Selasa, 26 Juli 2016

Chapter 6 : Pertemuan Dua Lelaki


Hari Sabtu.
Pagi-pagi Aland sudah berkemas menyiapkan sepeda motornya di halaman rumah. Sesuai jadwal yang tertulis dalam brosur, bahwa kegiatan kuliah pranikah akan dimulai hari ini. Aland tidak ingin terlambat untuk pertemuan perdananya ini.
Seusai jamaah sholat shubuh tadi, Aland menyampaikan kepada Abi dan Mami tentang agenda yang akan diikutinya selama dua bulan ke depan. Abi dan Mami memberikan tanggapan yang baik dan mendukung Aland untuk serius mengikuti kegiatan tersebut.
Pukul enam pagi, Aland sudah memanaskan sepeda motornya, kemudian berpamitan dengan Mami yang sedang berada di dapur. Ia sempat menengok ke arah pintu kamar Cyra yang terbuka, dilihatnya Cyra sedang asyik membaca buku.
“Cyra, kakak pamit dulu ya. Maaf, selama dua bulan ke depan kakak tidak dapat menemani hari libur Cyra di akhir pekan.” Aland berbicara dalam hatinya sendiri. Ia segera berlalu dari depan kamar Cyra menuju halaman rumah, kemudian menaiki sepeda motornya dan membawanya menyusuri jalanan yang dahulu rutin ia lewati selama masih menjadi mahasiswa.
Aland tiba di Masjid Kampus tepat lima belas menit sebelum kegiatan dimulai.
Ia segera menyiapkan buku kuning setelah narasumber mulai memberikan materinya. Pembahasan materi hari ini tentang persiapan pernikahan. Narasumber mengawali materinya dengan sebuah pertanyaan, “Apa itu pernikahan?”. Dan tepat sekali Narasumber itu menunjuk Aland untuk meberikan jawabannya. Aland bereaksi cukup kaget atas penunjukan dirinya, “Hah, kenapa aku?, apa aku yang terlihat paling bersemangat atau tampangku ini terlihat belum pantas membicarakan pernikahan,” Aland bergumam dalam hati dan segera mencari-cari jawaban di dalam pikirannya. Sesaat kemudian satu kalimat meluncur dari pikiran Aland, dan spontan ia memberikan jawabannya di depan Narasumber dan peserta yang lainnya, “Pernikahan adalah perjanjian. Acaranya berlangsung dalam hitungan menit. Yang penting dalam pernikahan adalah kehidupan pasca pernikahan itu sendiri.” Aland tersenyum kepada Narasumber, “Semoga jawabanku cukup mendekati yang ia harapkan,” gumamnya dalam hati.
“Tepat jawaban teman kita ini. Sudah siap menikah dik?” Narasumber itu menggoda Aland dengan pertanyaannya. Dan Aland hanya dapat membalasnya dengan senyuman, “Siap atau tidak, hatiku pun tak mampu menjawabnya,” hati kecilnya menjawab.
Narasumber melanjutkan penjelasannya, “Secara bahasa pernikahan adalah penggabungan atau pencampuran. Dan dalam istilahnya pernikahan adalah akad antara seorang laki-laki dengan wali perempuan.”

Topik perdana hari ini sangat menarik dan tepat untuk mengawali rangkaian persiapan menikah. Topik ini menjadi koreksi diri bagi dirinya yang selalu mengatakan siap menikah, apakah kesiapan itu muncul dari dalam pikiran dan mulut saja, sehingga tidak ada tindakan nyata dalam mempersiapkan diri menuju kehidupan pasca menikah. Dan bagi dia yang selalu meragu apakah dirinya sudah siap atau belum untuk menikah, hal ini juga merupakan suatu dorongan untuk bersikap percaya diri bahwa ketika seorang perempuan telah menerima perkenalan dari seorang laki-laki ia harus siap untuk menikah dan mempersiapkannya.     
Aland tiba-tiba teringat satu hal penting, besok hari Ahad menjadi awal mula Abi menerima perkenalan dari seorang laki-laki yang berniat menikahinya. “Semoga menjadi awal yang baik,” batinnya.  Kemudian Aland mencatat beberapa hal penting yang disampaikan oleh Narasumber ke dalam buku kuningnya.
Persiapan menikah terdiri dari empat aspek, yaitu : aspek ruhiyah, aspek fikriyah atau ilmu, aspek financial dan aspek fisik. Persiapan ruhiyah yaitu dengan menyiapkan diri secara mental dan spiritual, secara mental artinya siap bertanggungjawab dengan peran barunya sebagai seorang istri, dan secara spiritual artinya siap untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibdahnya dan senantiasa melibatkan Allah SWT dalam masa persiapan ini. Persiapan fikriyah yaitu dengan semangat meningkatkan wawasan keilmuan yang harus dimiliki pasca menikah nanti, seperti ilmu manajemen rumah tangga, manajemen keuangan, manajemen komunikasi antara pasangan, dan pendidikan anak. Persiapan financial yaitu dengan komitmen untuk berkarya dan mandiri financial sehingga seorang wanita tidak meninggalkannya perannya sebagai madrasah pertama bagi keluarga. Persiapan fisik yaitu mengetahui kondisi kesehatan antara pasangan suami istri sehingga dapat melahirkan keturunan yang sehat, orangtua wajib menjaga kondisi kesehatannya agar dapat menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.
Tidak terasa waktu telah berjalan hampir tiga jam, di akhir materi Narasumber memberikan sebuah pesan yang membuat Aland tersenyum. “Jadikan masa penantian sebagai suatu kenikmatan. Nikmat sebagai bentuk kesyukuran kita kepada Allah SWT, diberi waktu dan kesempatan untuk mempersiapkan bekal kehidupan pasca menikah di saat penantian ini. Ada satu hal yang perlu diperhatikan khususnya oleh aktivis mahasiswi yang selalu sibuk dan mengandalkan kantin atau warung makan untuk memenuhi kebutuhan pangannya, yaitu bekal ilmu per-dapur-an.” Narasumber tertawa kecil di akhir kalimatnya, diikuti oleh para peserta yang mayoritas mungkin tersindir dengan kalimatnya tadi, termasuk Aland.   
Kegiatan perkuliahan perdana hari ini ditutup dengan pembagian kelompok diskusi yang akan dilaksanakan hari Ahad besok. Masing-masing peserta diminta untuk membuat tabulasi yang bertujuan untuk mengukur kesiapan menikah. Tabulasi itu terdiri empat poin yaitu faktor pendorong, tantangan, faktor penarik dan pendukung.
Aland telah mencatat semua penjelasan tentang tugas diskusi itu, kemudian acara ditutup dan Aland bergegas kembali pulang ke rumah dengan sepeda motornya. Berhenti di persimpangan jalan dia melihat toko buku langganannya, “Sudah cukup lama aku tidak pergi ke toko buku, sebaiknya aku mampir ke toko buku dulu. Mungkin ada sesuatu yang bisa aku bawakan untuk Cyra. Kalau aku mendapatkan buku favorit Cyra, sepertinya dia tidak akan menolaknya,” pikir Aland. Ia tersenyum dan segera menuju area parkir toko buku itu.
Satu jam berlalu, Aland telah keluar dari toko buku dengan membawa satu kantong keresek berisi empat buku, satu buku dongeng favorit Cyra, satu buku tentang manajemen rumahtangga, dan dua buku lagi tentang resep masakan.. Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam pikirannya, ia akan membuatkan sajian khas asli buatannya sendiri ketika besok Adnan berkunjung ke rumahnya. “Setelah ini aku akan mampir ke toko bahan kue dulu, membeli beberapa bahan dan perlengkapannya dengan berbekal salah satu resep yang ada dalam buku ini,” pikirnya, sambil menyalakan sepeda motor dan keluar dari toko buku itu.

--- ooo ---

Sore hari. Aland duduk santai di ruang tengah, setelah ia membereskan bahan dan perlengkapan yang ia beli di toko bahan kue tadi di dapur. Sesaat kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke teras rumah. Di taman depan  ada Cyra dan Mami yang sedang asyik berkebun, ia hendak bergabung, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Ini saat yang tepat memberikan kejutan untuk Cyra,” pikirnya. Ia kembali menuju kamarnya, mengambil buku kejutan untuk Cyra, kemudian masuk ke kamar Cyra dan meletakkan buku itu di atas meja belajar. Keluar dari kamar Cyra, Aland dikejutkan oleh suara Abi yang sedang duduk di ruang tengah.
Ah Abi bikin kaget saja, ada apa Bi?”, Aland masih berdiri di depan pintu kamar Cyra.
“Sebetulnya kamu tidak akan kaget kalau kamu tidak sedang mengendap-endap keluar dari kamar Cyra.” Abi tahu persis apa yang Aland lakukan tadi. Kemudian tangan kanan Abi menepuk perlahan kursi di samping kanannya sambil mengangguk. Aland paham maksud Abi, ia segera menghampiri Abi dan duduk di sampingnya.
“Memberi kejutan ke Cyra?” Abi menebak apa yang Aland lakukan tadi.
“Iya. Semoga berhasil meluluhkan hatinya ya Bi.” Aland tersenyum.
Oiya, jadi besok jam berapa Adnan akan datang ke rumah?” pertanyaan Abi beralih ke topik lain.
Dahi Aland berkerut, raut muka Aland menunjukkan bahwa ia sedang berpikir. “Iya betul. Aku terus mengingat bahwa hari Ahad besok Kak Adnan akan datang ke rumah, tapi beliau belum memberiku kabar jam berapa akan ke rumah, dan kenapa tidak dari kemarin aku menanyakannya melalui Tara, apa jangan-jangan Kak Adnan lupa akan janjinya,” pikirnya.
Abi kembali bertanya, “Aland, besok dia jadi datang ke rumah kan?”.
Pertanyaan Abi memecah lamunan Aland. “Iya Bi, InsyaAllah besok jadi. Tidak ada pembatalan dari sananya. Aland mau lihat hp dulu barangkali ada sms masuk yang belum Aland baca,” jawab Aland kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Beberapa langkah Aland berjalan, ia kembali menengok ke arah Abi, “Tapi hari Ahad besok Abi ada di rumah terus kan?” Aland mencoba kembali memastikan.
“Iya.” Abi tersenyum. Aland pun membalas dengan senyuman.
Aland masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengambil hp-nya yang masih tersimpan di tasnya. “Tuh kan, ada dua pesan dari nomor tidak dikenal, mungkin saja ini dari Tara,” gumamnya. Segera Aland membaca isi pesannya.
Pesan pertama : Assalamu’alaikum. Dik Aland, Insya Allah besok hari Ahad saya akan datang ke rumah Dik Aland pukul empat sore. Bagaimana, apakah Abi besok ada di rumah?. Adnan.
Pesan kedua, dikirim selang lima belas menit dari pesan pertama : Jika ada waktu lain yang dikehendaki oleh Abi, mohon segera hubungi saya. Adnan.
Tangan Aland terkulai di atas kakinya yang sedang duduk, masih dengan menggenggam hp-nya. Ia langsung berpikir, “Kak Adnan masih menyimpan nomorku,” gumamnya. “Bagaimana bisa, apa yang harus kulakukan?, langsung menjawab pesannya kah?, atau aku menghubungi Tara terlebih dahulu?” otaknya terus berpikir.
Setelah berpikir cukup lama, ia mengangkat kembali tangannya dan melihat ke layar hp, “Aku akan membalas langsung pesan ini, karena baik Abi maupun Kak Adnan membutuhkan kepastian ini segera. Nanti malam aku akan menghubungi Tara terkait hal ini,” gumamnya. Ia segera membalas pesan itu : Wa’alaikumussalam. Maaf saya baru saja buka hp. Insya Allah besok hari Ahad pukul empat sore ditunggu kedatangannya oleh Abi di rumah. Sudah tahu alamat rumahnya?.
Pesan dari Aland telah terkirim. “Aduh, kenapa isi pesanku seperti mengharap balasan pesan lagi darinya. Bukankah tanpa kutanya seharusnya beliau bisa tahu alamat rumahku dari biodata yang kemarin kuserahkan itu,” Aland menyesali isi pesan yang telah terkirim itu.
Sesaat kemudian ada suara pesan masuk di hp Aland. “Sudah stop, setelah ini tidak ada balasan pesan lagi,” tegasnya sambil membuka isi pesan itu. Isi pesannya : Saya sudah hafal alamat rumahnya, bahkan sebelum membaca biodata Dik Aland. Semoga agenda besok sore berjalan lancar dan diridhoi-Nya, amin.
Tak mampu dipungkiri, hati Aland berdesir membaca isi pesan itu. Ia segera meletakkan hp-nya di atas meja belajar. Kepalanya tertunduk, kedua telapak tangannya menopang wajahnya. Hati dan pikirannya bersatu mengingat asma-Nya.
“Ya Allah, Sang Penguasa Hati. Tunjukkanlah kepada kami yang haq itu haq, dan yang bathil itu bathil. Jelaskanlah kepada kami batas antara keduanya. Jagalah masing-masing hati kami. Hanya Engkau sebaik-baik penjaga hati ini. Kami sangat memohon penjagaan hati ini oleh Mu, Ya Muqollibul Qulub”.
Aland mengangkat wajahnya kembali, samar ia mendengar teriakan Cyra dari arah kamarnya, kemudian ia tersenyum. Ia mendengar Cyra berlari ke ruang tengah menghampiri Abi. Tak berselang lama, Aland mendengar pintu kamarnya terketuk dan perlahan terbuka, ia melihat kepala adiknya menyelinap masuk. Ia menyambutnya dengan senyuman dan mengajaknya masuk. “Adik kakak yang cantik sini boleh masuk,” Aland mengangguk penuh kehangatan yang terlihat dari senyumnya.
Cyra segera masuk kamar Aland dan menanyakan asal usul buku yang sedang dipegangnya itu.
“Buku ini dari Kakak?” Cyra mengangkat buku itu di depan wajah Aland.
Mmm kata siapa buku itu dari Kakak?” Aland menggoda Cyra.
“Tadi kata Abi,” Cyra menjawab singkat.
Muka polos Cyra membuat Aland tertawa lepas.
“Kakak kenapa malah ketawa?” Cyra kebingungan.
“Iya Cyra sayang, tadi Kakak sempat mampir ke toko buku. Kakak melihat di rak buku baru ada buku seri kesebelas ini, kalau tidak salah ingat terakhir Cyra bersama Kakak ke toko beli seri kesepuluh kan?”  
Cyra tersenyum, “Terimakasih Kak”.
“Cyra sudah tidak marah ke Kakak?”,
“Cyra tidak pernah marah sama Kakak kok. Sudah ya Kak, Cyra keluar dulu. Cyra sudah tidak sabar ingin baca buku ini.” Cyra tidak ingin membahas kejadian-kejadian kemarin, baginya sekarang membaca lanjutan serial Princess Hania ini lebih penting. Ia segera menuju taman depan rumah, baginya itu tempat yang sangat nyaman untuk membaca buku.
Aland tersenyum lega, “Semoga sikap Cyra kepadanya sudah kembali seperti sebelum kejadian beberapa hari yang lalu”. Aland ingat harus segera memberi tahu Abi, ia segera keluar kamar menuju ruang tengah. Abi masih duduk disana menyantap pisang goreng bersama Mami. Aland segera bergabung dan duduk di kursi seberang Mami.
“Bagaimana kejutannya berhasil?” tanya Abi.
Aland tersenyum, “Tentu berhasil Bi. Cyra itu seorang kutu buku sejak kecil,” Aland ikut menyantap pisang goreng buatan Mami.
Oiya Bi, insya Allah besok pukul empat sore Kak Adnan jadi datang ke rumah,” raut wajah Aland menunjukkan dirinya sedang kebingungan.
“Iya, Abi tunggu”.
“Kenapa Aland terlihat bingung seperti itu?” tanya Mami penasaran.
Setelah melihat ke arah taman dan memastikan bahwa Cyra masih asyik membaca buku barunya, Aland menjawab pertanyaan Mami, “Eh ini Mami, tentang Cyra. Sejak awal Aland belum pernah memberi tahunya tentang semua ini, sampai prosesnya sudah sejauh ini Aland belum tahu bagaimana cara menjelaskan tentang semua ini ke Cyra. Bagaimana menurut Abi dan Mami?”.
“Karena Abi dan Mami masih melihat kebimbanganmu untuk berterus terang kepada Cyra, maka tadi Abi dan Mami telah membuat rencana. Besok sore Mami akan mengajak Cyra pergi ke toko buku, dan tadi Cyra sudah menyetujuinya. Kau yang bilang sendiri kan, adikmu itu kutu buku sejak kecil.” Mami tersenyum.
“Tapi, Abi berharap kamu segera mencari waktu yang tepat untuk berterus terang ke Cyra. Dia adikmu, dia tentu akan sedih jika merasa terlambat mengetahui kabar gembira tentang kakaknya sendiri.” Abi menambahi jawaban Mami.
Aland tersenyum, namun raut wajahnya masih menunjukkan kegelisahannya. Di satu sisi, ia cukup lega mendengar rencana Mami terkait kedatangan Adnan ke rumahnya besok sore. Namun di sisi lain, ia masih terperangkap oleh rasa gelisahnya sendiri yang semakin membelenggunya. Ia belum siap melihat kesedihan adiknya, yang mungkin akan menganggap bahwa kabar gembira dirinya akan menikah menjadi suatu kedukaan bagi adik kecilnya itu.
Abi menangkap rasa gelisah Aland yang nampak dari raut wajahnya, “Aland, apa kamu mengkhawatirkan Cyra yang akan berlarut dalam kesedihan bahwa kenyataan kakaknya menikah itu akan meninggalkannya?” Abi mencoba menerka kegelisahan Aland.
Aland perlahan mengangguk dengan kepala tertunduk.
“Abi tak memungkiri bahwa pada awalnya mungkin Cyra akan mengalami kesedihan yang mendalam karena merasa ditinggalkan oleh kakaknya, tapi kamu harus tahu bahwa kegembiraan yang kau rasakan akan menular ke dalam dirinya. Dia akan merasa bahagia memiliki seorang kakak laki-laki yang tentu berbeda perhatiannya dari seorang kakak perempuan, bahkan mungkin dia juga akan segera memiliki teman adik kecil dari kalian, yang tentu akan membuatnya sangat bahagia. Percayalah ke Abi, sekarang saatnya kamu segera mencari waktu yang tepat untuk berterus terang ke Cyra.” Abi mencoba meyakinkan Aland.
“Terimakasih Bi, Aland akan segera menjelaskan hal ini ke Cyra,” Aland mengangkat kepalanya menatap Abi, perlahan mengangguk dan tersenyum.
Abi pun tersenyum. Tanpa Abi dan Aland sadari ada seorang wanita di dekat mereka yang sedang meneteskan air matanya, tenggorokannya sesak menahan air matanya yang akan meluap dan kesedihan yang menyelimuti relung hatinya.
Eh, mau kemana Mi?” Abi bertanya kepada Mami yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
Bibir Mami menyunggingkan senyum kecil, “Ini ga tahu, perut Mami kok mendadak ingin ke toilet”, jawab Mami sambil segera berlalu menuju kamar mandi.
Di ruang tengah, Abi dan Aland kembali menyantap pisang goreng sambil menonton tayangan televisi. 

--- ooo ---

Hari Ahad.
Forum diskusi tentang persiapan pernikahan yang telah selesai diadakan tadi sangat menarik. Aland jadi mengetahui beberapa persoalan yang dihadapi teman-temannya sebelum memutuskan untuk menikah. Diantara persoalan itu ada yang kendalanya dari pihak orangtua si perempuan yang menginginkan si anak bekerja dulu, ada yang dari pihak orangtua si laki-laki yang mengharuskan anaknya mendapatkan istri dari suku budaya tertentu. Bahkan ada yang dari pihak laki-lakinya sendiri, maksudnya si laki-laki sudah mengutarakan ingin menikahi si perempuan namun ia merasa rejekinya belum cukup sehingga menunda-nunda waktu pernikahan.
Aland sangat bersyukur, sejauh ini tidak ada persoalan serius yang menghambat proses pernikahannya dari pihak luar dirinya. Namun ia berpikir ada sesuatu ganjalan dalam dirinya yang dapat menjadi persoalan pada masa penantian ini, yaitu perasaan aneh yang terus membuncah dari dalam hati, perasaan yang betul-betul harus ia kuasai agar tidak dikuasai oleh setan.
Aland tiba-tiba teringat tentang pesan yang kemarin langsung dikirimkan oleh Adnan, “Ohya, aku ingat sesuatu. Aku lupa belum menyampaikan tentang hal itu ke Tara,” gumamnya sambil membereskan isi tasnya dan keluar menuju area parkir Masjid Kampus.
Sampai di sepeda motornya, ia duduk diatasnya dan mengambil hp dari dalam tas. Sebelum ia menekan tombol-tombol hp, ia berpikir, “Mungkin persoalan kemarin tidak perlu aku sampaikan ke Tara, toh itu tidak berlanjut, tentu aku juga tidak akan berkirim pesan lagi dengan Kak Adnan.” Aland memasukkan kembali hp-nya ke dalam tas dan bergegas menyalakan mesin sepeda motornya. Ia harus segera sampai rumah untuk mengadakan pertempuran. Ya, pertempuran di dapur untuk menyiapkan dua menu sekaligus dalam rangka menyambut agenda nanti sore.      
Lima menit sebelum adzan Dhuhur yang dikumandangkan oleh Abi, Aland sudah tiba di rumah. Ia bergegas masuk ke kamar, berganti pakaian, menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, dan segera menuju musholla bergabung bersama Mami dan Cyra untuk sholat Dhuhur berjamaah.
Beberapa saat setelah jamaah sholat Dhuhur usai, Aland membuka percakapan dengan Cyra. Mereka masih tetap duduk dan bersantai di musholla.
“Cyra, bagaimana cerita lanjutan serial Princess Hania?” Aland tahu pertanyaan seperti ini yang mungkin akan ditanggapi oleh Cyra.
Dan tak disangka, Cyra menyambut pertanyaan Aland tadi dengan sangat antusias. “Wow, ceritanya semakin seru Kak. Princess Hania dijauhi oleh dua sahabatnya hanya karena kesalahpahaman. Princess Hania dianggap oleh dua sahabatnya telah melupakan mereka yang tinggal di desa, hanya karena mereka melihat Princess tertawa gembira bermain bersama para princess yang lain. Padahal ya Kak, Princess Hania sangat merindukan dua sahabat lamanya itu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya bisa keluar dari istana yang dijaga oleh puluhan pengawal itu.” Cyra bercerita penuh semangat.
Aland tersenyum, kemudian menanggapi cerita adiknya itu, “Kalau Princess Hania tidak dapat keluar istana untuk menemui dua sahabatnya, kenapa tidak mereka saja yang diundang oleh Princess Hania untuk datang ke istana?”, Aland mencoba menebak alur cerita lanjutannya.
“Betul ide Kakak. Sudah ya Kak, Cyra mau lanjut baca lagi. Tadi pagi rute bersepeda bareng Abi lebih jauh dari biasanya, sampai rumah Cyra langsung ketiduran di depan televisi. Kak Aland sekarang ada kegiatan di kampus ya tiap hari Ahad?” Cyra bertanya sambil berdiri mengembalikan mukena.
Aland tersenyum dan mengiyakan pertanyaan Cyra. Cyra lalu bergegas keluar musholla.
Mami yang dari tadi memperhatikan kedua putrinya itu tersenyum bahagia, lalu mengingatkan Cyra, “Cyra, selesai jamaah sholat ashar nanti kita langsung pergi ya, supaya sebelum maghrib sudah sampai rumah.”
“Siap Mami. Eh Kak Aland mau ikut ke toko buku nanti sore?” Cyra yang sudah berdiri di luar musholla kembali bertanya ke Aland.
“Tidak, Kak Aland di rumah saja ya, kan kemarin Kakak sudah ke toko buku,” Aland menjawab singkat.
Oke” Cyra meninggalkan Mami dan Aland yang masih duduk di musholla.
“Cyra sudah kembali seperti biasa kan?” Mami tersenyum bertanya kepada Aland.
“Melihat Cyra kembali riang dan ceria semakin membuat Aland bingung mulai menjelaskannya bagaimana Mi,” raut wajah Aland menunjukkan keraguan.
“Bingung kenapa?”
“Khawatir apa yang Aland sampaikan membuatnya kembali sedih,”
“Ingat yang kemarin disampaikan Abi kan?. Eh ayo, kapan kita akan mulai bekerja di dapur nih?” Mami mengalihkan pembicaraannya, mengingatkan Aland tentang rencananya.
“Eh iya, ayo Mi. Mari kita mulai bertempur.”
Mami dan Aland tertawa. Mereka bergegas melipat mukena dan berjalan bersama menuju dapur.
“Jadi, resep apa yang akan kita masak koki Aland?” Mami menggoda Aland.
Aland membuka buku masakan yang ia beli di toko buku kemarin, “Ini Mi, dua menu.” Aland menunjukkan satu halaman kemudian membalik halaman yang lain.
“Pintar kamu Nak, menyajikan menu manis dan asin, keduanya ini cukup mengenyangkan. Tapi ini tidak masalah, sore adalah jeda waktu saat perut mulai kosong.” Mami memuji Aland sambil sekilas membaca dua resep menu itu.
Dapur mulai terdengar sibuk dan ramai, Mami dan Aland sibuk membagi pekerjaan di dapur. Ada kalanya dapur sunyi hanya terdengar suara kocokan telur dan pisau yang sedang mengiris-iris sesuatu, namun terkadang tiba-tiba terdengar suara gelak tawa ibu dan anak karena si anak melakukan kecerobohan.
Jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, dua puluh menit menuju adzan ashar. Kedua menu hasil kerja Mami dan Aland pun telah matang. Mami memberi arahan kepada Aland bagaimana menyajikan kedua menu tersebut, lalu bergegas membersihkan dan membuka celemeknya.
“Aland, Mami ke kamar dulu ya. Abi harus segera dibangunkan, bisa-bisa nanti adzan ashar di komplek kita terlambat.” Mami tersenyum lalu keluar dapur meninggalkan Aland. Aland segera mengikuti petunjuk Mami dalam menyajikan kedua menu itu.

--- ooo ---

Tepat pukul empat sore. Abi sedang membaca surat kabar di ruang tamu, Mami dan Cyra sudah dua puluh menit yang lalu pergi ke toko buku, dan Aland sendiri sedang duduk di ruang tengah. Sesekali Aland ke dapur memastikan kedua menu itu sudah siap disajikan, sesekali ia terhenti di depan kamar mandi melihat penampilan dirinya di cermin. Berkali-kali ia merapikan pakaian dan jilbabnya. Perasaan hatinya pun ikut tak tenang, berbagai perasaan berkumpul dalam hatinya.
Tak lama kemudian terdengar ucapan salam dari teras rumah. Suara khas yang membuat hati Aland seketika berdesir. Ia segera kembali duduk di ruang tengah mendengar percakapan antara Abi dan Adnan.
Lima belas menit pertama berisi percakapan basa-basi, dengan topik halaman depan surat kabar yang sedang Abi baca tadi. Aland bergegas ke dapur menyiapkan sajiannya di atas nampan, ia ingat kata Mami untuk menyajikan minuman dan makanan setelah lima belas menit kedatangan tamu. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, ia berusaha setenang mungkin agar tidak terdengar suara getaran antara cangkir dengan piring di nampan akibat kedua tangannya yang agak gemetar.
Dengan langkah kaki perlahan, Aland berjalan menuju ruang tamu. Kemudian meletakkan kedua cangkir teh masing-masing dihadapan Abi dan Adnan, lalu meletakkan dua piring saji di tengah-tengah meja, satu piring berisi potongan macaroni schotel dan satu piring yang lain berisi beberapa cupcake pisang. Setelah berhasil meletakkan sajian itu di atas meja dengan selamat, ia segera undur diri. Namun sebelum langkah kaki Aland menjauh, Abi memanggilnya.
“Aland, duduk dulu disini,” Abi mengangguk perlahan dan meminta Aland untuk duduk di kursi sampingnya.
Melihat tatapan serius Abi, Aland tidak pikir panjang, ia segera mengikuti perintah Abi. Aland duduk di samping Abi, tatapannya tertuju ke arah sajian yang ia hidangkan tadi, namun tatapan itu kosong. Aland tidak tahu kemana sebaiknya membuang tatapan matanya, ia sama sekali tidak berani melihat wajah Adnan meskipun sekilas. Terkadang hatinya tiba-tiba berdesir, ia merasa ada tatapan mata yang tertuju ke wajahnya, meskipun hanya sesaat.
Nah, Dik Adnan. Disini sudah Aland. Saya ingin bertanya satu hal, yang saya tidak tahu apakah Aland pernah memberikan pertanyaan ini untuk Dik Adnan,”
Abi menatap Aland lalu beralih kembali melihat Adnan.
“Alasan apa yang membuat Dik Adnan ingin menikahi putri saya, Aland?” Abi tersenyum dan mengangguk, mempersilakan Adnan untuk menjawab pertanyaannya tadi.
Sesaat kemudian, Adnan tersenyum dan mulai menjawab pertanyaan Abi.
“Alhamdulillah. Suatu kehormatan bagi saya untuk memberikan alasan mengapa saya memilih putri bapak di hadapan bapak langsung. Sebelumnya, saya ingin memberitahu bahwa Aland belum pernah menanyakan hal ini kepada saya,”
“Alasan pertamanya adalah karena saya ingin menikah, saya memiliki rencana hidup untuk membangun rumah tangga di usia 24 tahun dan saat ini saya sudah berusia 24 tahun. Sebelum menikah saya sudah mulai menyusun tujuan rumahtangga yang akan saya bangun nanti. Nah alasan keduanya yaitu dalam mencapai tujuan rumahtangga tersebut saya membutuhkan seorang partner yang bersedia mendampingi saya dan bersama-sama menuju tujuan tersebut. Saya melihat pribadi dalam diri Aland merupakan pribadi yang saya harapkan berada di samping saya dalam mencapai tujuan itu. Saya mengenal pribadi Aland selama dua tahun di sebuah organisasi. Dalam organisasi tentu diperlukan pribadi yang memiliki visi jauh ke depan, dapat bekerjasama dalam sebuah tim, menemukan solusi permasalahan yang sering menjadi hambatan, memiliki manajemen waktu yang baik, dan memiliki kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya. Aland memiliki jiwa organisasi yang baik, itu dapat merepresentasikan pribadinya dalam mengatur rumahtangga.”
Adnan mengatur nafasnya, memberi jeda, dan kembali melanjutkan jawabannya.
“Alasan ketiga adalah kecintannya pada keluarga. Saya melihat hal itu dari jadwal hariannya. Di awal kepengurusan, kami seluruh anggota selalu mengumpulkan jadwal harian. Tujuannya untuk mengatur jadwal rapat dan agenda organisasi yang lain. Dalam jadwal harian Aland, saya melihat agenda-agenda lain diluar perkuliahan, disana tertulis tiap hari Ahad pagi jadwalnya olahraga bersama Abi, lalu pada hari-hari tertentu jadwalnya menjemput adik di sekolah, lalu pada hari Ahad sore jadwalnya bersama adik yang tidak tertulis bentuk kegiatannya. Dari jadwal itu jelas memperlihatkan kepada saya bahwa Aland memprioritaskan waktu-waktu tertentu hanya untuk keluarganya. Hal tersebut yang membuat saya tertarik dengan pribadi Aland.”
“Alasan terakhir dan merupakan alasan yang paling utama bagi saya adalah Aland seorang muslimah sholihah. Saya memang tidak tahu bagaimana ia menjalankan ibadahnya, namun saya yakin bahwa cerminan ibadah seseorang ada pada sikap dan perilakunya sehari-hari. Dan itu kembali lagi pada alasan kedua dan ketiga mengapa saya memilih Aland untuk mendampingi saya membangun rumahtangga. Pribadi Aland yang saya ketahui tadi sudah cukup untuk menyeimbangi diri saya yang memiliki banyak kekurangan, serta cukup untuk menutupi kekurangan pribadi Aland yang belum saya ketahui, dan tentu akan saya temui dalam perjalanan rumahtangga nantinya.”
Di akhir kalimatnya, Adnan tersenyum dan perlahan mengangguk, tanda ia sudah menyelesaikan jawabannya. Suara Adnan terdengar mantap dari awal hingga akhir dalam mengutarakan jawabannya.
Abi pun tersenyum, ada rasa bangga yang nampak dari raut wajahnya. Aland menangkap senyuman Abi, itu sudah cukup melegakan sebagian relung hatinya yang terasa penuh sesak sebelum kedatangan Adnan ke rumah.
“Mari Dik Adnan diminum dan dimakan dulu,” Abi mempersilakan Adnan untuk membasahi tenggorokannya setelah bicara panjang lebar.
“Sepulang saya jamaah Dhuhur tadi dimasjid, dapur rumah ini terdengar sibuk sekali. Rupanya menghasilkan sajian yang sangat menarik di meja ini. Mari Dik Adnan dicicipi dulu.” Abi mencoba mencairkan suasana di ruang tamu yang sebelumnya cukup tegang, dan sekali lagi mempersilakan Adnan untuk mengambil sajiannya di meja.
Oiya Aland, sepertinya ada yang kelupaan. Tolong ambilkan kotak tisu di samping televisi.” Abi memberikan sebuah isyarat pada Aland.
“Iya Bi,” Aland segera beranjak dari duduknya, menuju ruang tengah, mengambil kotak tisu, kembali menuju ruang tamu, dan meletakkan kotak tisu di atas meja. Setelah itu Aland kembali duduk di ruang tengah, tidak terdengar suara Abi yang menahannya untuk tetap berada di ruang tamu.
Abi jelas mengetahui bahwa Aland sedang duduk di ruang tengah dari awal kedatangan Adnan tadi. Namun Aland belum sepenuhnya mengerti mengapa Aland harus hadir di ruang tamu ketika Abi memberikan pertanyaan itu untuk Adnan.
Percakapan selanjutnya yang terdengar dari ruang tamu didominasi oleh Abi yang banyak bertanya tentang keluarga Adnan, hanya sesekali Adnan menanyakan kembali hal yang sama kepada Abi.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, intensitas percakapan yang terdengar dari ruang tamu sudah mulai berkurang, terkadang ada jeda waktu yang sunyi tanpa ada percakapan.
“Mohon maaf Pak Arman,” sapaan dari suara Adnan terdengar cukup serius.
“Iya Dik Adnan,” Abi pun menanggapinya dengan nada serius.
“Jika bapak berkenan, saya hendak melamar putri bapak, Aland, dalam waktu dekat ini,” suara Adnan menggantung, berharap mendapat respon dari Abi terlebih dahulu.
Abi tersenyum, cukup paham dengan maksud Adnan.
“Kapan waktu dekat itu Dik Adnan?”
“Jika bapak berkenan, saya hendak melamar Aland awal bulan depan,” jawab Adnan singkat.
Aland betul-betul seksama mendengarkan percakapan ini dari ruang tengah, kedua tangannya saling menggenggam erat. Hatinya kembali terasa penuh sesak oleh berbagai perasaan yang tidak ia mengerti.
Beberapa detik berlalu, Aland menanti jawaban yang akan disampaikan Abi.
“Kenapa Abi tidak segera menjawab pertanyaannya, apa yang sedang Abi pikirkan?” Aland bergumam lirih.
Tiga puluh detik berlalu, akhirnya Abi menjawab pertanyaan Adnan, “Alhamdulillah. Baik, kita sepakati saja tanggalnya sekarang. Saya kira Dik Adnan tentu sudah merencanakan dan menyiapkan waktu tersebut.” Abi tersenyum.
Adnan merasa tertantang dengan tawaran Abi tadi, ia harus memberikan kepastian waktu untuk Abi. Ia memang sudah menentukan satu tanggal untuk melamar Aland, tapi baru ia bicarakan dengan Umi saja, belum dengan kakak-kakaknya. Ia segera berpikir cepat, baginya restu Umi adalah yang paling penting.
“Jika bapak berkenan, saya merencanakan tanggal dua bulan tiga, bertepatan dengan hari Ahad. Untuk waktunya saya serahkan ke bapak sepenuhnya.” Adnan mengangguk dan tersenyum.
“Baik, saya setuju. Insya Allah hari Ahad tanggal dua bulan tiga pukul sepuluh pagi. Kami tunggu kedatangannya di rumah ini.” Abi pun langsung menyetujuinya dan memberikan kepastian waktunya.
Aland pun ikut tersenyum dari ruang tengah, pernyataan Abi cukup melegakan sebagian relung hatinya yang tadi kembali terasa penuh dan sesak. Senyuman itu bertahan lama di bibirnya, pikirannya segera menelusuri apa saja yang harus ia persiapkan dalam tiga pekan ini. Nanti malam ia harus segera merumuskan terkait agenda itu bersama Mami, itu yang pertama ia rencanakan.
Lima menit kemudian, pikirannya kembali tersadarakan oleh ucapan salam Adnan yang sudah berada di teras rumah, dan kemudian dijawab oleh Abi.
“Wa’alaikumussalam. Sampaikan salam untuk Ibu dan keluarga disana.”
Adnan segera menuju keluar rumah. Kemudian terdengar suara mesin sepeda motor menyala dan melaju menjauh dari rumah.
Tak lama kemudian disusul suara teriakan salam dari halaman rumah, yang sangat Aland kenal.
Aland bergegas menuju ruang tamu, mengintip keluar rumah dari jendela ruang tamu.

“Itu Mami dan Cyra sudah datang, apakah tadi mereka bertemu dengan Kak Adnan?” Aland bertanya-tanya dalam hati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar