. Panggilan Abi bagi
kedua putrinya ini tentu mengikuti gaya bicara sang Mami. Mami yang berdarah
sunda ini dipertemukan Allah SWT dengan
Abi yang berdarah jawa di sebuah kota yang tidak mengenal ras sunda dan jawa, Manchester Inggris. Mami dibawa
oleh ayahnya ketika lulus tingkat SMP
untuk disekolahkan di Inggris. Ayah Mami adalah seorang staf koki di sebuah
restoran, ia merupakan tenaga yang sangat terampil dan disiplin sehingga
memikat hati pemilik restoran tersebut dengan memberikan penghargaan kepadanya
berupa biaya sekolah untuk putri bungsunya, yaitu Mami.
Mami turut membantu
biaya hidup ayahnya dengan mengajar mengaji bagi anak-anak muslim di sebuah
lembaga islam di kota tersebut. Masjid tempat mengajarnya itu cukup berdekatan dengan apartemen yang ia tinggali bersama
ayahnya, dan berseberangan dengan rumah yang disewa oleh Abi dengan beberapa rekannya. Abi yang memiliki kebiasaan
istimewa mengumandangkan adzan itu pun hampir setiap hari pergi ke masjid.
Sepuluh menit sebelum adzan maghrib, itulah waktu yang sering mempertemukan Abi
dan Mami, ketika Mami sedang membereskan perlengkapan mengajarnya dan Abi yang
tentu datang lebih awal untuk mengumandangkan adzan maghrib.
Tiga tahun setelah Abi
meraih gelar masternya dan Mami menyelesaikan studi setingkat SMU, Abi mengucapkan ijab qobul di depan ayah dari
mempelai pengantin perempuan yang bernama Amira. Ya, Amira yang memiliki nama
panggilan Ami itu pun berubah menjadi Mami ketika putri pertamanya berusia 1,5
tahun. Putrinya memanggilnya dengan pangilan “Ami” karena sering mendengar Abi sering mengucapkan
“Ami”, seketika itu Abi mengajari Aland untuk memanggilnya dengan panggilan “Mami”.
Itulah kisah pertemuan
Abi dan Mami yang kemudian dikaruniai Allah dua putri yang cantik jelita, Aisya
Alandia dan Amicyra Azzahra. Aku tidak akan pernah melupakan nama-nama yang
indah ini, aku berjanji sampai kapanpun. Aku pun ingin saatnya nanti memiliki
nama yang indah, seindah nama-nama yang kusebutkan tadi.
“Tentu saja kau akan
memiliki nama yang indah..., namun ada syaratnya.” Tiba-tiba
temanku yang memberikan informasi tadi berbisik kepadaku.
“Apa syaratnya?” tentu
aku sangat ingin tahu.
“Jika kelak orang yang
akan menjadi ayahmu nanti melakukan kewajibannya sebagai ayah terhadap anaknya,” temanku berkata mantap memberikan
jawabannya, namun aku masih belum paham.
“Kewajiban apa seorang
ayah terhadap anaknya?” rasa penasaranku meningkat.
“Setahuku ada tiga. Yang pertama yaitu
memilihkan seorang ibu yang baik dan sholihah bagi anaknya. Lalu yang kedua
yaitu memberikan nama bagi anaknya dengan nama yang baik. Dan yang ketiga yaitu
mengajarkan bagi anaknya agama dan adab,”
dengan sangat yakin temanku menjelaskan ketiganya sekaligus, namun aku kemudian
bertanya-tanya.
“Dari mana kau tahu
semua kewajiban itu?”
“Dari makhluk bersayap
yang telah memberikan informasi
penting
untukmu tadi. Tapi jangan kau tanya dimana ia tinggal, karena tadi aku hanya
kebetulan bertemu dengannya
dan ketika kutanya dimana rumahnya, dia tak mau menjawab dan langsung pergi
sambil tersenyum kepadaku”.
Beruntung sekali
temanku ini, pikirku. Jika aku bertemu dengannya aku akan mengajaknya berteman, dan tentu aku
akan mendapat banyak informasi yang ingin aku ketahui.