“Kok
kantong yang dibawa sepertinya berat sekali?, Cyra jadi beli buku atau beli
beras?” Abi menyambut Mami dan Cyra yang baru pulang dari toko buku dengan
menggoda putri bungsunya.
Abi adalah satu-satunya
lelaki di rumah itu yang selalu membuat suasana rumah hangat dan ramai. Ketika Mami dan kedua putriya sedang kesal karena
suatu masalah, ia lah yang dapat merubah wajah kusut mereka menjadi segar dan
ceria kembali. Abi adalah sosok yang paling dirindukan oleh ketiga wanita di
rumah itu. Ketika Abi sedang pergi dinas keluar kota, hari kedatangannya akan
disambut oleh ketiga wanita itu dengan sangat meriah. Abi adalah lelaki yang
tak kenal lelah, setiap pulang dari kantor wajahnya segar dan semangat. Sore
hari adalah waktunya ia bercengkerama dengan kedua putrinya.
Pernah
suatu sore, saat Cyra sedang berada di taman kemudian Abi pulang dan
mengajaknya bermain, Cyra bertanya, “Abi di kantor kerja apa sih?, kok sampai
di rumah tidak terlihat wajah lelah?”. Abi tertawa kemudian seketika merubah
raut wajahnya seperti orang sedang kelelahan, mata sayu dan bibir cemberut, “Wajah
Abi harus seperti ini?”. Cyra tertawa lebar, dan Abi kembali bicara, “Di kantor
mungkin Abi memang lelah, tapi saat hendak pulang tiba-tiba energi Abi kembali
penuh dan semangat ingin segera tiba di rumah. Setiap di perjalanan pulang, Abi
selalu tidak sabar ingin segera bertemu dengan ketiga wanita yang sangat Abi
rindukan, meskipun Abi hanya meninggalkan rumah selama sembilan jam.”
Seperti
sore hari ini, melihat keceriaan di wajah Cyra meskipun cukup kepayahan membawa
kantong yang terlihat cukup berat, membuat Abi tidak dapat menahan untuk tidak
menggoda putri bungsunya itu.
Cyra
memanfaatkan situasi itu, “Ya ini Bi,
tolong bawakan,” senyumnya merayu manja.
Cyra segera
masuk ke dalam rumah dan duduk santai di ruang tengah, Abi dan Mami pun
menyusulnya.
Aland yang
telah berganti pakaian rumah turut bergabung d ruang tengah.
“Kak Aland,
masih adakah sisa kue yang Kakak masak siang tadi. Cyra lihat tadi hanya ada satu
orang yang keluar dari rumah. Pasti masih ada sisa kan ya?” Cyra cukup merasa
lapar setelah pulang dari toko buku.
“Tentu ada.
Sudah Kakak siapkan special untuk Cyra.” Aland tersenyum dan bergegas ke dapur untuk
mengambil apa yang Cyra minta tadi.
Cyra, Aland
dan Mami menyantap kue itu bersama. Sedangkan Abi telah bergegas ke kamar mandi
untuk bersiap menuju masjid. Hari ini, Abi membolehkan mereka untuk jamaah
sholat maghrib di rumah, karena melihat Cyra yang masih kelelahan.
“Beli buku
apa saja Cyra?” Aland memperhatikan Cyra yang sedang mengeluarkan beberapa buku
dari kantong belanja.
“Tiga kak.
Ini ada satu buku yang mau Cyra hadiahkan untuk teman baru Cyra. Dia suka baca
buku juga Kak, sama seperti Cyra. Senang juga rasanya punya teman baru dengan
hobi yang sama.” Cyra tersenyum sendiri sambil membaca sekilas isi ketiga buku
yang ia beli tadi.
Aland
memandang wajah riang adiknya, ia pun tersenyum. “Mungkin hal itu juga yang membuat
hati Cyra kembali riang, dan melupakan rasa marah karena kakaknya yang ingkar
janji,” pikir Aland.
Benar
adanya yang dipikirkan oleh Aland, Cyra sudah ceria dan riang kembali.
Bagaimanapun, Cyra adalah seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang
memiliki hati seputih salju. Hati seputih salju itu tak akan mudah dikotori
hanya karena rasa kesal dan marah kepada kakaknya. Ia sendri tak nyaman melihat
ada setitik noda yang mengotori hati seputih saljunya itu. Dan mendapatkan
teman baru merupakan hal yang menyenangkan bagi Cyra, apalagi teman baru itu
memiliki hobi yang sama dengannya. Ia seperti mendapatkan sahabat untuk berbagi
cerita dari kesamaan hobinya. Dan hal itu seketika dapat melunturkan titik noda
yang sempat mengotori hatinya yang seputih salju.
---
ooo ---
Hari
Selasa.
Sesuai
perjanjian yang dibuat oleh Cyra, Anis dan Firda di hari Jumat yang lalu. Hari
ini mereka bertemu kembali. Seperti biasa, Cyra sudah minta ijin kepada Abi dan
Mami di malam hari sebelumnya. Di pagi harinya, ia tak lupa menyiapkan buku
serial Princess Hania yang akan ia pinjamkan dan satu buku baru yang akan ia
hadiahkan untuk teman barunya itu. Sebelum berangkat sekolah, ia tak lupa
mengingatkan Abi untuk menjemputnya di rumah Anis sepulang dari kantor.
Seusai
pelajaran terakhir selesai, Cyra dan Anis segera bergegas menuju bis sekolah
yang akan membawa mereka menuju komplek perumahan dimana Anis tinggal. Sekolah
mereka memliki jasa bis sekolah yang melayani antar jemput untuk yang tinggal
di area sekitar batas kota. Jarak dari sekolah menuju rumah Anis sekitar tujuh
kilometer, dengan menggunakan bis sekolah dapat ditempuh dalam waktu kurang
dari tigapuluh menit.
Cyra dan
Anis sudah duduk bersebelahan di dalam bis. Sambil menunggu murid kelas lima yang belum keluar
dari kelasnya, Anis kembali mengingatkan rencana penyelidikannya.
“Kamu
membawa buku serial Princess Hania sesuai saranku kemarin?” tanya Anis
memastikan.
“Tentu saja
Anis. Ini lihat sendiri kalau tidak percaya, seri ketiga sampai kelima.” Jawab
Cyra sambil memperlihatkan isi dalam kantong yang terpisah dari tas sekolahnya.
Tas sekolahnya tidak dapat menampung tambahan buku-buku itu di dalamnya, sehingga
ada satu kantong yang harus ia bawa sejak berangkat sekolah tadi.
“Bagus,”
Anis tersenyum. “Eh itu ada buku apa satu lagi?,” raut wajah Anis berubah
penasaran.
“Hari Ahad
kemarin, Aku ke toko buku bareng Mami. Aku beli tiga buku, salah satunya ini.
Entah kenapa aku ingin memberikan hadiah buku untuk Firda. Ya anggap saja
hadiah perkenalan.” Cyra tersenyum dan memperlihatkan buku yang akan ia
hadiahkan untuk Firda.
“Mmm oke-oke. Tidak masalah. Memberi
kesan baik di awal pertemanan itu langkah yang tepat.” Anis tersenyum dan
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tiga puluh
menit kemudian bis sekolah telah sampai di depan komplek rumah Anis. Mereka
bergegas turun dari bis dan segera menuju rumah Anis.
Cyra sedang
duduk santai di teras rumah Anis sambil membuka kotak bekal dan menyantap kue
yang dibawakan Mami tadi. Tak perlu menunggu waktu lama, ia segera mendengar
suara salam seorang anak dari luar pagar rumah. Ya, Firda sang target telah
datang, ditangannya terdapat dua kotak makanan berisi beberapa kue. Cyra
langsung menyambutnya dengan senyuman khasnya, dan disusul oleh Anis yang
muncul dari dalam rumah.
“Assalamu’alaikum,
Kak Cyra dan Kak Anis.” Firda tersenyum dan kembali mengulang sapaan salamnya
di hadapan Cyra dan Anis.
“Wa’alaikumussalam,”
jawab Cyra dan Anis bersamaan.
“Wah, Firda bawa banyak kue untuk siapa
nih?, Kakak juga bawa kue untuk kita makan bersama.” Cyra memperlihatkan kotak
bekal berisi kue yang sedang ia makan tadi.
“Ini Kak
Anis,” Firda menyerahkan satu kotak makanan tersebut kepada Anis, “Kata nenek
Firda, satu kotak untuk ibu Kak Anis, satu kotak lagi untuk kita makan bersama
disini.” Firda tersenyum.
Firda
menceritakan bahwa neneknya sangat senang sibuk di dapur dan membuat aneka kue.
Setiap ada acara di rumah neneknya, urusan konsumsi tidak pernah pesan dari
luar, neneknya sendiri yang turun tangan untuk menyusun dan meracik menu yang
akan disajikan. Ketika melihat neneknya sibuk di dapur, ia senang memperhatikan
cara neneknya memasak, ia pun sering dilibatkan dalam urusan dapur. Mulai dari
hanya diminta untuk menyiapkan perkakas dapur yang akan dipakai, mengaduk
adonan yang telah dicampur, mencetak adonan kue kering, menuang adonan ke dalam
cetakan, hingga cara memotong kue yang baik.
“Wah asyik ya, neneknya baik sekali. Mami
juga sering membuat kue tapi kenapa aku tidak terlalu tertarik untuk ke dapur
seperti kamu ya Firda?” Cyra menanggapi cerita Firda.
Firda
tertawa, “Mungkin kakak jarang melihat apa yang dikerjakan ibu Kak Cyra di
dapur, jadi kakak tidak tertarik.”
“Betul itu.
Kamu jarang bantu Mami di dapur kan?”
Anis sepakat dengan jawaban Firda.
“Mungkin
saja ya. Tapi dipikir-pikir Mami yang jarang minta bantuan ke Cyra.” Cyra
berusaha membela dirinya sendiri.
Cyra
mengambil kantong di samping kursinya, dan mengalihkan topik pembicaraan. “Oiya Firda, ini buku serial Princess
Hania. Kakak bawakan seri ketiga sampai kelima.” Cyra menyerahkan ketiga buku
itu kepada Firda.
“Makasih
Kak. Firda kira Kakak langsung bawakan sampai seri kesepuluh,” malu-malu Firda
mengatakannya.
“Buku
serial Princess Hania kan tebal, kalau kakak bawa semua bisa-bisa orangtua
kakak dan guru di kelas curiga apa yang kakak bawa. Oiya sekarang juga sudah ada seri kesebelasnya, kakak juga baru
baca kemarin. Sudah, sekarang kamu selesaikan baca ketiga buku itu dulu, lain
waktu kakak bawakan lanjutannya lagi. Ini ada satu buku lagi, ini kakak
hadiahkan untuk Firda. Ini termasuk buku favorit kakak juga, kebetulan kemarin
waktu ke toko buku masih ada yang baru jadi kakak belikan untuk Firda. Kalau
Firda bisa baca buku kumpulan cerpen ini dalam sekali duduk, berarti Firda
memang anak yang kutu buku.” Cyra tersenyum, kemudian melipat kantong bukuya
yang telah kosong.
Cyra dan
Firda asyik membicarakan tentang koleksi bukunya masing-masing, sesekali mereka
tertawa bersama menceritakan isi satu judul buku yang sama-sama pernah mereka
baca, sesekali sambil makan kue yang dibawa oleh Cyra maupun oleh Firda. Anis
mengamati sahabatnya dengan teman barunya itu. “Sepertinya Cyra agak melupakan
tujuan awal berkenalan dengan Firda,” pikir Anis.
“Eh Cyra, Firda, kakak masuk ke dalam
dulu ya. Kakak mau ambil minum, mesti kalian haus kan?” Anis beranjak dari
kursinya dan masuk ke dalam rumah.
Cyra dan
Firda tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, tanda mereka memang kehausan.
Kemudian mereka kembali melanjutkan ceritanya tadi yang sempat terpotong.
“Kak Cyra,
main ke rumah nenek Firda yuk. Asyik lho ikut bantuin nenek masak di dapur,
apalagi kalau sedang masak kue.” Tiba-tiba Firda mengalihkan pembicaraan
mereka, raut wajahnya berharap jawaban iya dari mulut Cyra.
Cyra tampak
sedang berpikir, ia melirik ke dalam rumah dan mendengar suara Anis sedang
berbincang dengan ibunya.
“Mmm boleh.
Kapan?”
“Sekarang
boleh. Biasanya setelah sholat ashar waktunya nenek akan sibuk di dapur, dan
kita bisa ikutan sibuk bantu nenek.” Firda tersenyum.
Wajah Cyra
mendadak kaget dan panik mendengar jawaban Firda.
“Hah, memang sekarang sudah masuk waktu
ashar?” Cyra beranjak dari kursinya dan melihat jam dinding di dalam rumah
Anis.
“Tadi Firda
sudah dengar adzan ashar kak. Ada apa Kak kok
Kakak kaget begitu?” Firda heran dengan tingkah
laku Cyra.
“Kakak
kalau sedang asyik mengobrol suka lupa waktu. Kenapa kakak tadi tidak dengar
adzan ya. Pukul empat biasanya Abi sudah sampai di rumah Anis. Kakak harus
sholat Ashar dulu disini. Oiya jadi
kakak tidak bisa main ke rumah nenek Firda sore ini ya. Bagaimana kalau hari
Jumat?” Cyra menawarkan hari lain.
Anis muncul
dari dalam rumah sambil membawa minuman untuk mereka. “Maaf ya kelamaan. Tadi
harus bantu ibu dulu di dalam.”
“Tidak
apa-apa Kak Anis. Boleh Kak Cyra, hari Jumat ya. Nanti Firda tunggu di rumah
nenek saja ya, Kak Anis kan tahu rumah nenek.” Cyra tersenyum.
Anis
langsung menatap wajah Cyra, raut wajahnya bertanya-tanya.
“Oke. Kakak sholat dulu di dalam ya.”
Kemudian Cyra menggandeng tangan Anis dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Nanti aku jelaskan, sekarang aku harus sholat Ashar dulu sebelum Abi datang.”
Cyra berbisik di dekat wajah Anis.
“Eh Kak, kalau begitu Firda pamit pulang dulu
ya. Assalamu’alaikum.” Firda tersenyum sambil memeluk buku-buku yang dibawakan
Cyra tadi dan bergegas memakai sandalnya.
“Wa’alaikumussalam.”
Jawab Cyra dan Anis bersamaan sambil melambaikan tangan ke arah Firda.
Selesai
sholat Ashar di kamar Anis, Cyra bergegas keluar rumah. Abi telah menunggunya
di depan rumah Anis. Cyra segera berpamitan dengan ibu Anis kemudian berjanji
kepada Anis bahwa ia akan menjelaskan apa yang dikatakan Firda tadi besok pagi
di kelas.
---
ooo ---
Di dalam
mobil, Abi tidak banyak bertanya kepada Cyra, hanya sebatas memastikan apakah Cyra
sudah makan siang atau belum tadi di sekolah. Karena seperti biasanya Cyra akan
mengantuk di dalam mobil jika sepulang sekolah ia tidak tidur siang.
Namun hal
yang terjadi tidak sesuai perkiraan Abi, Abi kaget mendengar teriakan Cyra
ketika mobil baru saja keluar dari komplek perumahan itu.
“Abi.., itu
motor yang di depan Kak Aland ya?. Cyra hafal betul itu baju favorit Kak Aland.
Apa tadi Kak Aland juga keluar dari komplek perumahan Anis tadi?,” Cyra
mencondongkan badannya ke depan sambil menunjuk salah satu motor yang sedang
melaju di depan mobil.
Abi sekilas
memperhatikan salah satu motor di depan jalannya. “Iya, itu Kak Aland. Abi
tidak tahu Aland datang dari arah mana ketika di perempatan jalan depan komplek
tadi. Tapi kamu tidak perlu menyapanya
Cyra, berbahaya mengagetkan orang yang sedang berkendara. Nanti saja
menanyakannya di rumah.” Setelah melihat laju motor Aland dalam batas aman, Abi
segera mendahului jalannya.
“Iya.” Cyra
kembali menyandarkan tubuhnya, namun rasa kantuknya benar-benar hilang. Pikirannya
kembali mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan akhir-akhir ini. “Ya, aku lupa
tentang penyelidikan yang kulakukan bersama Anis, aku lupa tujuan awalku
berkenalan dengan Firda, dan aku juga lupa untuk maksud apa aku harus
menyelidiki kakakku.” Cyra sibuk berpikir.
Cyra
mencoba menelusuri kembali ingatannya, bagaimana awal mulanya hingga ia bertemu
dan berkenalan dengan Firda, teman barunya yang sangat menyenangkan baginya.
Ingatannya kembali bermunculan dalam pikirannya, tentang suatu malam dimana
Aland menangis di hadapan Abi, tentang kepergian Aland di hari Ahad yang dirahasiakan
oleh Abi dan Mami, dan tentang janji yang tidak Aland tepati untuk tidur
bersamanya di suatu malam.
Kemudian saat
di sekolah ia mendapat kabar dari Anis tentang Aland yang berkunjung ke rumah
tetangganya, dan tetangga yang dimaksud itu adalah neneknya Firda. Anis
memberikan ide rencana untuk menyelidiki tetangganya itu. Dimulai dari
perkenalannya dengan Firda, dan sampai saat ini ia belum mendapatkan informasi
apapun dari Firda tentang Aland. Anis yang mengatur rencana dan selalu
mencegahnya untuk langsung bertanya tentang Aland di awal pertemuannya dengan
Firda. Hingga saat ini justru ia sendiri yang lupa akan maksud awalnya
berkenalan dengan Firda. Karena sejatinya ia tulus dan senang mendapat teman
baru seperti Firda tanpa maksud tertentu.
Dan sore
ini Cyra melihat Aland mengendarai sepeda motornya di luar komplek rumah Anis.
“Apakah tadi Kak Aland pulang dari rumah nenek Firda?” Cyra bertanya-tanya
dalam pikirannya sendiri.
Tak terasa
perjalanan mobil itu telah berhenti di area parkir rumahnya. Sebelum turun dari
mobil, Cyra melihat ke seluruh area halaman rumahnya. “Motor Kak Aland belum
datang. Aku akan menunggunya di teras rumah.” Cyra segera turun dari mobil dan
duduk santai di kursi teras, lalu ia mengambil salah satu buku pelajaran dan
pura-pura serius membacanya. Abi berlalu melewati teras dan segera masuk ke
dalam rumah, ia tak terlalu menghiraukan apa yang sedang Cyra lakukan.
Jam sudah
menunjukkan pukul lima sore, dan Aland belum juga tiba di rumah. “Sudah menunggu
setengah jam tapi kenapa Kak Aland belum juga datang ya. Sebentar lagi pasti
Mami memanggilku.” Cyra bergumam sambil matanya terus mengawasi jalan depan
rumah.
“Cyra,
sudah jam lima. Ayo mandi dulu.”
Cyra kaget
dan menoleh ke arah pintu ruang tamu. Tanpa ia sadari Mami sudah berdiri disana
dengan tatapan yang tajam.
“Iya Mi. Cyra asyik baca buku sampai lupa
lihat jam.” Cyra masih sempat membuat alasan. “Oiya Mi, Kak Aland pergi kemana kok motornya tidak kelihatan?” Cyra
beranjak dari duduknya dan meraih tas sekolahnya.
Mami tidak
menjawab pertanyaan Cyra, hanya matanya yang bergerak mengisyaratkan agar Cyra
segera masuk rumah. Cyra memahami isyarat itu, lalu segera masuk rumah melewati
Mami yang masih berdiri di samping pintu.
Malam itu,
Aland belum juga sampai di rumah hingga waktu makan malam selesai. Cyra mulai
mengurungkan niatnya untuk tetap menunggu Aland, ia tidak dapat menahan rasa
kantuknya. Tak lama kemudian ia bergegas masuk kamar dan segera merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Keesokan
harinya, Cyra bangun tepat saat adzan Shubuh berkumandang setelah dibangunkan
oleh Aland beberapa kali. Cyra bergegas bangun dari tempat tidurnya, ia
teringat tentang sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Aland kemarin. Namun,
tiba-tiba pandangan matanya beralih pada tas sekolahnya yang terutup rapat di
atas mejanya.
“Ya Allah,
semalam aku langsung tertidur, tugas sekolah sama sekali belum aku kerjakan.”
Cyra segera keluar kamar dan menuju kamar mandi. Rasa penasaran yang ingin ia
tanyakan ke Aland pun seketika menguap bersamaan dengan datangnya serbuan
ingatan tugas sekolah yang harus ia segera kerjakan.
---
ooo ---
“Tolong
aku… Tolong!!..”
Aku sigap
menarik tanganku dan menghentikan lanjutan kisah ini. Aku segera mengamati apa
yang terjadi di sekitarku. Namun sejauh mataku memandang aku tidak melihat
sumber suara itu, sedangkan suara itu terdengar sangat dekat.
“Toloooong!!...”
Suara itu
kembali terdengar. Aku segera menyimpan lembaran daun ini dalam bajuku. Aku
segera berdiri dan lebih seksama mengamati sekitar. Tubuhku sudah berputar,
tapi aku tetap tidak melihat dari mana sumber suara itu. Tiba-tiba kakiku
terpeleset, aku kembali terduduk di atas batang pohon besar ini. Kuperhatikan
sulur-sulur daun yang menempel pada batang ini bergerak dan tertarik ke bawah.
Aku mencoba merangkak mengikuti arah sulur daun dan melihat ke bawah batang
besar ini.
Ya Tuhan.
Ada seorang anak di dalam sungai, kepalanya muncul tenggelam, tangannya
berusaha mengenggam kuat sulur daun yang berasal dari batang besar ini. Ia
hampir tenggelam terbawa aliran sungai. Aku segera menuruni batang besar ini
dengan perlahan menuju tepian sungai. Aku mencari sesuatu yang dapat menjangkau
anak itu yang berada di tengah sungai.
“Hai. Aku akan menolongmu. Bertahanlah.”
Aku berteriak, memberi tanda bahwa pertolongan akan segera datang. Aku mendapat
sebuah ranting pohon yang cukup panjang dan kuat. Kuikatkan salah satu sulur
pada ranting ini, jika aku tidak kuat menahan, setidaknya ranting ini tidak
ikut hanyut ke sungai.
Aku segera
mengarahkan ujung ranting ini ke tengah sungai, mendekati posisi si anak yang
hampir hanyut terbawa arus sungai.
“Hai. Peganglah kuat-kuat ujung ranting
itu, aku akan menarikmu dari sini.”
Ia berusaha
meraih ujung ranting itu, setelah satu tangannya memegang kuat ujung ranting,
satu tangan lainnya melepaskan pegangannya dari sulur daun yang dari tadi ia
genggam kuat.
Aku
berusaha menariknya sekuat tenaga. Kutahan kaki kiriku pada sebuah batu besar
supaya tidak terpeleset masuk ke tepi sungai. Kulihat tanganku sudah mulai memucat,
sejauh ini aku berhasil menarik ranting ini, anak itu semakin dekat dengan
tepian sungai.
Tiba-tiba
batu besar yang menahan kaki kiriku jatuh masuk ke sungai, seketika itu pula
pertahanan kakiku roboh dan setengah badanku masuk ke sungai. Posisi anak itu
kembali ke tengah sungai. Aku masih berpegang kuat pada ranting ini, begitu
juga anak itu, sulur yang kuikat pada ranting ini pun terlihat menegang. Sulur
itu tak akan mampu menahan kami berdua dalam waktu yang lama, pikirku. Aku
harus segera naik kembali ke atas sungai.
Namun tak
kusangka aliran sungai yang terlihat mempesona ini ternyata cukup deras menarikku
dan membuatku sulit menggapai tepi sungai. Aku berusaha sekuat tenaga
menggapaikan tanganku pada apapun di tepi sungai. Ya Tuhan, sulur itu mulai
robek. Jika aku tidak dapat segera menggapai tepi sungai, kami berdua akan
hanyut ke dalam sungai. Pikiranku mulai kacau, beberapa kali badan dan kepalaku
masuk ke dalam sungai. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi pada kami berdua
Tiba-tiba
aku merasakan sebuah tarikan, tarikan pada ranting yang membuatku mendekati
tepi sungai. Aku melihat ada seorang anak di tepi sungai. Dia lah yang menarik
ranting ini dengan seluruh tenaganya. Aku berusaha mendorong diriku ke tepi
sungai. Hap, tanganku meraih sebuah
tanaman, batangnya kuat tertanam di tanah. Aku segera mengangkat badanku ke
atas tepi sungai, kemudian membantu si anak kedua tadi menarik ranting.
Beruntungnya si anak pertama tadi masih bertahan mengenggam ujung ranting ini.
Tak lama kemudian, si anak pertama telah berada di tepi sungai, aku membantunya
menarik tubuhnya ke atas.
Si anak
pertama terbaring lemas di atas hamparan rumput, dan si anak kedua bergegas
memeriksa keadaannya. Aku berada di dekat mereka, sambil memperbaiki diriku
sendiri. Si anak kedua menatapku, memperhatikan seluruh tubuhku.
“Kamu
baik-baik saja?, terimakasih telah menolong saudaraku. Entah apa yang akan
terjadi pada saudaraku jika tak ada kau yang menolongnya,” kata si anak kedua
setelah memastikan kondisi saudaranya baik-baik saja.
“Aku tadi
juga terseret ke dalam sungai. Kau yang menolong kami,” kataku singkat. Aku menatap si anak kedua, kemudian beralih
ke anak pertama yang masih terbaring. Ada sesuatu pada mereka berdua. Aku memperhatikan
wajah mereka lebih seksama, berulang kali bergantian mengamati wajah mereka
berdua.
Ya, mereka
memiliki wajah yang sama. Sama persis tak ada bedanya. Aku belum pernah melihat
yang seperti ini.
“Hai.” Aku ingin bertanya pada si anak
kedua.
Anak kedua
itu menatapku, “Ya”
“Bagaimana
bisa kalian memiliki wajah yang sama?” tanyaku singkat.
“Kami
kembar,” jawabnya.
“Kembar?,
kamu bertemu dimana dengannya?, apakah aku juga akan dapat memiliki teman yang
kembar seperti kamu dengannya?” Aku sangat penasaran.
“Bukan
teman kembar, tapi kami saudara kembar. Aku sejak awal bersama dengannya. Kamu
tidak memiliki saudara kembar jika sejak awal kau tak bersama dengannya,”
jelasnya.
Kepalaku
tertunduk, penjelasannya jelas membuat hatiku kecewa. Setelah melihat mereka tadi,
aku pun berpikir akan bertemu teman kembar seperti itu suatu saat nanti. Tapi
nyatanya sejak awal aku sendiri, menurut jawabannya tadi berarti aku tidak
memiliki saudara kembar. Beruntung sekali dia, sejak awal memiliki teman yang
menemani perjalanan ini.
Tiba-tiba
aku teringat Cyra. Dia memiliki teman seperti Anis dan Firda, ukuran tubuh
mereka hampir sama, tapi mereka tidak memiliki wajah yang sama. Dia pun
memiliki Aland, wajah mereka hampir sama, tapi ukuran tubuhnya jelas berbeda
dengan Aland. Sedangkan aku sejak awal seorang diri, pernah bertemu dengan
seorang kawan beberapa kali, namun setelah itu dia pergi meninggalkanku seorang
diri lagi.
Tanpa
kusadari si anak pertama telah duduk disamping si anak kedua. Wajah mereka
cerah, mereka tersenyum kepadaku. Kondisi si anak pertama terlihat telah pulih
dan membaik. Aku pun membalas senyum mereka.
“Kau
baik-baik saja?” tanyaku pada si anak pertama.
“Tentu
saja. Atas bantuanmu aku dapat duduk lagi disini bersama dengan saudaraku.” Dia
tersenyum, benar-benar senyum yang sama dengan senyum si anak kedua tadi.
“Sudah
kukatakan tadi. Aku juga ikut terseret ke sungai. Jika teman kembarmu, eh saudara kembarmu tak segera datang,
mungkin kita berdua telah hanyut terbawa aliran sungai ini.” Aku menjelaskan sekali
lagi bahwa aku bukan seorang pahlawan.
“Oiya, apa sebabnya kamu bisa jatuh ke
sungai?” tanyaku.
Mereka
berdua saling memandang, terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku. Mereka
memandangku bergantian. Akhirnya si anak kedua yang menjawab pertanyaanku.
“Mungkin
kamu berpikir bahwa memiliki saudara kembar itu merupakan suatu hal yang sangat
menyenangkan bukan?” tanyanya dengan nada serius.
“Iya.
Sangat menyenangkan. Aku berharap bisa sepertimu yang memiliki saudara kembar.
Aku bisa berbagi cerita, bermain, berjalan-jalan dan apapun yang kulakukan
bersama dengannya sehingga aku tak sendiri.” Jawabku sambil membayangkan Cyra
yang periang karena dimanapun dia berada selalu ada yang menemaninya.
Anak kedua
itu tersenyum mendengar jawabanku.
“Betul
sekali. Tentu sangat menyenangkan memiliki saudara kembar. Raga kita memang
terlihat serupa dan sama, namun kita memiliki pikiran dan perasaan yang tidak
sama persis seperti raga kami.” Kedua anak itu saling pandang.
“Maksudmu?”
Aku tidak begitu mengerti apa yang ia ucapkan tadi.
“Iya.
Kemanapun kita pergi, kita selalu bersama. Namun apa yang kita lakukan tidak
selalu sama, bahkan terkadang perbedaan itu menimbulkan permusuhan diantara
kita.”
“Kamu
menjadikan saudaramu itu sebagai musuh?” Aku memotong penjelasannya, karena
heran mendengar kata permusuhan dari mulutnya.
“Iya,
terkadang seperti itu. Aku senang mengisi waktuku dengan berjalan-jalan, aku
sangat tertarik dengan petualangan, rasanya diri ini ingin selalu bergerak
menuju tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi. Sedangkan ia memiliki
kesenangan yang berbeda. Ia lebih banyak berdiam di tempat-tempat yang kita
kunjungi.”
“Hei, aku tidak sekedar diam saja.” Si
anak pertama itu menyela dan melakukan pembelaan terhadap dirinya.
Si anak
kedua melanjutkan penjelasannya.
“Iya,
saudaraku ini tidak sekedar diam saja. Ia senang mengamati suatu hal yang
baginya menarik. Ia pernah tiba-tiba duduk di tanah untuk mengamati koloni
semut yang sedang mencari makan, ia juga pernah disengat lebah karena mengambil
salah satu sarang lebah, ia juga sering memanjat pohon-pohon yang tinggi dan
besar hanya untuk mengambil buah di dahan yang tertinggi. Nah itu yang menyebabkan
tadi ia jatuh ke sungai dan terbawa aliran sungai hingga kemari. Beruntungnya,
aku sudah pernah menyusuri sungai ini. Ketika aku melihatnya hanyut terbawa
arus sungai, aku segera berlari menyusuri tepian sungai yang pernah kulalui
ini. Hanya sayangnya arus sungai ini lebih cepat dari langkahku berlari hingga
aku sempat tak dapat melihatnya. Dan beruntungnya lagi ada kau yang cepat
menolongnya.”
Aku begitu
seksama mendengarkan jawaban dari si anak kedua itu, dan mencoba untuk memahami
setiap kata-katanya.
“Berarti
perbedaan yang kau maksud tadi tidak selalu memunculkan permusuhan dalam diri kalian
berdua, bukan begitu?”.
“Maksudmu?”
raut wajah si anak kedua itu penuh tanda tanya.
Aku menatap
wajah si anak pertama yang masih terlihat kelelahan.
“Kau
beruntung memiliki saudara yang gesit bergerak dan berpetualang. Sehingga ia
dapat segera datang menolong kita berdua yang hampir tenggelam terbawa arus
sungai.”
Kedua saudara
kembar itu saling pandang dan kemudian tersenyum menatapku bersamaan. “Baik.
Kami harus segera pergi lagi untuk menyelesaikan misi kami masing-masing. Misi
yang berbeda namun saling memberi kebaikan. Kami tak tahu harus berbuat apa untuk
membalas kebaikanmu. Kami hanya dapat mengucapkan terimakasih. Semoga di lain
waktu kita dapat bertemu kembali.”
Kedua
saudara kembar itu memelukku bergantian kemudian berbalik arah dan pergi.
Mereka berlari kecil dan saling berkejaran. Tawa mereka cukup keras terdengar
olehku disini. Aku tak sempat berkata apa-apa dan menjawab salam perpisahan
mereka. Dan kini aku kembali sendiri lagi. Aku memandang kedua saudara kembar
itu semakin berlari menjauh. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?.
Aku
teringat pada kisah yang harus aku perlihatkan pada kalian. Setidaknya aku
masih memiliki kalian yang berkenan melihat kisah ini. Aku segera mengambil
lembaran daun itu dari dalam bajuku. Kondisinya masih utuh, hanya basah saja. Aku
bergegas kembali menaiki batang pohon besar ini. Setelah duduk dengan nyaman,
kubuka lembaran daun itu. Seketika sinar cahaya mengeringkan lembaran daun yang
basah ini, dan lanjutan kisah itu kembali terlihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar