Hari Sabtu.
Pagi-pagi
Aland sudah berkemas menyiapkan sepeda motornya di halaman rumah. Sesuai jadwal
yang tertulis dalam brosur, bahwa kegiatan kuliah pranikah akan dimulai hari
ini. Aland tidak ingin terlambat untuk pertemuan perdananya ini.
Seusai
jamaah sholat shubuh tadi, Aland menyampaikan kepada Abi dan Mami tentang
agenda yang akan diikutinya selama dua bulan ke depan. Abi dan Mami memberikan
tanggapan yang baik dan mendukung Aland untuk serius mengikuti kegiatan
tersebut.
Pukul enam
pagi, Aland sudah memanaskan sepeda motornya, kemudian berpamitan dengan Mami
yang sedang berada di dapur. Ia sempat menengok ke arah pintu kamar Cyra yang
terbuka, dilihatnya Cyra sedang asyik membaca buku.
“Cyra,
kakak pamit dulu ya. Maaf, selama dua bulan ke depan kakak tidak dapat menemani
hari libur Cyra di akhir pekan.” Aland berbicara dalam hatinya sendiri. Ia
segera berlalu dari depan kamar Cyra menuju halaman rumah, kemudian menaiki
sepeda motornya dan membawanya menyusuri jalanan yang dahulu rutin ia lewati
selama masih menjadi mahasiswa.
Aland tiba
di Masjid Kampus tepat lima belas menit sebelum kegiatan dimulai.
Ia segera
menyiapkan buku kuning setelah narasumber mulai memberikan materinya.
Pembahasan materi hari ini tentang persiapan pernikahan. Narasumber mengawali
materinya dengan sebuah pertanyaan, “Apa itu pernikahan?”. Dan tepat sekali
Narasumber itu menunjuk Aland untuk meberikan jawabannya. Aland bereaksi cukup
kaget atas penunjukan dirinya, “Hah,
kenapa aku?, apa aku yang terlihat paling bersemangat atau tampangku ini
terlihat belum pantas membicarakan pernikahan,” Aland bergumam dalam hati dan
segera mencari-cari jawaban di dalam pikirannya. Sesaat kemudian satu kalimat
meluncur dari pikiran Aland, dan spontan ia memberikan jawabannya di depan
Narasumber dan peserta yang lainnya, “Pernikahan adalah perjanjian. Acaranya
berlangsung dalam hitungan menit. Yang penting dalam pernikahan adalah
kehidupan pasca pernikahan itu sendiri.” Aland tersenyum kepada Narasumber,
“Semoga jawabanku cukup mendekati yang ia harapkan,” gumamnya dalam hati.
“Tepat
jawaban teman kita ini. Sudah siap menikah dik?” Narasumber itu menggoda Aland
dengan pertanyaannya. Dan Aland hanya dapat membalasnya dengan senyuman, “Siap
atau tidak, hatiku pun tak mampu menjawabnya,” hati kecilnya menjawab.
Narasumber
melanjutkan penjelasannya, “Secara bahasa pernikahan adalah penggabungan atau
pencampuran. Dan dalam istilahnya pernikahan adalah akad antara seorang
laki-laki dengan wali perempuan.”
Topik
perdana hari ini sangat menarik dan tepat untuk mengawali rangkaian persiapan
menikah. Topik ini menjadi koreksi diri bagi dirinya yang selalu mengatakan
siap menikah, apakah kesiapan itu muncul dari dalam pikiran dan mulut saja,
sehingga tidak ada tindakan nyata dalam mempersiapkan diri menuju kehidupan
pasca menikah. Dan bagi dia yang selalu meragu apakah dirinya sudah siap atau
belum untuk menikah, hal ini juga merupakan suatu dorongan untuk bersikap
percaya diri bahwa ketika seorang perempuan telah menerima perkenalan dari
seorang laki-laki ia harus siap untuk menikah dan mempersiapkannya.
Aland
tiba-tiba teringat satu hal penting, besok hari Ahad menjadi awal mula Abi
menerima perkenalan dari seorang laki-laki yang berniat menikahinya. “Semoga
menjadi awal yang baik,” batinnya. Kemudian
Aland mencatat beberapa hal penting yang disampaikan oleh Narasumber ke dalam
buku kuningnya.
Persiapan
menikah terdiri dari empat aspek, yaitu : aspek ruhiyah, aspek fikriyah atau
ilmu, aspek financial dan aspek fisik. Persiapan ruhiyah yaitu dengan
menyiapkan diri secara mental dan spiritual, secara mental artinya siap
bertanggungjawab dengan peran barunya sebagai seorang istri, dan secara
spiritual artinya siap untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibdahnya dan
senantiasa melibatkan Allah SWT dalam masa persiapan ini. Persiapan fikriyah
yaitu dengan semangat meningkatkan wawasan keilmuan yang harus dimiliki pasca
menikah nanti, seperti ilmu manajemen rumah tangga, manajemen keuangan,
manajemen komunikasi antara pasangan, dan pendidikan anak. Persiapan financial
yaitu dengan komitmen untuk berkarya dan mandiri financial sehingga seorang
wanita tidak meninggalkannya perannya sebagai madrasah pertama bagi keluarga. Persiapan
fisik yaitu mengetahui kondisi kesehatan antara pasangan suami istri sehingga
dapat melahirkan keturunan yang sehat, orangtua wajib menjaga kondisi
kesehatannya agar dapat menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.
Tidak
terasa waktu telah berjalan hampir tiga jam, di akhir materi Narasumber
memberikan sebuah pesan yang membuat Aland tersenyum. “Jadikan masa penantian
sebagai suatu kenikmatan. Nikmat sebagai bentuk kesyukuran kita kepada Allah
SWT, diberi waktu dan kesempatan untuk mempersiapkan bekal kehidupan pasca
menikah di saat penantian ini. Ada satu hal yang perlu diperhatikan khususnya
oleh aktivis mahasiswi yang selalu sibuk dan mengandalkan kantin atau warung
makan untuk memenuhi kebutuhan pangannya, yaitu bekal ilmu per-dapur-an.”
Narasumber tertawa kecil di akhir kalimatnya, diikuti oleh para peserta yang
mayoritas mungkin tersindir dengan kalimatnya tadi, termasuk Aland.
Kegiatan
perkuliahan perdana hari ini ditutup dengan pembagian kelompok diskusi yang
akan dilaksanakan hari Ahad besok. Masing-masing peserta diminta untuk membuat
tabulasi yang bertujuan untuk mengukur kesiapan menikah. Tabulasi itu terdiri
empat poin yaitu faktor pendorong, tantangan, faktor penarik dan pendukung.
Aland telah
mencatat semua penjelasan tentang tugas diskusi itu, kemudian acara ditutup dan
Aland bergegas kembali pulang ke rumah dengan sepeda motornya. Berhenti di
persimpangan jalan dia melihat toko buku langganannya, “Sudah cukup lama aku
tidak pergi ke toko buku, sebaiknya aku mampir ke toko buku dulu. Mungkin ada
sesuatu yang bisa aku bawakan untuk Cyra. Kalau aku mendapatkan buku favorit
Cyra, sepertinya dia tidak akan menolaknya,” pikir Aland. Ia tersenyum dan
segera menuju area parkir toko buku itu.
Satu jam
berlalu, Aland telah keluar dari toko buku dengan membawa satu kantong keresek
berisi empat buku, satu buku dongeng favorit Cyra, satu buku tentang manajemen
rumahtangga, dan dua buku lagi tentang resep masakan.. Tiba-tiba terlintas
sebuah ide dalam pikirannya, ia akan membuatkan sajian khas asli buatannya
sendiri ketika besok Adnan berkunjung ke rumahnya. “Setelah ini aku akan mampir
ke toko bahan kue dulu, membeli beberapa bahan dan perlengkapannya dengan
berbekal salah satu resep yang ada dalam buku ini,” pikirnya, sambil menyalakan
sepeda motor dan keluar dari toko buku itu.
---
ooo ---
Sore hari.
Aland duduk santai di ruang tengah, setelah ia membereskan bahan dan
perlengkapan yang ia beli di toko bahan kue tadi di dapur. Sesaat kemudian ia
beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke teras rumah. Di taman depan ada Cyra dan Mami yang sedang asyik berkebun,
ia hendak bergabung, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Ini saat yang tepat
memberikan kejutan untuk Cyra,” pikirnya. Ia kembali menuju kamarnya, mengambil
buku kejutan untuk Cyra, kemudian masuk ke kamar Cyra dan meletakkan buku itu
di atas meja belajar. Keluar dari kamar Cyra, Aland dikejutkan oleh suara Abi
yang sedang duduk di ruang tengah.
“Ah Abi bikin kaget saja, ada apa Bi?”, Aland masih berdiri di depan pintu
kamar Cyra.
“Sebetulnya
kamu tidak akan kaget kalau kamu tidak sedang mengendap-endap keluar dari kamar
Cyra.” Abi tahu persis apa yang Aland lakukan tadi. Kemudian tangan kanan Abi
menepuk perlahan kursi di samping kanannya sambil mengangguk. Aland paham
maksud Abi, ia segera menghampiri Abi dan duduk di sampingnya.
“Memberi
kejutan ke Cyra?” Abi menebak apa yang Aland lakukan tadi.
“Iya.
Semoga berhasil meluluhkan hatinya ya Bi.”
Aland tersenyum.
“Oiya, jadi besok jam berapa Adnan akan
datang ke rumah?” pertanyaan Abi beralih ke topik lain.
Dahi Aland
berkerut, raut muka Aland menunjukkan bahwa ia sedang berpikir. “Iya betul. Aku
terus mengingat bahwa hari Ahad besok Kak Adnan akan datang ke rumah, tapi
beliau belum memberiku kabar jam berapa akan ke rumah, dan kenapa tidak dari
kemarin aku menanyakannya melalui Tara, apa jangan-jangan Kak Adnan lupa akan
janjinya,” pikirnya.
Abi kembali
bertanya, “Aland, besok dia jadi datang ke rumah kan?”.
Pertanyaan
Abi memecah lamunan Aland. “Iya Bi,
InsyaAllah besok jadi. Tidak ada pembatalan dari sananya. Aland mau lihat hp
dulu barangkali ada sms masuk yang belum Aland baca,” jawab Aland kemudian
beranjak dari tempat duduknya.
Beberapa
langkah Aland berjalan, ia kembali menengok ke arah Abi, “Tapi hari Ahad besok
Abi ada di rumah terus kan?” Aland mencoba kembali memastikan.
“Iya.” Abi
tersenyum. Aland pun membalas dengan senyuman.
Aland masuk
ke dalam kamarnya, kemudian mengambil hp-nya yang masih tersimpan di tasnya. “Tuh
kan, ada dua pesan dari nomor tidak dikenal, mungkin saja ini dari Tara,”
gumamnya. Segera Aland membaca isi pesannya.
Pesan
pertama : Assalamu’alaikum. Dik Aland, Insya Allah besok hari Ahad saya akan
datang ke rumah Dik Aland pukul empat sore. Bagaimana, apakah Abi besok ada di
rumah?. Adnan.
Pesan
kedua, dikirim selang lima belas menit dari pesan pertama : Jika ada waktu lain
yang dikehendaki oleh Abi, mohon segera hubungi saya. Adnan.
Tangan
Aland terkulai di atas kakinya yang sedang duduk, masih dengan menggenggam
hp-nya. Ia langsung berpikir, “Kak Adnan masih menyimpan nomorku,” gumamnya.
“Bagaimana bisa, apa yang harus kulakukan?, langsung menjawab pesannya kah?,
atau aku menghubungi Tara terlebih dahulu?” otaknya terus berpikir.
Setelah
berpikir cukup lama, ia mengangkat kembali tangannya dan melihat ke layar hp,
“Aku akan membalas langsung pesan ini, karena baik Abi maupun Kak Adnan
membutuhkan kepastian ini segera. Nanti malam aku akan menghubungi Tara terkait
hal ini,” gumamnya. Ia segera membalas pesan itu : Wa’alaikumussalam. Maaf saya
baru saja buka hp. Insya Allah besok hari Ahad pukul empat sore ditunggu
kedatangannya oleh Abi di rumah. Sudah tahu alamat rumahnya?.
Pesan dari
Aland telah terkirim. “Aduh, kenapa isi pesanku seperti mengharap balasan pesan
lagi darinya. Bukankah tanpa kutanya seharusnya beliau bisa tahu alamat rumahku
dari biodata yang kemarin kuserahkan itu,” Aland menyesali isi pesan yang telah
terkirim itu.
Sesaat
kemudian ada suara pesan masuk di hp Aland. “Sudah stop, setelah ini tidak ada
balasan pesan lagi,” tegasnya sambil membuka isi pesan itu. Isi pesannya : Saya
sudah hafal alamat rumahnya, bahkan sebelum membaca biodata Dik Aland. Semoga
agenda besok sore berjalan lancar dan diridhoi-Nya, amin.
Tak mampu
dipungkiri, hati Aland berdesir membaca isi pesan itu. Ia segera meletakkan
hp-nya di atas meja belajar. Kepalanya tertunduk, kedua telapak tangannya
menopang wajahnya. Hati dan pikirannya bersatu mengingat asma-Nya.
“Ya Allah, Sang
Penguasa Hati. Tunjukkanlah kepada kami yang haq itu haq, dan yang bathil itu
bathil. Jelaskanlah kepada kami batas antara keduanya. Jagalah masing-masing
hati kami. Hanya Engkau sebaik-baik penjaga hati ini. Kami sangat memohon penjagaan
hati ini oleh Mu, Ya Muqollibul Qulub”.
Aland
mengangkat wajahnya kembali, samar ia mendengar teriakan Cyra dari arah
kamarnya, kemudian ia tersenyum. Ia mendengar Cyra berlari ke ruang tengah
menghampiri Abi. Tak berselang lama, Aland mendengar pintu kamarnya terketuk
dan perlahan terbuka, ia melihat kepala adiknya menyelinap masuk. Ia
menyambutnya dengan senyuman dan mengajaknya masuk. “Adik kakak yang cantik
sini boleh masuk,” Aland mengangguk penuh kehangatan yang terlihat dari
senyumnya.
Cyra segera
masuk kamar Aland dan menanyakan asal usul buku yang sedang dipegangnya itu.
“Buku ini
dari Kakak?” Cyra mengangkat buku itu di depan wajah Aland.
“Mmm kata siapa buku itu dari Kakak?”
Aland menggoda Cyra.
“Tadi kata
Abi,” Cyra menjawab singkat.
Muka polos
Cyra membuat Aland tertawa lepas.
“Kakak
kenapa malah ketawa?” Cyra kebingungan.
“Iya Cyra
sayang, tadi Kakak sempat mampir ke toko buku. Kakak melihat di rak buku baru
ada buku seri kesebelas ini, kalau tidak salah ingat terakhir Cyra bersama
Kakak ke toko beli seri kesepuluh kan?”
Cyra
tersenyum, “Terimakasih Kak”.
“Cyra sudah
tidak marah ke Kakak?”,
“Cyra tidak
pernah marah sama Kakak kok. Sudah ya
Kak, Cyra keluar dulu. Cyra sudah tidak sabar ingin baca buku ini.” Cyra tidak
ingin membahas kejadian-kejadian kemarin, baginya sekarang membaca lanjutan
serial Princess Hania ini lebih penting. Ia segera menuju taman depan rumah,
baginya itu tempat yang sangat nyaman untuk membaca buku.
Aland
tersenyum lega, “Semoga sikap Cyra kepadanya sudah kembali seperti sebelum
kejadian beberapa hari yang lalu”. Aland ingat harus segera memberi tahu Abi,
ia segera keluar kamar menuju ruang tengah. Abi masih duduk disana menyantap
pisang goreng bersama Mami. Aland segera bergabung dan duduk di kursi seberang
Mami.
“Bagaimana
kejutannya berhasil?” tanya Abi.
Aland
tersenyum, “Tentu berhasil Bi. Cyra
itu seorang kutu buku sejak kecil,” Aland ikut menyantap pisang goreng buatan
Mami.
“Oiya Bi, insya Allah besok pukul empat
sore Kak Adnan jadi datang ke rumah,” raut wajah Aland menunjukkan dirinya
sedang kebingungan.
“Iya, Abi
tunggu”.
“Kenapa
Aland terlihat bingung seperti itu?” tanya Mami penasaran.
Setelah
melihat ke arah taman dan memastikan bahwa Cyra masih asyik membaca buku
barunya, Aland menjawab pertanyaan Mami, “Eh
ini Mami, tentang Cyra. Sejak awal Aland belum pernah memberi tahunya tentang
semua ini, sampai prosesnya sudah sejauh ini Aland belum tahu bagaimana cara
menjelaskan tentang semua ini ke Cyra. Bagaimana menurut Abi dan Mami?”.
“Karena Abi
dan Mami masih melihat kebimbanganmu untuk berterus terang kepada Cyra, maka
tadi Abi dan Mami telah membuat rencana. Besok sore Mami akan mengajak Cyra
pergi ke toko buku, dan tadi Cyra sudah menyetujuinya. Kau yang bilang sendiri kan, adikmu itu kutu buku sejak kecil.”
Mami tersenyum.
“Tapi, Abi
berharap kamu segera mencari waktu yang tepat untuk berterus terang ke Cyra.
Dia adikmu, dia tentu akan sedih jika merasa terlambat mengetahui kabar gembira
tentang kakaknya sendiri.” Abi menambahi jawaban Mami.
Aland
tersenyum, namun raut wajahnya masih menunjukkan kegelisahannya. Di satu sisi,
ia cukup lega mendengar rencana Mami terkait kedatangan Adnan ke rumahnya besok
sore. Namun di sisi lain, ia masih terperangkap oleh rasa gelisahnya sendiri yang
semakin membelenggunya. Ia belum siap melihat kesedihan adiknya, yang mungkin
akan menganggap bahwa kabar gembira dirinya akan menikah menjadi suatu kedukaan
bagi adik kecilnya itu.
Abi
menangkap rasa gelisah Aland yang nampak dari raut wajahnya, “Aland, apa kamu
mengkhawatirkan Cyra yang akan berlarut dalam kesedihan bahwa kenyataan
kakaknya menikah itu akan meninggalkannya?” Abi mencoba menerka kegelisahan
Aland.
Aland
perlahan mengangguk dengan kepala tertunduk.
“Abi tak
memungkiri bahwa pada awalnya mungkin Cyra akan mengalami kesedihan yang
mendalam karena merasa ditinggalkan oleh kakaknya, tapi kamu harus tahu bahwa
kegembiraan yang kau rasakan akan menular ke dalam dirinya. Dia akan merasa
bahagia memiliki seorang kakak laki-laki yang tentu berbeda perhatiannya dari
seorang kakak perempuan, bahkan mungkin dia juga akan segera memiliki teman
adik kecil dari kalian, yang tentu akan membuatnya sangat bahagia. Percayalah
ke Abi, sekarang saatnya kamu segera mencari waktu yang tepat untuk berterus
terang ke Cyra.” Abi mencoba meyakinkan Aland.
“Terimakasih
Bi, Aland akan segera menjelaskan hal ini ke Cyra,” Aland mengangkat kepalanya
menatap Abi, perlahan mengangguk dan tersenyum.
Abi pun
tersenyum. Tanpa Abi dan Aland sadari ada seorang wanita di dekat mereka yang
sedang meneteskan air matanya, tenggorokannya sesak menahan air matanya yang
akan meluap dan kesedihan yang menyelimuti relung hatinya.
“Eh, mau kemana Mi?” Abi bertanya kepada
Mami yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
Bibir Mami
menyunggingkan senyum kecil, “Ini ga
tahu, perut Mami kok mendadak ingin
ke toilet”, jawab Mami sambil segera berlalu menuju kamar mandi.
Di ruang
tengah, Abi dan Aland kembali menyantap pisang goreng sambil menonton tayangan televisi.
---
ooo ---
Hari Ahad.
Forum
diskusi tentang persiapan pernikahan yang telah selesai diadakan tadi sangat
menarik. Aland jadi mengetahui beberapa persoalan yang dihadapi teman-temannya
sebelum memutuskan untuk menikah. Diantara persoalan itu ada yang kendalanya
dari pihak orangtua si perempuan yang menginginkan si anak bekerja dulu, ada
yang dari pihak orangtua si laki-laki yang mengharuskan anaknya mendapatkan
istri dari suku budaya tertentu. Bahkan ada yang dari pihak laki-lakinya
sendiri, maksudnya si laki-laki sudah mengutarakan ingin menikahi si perempuan
namun ia merasa rejekinya belum cukup sehingga menunda-nunda waktu pernikahan.
Aland
sangat bersyukur, sejauh ini tidak ada persoalan serius yang menghambat proses
pernikahannya dari pihak luar dirinya. Namun ia berpikir ada sesuatu ganjalan
dalam dirinya yang dapat menjadi persoalan pada masa penantian ini, yaitu
perasaan aneh yang terus membuncah dari dalam hati, perasaan yang betul-betul
harus ia kuasai agar tidak dikuasai oleh setan.
Aland
tiba-tiba teringat tentang pesan yang kemarin langsung dikirimkan oleh Adnan, “Ohya, aku ingat sesuatu. Aku lupa belum
menyampaikan tentang hal itu ke Tara,” gumamnya sambil membereskan isi tasnya
dan keluar menuju area parkir Masjid Kampus.
Sampai di
sepeda motornya, ia duduk diatasnya dan mengambil hp dari dalam tas. Sebelum ia
menekan tombol-tombol hp, ia berpikir, “Mungkin persoalan kemarin tidak perlu
aku sampaikan ke Tara, toh itu tidak
berlanjut, tentu aku juga tidak akan berkirim pesan lagi dengan Kak Adnan.”
Aland memasukkan kembali hp-nya ke dalam tas dan bergegas menyalakan mesin
sepeda motornya. Ia harus segera sampai rumah untuk mengadakan pertempuran. Ya,
pertempuran di dapur untuk menyiapkan dua menu sekaligus dalam rangka menyambut
agenda nanti sore.
Lima menit
sebelum adzan Dhuhur yang dikumandangkan oleh Abi, Aland sudah tiba di rumah.
Ia bergegas masuk ke kamar, berganti pakaian, menuju ke kamar mandi untuk berwudhu,
dan segera menuju musholla bergabung bersama Mami dan Cyra untuk sholat Dhuhur
berjamaah.
Beberapa
saat setelah jamaah sholat Dhuhur usai, Aland membuka percakapan dengan Cyra.
Mereka masih tetap duduk dan bersantai di musholla.
“Cyra,
bagaimana cerita lanjutan serial Princess Hania?” Aland tahu pertanyaan seperti
ini yang mungkin akan ditanggapi oleh Cyra.
Dan tak
disangka, Cyra menyambut pertanyaan Aland tadi dengan sangat antusias. “Wow, ceritanya semakin seru Kak.
Princess Hania dijauhi oleh dua sahabatnya hanya karena kesalahpahaman.
Princess Hania dianggap oleh dua sahabatnya telah melupakan mereka yang tinggal
di desa, hanya karena mereka melihat Princess tertawa gembira bermain bersama
para princess yang lain. Padahal ya Kak, Princess Hania sangat merindukan dua
sahabat lamanya itu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya bisa keluar dari
istana yang dijaga oleh puluhan pengawal itu.” Cyra bercerita penuh semangat.
Aland
tersenyum, kemudian menanggapi cerita adiknya itu, “Kalau Princess Hania tidak
dapat keluar istana untuk menemui dua sahabatnya, kenapa tidak mereka saja yang
diundang oleh Princess Hania untuk datang ke istana?”, Aland mencoba menebak
alur cerita lanjutannya.
“Betul ide
Kakak. Sudah ya Kak, Cyra mau lanjut
baca lagi. Tadi pagi rute bersepeda bareng Abi lebih jauh dari biasanya, sampai
rumah Cyra langsung ketiduran di depan televisi. Kak Aland sekarang ada
kegiatan di kampus ya tiap hari Ahad?” Cyra bertanya sambil berdiri
mengembalikan mukena.
Aland
tersenyum dan mengiyakan pertanyaan Cyra. Cyra lalu bergegas keluar musholla.
Mami yang
dari tadi memperhatikan kedua putrinya itu tersenyum bahagia, lalu mengingatkan
Cyra, “Cyra, selesai jamaah sholat ashar nanti kita langsung pergi ya, supaya
sebelum maghrib sudah sampai rumah.”
“Siap Mami.
Eh Kak Aland mau ikut ke toko buku
nanti sore?” Cyra yang sudah berdiri di luar musholla kembali bertanya ke
Aland.
“Tidak, Kak
Aland di rumah saja ya, kan kemarin Kakak sudah ke toko buku,” Aland menjawab
singkat.
“Oke” Cyra meninggalkan Mami dan Aland
yang masih duduk di musholla.
“Cyra sudah
kembali seperti biasa kan?” Mami tersenyum bertanya kepada Aland.
“Melihat
Cyra kembali riang dan ceria semakin membuat Aland bingung mulai menjelaskannya
bagaimana Mi,” raut wajah Aland
menunjukkan keraguan.
“Bingung
kenapa?”
“Khawatir
apa yang Aland sampaikan membuatnya kembali sedih,”
“Ingat yang
kemarin disampaikan Abi kan?. Eh ayo,
kapan kita akan mulai bekerja di dapur nih?”
Mami mengalihkan pembicaraannya, mengingatkan Aland tentang rencananya.
“Eh iya,
ayo Mi. Mari kita mulai bertempur.”
Mami dan
Aland tertawa. Mereka bergegas melipat mukena dan berjalan bersama menuju
dapur.
“Jadi,
resep apa yang akan kita masak koki Aland?” Mami menggoda Aland.
Aland
membuka buku masakan yang ia beli di toko buku kemarin, “Ini Mi, dua menu.”
Aland menunjukkan satu halaman kemudian membalik halaman yang lain.
“Pintar
kamu Nak, menyajikan menu manis dan asin, keduanya ini cukup mengenyangkan.
Tapi ini tidak masalah, sore adalah jeda waktu saat perut mulai kosong.” Mami
memuji Aland sambil sekilas membaca dua resep menu itu.
Dapur mulai
terdengar sibuk dan ramai, Mami dan Aland sibuk membagi pekerjaan di dapur. Ada
kalanya dapur sunyi hanya terdengar suara kocokan telur dan pisau yang sedang
mengiris-iris sesuatu, namun terkadang tiba-tiba terdengar suara gelak tawa ibu
dan anak karena si anak melakukan kecerobohan.
Jam
menunjukkan hampir pukul tiga sore, dua puluh menit menuju adzan ashar. Kedua
menu hasil kerja Mami dan Aland pun telah matang. Mami memberi arahan kepada
Aland bagaimana menyajikan kedua menu tersebut, lalu bergegas membersihkan dan
membuka celemeknya.
“Aland,
Mami ke kamar dulu ya. Abi harus segera dibangunkan, bisa-bisa nanti adzan
ashar di komplek kita terlambat.” Mami tersenyum lalu keluar dapur meninggalkan
Aland. Aland segera mengikuti petunjuk Mami dalam menyajikan kedua menu itu.
---
ooo ---
Tepat pukul
empat sore. Abi sedang membaca surat kabar di ruang tamu, Mami dan Cyra sudah
dua puluh menit yang lalu pergi ke toko buku, dan Aland sendiri sedang duduk di
ruang tengah. Sesekali Aland ke dapur memastikan kedua menu itu sudah siap
disajikan, sesekali ia terhenti di depan kamar mandi melihat penampilan dirinya
di cermin. Berkali-kali ia merapikan pakaian dan jilbabnya. Perasaan hatinya
pun ikut tak tenang, berbagai perasaan berkumpul dalam hatinya.
Tak lama
kemudian terdengar ucapan salam dari teras rumah. Suara khas yang membuat hati
Aland seketika berdesir. Ia segera kembali duduk di ruang tengah mendengar
percakapan antara Abi dan Adnan.
Lima belas
menit pertama berisi percakapan basa-basi, dengan topik halaman depan surat
kabar yang sedang Abi baca tadi. Aland bergegas ke dapur menyiapkan sajiannya
di atas nampan, ia ingat kata Mami untuk menyajikan minuman dan makanan setelah
lima belas menit kedatangan tamu. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian
menghembuskannya perlahan, ia berusaha setenang mungkin agar tidak terdengar
suara getaran antara cangkir dengan piring di nampan akibat kedua tangannya
yang agak gemetar.
Dengan
langkah kaki perlahan, Aland berjalan menuju ruang tamu. Kemudian meletakkan
kedua cangkir teh masing-masing dihadapan Abi dan Adnan, lalu meletakkan dua
piring saji di tengah-tengah meja, satu piring berisi potongan macaroni schotel
dan satu piring yang lain berisi beberapa cupcake pisang. Setelah berhasil
meletakkan sajian itu di atas meja dengan selamat, ia segera undur diri. Namun
sebelum langkah kaki Aland menjauh, Abi memanggilnya.
“Aland,
duduk dulu disini,” Abi mengangguk perlahan dan meminta Aland untuk duduk di
kursi sampingnya.
Melihat
tatapan serius Abi, Aland tidak pikir panjang, ia segera mengikuti perintah
Abi. Aland duduk di samping Abi, tatapannya tertuju ke arah sajian yang ia
hidangkan tadi, namun tatapan itu kosong. Aland tidak tahu kemana sebaiknya
membuang tatapan matanya, ia sama sekali tidak berani melihat wajah Adnan
meskipun sekilas. Terkadang hatinya tiba-tiba berdesir, ia merasa ada tatapan
mata yang tertuju ke wajahnya, meskipun hanya sesaat.
“Nah, Dik Adnan. Disini sudah Aland. Saya
ingin bertanya satu hal, yang saya tidak tahu apakah Aland pernah memberikan
pertanyaan ini untuk Dik Adnan,”
Abi menatap
Aland lalu beralih kembali melihat Adnan.
“Alasan apa
yang membuat Dik Adnan ingin menikahi putri saya, Aland?” Abi tersenyum dan
mengangguk, mempersilakan Adnan untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Sesaat
kemudian, Adnan tersenyum dan mulai menjawab pertanyaan Abi.
“Alhamdulillah.
Suatu kehormatan bagi saya untuk memberikan alasan mengapa saya memilih putri
bapak di hadapan bapak langsung. Sebelumnya, saya ingin memberitahu bahwa Aland
belum pernah menanyakan hal ini kepada saya,”
“Alasan
pertamanya adalah karena saya ingin menikah, saya memiliki rencana hidup untuk
membangun rumah tangga di usia 24 tahun dan saat ini saya sudah berusia 24
tahun. Sebelum menikah saya sudah mulai menyusun tujuan rumahtangga yang akan
saya bangun nanti. Nah alasan
keduanya yaitu dalam mencapai tujuan rumahtangga tersebut saya membutuhkan
seorang partner yang bersedia mendampingi saya dan bersama-sama menuju tujuan
tersebut. Saya melihat pribadi dalam diri Aland merupakan pribadi yang saya
harapkan berada di samping saya dalam mencapai tujuan itu. Saya mengenal
pribadi Aland selama dua tahun di sebuah organisasi. Dalam organisasi tentu
diperlukan pribadi yang memiliki visi jauh ke depan, dapat bekerjasama dalam
sebuah tim, menemukan solusi permasalahan yang sering menjadi hambatan,
memiliki manajemen waktu yang baik, dan memiliki kepekaan terhadap kondisi di
sekitarnya. Aland memiliki jiwa organisasi yang baik, itu dapat
merepresentasikan pribadinya dalam mengatur rumahtangga.”
Adnan
mengatur nafasnya, memberi jeda, dan kembali melanjutkan jawabannya.
“Alasan
ketiga adalah kecintannya pada keluarga. Saya melihat hal itu dari jadwal
hariannya. Di awal kepengurusan, kami seluruh anggota selalu mengumpulkan
jadwal harian. Tujuannya untuk mengatur jadwal rapat dan agenda organisasi yang
lain. Dalam jadwal harian Aland, saya melihat agenda-agenda lain diluar
perkuliahan, disana tertulis tiap hari Ahad pagi jadwalnya olahraga bersama
Abi, lalu pada hari-hari tertentu jadwalnya menjemput adik di sekolah, lalu
pada hari Ahad sore jadwalnya bersama adik yang tidak tertulis bentuk
kegiatannya. Dari jadwal itu jelas memperlihatkan kepada saya bahwa Aland
memprioritaskan waktu-waktu tertentu hanya untuk keluarganya. Hal tersebut yang
membuat saya tertarik dengan pribadi Aland.”
“Alasan
terakhir dan merupakan alasan yang paling utama bagi saya adalah Aland seorang
muslimah sholihah. Saya memang tidak tahu bagaimana ia menjalankan ibadahnya,
namun saya yakin bahwa cerminan ibadah seseorang ada pada sikap dan perilakunya
sehari-hari. Dan itu kembali lagi pada alasan kedua dan ketiga mengapa saya
memilih Aland untuk mendampingi saya membangun rumahtangga. Pribadi Aland yang
saya ketahui tadi sudah cukup untuk menyeimbangi diri saya yang memiliki banyak
kekurangan, serta cukup untuk menutupi kekurangan pribadi Aland yang belum saya
ketahui, dan tentu akan saya temui dalam perjalanan rumahtangga nantinya.”
Di akhir
kalimatnya, Adnan tersenyum dan perlahan mengangguk, tanda ia sudah
menyelesaikan jawabannya. Suara Adnan terdengar mantap dari awal hingga akhir
dalam mengutarakan jawabannya.
Abi pun
tersenyum, ada rasa bangga yang nampak dari raut wajahnya. Aland menangkap
senyuman Abi, itu sudah cukup melegakan sebagian relung hatinya yang terasa
penuh sesak sebelum kedatangan Adnan ke rumah.
“Mari Dik
Adnan diminum dan dimakan dulu,” Abi mempersilakan Adnan untuk membasahi
tenggorokannya setelah bicara panjang lebar.
“Sepulang
saya jamaah Dhuhur tadi dimasjid, dapur rumah ini terdengar sibuk sekali.
Rupanya menghasilkan sajian yang sangat menarik di meja ini. Mari Dik Adnan
dicicipi dulu.” Abi mencoba mencairkan suasana di ruang tamu yang sebelumnya
cukup tegang, dan sekali lagi mempersilakan Adnan untuk mengambil sajiannya di
meja.
“Oiya Aland, sepertinya ada yang
kelupaan. Tolong ambilkan kotak tisu di samping televisi.” Abi memberikan
sebuah isyarat pada Aland.
“Iya Bi,”
Aland segera beranjak dari duduknya, menuju ruang tengah, mengambil kotak tisu,
kembali menuju ruang tamu, dan meletakkan kotak tisu di atas meja. Setelah itu
Aland kembali duduk di ruang tengah, tidak terdengar suara Abi yang menahannya
untuk tetap berada di ruang tamu.
Abi jelas
mengetahui bahwa Aland sedang duduk di ruang tengah dari awal kedatangan Adnan
tadi. Namun Aland belum sepenuhnya mengerti mengapa Aland harus hadir di ruang
tamu ketika Abi memberikan pertanyaan itu untuk Adnan.
Percakapan
selanjutnya yang terdengar dari ruang tamu didominasi oleh Abi yang banyak
bertanya tentang keluarga Adnan, hanya sesekali Adnan menanyakan kembali hal
yang sama kepada Abi.
Jam sudah
menunjukkan pukul lima sore, intensitas percakapan yang terdengar dari ruang
tamu sudah mulai berkurang, terkadang ada jeda waktu yang sunyi tanpa ada
percakapan.
“Mohon maaf
Pak Arman,” sapaan dari suara Adnan terdengar cukup serius.
“Iya Dik
Adnan,” Abi pun menanggapinya dengan nada serius.
“Jika bapak
berkenan, saya hendak melamar putri bapak, Aland, dalam waktu dekat ini,” suara
Adnan menggantung, berharap mendapat respon dari Abi terlebih dahulu.
Abi
tersenyum, cukup paham dengan maksud Adnan.
“Kapan
waktu dekat itu Dik Adnan?”
“Jika bapak
berkenan, saya hendak melamar Aland awal bulan depan,” jawab Adnan singkat.
Aland
betul-betul seksama mendengarkan percakapan ini dari ruang tengah, kedua
tangannya saling menggenggam erat. Hatinya kembali terasa penuh sesak oleh
berbagai perasaan yang tidak ia mengerti.
Beberapa
detik berlalu, Aland menanti jawaban yang akan disampaikan Abi.
“Kenapa Abi
tidak segera menjawab pertanyaannya, apa yang sedang Abi pikirkan?” Aland
bergumam lirih.
Tiga puluh
detik berlalu, akhirnya Abi menjawab pertanyaan Adnan, “Alhamdulillah. Baik,
kita sepakati saja tanggalnya sekarang. Saya kira Dik Adnan tentu sudah
merencanakan dan menyiapkan waktu tersebut.” Abi tersenyum.
Adnan
merasa tertantang dengan tawaran Abi tadi, ia harus memberikan kepastian waktu
untuk Abi. Ia memang sudah menentukan satu tanggal untuk melamar Aland, tapi
baru ia bicarakan dengan Umi saja, belum dengan kakak-kakaknya. Ia segera
berpikir cepat, baginya restu Umi adalah yang paling penting.
“Jika bapak
berkenan, saya merencanakan tanggal dua bulan tiga, bertepatan dengan hari
Ahad. Untuk waktunya saya serahkan ke bapak sepenuhnya.” Adnan mengangguk dan
tersenyum.
“Baik, saya
setuju. Insya Allah hari Ahad tanggal dua bulan tiga pukul sepuluh pagi. Kami
tunggu kedatangannya di rumah ini.” Abi pun langsung menyetujuinya dan
memberikan kepastian waktunya.
Aland pun
ikut tersenyum dari ruang tengah, pernyataan Abi cukup melegakan sebagian
relung hatinya yang tadi kembali terasa penuh dan sesak. Senyuman itu bertahan
lama di bibirnya, pikirannya segera menelusuri apa saja yang harus ia
persiapkan dalam tiga pekan ini. Nanti malam ia harus segera merumuskan terkait
agenda itu bersama Mami, itu yang pertama ia rencanakan.
Lima menit
kemudian, pikirannya kembali tersadarakan oleh ucapan salam Adnan yang sudah
berada di teras rumah, dan kemudian dijawab oleh Abi.
“Wa’alaikumussalam.
Sampaikan salam untuk Ibu dan keluarga disana.”
Adnan
segera menuju keluar rumah. Kemudian terdengar suara mesin sepeda motor menyala
dan melaju menjauh dari rumah.
Tak lama
kemudian disusul suara teriakan salam dari halaman rumah, yang sangat Aland
kenal.
Aland
bergegas menuju ruang tamu, mengintip keluar rumah dari jendela ruang tamu.
“Itu Mami
dan Cyra sudah datang, apakah tadi mereka bertemu dengan Kak Adnan?” Aland
bertanya-tanya dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar