Selasa, 26 Juli 2016

Chapter 7 : Detektif yang Lupa


“Kok kantong yang dibawa sepertinya berat sekali?, Cyra jadi beli buku atau beli beras?” Abi menyambut Mami dan Cyra yang baru pulang dari toko buku dengan menggoda putri bungsunya.
Abi adalah satu-satunya lelaki di rumah itu yang selalu membuat suasana rumah hangat dan ramai.  Ketika Mami dan kedua putriya sedang kesal karena suatu masalah, ia lah yang dapat merubah wajah kusut mereka menjadi segar dan ceria kembali. Abi adalah sosok yang paling dirindukan oleh ketiga wanita di rumah itu. Ketika Abi sedang pergi dinas keluar kota, hari kedatangannya akan disambut oleh ketiga wanita itu dengan sangat meriah. Abi adalah lelaki yang tak kenal lelah, setiap pulang dari kantor wajahnya segar dan semangat. Sore hari adalah waktunya ia bercengkerama dengan kedua putrinya.
Pernah suatu sore, saat Cyra sedang berada di taman kemudian Abi pulang dan mengajaknya bermain, Cyra bertanya, “Abi di kantor kerja apa sih?, kok sampai di rumah tidak terlihat wajah lelah?”. Abi tertawa kemudian seketika merubah raut wajahnya seperti orang sedang kelelahan, mata sayu dan bibir cemberut, “Wajah Abi harus seperti ini?”. Cyra tertawa lebar, dan Abi kembali bicara, “Di kantor mungkin Abi memang lelah, tapi saat hendak pulang tiba-tiba energi Abi kembali penuh dan semangat ingin segera tiba di rumah. Setiap di perjalanan pulang, Abi selalu tidak sabar ingin segera bertemu dengan ketiga wanita yang sangat Abi rindukan, meskipun Abi hanya meninggalkan rumah selama sembilan jam.”    
Seperti sore hari ini, melihat keceriaan di wajah Cyra meskipun cukup kepayahan membawa kantong yang terlihat cukup berat, membuat Abi tidak dapat menahan untuk tidak menggoda putri bungsunya itu.
Cyra memanfaatkan situasi itu, “Ya ini Bi, tolong bawakan,” senyumnya merayu manja.
Cyra segera masuk ke dalam rumah dan duduk santai di ruang tengah, Abi dan Mami pun menyusulnya.

Chapter 6 : Pertemuan Dua Lelaki


Hari Sabtu.
Pagi-pagi Aland sudah berkemas menyiapkan sepeda motornya di halaman rumah. Sesuai jadwal yang tertulis dalam brosur, bahwa kegiatan kuliah pranikah akan dimulai hari ini. Aland tidak ingin terlambat untuk pertemuan perdananya ini.
Seusai jamaah sholat shubuh tadi, Aland menyampaikan kepada Abi dan Mami tentang agenda yang akan diikutinya selama dua bulan ke depan. Abi dan Mami memberikan tanggapan yang baik dan mendukung Aland untuk serius mengikuti kegiatan tersebut.
Pukul enam pagi, Aland sudah memanaskan sepeda motornya, kemudian berpamitan dengan Mami yang sedang berada di dapur. Ia sempat menengok ke arah pintu kamar Cyra yang terbuka, dilihatnya Cyra sedang asyik membaca buku.
“Cyra, kakak pamit dulu ya. Maaf, selama dua bulan ke depan kakak tidak dapat menemani hari libur Cyra di akhir pekan.” Aland berbicara dalam hatinya sendiri. Ia segera berlalu dari depan kamar Cyra menuju halaman rumah, kemudian menaiki sepeda motornya dan membawanya menyusuri jalanan yang dahulu rutin ia lewati selama masih menjadi mahasiswa.
Aland tiba di Masjid Kampus tepat lima belas menit sebelum kegiatan dimulai.
Ia segera menyiapkan buku kuning setelah narasumber mulai memberikan materinya. Pembahasan materi hari ini tentang persiapan pernikahan. Narasumber mengawali materinya dengan sebuah pertanyaan, “Apa itu pernikahan?”. Dan tepat sekali Narasumber itu menunjuk Aland untuk meberikan jawabannya. Aland bereaksi cukup kaget atas penunjukan dirinya, “Hah, kenapa aku?, apa aku yang terlihat paling bersemangat atau tampangku ini terlihat belum pantas membicarakan pernikahan,” Aland bergumam dalam hati dan segera mencari-cari jawaban di dalam pikirannya. Sesaat kemudian satu kalimat meluncur dari pikiran Aland, dan spontan ia memberikan jawabannya di depan Narasumber dan peserta yang lainnya, “Pernikahan adalah perjanjian. Acaranya berlangsung dalam hitungan menit. Yang penting dalam pernikahan adalah kehidupan pasca pernikahan itu sendiri.” Aland tersenyum kepada Narasumber, “Semoga jawabanku cukup mendekati yang ia harapkan,” gumamnya dalam hati.
“Tepat jawaban teman kita ini. Sudah siap menikah dik?” Narasumber itu menggoda Aland dengan pertanyaannya. Dan Aland hanya dapat membalasnya dengan senyuman, “Siap atau tidak, hatiku pun tak mampu menjawabnya,” hati kecilnya menjawab.
Narasumber melanjutkan penjelasannya, “Secara bahasa pernikahan adalah penggabungan atau pencampuran. Dan dalam istilahnya pernikahan adalah akad antara seorang laki-laki dengan wali perempuan.”

Chapter 5 : Princess Hania


Hari Jumat. Beberapa kendaraan di komplek itu keluar lebih pagi dari hari biasanya. Sang Bupati menerapkan pola hidup sehat bagi seluruh pekerja di kota ini. Senam pagi di hari Jumat menjadi salah satu yang diterapkan oleh mayoritas perusahaan.
Pukul 6 pagi, Abi dan Cyra sedang bergegas menghabiskan sarapan mereka di ruang makan. Sementara Mami menyiapkan perlengkapan Abi, dan Aland sibuk membereskan peralatan masak di dapur.
“Mami, rasa nasi gorengnya agak beda, lebih enak. Ditambah pake apa Mi?” Cyra bertanya ke Mami dengan setengah berteriak dan sambil terus mengunyah. Alih-alih mendapat jawaban dari Mami, Cyra mendapat teguran dari Abi.
“Ayo Cyra, kita harus bergegas. Ini hari Jumat, Abi harus berangkat lebih pagi, atau mau diantar Kak Aland saja?”. Abi sudah beranjak dari kursinya.
Eh, tidak Bi, Cyra diantar Abi saja. Cyra juga harus berangkat lebih awal.” Cyra terus menyelesaikan sarapannya sambil tersenyum merayu Abi.
Setelah minum air putih dan memasukkan bekal makannya ke dalam tas, Cyra mengingatkan Abi, “Abi nanti sepulang Abi dari kantor, Abi jemput Cyra lagi di rumah Anis seperti kemarin hari Rabu itu ya, kan jauh Bi kalau Cyra naik angkot sendiri. Nanti sepulang sekolah Cyra harus mengerjakan tugas lagi di rumah Anis, boleh kan Mi?” sambil memakai sepatunya di teras rumah, Cyra meminta ijin ke Mami dan Abi yang sudah menunggunya di halaman rumah. Mami mengerutkan dahinya mendengar permintaan Cyra.

Selasa, 05 April 2016

Bahagia dengan Membahagiakan


Kisah ini berasal dari sebuah rumah petak berukuran lima kali tujuh meter di salah satu kota besar di Indonesia. Ghani namanya, seorang laki-laki desa dengan perawakannya yang santun dan sangat mencintai istri satu-satunya. Ia kini terdampar dalam profesi seorang guru demi meneruskan perjuangan ayahnya. Namun, bukan menjadi seorang guru lah cita-cita Ghani, melainkan seorang programmer. Saat ini, sambil terus merajut cita-citanya, ia tetap bertanggungjawab pada profesi gurunya, juga pada keluarga kecilnya.

Senin, 04 April 2016

Menjadi Santri Baru di Darul Arqam

Darul Arqam in my memory
Enam tahun di Darul Arqam (DA) bagi saya itu merupakan salah satu fase hidup. Ketika baru masuk menjadi santri baru, saya berpikir sepertinya saya akan menjalani sisa hidup hanya di pondok tersebut (padahal saat itu masih berusia 11 tahun). Tapi pikiran tersebut menjadi penyesalan di tahun terakhir saya di DA, karena justru enam tahun saya di pondok bukan menjalani sisa hidup namun masa karantina (ini bahasa saya). Sejauh mana seorang alumni DA menjadi “orang” kemungkinan besar dipengaruhi oleh enam tahun masa karantina tersebut. Pernah saya mencoba mencari foto saya saat sebelum masuk DA dan setelah lulus dari DA, saya sangat yakin bahwa hal yang membentuk diri saya sehingga berbentuk seperti saat ini yaitu karena kehidupan masa karantina tersebut. Coba teman-teman melakukan hal seperti itu bahkan sampai identifikasi diri mulai dari hal yang kecil, seperti makanan kesukaan dan yang tidak disukai.

Sabtu, 12 Maret 2016

Chapter 4 : Persiapan Dimulai


Malam itu, setelah perbincangan urusan dapur selesai, Aland bergegas masuk kamar. Ia ingin segera menuliskan rencana-rencana kecil yang harus dilakukan beberapa bulan ke depan. Aland mengingat kembali pesan yang disampaikan Abi tadi, Abi ingin segera berkenalan dengan Adnan.
Sebelum Aland mulai menuliskan target-targetnya di buku kuning, ia mengambil hp-nya dan mengirim pesan untuk Tara.
(Sahabatku yang baik dan cantik. Sepertinya kita perlu bertemu dengan Kak Adnan. Abi ingin segera ketemu dengan beliau, tapi aku berencana ada pertemuan dulu, aku ingin kasih prolog dulu. Ku tunggu kabar baik segera.)
Tak lama kemudian datang balasan pesan dari Tara. (Baik sahabatku yang tak kalah cantik. Malam ini aku akan hubungi Mas Rian untuk urusan penting ini.)
Aland tersenyum lega. Ia berharap esok akan mendapat kepastian waktunya dari Tara. Buku kuning dan pulpennya pun kembali dalam genggamannya.
Beberapa menit berlalu, halaman buku itu masih kosong. Aland masih serius berpikir, pulpen masih berada di tangannya, menggantung di atas kertas.
“Aku perlu membaca, aku butuh referensi, aku belum yakin harus memulai dari mana untuk mempersiapkan semua ini,” Aland berbisik dalam pikirannya sendiri. Matanya pun beralih pada rak buku bertingkat empat di sudut kamarnya. Ia mengambil beberapa buku miliknya.

Jumat, 04 Maret 2016

Chapter 3 : Detektif Cilik


Hari Selasa.
Sejak bangun tidur, raut muka Cyra tidak berubah. Di rumah, Abi dan Mami hanya melihat muka cemberut Cyra. Abi yang pintar menggoda pun tidak berhasil mendapat senyum khas Cyra, bahkan Mami yang sudah memasakkan Cyra nasi goreng spesial pun tetap tidak mendapatkan sapaan pagi Cyra yang selalu ceria. Hingga Abi yang mengantarkan Cyra sampai depan gerbang sekolah pun hanya mendapatkan ciuman di tangan dan ucapan salam tanpa senyum.
Di ruang kelas, teman sebangku Cyra pun keheranan dengan muka kesal Cyra sejak masuk kelas tadi. Cyra hanya duduk dengan memasang muka kesal, teman sebangkunya tidak berani bertanya terlebih dahulu sebelum Cyra membuka pembicaraan. Teman sebangkunya ikut diam memperhatikan Cyra.
Sampai waktu istirahat, teman sebangkunya itu akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Cyra.
“Cyra, jajan ke kantin yuk, tadi pagi aku belum sempat sarapan, laper nih,ajak Anis, teman sebangku Cyra.
“Tadi aku sudah sarapan, jadi malas jajan,” Cyra menjawab tanpa sedikit pun melihat ke arah Anis.
Sekarang perhatian Cyra hanya tertuju pada kertas yang ia tulis sejak tadi. Anis berprasangka bahwa benar ada sesuatu hal yang menimpa Cyra, namun ia belum menemukan apa penyebab yang membuat Cyra bermuka kesal semenjak masuk kelas tadi pagi.

Selasa, 01 Maret 2016

Chapter 2 : Bertemu Ahli Masak


Hari Ahad.
Satu jam sebelum adzan shubuh berkumandang, Aland menghabiskan waktunya duduk berdiam diri di atas sajadahnya. Sajadah yang tidak pernah keluar dari kamarnya karena itu sajadah kesukaannya. Tubuh Aland hanya duduk terdiam, namun otak dan hatinya terus bekerja untuk memanjatkan segala doa yang Aland pinta kepada Sang Penggenggam Jiwa Manusia.
Aland melaksanakan sholat tahajud sebelas rakaat. Ia selalu merasa bahwa ia tidak pandai berdoa, ia merasa takut jika doa yang ia panjatkan berlebihan atau menyinggung kekuasaan Allah atau bahkan doanya itu memaksa kehendak-Nya.
Ya Allah...
Hanya kepadaMu kami berserah diri,
Hanya kepadaMu kami memohon pertolongan,
Hanya kepadaMu kami menggantungkan hidup kami,
Ya Allah...
Tuntunlah kami kepada jalan Mu yang lurus,
Jalan yang Engkau ridhoi,
Jalan orang-orang beriman,
Jalan orang-orang yang mencintaiMu dan RosulMu,
Jalan orang-orang yang senantiasa menyerukan agamaMu,
Ya Allah...
Jauhkanlah kami dari bisikan dan godaan setan,
Jagalah hati kami, pikiran kami, lisan kami, penglihatan kami, pendengaran kami, penciuman kami, tangan, kaki dan seluruh tubuh kami dari perbuatan sia-sia yang menjerumuskan kami kepada jalan yang sesat,

Jumat, 26 Februari 2016

Chapter 1 : A Family


“Cyra..., kau sedang apa?, sepedamu sudah Abi siapkan di depan, ayo segera!” Abi berteriak dari teras rumah.
Teriakan Abi jelas mengganggu lamunan Cyra yang masih memikirkan kakaknya. Cyra masih di dalam kamar setelah sholat shubuh tadi, dan ia sedang berpikir keras. Tiba-tiba terlintas sebuah ide setelah Cyra mendengar teriakan Abi tadi.
“Tunggu bi, Cyra lagi ganti baju dulu,” Cyra berteriak tidak kalah keras dari teriakan Abi. Cyra berpikir dengan olahraga pagi bersama Abi tentu akan Cyra manfaatkan untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan kakaknya.
Setiap hari Ahad, Abi tidak pernah luput sekalipun mengajak Cyra olahraga pagi, baik bersepeda mengelilingi kota atau sekedar lari pagi di alun-alun kota. Pesan Abi yang selalu diingat Cyra yaitu jangan pernah mengeluh sakit kalau tidak rajin olahraga. Abi bukan seorang atlet olahraga, tapi komitmennya untuk berolahraga melebihi seorang atlet lari. Bahkan tidak ada pengurangan jatah waktu olahraga pagi di Bulan Ramadhan. Olahraga pagi setiap hari Ahad itu hanya pernah absen ketika bersamaan dengan Hari Raya Idul Fithri, Hari Raya Idul Adha, dan ketika Abi sedang dalam perjalanan. Konon tiga jam sebelum Abi mengucapkan ijab qobul saat menikahi Mami, Abi menyempatkan untuk lari pagi keliling kampung halamannya Mami.
Ayo Bi, Cyra suda siap. Abi, nanti kita ngebubur dulu ya di alun-alun,” Cyra menghampiri Abi yang sudah siap menaiki sepedanya. Cyra pun mengambil sepedanya setelah melihat anggukan Abi. Cyra dan Abi pun mulai bersepeda.
Sekitar 150 meter dari rumahnya, Cyra sudah tertinggal di belakang Abi. Cyra segera mempercepat lajunya dan bertekad untuk memulai penyelidikannya perihal Kak Aland yang bertingkah aneh dari semalam.
“Abi.., Kak Aland kemana?, kenapa hari ini boleh absen olahraga pagi?” Cyra bertanya dengan setengah berteriak karena Abi berada dua meter di depan Cyra. Abi pura-pura tidak mendengar dan tetap santai mengayuh sepedanya.
“Abi !! Kak Aland kemana?” Cyra meninggikan suaranya. Namun Abi tetap pura-pura tidak mendengar. Setelah tiga kali Cyra berteriak, Abi memperlambat laju sepedanya hingga sejajar dengan sepeda Cyra.
“Kak Aland ada keperluan yang membuatnya harus berangkat pagi-pagi, jadi tidak bisa ikut olah raga pagi, tapi Kak Aland berjanji besok pagi akan besepeda sendiri,Abi tersenyum menggoda Cyra.
Senyuman Abi membuat senyuman terbalik di bibir Cyra. Itu sama sekali bukan jawaban yang diharapkan Cyra. Cyra memasang muka kesal ketika Abi melihatnya.
“Yang jelas Kak Aland pergi bukan dengan alasan olahraga bersama teman padahal akhirnya bermain di rumah teman,” Abi menambah kekesalan Cyra dengan menyinggung kebohongan yang pernah Cyra lakukan sebulan yang lalu.
Kemudian Abi mempercepat kayuhan sepedanya meninggalkan Cyra di belakang, sambil berteriak “ Ayo... siapa tadi yang mau sarapan bubur ayam.”
Cyra jelas kesal, ia melambatkan kayuhan sepedanya dan berpikir akan membiarkan Abi menunggunya di alun-alun.
Namun sampai di tenda bubur ayam yang menjadi tempat kesukaannya, ia tidak melihat Abi. Ia kebingungan sambil kembali mengelilingi alun-alun, barangkali ia akan melihat Abi. Tiga kali putaran ia tetap tidak melihat Abi. Terpaksa ia harus pulang tanpa bubur ayam, karena ia tidak menemukan Abi dan menyadari bahwa ia tidak membawa uang sepeser pun.
Cyra segera pulang dengan lelah, lapar dan haus. Rencana penyelidikannya sementara menguap diganti dengan kekesalan kepada Abi yang telah meninggalkannya. Ia mengayuh sepeda sangat pelan karena tenaganya sudah cukup terkuras. Tiba di rumah, ia melihat Mami sedang berkebun di halaman depan.
Mami sedang merapikan tanaman yang sudah mulai tidak beraturan di taman kecilnya depan rumah. Mami memang jarang ikut Abi olahraga pagi, dan Abi tidak pernah memaksanya. Mami selalu beralasan senam yang diikutinya dua kali sepekan sudah cukup untuk menjaga kesehatan badannya. Pernah sekali Mami ikut Abi olahraga pagi, namun waktu istirahatnya di alun-alun dua kali lebih lama dari waktu bersepedanya. Maka dari itu Abi lebih menuntut dua putrinya untuk mengikuti rutinitasnya olahraga pagi.
Mami melihat putri bungsunya tiba rumah dengan raut wajah terlipat kusut, Mami hanya tersenyum kepada Cyra.
“Taruh saja sepedanya di samping sepeda Abi, nanti Mami yang masukkan ke garasi,” Mami membantu mengurangi kelelahan Cyra. “Oiya bubur ayamnya sudah Mami siapkan di atas meja makan,” Mami jelas mengurai raut wajah Cyra yang terlipat.
Trimakasih Mi...” Cyra tersenyum.
Di ruang makan, Abi telah menghabiskan bubur ayamnya. Cyra mengambil bubur ayamnya tanpa menghiraukan Abi di depannya. Cyra memilih menyantap bubur ayamnya di teras rumah sambil menemani Mami yang masih sibuk mengurusi tanaman.
Kepada Mami, Cyra melanjutkan penyelidikannya sambil menyantap bubur ayam.
Mi, Kak Aland pergi kemana sih pagi-pagi?.., Abi ga mau ngasih tau tuh” Cyra menyantap bubur ayam sambil memulai penyelidikannya.
Mami yang sedang memotong ranting-ranting pohon berpikir harus memberi jawaban apa kepada Cyra.
“Kak Aland akan bertemu seseorang yang Kakak hormati, makanya kakak berusaha berpenampilan rapi dan berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat dengan janjinya bertemu orang tersebut, Mami terus merapikan pohon kamboja kesayangannya.
“Cyra ga ngerti mi, siapa orang itu?” Cyra bertanya-tanya sambil terus menyantap bubur ayamnya yang hampir habis.
“Cyra sekarang usianya berapa?”
Sepuluh tahun Mi, kenapa?”
“Usia Cyra 10 tahun, usia Kak Aland 22 tahun. Nanti Cyra akan mengerti urusan Kak Aland ketika usia Cyra menginjak 22 tahun, bisa lebih cepat atau lebih lama. Sudah, sekarang urusan untuk gadis berusia 10 tahun yaitu segera masuk ke dalam dan bawa piring kotor ke dapur. Ok.” Penjelasan Mami membuat Cyra malas untuk melanjutkan bertanya lagi dan segera mengikuti apa yang diperintah Mami. Cyra masuk ke dalam, ia kembali memasang muka kesal ketika berpapasan dengan Abi.
Hari Ahad itu, Cyra menghabiskan waktu seharian di rumah membantu Mami. Di dapur, membersihkan rumah, dan kembali berkebun bersama Mami di sore hari. Cyra ingin memanfaatkan waktu jika ada kesempatan untuk melanjutkan penyelidikannya.
Cyra tidak peduli urusan macam apa untuk manusia berusia 22 tahun, yang penting dia ingin tahu ada apa dengan kakaknya akhir-akhir ini. Dalam hatinya berbisik, “Aku tidak peduli urusan apa itu, tapi yang jelas urusan itu telah mencuri waktuku bersama kakak. Sepekan ini aku tidak ada waktu bercerita dengan kakak, ketika kakak di rumah sering hanya berdiam di dalam kamar dan tidak ingin diganggu. Jika urusan itu benar-benar akan mengambil waktuku bersama kakak, lalu siapa yang akan mengajakku jalan-jalan ke toko buku, Abi tidak pernah mau berlama-lama di toko buku apalagi Mami di ajak ke toko buku pun tak mau. Sepekan lalu aku diajarkan cara memakai jilbab untuk berangkat sekolah, lalu berjilbab untuk sekedar jalan-jalan, ke rumah teman dan ketika olahraga bagaimana, kakak belum memberi tahuku caranya. Kakak jangan meninggalkan Cyra ya. Tiba-tiba hatinya berdesir.

--- ooo ---

Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Aland sudah tiba di rumah disambut Abi yang sedang bersiap pergi ke masjid. Abi memang harus sudah sampai di masjid sebelum adzan berkumandang, jika Abi terlambat pergi ke masjid maka adzan di komplek perumahan itu pun akan terlambat berkumandang. Abi adalah muadzin utama di masjid itu, di hari libur Abi mengumandangkan adzan 5 kali sehari, namun hanya 3 kali di hari kerja.
Abi hanya sempat menjawab ucapan salam Aland.
Aland disambut Mami dan Cyra yang sedang menyiapkan makan malam di ruang makan. Aland ikut duduk bergabung di ruang makan.
Hmm Mami masak apa nih?” Aland penasaran sambil melihat-lihat apa saja yang ada di meja makan.
Tapi bukan Mami yang menjawab pertanyaan Aland, melainkan Cyra.
“Kita masak spesial Kak, karena Kakak seharian ini pergi bertemu dengan orang yang Kakak hormati, betul ya Kak?” Cyra sudah tidak sabar ingin menyelidiki kakaknya.
Aland dan Mami saling pandang. Aland mengerutkan kening dan Mami hanya tersenyum.
“Orang itu siapa Cyra?” Aland berbalik tanya kepada Cyra.
“Kata Mami, Kakak hari ini bertemu dengan orang yang Kakak hormati, makanya Kakak pagi-pagi sudah berangkat dengan penampilan yang sangat rapi,” Cyra melanjutkan penyelidikannya.
Tidak ingin dipersalahkan, Mami memotong perbincangan Aland dan Cyra, “Cyra, ayo segera wudhu, kita sholat di masjid. Kak Aland tentu lelah, biarkan Kak Aland mandi dulu dan sholat di rumah.
Aland menyambut baik kata-kata Mami, “Iya Mi, Aland ke kamar dulu ya,” Aland senyum kepada adiknya kemudian segera berlalu ke kamarnya.
Cyra menyambut tidak baik dengan muka kesal, lalu bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Cyra sangat senang sholat berjamaah di masjid, ia senang suasana pergi ke masjid bersama Mami dan Kak Aland, juga suasana pulang bersama Abi, Mami dan Kak Aland. Namun saat itu Cyra hanya pergi berdua bersama Mami.
“Mami, kenapa tadi Kak Aland tidak menjawab pertanyaan Cyra?” Cyra bertanya sambil menutup pagar rumah. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh Mami.
Ssst...kita akan pergi ke masjid, Cyra mau pahala langkah kita ke masjid hilang hanya karena kita membicarakan orang lain?” jawaban Mami menjadi senjata ampuh yang membungkam mulut Cyra.
“Tidak,” kemudian Cyra memilih diam selama perjalanan ke masjid.
Masjid komplek perumahan itu merupakan satu-satunya masjid bagi sekitar 500 penduduk yang tinggal di perumahan itu. Masjid itu terletak di samping pintu gerbang masuk perumahan, sedangkan rumah Abi terletak di belakang perumahan, jarak ke masjid sekitar 200 m. Untuk Abi yang bertugas sebagai muadzin utama, jarak itu tidak menjadi masalah, apalagi perjalanan pulang dari masjid di waktu Maghrib selalu bersama Mami dan kedua putrinya, hanya saja Aland sering absen karena aktivitasnya yang membuat Aland sering pulang ke rumah selepas Maghrib.
Saat perjalanan pulang dari masjid ke rumah, Cyra memilih diam. Meskipun Abi bercerita tentang perkembangan jamaah di masjid, itu sama sekali tidak menarik perhatian Cyra. Cyra berpikir bahwa Abi dan Mami tidak mempedulikan keingintahuannya. Ia bergegas jalan, ia ingin segera sampai di rumah dan bertanya kepada Aland.
Sampai di rumah, Cyra mendengar Kak Aland sedang mengaji. Sebelum membuka pintu kamar Aland, Mami sudah menyuruhnya terlebih dahulu.
“Cyra, tolong siapkan piring dan gelas di meja makan ya!” Mami mengetahui apa yang akan Cyra lakukan. Terpaksa Cyra harus melakukan apa yang Mami perintahkan.
Tidak lama kemudian Abi, Mami dan Kak Aland sudah berkumpul di meja makan. Perbincangan selama di meja makan dikuasai oleh Abi yang semangat menceritakan tentang peningkatan jamaah di masjid. Abi sama sekali tidak menyinggung kepergian Aland seharian ini. Cyra pun menjadi tidak berminat melakukan penyelidikannya saat makan malam, karena ia berpikir Abi dan Mami memang sengaja membuatnya tidak perlu tahu apa yang telah Aland kerjakan seharian ini. Ia berniat setelah sholat Isya nanti ia akan ngobrol dengan Aland berdua. Cyra sudah tidak sabar menyudahi makan malamnya.
Setelah sholat Isya, Cyra segera menuju kamar Aland.
“Kak, Cyra malam ini tidur bareng kakak ya,” Cyra memulai rencananya.
“Kenapa?, bulan kemarin Cyra sudah berjanji lho seterusnya akan tidur di kamar sendiri, Cyra kan sudah gadis yang berani sekarang,” Aland tersenyum mencoba untuk menolak permintaan Cyra.
“Cyra bukan tidak berani Kak, tapi Cyra sedang ingin cerita sama Kakak,” Cyra tetap memaksa Aland.
“Hari ini Kakak benar-benar lelah, besok malam Kakak janji tidur di kamar Cyra, bagaimana?” Aland mencoba memberikan pilihan lain kepada adiknya.
“Tapi kakak janji ya.
“Iya, sekarang Cyra ke kamar, belajar lalu tidur ya.”
Setidaknya Aland memiliki waktu untuk memikirkan bagaimana cara menjelaskan ke Cyra, adik yang sangat ia sayangi. Cyra sudah beranjak menjadi gadis remaja, keingintahuannya sangat tinggi. Satu hal pasti yang membuat Aland belum dapat menjelaskan ke Cyra yaitu ungkapan Cyra setahun lalu ketika Abi membujuk Cyra untuk masuk sekolah asrama di luar kota, “Cyra ga mau berpisah dengan Kakak, sebelum Cyra benar-benar jadi perempuan shalihah seperti Kakak. Tidak perlu sekolah di asrama, Kakak juga pasti akan membimbing Cyra”. Saat itu Cyra bersikeras menolak permintaan Abi, Abi pun tidak dapat memaksa putri bungsunya.

--- ooo ---

Ahaa... Aku sudah tahu nama lengkap kakak yang cantik itu, bahkan nama lengkap seluruh penghuni rumah itu. Temanku yang memberi tahuku, ia mendapatkan informasi itu dari sebuah buku yang dibawa oleh makhluk bersayap. Aku tak tahu siapa itu, yang lebih penting aku telah mendapatkan informasi tentangnya. Ya, ia yang ingin kuceritakan padamu.
Abi, sang ayah Aland dan Cyra ini bernama lengkap Arman Farabi, dipanggil Abi sejak usia 1 tahun hingga saat ini. Panggilan Abi bagi kedua putrinya ini tentu mengikuti gaya bicara sang Mami. Mami yang berdarah sunda ini dipertemukan Allah SWT dengan Abi yang berdarah jawa di sebuah kota yang tidak mengenal ras sunda dan jawa, Manchester Inggris. Mami dibawa oleh ayahnya ketika lulus tingkat SMP untuk disekolahkan di Inggris. Ayah Mami adalah seorang staf koki di sebuah restoran, ia merupakan tenaga yang sangat terampil dan disiplin sehingga memikat hati pemilik restoran tersebut dengan memberikan penghargaan kepadanya berupa biaya sekolah untuk putri bungsunya, yaitu Mami.
Mami turut membantu biaya hidup ayahnya dengan mengajar mengaji bagi anak-anak muslim di sebuah lembaga islam di kota tersebut. Masjid tempat mengajarnya itu cukup berdekatan dengan apartemen yang ia tinggali bersama ayahnya, dan berseberangan dengan rumah yang disewa oleh Abi dengan beberapa rekannya. Abi yang memiliki kebiasaan istimewa mengumandangkan adzan itu pun hampir setiap hari pergi ke masjid. Sepuluh menit sebelum adzan maghrib, itulah waktu yang sering mempertemukan Abi dan Mami, ketika Mami sedang membereskan perlengkapan mengajarnya dan Abi yang tentu datang lebih awal untuk mengumandangkan adzan maghrib.
Tiga tahun setelah Abi meraih gelar masternya dan Mami menyelesaikan studi setingkat SMU, Abi mengucapkan ijab qobul di depan ayah dari mempelai pengantin perempuan yang bernama Amira. Ya, Amira yang memiliki nama panggilan Ami itu pun berubah menjadi Mami ketika putri pertamanya berusia 1,5 tahun. Putrinya memanggilnya dengan pangilan “Ami” karena sering mendengar Abi sering mengucapkan “Ami”, seketika itu Abi mengajari Aland untuk memanggilnya dengan panggilan “Mami”.
Itulah kisah pertemuan Abi dan Mami yang kemudian dikaruniai Allah dua putri yang cantik jelita, Aisya Alandia dan Amicyra Azzahra. Aku tidak akan pernah melupakan nama-nama yang indah ini, aku berjanji sampai kapanpun. Aku pun ingin saatnya nanti memiliki nama yang indah, seindah nama-nama yang kusebutkan tadi.
“Tentu saja kau akan memiliki nama yang indah..., namun ada syaratnya.Tiba-tiba temanku yang memberikan informasi tadi berbisik kepadaku.
“Apa syaratnya?” tentu aku sangat ingin tahu.
“Jika kelak orang yang akan menjadi ayahmu nanti melakukan kewajibannya sebagai ayah terhadap anaknya,” temanku berkata mantap memberikan jawabannya, namun aku masih belum paham.
“Kewajiban apa seorang ayah terhadap anaknya?” rasa penasaranku meningkat.
“Setahuku ada tiga. Yang pertama yaitu memilihkan seorang ibu yang baik dan sholihah bagi anaknya. Lalu yang kedua yaitu memberikan nama bagi anaknya dengan nama yang baik. Dan yang ketiga yaitu mengajarkan bagi anaknya agama dan adab,” dengan sangat yakin temanku menjelaskan ketiganya sekaligus, namun aku kemudian bertanya-tanya.
“Dari mana kau tahu semua kewajiban itu?”
“Dari makhluk bersayap yang telah memberikan informasi penting untukmu tadi. Tapi jangan kau tanya dimana ia tinggal, karena tadi aku hanya kebetulan bertemu dengannya dan ketika kutanya dimana rumahnya, dia tak mau menjawab dan langsung pergi sambil tersenyum kepadaku”.

Beruntung sekali temanku ini, pikirku. Jika aku bertemu dengannya aku akan mengajaknya berteman, dan tentu aku akan mendapat banyak informasi yang ingin aku ketahui.