Selasa, 26 Juli 2016

Chapter 7 : Detektif yang Lupa


“Kok kantong yang dibawa sepertinya berat sekali?, Cyra jadi beli buku atau beli beras?” Abi menyambut Mami dan Cyra yang baru pulang dari toko buku dengan menggoda putri bungsunya.
Abi adalah satu-satunya lelaki di rumah itu yang selalu membuat suasana rumah hangat dan ramai.  Ketika Mami dan kedua putriya sedang kesal karena suatu masalah, ia lah yang dapat merubah wajah kusut mereka menjadi segar dan ceria kembali. Abi adalah sosok yang paling dirindukan oleh ketiga wanita di rumah itu. Ketika Abi sedang pergi dinas keluar kota, hari kedatangannya akan disambut oleh ketiga wanita itu dengan sangat meriah. Abi adalah lelaki yang tak kenal lelah, setiap pulang dari kantor wajahnya segar dan semangat. Sore hari adalah waktunya ia bercengkerama dengan kedua putrinya.
Pernah suatu sore, saat Cyra sedang berada di taman kemudian Abi pulang dan mengajaknya bermain, Cyra bertanya, “Abi di kantor kerja apa sih?, kok sampai di rumah tidak terlihat wajah lelah?”. Abi tertawa kemudian seketika merubah raut wajahnya seperti orang sedang kelelahan, mata sayu dan bibir cemberut, “Wajah Abi harus seperti ini?”. Cyra tertawa lebar, dan Abi kembali bicara, “Di kantor mungkin Abi memang lelah, tapi saat hendak pulang tiba-tiba energi Abi kembali penuh dan semangat ingin segera tiba di rumah. Setiap di perjalanan pulang, Abi selalu tidak sabar ingin segera bertemu dengan ketiga wanita yang sangat Abi rindukan, meskipun Abi hanya meninggalkan rumah selama sembilan jam.”    
Seperti sore hari ini, melihat keceriaan di wajah Cyra meskipun cukup kepayahan membawa kantong yang terlihat cukup berat, membuat Abi tidak dapat menahan untuk tidak menggoda putri bungsunya itu.
Cyra memanfaatkan situasi itu, “Ya ini Bi, tolong bawakan,” senyumnya merayu manja.
Cyra segera masuk ke dalam rumah dan duduk santai di ruang tengah, Abi dan Mami pun menyusulnya.

Aland yang telah berganti pakaian rumah turut bergabung d ruang tengah.
“Kak Aland, masih adakah sisa kue yang Kakak masak siang tadi. Cyra lihat tadi hanya ada satu orang yang keluar dari rumah. Pasti masih ada sisa kan ya?” Cyra cukup merasa lapar setelah pulang dari toko buku.
“Tentu ada. Sudah Kakak siapkan special untuk Cyra.” Aland tersenyum dan bergegas ke dapur untuk mengambil apa yang Cyra minta tadi.
Cyra, Aland dan Mami menyantap kue itu bersama. Sedangkan Abi telah bergegas ke kamar mandi untuk bersiap menuju masjid. Hari ini, Abi membolehkan mereka untuk jamaah sholat maghrib di rumah, karena melihat Cyra yang masih kelelahan.
“Beli buku apa saja Cyra?” Aland memperhatikan Cyra yang sedang mengeluarkan beberapa buku dari kantong belanja.
“Tiga kak. Ini ada satu buku yang mau Cyra hadiahkan untuk teman baru Cyra. Dia suka baca buku juga Kak, sama seperti Cyra. Senang juga rasanya punya teman baru dengan hobi yang sama.” Cyra tersenyum sendiri sambil membaca sekilas isi ketiga buku yang ia beli tadi.
Aland memandang wajah riang adiknya, ia pun tersenyum. “Mungkin hal itu juga yang membuat hati Cyra kembali riang, dan melupakan rasa marah karena kakaknya yang ingkar janji,” pikir Aland.  
Benar adanya yang dipikirkan oleh Aland, Cyra sudah ceria dan riang kembali. Bagaimanapun, Cyra adalah seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang memiliki hati seputih salju. Hati seputih salju itu tak akan mudah dikotori hanya karena rasa kesal dan marah kepada kakaknya. Ia sendri tak nyaman melihat ada setitik noda yang mengotori hati seputih saljunya itu. Dan mendapatkan teman baru merupakan hal yang menyenangkan bagi Cyra, apalagi teman baru itu memiliki hobi yang sama dengannya. Ia seperti mendapatkan sahabat untuk berbagi cerita dari kesamaan hobinya. Dan hal itu seketika dapat melunturkan titik noda yang sempat mengotori hatinya yang seputih salju.

--- ooo ---

Hari Selasa.
Sesuai perjanjian yang dibuat oleh Cyra, Anis dan Firda di hari Jumat yang lalu. Hari ini mereka bertemu kembali. Seperti biasa, Cyra sudah minta ijin kepada Abi dan Mami di malam hari sebelumnya. Di pagi harinya, ia tak lupa menyiapkan buku serial Princess Hania yang akan ia pinjamkan dan satu buku baru yang akan ia hadiahkan untuk teman barunya itu. Sebelum berangkat sekolah, ia tak lupa mengingatkan Abi untuk menjemputnya di rumah Anis sepulang dari kantor.
Seusai pelajaran terakhir selesai, Cyra dan Anis segera bergegas menuju bis sekolah yang akan membawa mereka menuju komplek perumahan dimana Anis tinggal. Sekolah mereka memliki jasa bis sekolah yang melayani antar jemput untuk yang tinggal di area sekitar batas kota. Jarak dari sekolah menuju rumah Anis sekitar tujuh kilometer, dengan menggunakan bis sekolah dapat ditempuh dalam waktu kurang dari tigapuluh menit.
Cyra dan Anis sudah duduk bersebelahan di dalam bis. Sambil  menunggu murid kelas lima yang belum keluar dari kelasnya, Anis kembali mengingatkan rencana penyelidikannya.
“Kamu membawa buku serial Princess Hania sesuai saranku kemarin?” tanya Anis memastikan.
“Tentu saja Anis. Ini lihat sendiri kalau tidak percaya, seri ketiga sampai kelima.” Jawab Cyra sambil memperlihatkan isi dalam kantong yang terpisah dari tas sekolahnya. Tas sekolahnya tidak dapat menampung tambahan buku-buku itu di dalamnya, sehingga ada satu kantong yang harus ia bawa sejak berangkat sekolah tadi.
“Bagus,” Anis tersenyum. “Eh itu ada buku apa satu lagi?,” raut wajah Anis berubah penasaran.
“Hari Ahad kemarin, Aku ke toko buku bareng Mami. Aku beli tiga buku, salah satunya ini. Entah kenapa aku ingin memberikan hadiah buku untuk Firda. Ya anggap saja hadiah perkenalan.” Cyra tersenyum dan memperlihatkan buku yang akan ia hadiahkan untuk Firda.
Mmm oke-oke. Tidak masalah. Memberi kesan baik di awal pertemanan itu langkah yang tepat.” Anis tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tiga puluh menit kemudian bis sekolah telah sampai di depan komplek rumah Anis. Mereka bergegas turun dari bis dan segera menuju rumah Anis.
Cyra sedang duduk santai di teras rumah Anis sambil membuka kotak bekal dan menyantap kue yang dibawakan Mami tadi. Tak perlu menunggu waktu lama, ia segera mendengar suara salam seorang anak dari luar pagar rumah. Ya, Firda sang target telah datang, ditangannya terdapat dua kotak makanan berisi beberapa kue. Cyra langsung menyambutnya dengan senyuman khasnya, dan disusul oleh Anis yang muncul dari dalam rumah.
“Assalamu’alaikum, Kak Cyra dan Kak Anis.” Firda tersenyum dan kembali mengulang sapaan salamnya di hadapan Cyra dan Anis.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Cyra dan Anis bersamaan.
Wah, Firda bawa banyak kue untuk siapa nih?, Kakak juga bawa kue untuk kita makan bersama.” Cyra memperlihatkan kotak bekal berisi kue yang sedang ia makan tadi.
“Ini Kak Anis,” Firda menyerahkan satu kotak makanan tersebut kepada Anis, “Kata nenek Firda, satu kotak untuk ibu Kak Anis, satu kotak lagi untuk kita makan bersama disini.” Firda tersenyum.
Firda menceritakan bahwa neneknya sangat senang sibuk di dapur dan membuat aneka kue. Setiap ada acara di rumah neneknya, urusan konsumsi tidak pernah pesan dari luar, neneknya sendiri yang turun tangan untuk menyusun dan meracik menu yang akan disajikan. Ketika melihat neneknya sibuk di dapur, ia senang memperhatikan cara neneknya memasak, ia pun sering dilibatkan dalam urusan dapur. Mulai dari hanya diminta untuk menyiapkan perkakas dapur yang akan dipakai, mengaduk adonan yang telah dicampur, mencetak adonan kue kering, menuang adonan ke dalam cetakan, hingga cara memotong kue yang baik.
Wah asyik ya, neneknya baik sekali. Mami juga sering membuat kue tapi kenapa aku tidak terlalu tertarik untuk ke dapur seperti kamu ya Firda?” Cyra menanggapi cerita Firda.
Firda tertawa, “Mungkin kakak jarang melihat apa yang dikerjakan ibu Kak Cyra di dapur, jadi kakak tidak tertarik.”
“Betul itu. Kamu jarang bantu Mami di dapur kan?” Anis sepakat dengan jawaban Firda.
“Mungkin saja ya. Tapi dipikir-pikir Mami yang jarang minta bantuan ke Cyra.” Cyra berusaha membela dirinya sendiri.
Cyra mengambil kantong di samping kursinya, dan mengalihkan topik pembicaraan. “Oiya Firda, ini buku serial Princess Hania. Kakak bawakan seri ketiga sampai kelima.” Cyra menyerahkan ketiga buku itu kepada Firda.
“Makasih Kak. Firda kira Kakak langsung bawakan sampai seri kesepuluh,” malu-malu Firda mengatakannya.
“Buku serial Princess Hania kan tebal, kalau kakak bawa semua bisa-bisa orangtua kakak dan guru di kelas curiga apa yang kakak bawa. Oiya sekarang juga sudah ada seri kesebelasnya, kakak juga baru baca kemarin. Sudah, sekarang kamu selesaikan baca ketiga buku itu dulu, lain waktu kakak bawakan lanjutannya lagi. Ini ada satu buku lagi, ini kakak hadiahkan untuk Firda. Ini termasuk buku favorit kakak juga, kebetulan kemarin waktu ke toko buku masih ada yang baru jadi kakak belikan untuk Firda. Kalau Firda bisa baca buku kumpulan cerpen ini dalam sekali duduk, berarti Firda memang anak yang kutu buku.” Cyra tersenyum, kemudian melipat kantong bukuya yang telah kosong.  
Cyra dan Firda asyik membicarakan tentang koleksi bukunya masing-masing, sesekali mereka tertawa bersama menceritakan isi satu judul buku yang sama-sama pernah mereka baca, sesekali sambil makan kue yang dibawa oleh Cyra maupun oleh Firda. Anis mengamati sahabatnya dengan teman barunya itu. “Sepertinya Cyra agak melupakan tujuan awal berkenalan dengan Firda,” pikir Anis.
Eh Cyra, Firda, kakak masuk ke dalam dulu ya. Kakak mau ambil minum, mesti kalian haus kan?” Anis beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumah.
Cyra dan Firda tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, tanda mereka memang kehausan. Kemudian mereka kembali melanjutkan ceritanya tadi yang sempat terpotong.
“Kak Cyra, main ke rumah nenek Firda yuk. Asyik lho ikut bantuin nenek masak di dapur, apalagi kalau sedang masak kue.” Tiba-tiba Firda mengalihkan pembicaraan mereka, raut wajahnya berharap jawaban iya dari mulut Cyra.
Cyra tampak sedang berpikir, ia melirik ke dalam rumah dan mendengar suara Anis sedang berbincang dengan ibunya.
“Mmm boleh. Kapan?”
“Sekarang boleh. Biasanya setelah sholat ashar waktunya nenek akan sibuk di dapur, dan kita bisa ikutan sibuk bantu nenek.” Firda tersenyum.
Wajah Cyra mendadak kaget dan panik mendengar jawaban Firda.
Hah, memang sekarang sudah masuk waktu ashar?” Cyra beranjak dari kursinya dan melihat jam dinding di dalam rumah Anis.
“Tadi Firda sudah dengar adzan ashar kak. Ada apa Kak kok Kakak kaget begitu?” Firda heran dengan  tingkah laku Cyra.
“Kakak kalau sedang asyik mengobrol suka lupa waktu. Kenapa kakak tadi tidak dengar adzan ya. Pukul empat biasanya Abi sudah sampai di rumah Anis. Kakak harus sholat Ashar dulu disini. Oiya jadi kakak tidak bisa main ke rumah nenek Firda sore ini ya. Bagaimana kalau hari Jumat?” Cyra menawarkan hari lain.
Anis muncul dari dalam rumah sambil membawa minuman untuk mereka. “Maaf ya kelamaan. Tadi harus bantu ibu dulu di dalam.”
“Tidak apa-apa Kak Anis. Boleh Kak Cyra, hari Jumat ya. Nanti Firda tunggu di rumah nenek saja ya, Kak Anis kan tahu rumah nenek.” Cyra tersenyum.
Anis langsung menatap wajah Cyra, raut wajahnya bertanya-tanya.
Oke. Kakak sholat dulu di dalam ya.” Kemudian Cyra menggandeng tangan Anis dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. “Nanti aku jelaskan, sekarang aku harus sholat Ashar dulu sebelum Abi datang.” Cyra berbisik di dekat wajah Anis.
Eh Kak, kalau begitu Firda pamit pulang dulu ya. Assalamu’alaikum.” Firda tersenyum sambil memeluk buku-buku yang dibawakan Cyra tadi dan bergegas memakai sandalnya.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Cyra dan Anis bersamaan sambil melambaikan tangan ke arah Firda.
Selesai sholat Ashar di kamar Anis, Cyra bergegas keluar rumah. Abi telah menunggunya di depan rumah Anis. Cyra segera berpamitan dengan ibu Anis kemudian berjanji kepada Anis bahwa ia akan menjelaskan apa yang dikatakan Firda tadi besok pagi di kelas.  

--- ooo ---

Di dalam mobil, Abi tidak banyak bertanya kepada Cyra, hanya sebatas memastikan apakah Cyra sudah makan siang atau belum tadi di sekolah. Karena seperti biasanya Cyra akan mengantuk di dalam mobil jika sepulang sekolah ia tidak tidur siang.
Namun hal yang terjadi tidak sesuai perkiraan Abi, Abi kaget mendengar teriakan Cyra ketika mobil baru saja keluar dari komplek perumahan itu.
“Abi.., itu motor yang di depan Kak Aland ya?. Cyra hafal betul itu baju favorit Kak Aland. Apa tadi Kak Aland juga keluar dari komplek perumahan Anis tadi?,” Cyra mencondongkan badannya ke depan sambil menunjuk salah satu motor yang sedang melaju di depan mobil.
Abi sekilas memperhatikan salah satu motor di depan jalannya. “Iya, itu Kak Aland. Abi tidak tahu Aland datang dari arah mana ketika di perempatan jalan depan komplek tadi.  Tapi kamu tidak perlu menyapanya Cyra, berbahaya mengagetkan orang yang sedang berkendara. Nanti saja menanyakannya di rumah.” Setelah melihat laju motor Aland dalam batas aman, Abi segera mendahului jalannya.
“Iya.” Cyra kembali menyandarkan tubuhnya, namun rasa kantuknya benar-benar hilang. Pikirannya kembali mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan akhir-akhir ini. “Ya, aku lupa tentang penyelidikan yang kulakukan bersama Anis, aku lupa tujuan awalku berkenalan dengan Firda, dan aku juga lupa untuk maksud apa aku harus menyelidiki kakakku.” Cyra sibuk berpikir.
Cyra mencoba menelusuri kembali ingatannya, bagaimana awal mulanya hingga ia bertemu dan berkenalan dengan Firda, teman barunya yang sangat menyenangkan baginya. Ingatannya kembali bermunculan dalam pikirannya, tentang suatu malam dimana Aland menangis di hadapan Abi, tentang kepergian Aland di hari Ahad yang dirahasiakan oleh Abi dan Mami, dan tentang janji yang tidak Aland tepati untuk tidur bersamanya di suatu malam.
Kemudian saat di sekolah ia mendapat kabar dari Anis tentang Aland yang berkunjung ke rumah tetangganya, dan tetangga yang dimaksud itu adalah neneknya Firda. Anis memberikan ide rencana untuk menyelidiki tetangganya itu. Dimulai dari perkenalannya dengan Firda, dan sampai saat ini ia belum mendapatkan informasi apapun dari Firda tentang Aland. Anis yang mengatur rencana dan selalu mencegahnya untuk langsung bertanya tentang Aland di awal pertemuannya dengan Firda. Hingga saat ini justru ia sendiri yang lupa akan maksud awalnya berkenalan dengan Firda. Karena sejatinya ia tulus dan senang mendapat teman baru seperti Firda tanpa maksud tertentu.  
Dan sore ini Cyra melihat Aland mengendarai sepeda motornya di luar komplek rumah Anis. “Apakah tadi Kak Aland pulang dari rumah nenek Firda?” Cyra bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri.
Tak terasa perjalanan mobil itu telah berhenti di area parkir rumahnya. Sebelum turun dari mobil, Cyra melihat ke seluruh area halaman rumahnya. “Motor Kak Aland belum datang. Aku akan menunggunya di teras rumah.” Cyra segera turun dari mobil dan duduk santai di kursi teras, lalu ia mengambil salah satu buku pelajaran dan pura-pura serius membacanya. Abi berlalu melewati teras dan segera masuk ke dalam rumah, ia tak terlalu menghiraukan apa yang sedang Cyra lakukan.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan Aland belum juga tiba di rumah. “Sudah menunggu setengah jam tapi kenapa Kak Aland belum juga datang ya. Sebentar lagi pasti Mami memanggilku.” Cyra bergumam sambil matanya terus mengawasi jalan depan rumah.
“Cyra, sudah jam lima. Ayo mandi dulu.”
Cyra kaget dan menoleh ke arah pintu ruang tamu. Tanpa ia sadari Mami sudah berdiri disana dengan tatapan yang tajam.
“Iya Mi. Cyra asyik baca buku sampai lupa lihat jam.” Cyra masih sempat membuat alasan. “Oiya Mi, Kak Aland pergi kemana kok motornya tidak kelihatan?” Cyra beranjak dari duduknya dan meraih tas sekolahnya.
Mami tidak menjawab pertanyaan Cyra, hanya matanya yang bergerak mengisyaratkan agar Cyra segera masuk rumah. Cyra memahami isyarat itu, lalu segera masuk rumah melewati Mami yang masih berdiri di samping pintu. 
Malam itu, Aland belum juga sampai di rumah hingga waktu makan malam selesai. Cyra mulai mengurungkan niatnya untuk tetap menunggu Aland, ia tidak dapat menahan rasa kantuknya. Tak lama kemudian ia bergegas masuk kamar dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Keesokan harinya, Cyra bangun tepat saat adzan Shubuh berkumandang setelah dibangunkan oleh Aland beberapa kali. Cyra bergegas bangun dari tempat tidurnya, ia teringat tentang sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Aland kemarin. Namun, tiba-tiba pandangan matanya beralih pada tas sekolahnya yang terutup rapat di atas mejanya.
“Ya Allah, semalam aku langsung tertidur, tugas sekolah sama sekali belum aku kerjakan.” Cyra segera keluar kamar dan menuju kamar mandi. Rasa penasaran yang ingin ia tanyakan ke Aland pun seketika menguap bersamaan dengan datangnya serbuan ingatan tugas sekolah yang harus ia segera kerjakan.   

--- ooo ---

“Tolong aku… Tolong!!..”
Aku sigap menarik tanganku dan menghentikan lanjutan kisah ini. Aku segera mengamati apa yang terjadi di sekitarku. Namun sejauh mataku memandang aku tidak melihat sumber suara itu, sedangkan suara itu terdengar sangat dekat.
“Toloooong!!...”
Suara itu kembali terdengar. Aku segera menyimpan lembaran daun ini dalam bajuku. Aku segera berdiri dan lebih seksama mengamati sekitar. Tubuhku sudah berputar, tapi aku tetap tidak melihat dari mana sumber suara itu. Tiba-tiba kakiku terpeleset, aku kembali terduduk di atas batang pohon besar ini. Kuperhatikan sulur-sulur daun yang menempel pada batang ini bergerak dan tertarik ke bawah. Aku mencoba merangkak mengikuti arah sulur daun dan melihat ke bawah batang besar ini.
Ya Tuhan. Ada seorang anak di dalam sungai, kepalanya muncul tenggelam, tangannya berusaha mengenggam kuat sulur daun yang berasal dari batang besar ini. Ia hampir tenggelam terbawa aliran sungai. Aku segera menuruni batang besar ini dengan perlahan menuju tepian sungai. Aku mencari sesuatu yang dapat menjangkau anak itu yang berada di tengah sungai.
Hai. Aku akan menolongmu. Bertahanlah.” Aku berteriak, memberi tanda bahwa pertolongan akan segera datang. Aku mendapat sebuah ranting pohon yang cukup panjang dan kuat. Kuikatkan salah satu sulur pada ranting ini, jika aku tidak kuat menahan, setidaknya ranting ini tidak ikut hanyut ke sungai.
Aku segera mengarahkan ujung ranting ini ke tengah sungai, mendekati posisi si anak yang hampir hanyut terbawa arus sungai.
Hai. Peganglah kuat-kuat ujung ranting itu, aku akan menarikmu dari sini.”
Ia berusaha meraih ujung ranting itu, setelah satu tangannya memegang kuat ujung ranting, satu tangan lainnya melepaskan pegangannya dari sulur daun yang dari tadi ia genggam kuat.
Aku berusaha menariknya sekuat tenaga. Kutahan kaki kiriku pada sebuah batu besar supaya tidak terpeleset masuk ke tepi sungai. Kulihat tanganku sudah mulai memucat, sejauh ini aku berhasil menarik ranting ini, anak itu semakin dekat dengan tepian sungai.
Tiba-tiba batu besar yang menahan kaki kiriku jatuh masuk ke sungai, seketika itu pula pertahanan kakiku roboh dan setengah badanku masuk ke sungai. Posisi anak itu kembali ke tengah sungai. Aku masih berpegang kuat pada ranting ini, begitu juga anak itu, sulur yang kuikat pada ranting ini pun terlihat menegang. Sulur itu tak akan mampu menahan kami berdua dalam waktu yang lama, pikirku. Aku harus segera naik kembali ke atas sungai.
Namun tak kusangka aliran sungai yang terlihat mempesona ini ternyata cukup deras menarikku dan membuatku sulit menggapai tepi sungai. Aku berusaha sekuat tenaga menggapaikan tanganku pada apapun di tepi sungai. Ya Tuhan, sulur itu mulai robek. Jika aku tidak dapat segera menggapai tepi sungai, kami berdua akan hanyut ke dalam sungai. Pikiranku mulai kacau, beberapa kali badan dan kepalaku masuk ke dalam sungai. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi pada kami berdua
Tiba-tiba aku merasakan sebuah tarikan, tarikan pada ranting yang membuatku mendekati tepi sungai. Aku melihat ada seorang anak di tepi sungai. Dia lah yang menarik ranting ini dengan seluruh tenaganya. Aku berusaha mendorong diriku ke tepi sungai. Hap, tanganku meraih sebuah tanaman, batangnya kuat tertanam di tanah. Aku segera mengangkat badanku ke atas tepi sungai, kemudian membantu si anak kedua tadi menarik ranting. Beruntungnya si anak pertama tadi masih bertahan mengenggam ujung ranting ini. Tak lama kemudian, si anak pertama telah berada di tepi sungai, aku membantunya menarik tubuhnya ke atas.
Si anak pertama terbaring lemas di atas hamparan rumput, dan si anak kedua bergegas memeriksa keadaannya. Aku berada di dekat mereka, sambil memperbaiki diriku sendiri. Si anak kedua menatapku, memperhatikan seluruh tubuhku.
“Kamu baik-baik saja?, terimakasih telah menolong saudaraku. Entah apa yang akan terjadi pada saudaraku jika tak ada kau yang menolongnya,” kata si anak kedua setelah memastikan kondisi saudaranya baik-baik saja.
“Aku tadi juga terseret ke dalam sungai. Kau yang menolong kami,” kataku singkat.  Aku menatap si anak kedua, kemudian beralih ke anak pertama yang masih terbaring. Ada sesuatu pada mereka berdua. Aku memperhatikan wajah mereka lebih seksama, berulang kali bergantian mengamati wajah mereka berdua.
Ya, mereka memiliki wajah yang sama. Sama persis tak ada bedanya. Aku belum pernah melihat yang seperti ini.
Hai.” Aku ingin bertanya pada si anak kedua.
Anak kedua itu menatapku, “Ya”
“Bagaimana bisa kalian memiliki wajah yang sama?” tanyaku singkat.
“Kami kembar,” jawabnya.
“Kembar?, kamu bertemu dimana dengannya?, apakah aku juga akan dapat memiliki teman yang kembar seperti kamu dengannya?” Aku sangat penasaran.
“Bukan teman kembar, tapi kami saudara kembar. Aku sejak awal bersama dengannya. Kamu tidak memiliki saudara kembar jika sejak awal kau tak bersama dengannya,” jelasnya.
Kepalaku tertunduk, penjelasannya jelas membuat hatiku kecewa. Setelah melihat mereka tadi, aku pun berpikir akan bertemu teman kembar seperti itu suatu saat nanti. Tapi nyatanya sejak awal aku sendiri, menurut jawabannya tadi berarti aku tidak memiliki saudara kembar. Beruntung sekali dia, sejak awal memiliki teman yang menemani perjalanan ini.
Tiba-tiba aku teringat Cyra. Dia memiliki teman seperti Anis dan Firda, ukuran tubuh mereka hampir sama, tapi mereka tidak memiliki wajah yang sama. Dia pun memiliki Aland, wajah mereka hampir sama, tapi ukuran tubuhnya jelas berbeda dengan Aland. Sedangkan aku sejak awal seorang diri, pernah bertemu dengan seorang kawan beberapa kali, namun setelah itu dia pergi meninggalkanku seorang diri lagi.
Tanpa kusadari si anak pertama telah duduk disamping si anak kedua. Wajah mereka cerah, mereka tersenyum kepadaku. Kondisi si anak pertama terlihat telah pulih dan membaik. Aku pun membalas senyum mereka.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada si anak pertama.
“Tentu saja. Atas bantuanmu aku dapat duduk lagi disini bersama dengan saudaraku.” Dia tersenyum, benar-benar senyum yang sama dengan senyum si anak kedua tadi.
“Sudah kukatakan tadi. Aku juga ikut terseret ke sungai. Jika teman kembarmu, eh saudara kembarmu tak segera datang, mungkin kita berdua telah hanyut terbawa aliran sungai ini.” Aku menjelaskan sekali lagi bahwa aku bukan seorang pahlawan.
Oiya, apa sebabnya kamu bisa jatuh ke sungai?” tanyaku.
Mereka berdua saling memandang, terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku. Mereka memandangku bergantian. Akhirnya si anak kedua yang menjawab pertanyaanku.
“Mungkin kamu berpikir bahwa memiliki saudara kembar itu merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan bukan?” tanyanya dengan nada serius.
“Iya. Sangat menyenangkan. Aku berharap bisa sepertimu yang memiliki saudara kembar. Aku bisa berbagi cerita, bermain, berjalan-jalan dan apapun yang kulakukan bersama dengannya sehingga aku tak sendiri.” Jawabku sambil membayangkan Cyra yang periang karena dimanapun dia berada selalu ada yang menemaninya.
Anak kedua itu tersenyum mendengar jawabanku.
“Betul sekali. Tentu sangat menyenangkan memiliki saudara kembar. Raga kita memang terlihat serupa dan sama, namun kita memiliki pikiran dan perasaan yang tidak sama persis seperti raga kami.” Kedua anak itu saling pandang.
“Maksudmu?” Aku tidak begitu mengerti apa yang ia ucapkan tadi.
“Iya. Kemanapun kita pergi, kita selalu bersama. Namun apa yang kita lakukan tidak selalu sama, bahkan terkadang perbedaan itu menimbulkan permusuhan diantara kita.”
“Kamu menjadikan saudaramu itu sebagai musuh?” Aku memotong penjelasannya, karena heran mendengar kata permusuhan dari mulutnya.
“Iya, terkadang seperti itu. Aku senang mengisi waktuku dengan berjalan-jalan, aku sangat tertarik dengan petualangan, rasanya diri ini ingin selalu bergerak menuju tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi. Sedangkan ia memiliki kesenangan yang berbeda. Ia lebih banyak berdiam di tempat-tempat yang kita kunjungi.”
Hei, aku tidak sekedar diam saja.” Si anak pertama itu menyela dan melakukan pembelaan terhadap dirinya.
Si anak kedua melanjutkan penjelasannya.
“Iya, saudaraku ini tidak sekedar diam saja. Ia senang mengamati suatu hal yang baginya menarik. Ia pernah tiba-tiba duduk di tanah untuk mengamati koloni semut yang sedang mencari makan, ia juga pernah disengat lebah karena mengambil salah satu sarang lebah, ia juga sering memanjat pohon-pohon yang tinggi dan besar hanya untuk mengambil buah di dahan yang tertinggi. Nah itu yang menyebabkan tadi ia jatuh ke sungai dan terbawa aliran sungai hingga kemari. Beruntungnya, aku sudah pernah menyusuri sungai ini. Ketika aku melihatnya hanyut terbawa arus sungai, aku segera berlari menyusuri tepian sungai yang pernah kulalui ini. Hanya sayangnya arus sungai ini lebih cepat dari langkahku berlari hingga aku sempat tak dapat melihatnya. Dan beruntungnya lagi ada kau yang cepat menolongnya.”
Aku begitu seksama mendengarkan jawaban dari si anak kedua itu, dan mencoba untuk memahami setiap kata-katanya.
“Berarti perbedaan yang kau maksud tadi tidak selalu memunculkan permusuhan dalam diri kalian berdua, bukan begitu?”.
“Maksudmu?” raut wajah si anak kedua itu penuh tanda tanya.
Aku menatap wajah si anak pertama yang masih terlihat kelelahan.
“Kau beruntung memiliki saudara yang gesit bergerak dan berpetualang. Sehingga ia dapat segera datang menolong kita berdua yang hampir tenggelam terbawa arus sungai.”
Kedua saudara kembar itu saling pandang dan kemudian tersenyum menatapku bersamaan. “Baik. Kami harus segera pergi lagi untuk menyelesaikan misi kami masing-masing. Misi yang berbeda namun saling memberi kebaikan. Kami tak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikanmu. Kami hanya dapat mengucapkan terimakasih. Semoga di lain waktu kita dapat bertemu kembali.”
Kedua saudara kembar itu memelukku bergantian kemudian berbalik arah dan pergi. Mereka berlari kecil dan saling berkejaran. Tawa mereka cukup keras terdengar olehku disini. Aku tak sempat berkata apa-apa dan menjawab salam perpisahan mereka. Dan kini aku kembali sendiri lagi. Aku memandang kedua saudara kembar itu semakin berlari menjauh. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?.

Aku teringat pada kisah yang harus aku perlihatkan pada kalian. Setidaknya aku masih memiliki kalian yang berkenan melihat kisah ini. Aku segera mengambil lembaran daun itu dari dalam bajuku. Kondisinya masih utuh, hanya basah saja. Aku bergegas kembali menaiki batang pohon besar ini. Setelah duduk dengan nyaman, kubuka lembaran daun itu. Seketika sinar cahaya mengeringkan lembaran daun yang basah ini, dan lanjutan kisah itu kembali terlihat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar