Hari Jumat.
Beberapa kendaraan di komplek itu keluar lebih pagi dari hari biasanya. Sang
Bupati menerapkan pola hidup sehat bagi seluruh pekerja di kota ini. Senam pagi
di hari Jumat menjadi salah satu yang diterapkan oleh mayoritas perusahaan.
Pukul 6
pagi, Abi dan Cyra sedang bergegas menghabiskan sarapan mereka di ruang makan.
Sementara Mami menyiapkan perlengkapan Abi, dan Aland sibuk membereskan
peralatan masak di dapur.
“Mami, rasa
nasi gorengnya agak beda, lebih enak. Ditambah pake apa Mi?” Cyra bertanya ke Mami dengan setengah berteriak dan sambil
terus mengunyah. Alih-alih mendapat jawaban dari Mami, Cyra mendapat teguran
dari Abi.
“Ayo Cyra,
kita harus bergegas. Ini hari Jumat, Abi harus berangkat lebih pagi, atau mau
diantar Kak Aland saja?”. Abi sudah beranjak dari kursinya.
“Eh, tidak Bi, Cyra diantar Abi saja.
Cyra juga harus berangkat lebih awal.” Cyra terus menyelesaikan sarapannya
sambil tersenyum merayu Abi.
Setelah
minum air putih dan memasukkan bekal makannya ke dalam tas, Cyra mengingatkan
Abi, “Abi nanti sepulang Abi dari kantor, Abi jemput Cyra lagi di rumah Anis
seperti kemarin hari Rabu itu ya, kan
jauh Bi kalau Cyra naik angkot sendiri. Nanti sepulang sekolah Cyra harus mengerjakan
tugas lagi di rumah Anis, boleh kan Mi?”
sambil memakai sepatunya di teras rumah, Cyra meminta ijin ke Mami dan Abi yang
sudah menunggunya di halaman rumah. Mami mengerutkan dahinya mendengar
permintaan Cyra.
“Itu bukan
meminta ijin yang baik Cyra. Jarang sekali Cyra anak Mami yang sholihah minta
ijin akan terlambat pulang di waktu akan berangkat sekolah. Biasanya Cyra akan
meminta ijin baik-baik di malam sebelumnya. Kalau Cyra minta ijin akan
terlambat pulang di saat berangkat sekolah seperti ini namanya Cyra sedang
menodong Mami.” Sebenarnya Mami masih ingin panjang lebar menegur sikap Cyra
seperti itu, tapi terhenti setelah melihat Abi melirik jam tangannya dan ingat
bahwa Abi harus segera berangkat.
“Hmm ya sudah. Nanti sore Cyra boleh
terlambat pulang dan mengerjakan tugas di rumah Anis. Tapi lain kali kalau Cyra
seperti ini lagi Mami tidak akan memberi ijin. Mami juga tidak memberikan
makanan tambahan di kotak bekalmu itu, jadi jangan salahkan Mami ya,” Mami
memutuskan untuk memberi ijin Cyra.
Cyra
menyambut baik jawaban Mami. Kemudian ia mencium tangan Mami dan menariknya
turun sehingga Cyra dapat mencium pipi kanan dan kiri Mami.
“Makasih
Mami cantik. Tentang bekal makanan tidak perlu Mami khawatirkan, Cyra tidak
akan kelaparan kok,” Cyra memberikan
senyuman manisnya untuk membujuk Mami yang tadi emosinya sempat terpancing,
Cyra segera bergegas masuk mobil.
Segera Abi
menginjak pedal gas, sambil mengucap salam ke Mami. Cyra pun mengucap salam
sambil melambaikan tangan dan melebarkan senyumannya.
Mami
membalas salam sambil melambaikan tangan dan tersenyum.
“Ah Cyra.., pagi-pagi mendapat ciuman
pipi dari Cyra dan melihat senyuman manisnya tentu tidak akan ada yang membuat
emosi Mami terpancing sepanjang hari ini,” Mami berbisik dalam hati dan
terbentuklah sebuah senyuman di wajahnya.
Aland yang
sedang sibuk di dapur dari tadi pun mendengar percakapan Cyra dengan Mami di
teras rumah. Karena letak dapur berada setelah area parkir mobil. Ia kembali
merisaukan sikap Cyra kepada dirinya. Adiknya itu masih ingin berangkat sekolah
bersama Abi, dan juga ingin dijemput oleh Abi setelah mengerjakan tugas di
rumah temannya. Padahal sebelum kejadian kemarin, kemana-mana Cyra selalu ingin
diantar olehnya.
Tiba-tiba
Aland tersenyum dan teringat salah satu kalimat Cyra di ruang makan tadi yang
membuatnya tersenyum bangga. “Cyra, kalau kau tahu siapa koki yang memasak nasi
goreng tadi, apa kau akan tetap memujinya?” Aland berbisik dalam hati.
“Langsung
dapat pujian istimewa nih untuk uji
coba perdananya. Mami aja sampai belum sempat menyicipinya tadi. Yuk sarapan dulu, perut Mami juga ikut
penasaran nih sama nasi goreng buatan
putri sulung Mami,” Mami sudah berada di samping Aland dan sempat membuat Aland
kaget.
“Ayo Mi, sudah Aland siapkan di meja makan.
Aland juga sudah lapar, dari setelah sholat shubuh tadi langsung bertempur di
dapur.” Aland menggandeng tangan Mami sambil tersenyum puas, puas akan hasil
uji coba perdananya langsung dipuji oleh Cyra.
---
ooo ---
Dalam
perjalanan Abi mengantar Cyra ke sekolah.
“Cyra,
benar ada tugas yang harus dikerjakan di rumah teman sepulang sekolah nanti?”
Abi bertanya serius ke Cyra.
“Ya benar Bi, kok pertanyaan Abi seperti meragukan
Cyra begitu?” Cyra berusaha menjawab setenang mungkin, ia tahu bahwa Abi sedang
mencurigai dirinya.
“Biasanya
kan kalau ada tugas sekolah, Cyra yang paling semangat mengajak teman-teman
untuk mengerjakan di rumah. Sekarang tidak biasanya Cyra yang selalu ke rumah
teman. Abi percaya kok sama Cyra, Cyra kan sudah besar, sebentar lagi mau masuk
SMP,” Abi tersenyum dan sekilas melihat ke arah Cyra yang duduk di sampingnya.
Cyra
berusaha setenang mungkin sambil mencari alasan logis yang harus ia segera
berikan ke Abi. Dan entah dari mana alasan untuk menutupi kebohongan itu cepat
sekali datang dalam pikirannya.
“Itu Bi, di acara kelulusan nanti ada
beberapa karya yang harus kita persembahkan. Nah Cyra kebagian membuat suatu produk bersama tiga teman lainnya
yang mungkin pengerjaannya membutuhkan waktu beberapa bulan. Kita juga tidak
akan mengerjakannya setiap hari, kan ada tugas sekolah juga yang harus kita
kerjakan masing-masing di rumah,” Cyra lancar mengarang jawaban untuk Abi.
“Kenapa
harus di rumah teman dan tidak Cyra ajak ke rumah saja?, Mami kan tentu lebih
senang,” Abi masih penasaran.
“Iya itu Bi, produknya sudah terlanjur dimulai
dikerjakan di rumah Anis. Kalau dipindah-pindah nanti bisa rusak karya kita,”
Cyra melanjutkan karangan jawabannya dengan mantap tanpa terdengar ragu.
Abi
menyudahi pertanyaannya kepada Cyra karena mobil sudah merapat di tepi jalan
depan sekolah.
Cyra segera
bersiap, kemudian mencium tangan Abi dan mengucap salam.
“Assalamu’alaikum.
Abi, nanti sore jangan lupa jemput Cyra di rumah Anis ya.” Cyra sekali lagi
mengingatkan Abi.
“Wa’alaikumsalam.
Iya, nanti jam empat sore Abi jemput disana. Hati-hati, Abi percaya Cyra.” Abi
memberikan senyuman tajam ke arah Cyra yang telah berdiri di sisi luar pintu
mobil.
Cyra hanya
dapat membalas senyuman itu, sebelum mobil itu kembali melaju menuju kantor
Abi. Sambil berjalan menuju arah kelas, Cyra berpikir dalam hati, “Untungnya
tadi aku dapat menjawab semua pertanyaan Abi dengan lancar tanpa terdengar
keraguan sedikit pun. Dan Abi pun langsung percaya seketika dengan penjelasanku
tadi. Tapi kok aku merasa senyuman Abi tadi aneh ya, ah mungkin itu hanya perasaanku saja.” Cyra tersenyum sendiri dan
bergegas memasuki ruang kelas.
Cyra adalah
siswa pertama yang datang memasuki ruang kelas enam pagi ini. Maklum, ia memang
berangkat cukup lebih pagi dari biasanya karena mengikuti jam masuk kantor Abi
di hari Jumat.
Sambil menunggu
Anis datang. Ia kembali memeriksa beberapa buku pelajaran sekolah. Ia tidak
ingin kejadian tiga hari yang lalu terulang lagi. Kejadian yang membuatnya
harus dihukum karena lupa tidak mengerjakan tugas.
Lima belas
menit kemudian, Anis pun datang dan langsung disambut Cyra dengan senyuman cerianya.
“Bagaimana,
hari ini kita dapat melanjutkan penyelidikan kita?”, Anis yang baru saja duduk
di sampingnya langsung ditodong dengan sebuah pertanyaan.
“Sebentar
ya Cyra, aku mau sarapan roti dulu,
tadi aku belum sempat sarapan di rumah,” jawab Anis sambil mengeluarkan
bungkusan roti dari dalam tasnya.
“Ok, silakan.” Cyra memahami betul
temannya itu kalau sedang lapar tidak ingin diganggu. Ia kembali membuka
buku-buku sekolahnya.
Setelah
Cyra melihat Anis menyelesaikan sarapannya, Cyra kembali meluncurkan
pertanyaannya “Nah, jadi bagaimana
?”.
“Hari ini
sesuai rencanaku, kita bisa melanjutkan penyelidikan kita.” Anis menjawab
pertanyaan Cyra setelah minum bekal minumnya dan membersihkan mulutnya.
“Kamu sudah
ijin untuk ke rumahku lagi sepulang sekolah nanti?” Anis bertanya balik kepada
Cyra.
“Tentu sudah,
Mami sudah memberiku ijin. Nanti Abi yang akan menjemputku lagi di rumahmu seperti
kemarin itu.” Cyra tersenyum lebar meyakinkan.
Memang
sesuai rencana Anis. Setelah hari Rabu mereka mengantarkan semangkok soto ayam
ke rumah target. Kemarin sore sang target berkunjung ke rumah Anis untuk
mengembalikan mangkok yang berisi menu lain. Kunjungan sang target sore itu
dimanfaatkan Anis untuk bertanya-tanya beberapa hal. Dan hasilnya sang target meminjam
dua buku cerita milik Anis yang harus ia kembalikan ke rumah Anis nanti siang.
Begitulah singkat cerita rencana awal yang dilakukan oleh Anis, dan sejauh ini
berhasil dan berjalan sesuai rencana.
“Pertemuan
nanti, kamu tetap belum boleh menanyakan hal-hal tentang kakakmu dan
keluarganya, ikuti alurnya dulu. Nanti adalah kesempatanmu untuk berkenalan dan
mendekatinya lebih dulu.” Anis kembali mengingatkan aturan penyelidikan yang
direncanakannya.
“Hah.. lalu kapan aku akan mendapatkan
jawaban tentang kakakku, masih lama kah?, tujuanku kan hanya ingin menyelidiki
Kak Aland,” Cyra menawar aturan yang dibuat oleh Anis.
“Sabar
dulu, jangan sampai target yang sudah kudapatkan ini tiba-tiba menghindar
karena merasa tidak nyaman jika langsung ditanya tentang hal itu oleh orang
yang baru dikenalnya. Kamu tunggu dulu, nanti saatnya akan datang, ketika kau
sudah benar berhasil mendekatinya,” Anis mencoba meyakinkan Cyra untuk
mengikuti aturannya.
“Hmm ok, aku akan ikuti alur rencanamu.”
Akhirnya Cyra menerima aturan yang dibuat oleh Anis, meskipun agak terpaksa.
Mereka
berdua tersenyum, terlebih Anis karena dirinya merasa benar-benar seperti
seorang detektif yang sedang menyusun rencana dan strategi penyelidikan.
---
ooo ---
Pukul
14.00.
Cyra sedang
duduk di teras rumah Anis, asyik mengobrol dengan teman sebangkunya itu. Mereka
berdua sedang menunggu kedatangan sang target, yang janjinya kemarin akan
datang kembali ke rumah Anis pukul dua siang.
“Assalamu’alaikum,
Kak Anis..” suara seorang anak perempuan itu langsung mengalihkan perhatian Cyra
dan Anis. Sang target datang tepat lebih sepuluh menit dari janjinya.
“Wa’alaikumsalam,”
jawab Cyra dan Anis bersamaan.
“Kak Anis, eh ada teman Kak Anis ya?”
Firda,
seorang anak perempuan yang menjadi target penyelidikan Cyra dan Anis, memasuki
halaman rumah Anis. Ia seorang anak yang sangat ramah dan mudah berteman dengan
siapapun, terlebih kepada teman seusianya. Baru dua hari yang lalu ia
berkenalan dengan Anis, rasanya sudah seperti teman karib.
Firda
melepas sandalnya lalu duduk bergabung dengan Cyra dan Anis di teras rumah.
“Ini teman
Kak Anis ya, namanya siapa?, aku Firda, nenekku tinggal di ujung gang ini, tapi
aku tidak tinggal disini, hanya tiap pulang sekolah sering bermain ke rumah
nenek.” Firda mengajak Cyra berkenalan, tangan kanannya mengarah ke tangan Cyra.
“Eh iya, aku temannya Anis. Lebih
tepatnya teman sebangkunya di kelas. Namaku Cyra. Firda kelas berapa sekarang?,
sekolah di SD mana?” Cyra menyambut tangan Firda dan bersalaman. Ia yang
aslinya memang seorang yang mudah akrab langsung menunjukkan sikap ramahnya. Ia
memberikan senyuman manisnya.
Firda tak
segera menjawab pertanyaan Cyra, bahkan ia pun belum melepas genggaman tangan
Cyra. Ia hanya menatap wajah Cyra cukup lama.
Cyra mulai
salah tingkah dan melihat ke arah Anis yang juga heran melihat sikap Firda
berkenalan dengan Cyra.
“Firda
sudah pernah bertemu dengan Kak Cyra ya sebelumnya?” pertanyaan Anis
menyadarkan Firda dari lamunannya.
“Eh?” Cyra
menatap Anis dengan raut wajah tidak mengerti.
“Pernah
belum ya Kak?” Firda justru bertanya ke Cyra.
“Firda
hanya merasa seperti pernah melihat wajah Kak Cyra, tapi di mana Firda juga
lupa,” Firda tertawa kecil agak malu.
“Kalau Kak
Cyra merasa pernah melihat Firda tidak?” Firda melemparkan pertanyaan yang
tidak disangka-sangka oleh Cyra.
“Ini anak
lucu juga, polos banget,” Cyra hanya membatin dalam hati, tanpa ia sadari bibirnya
menyunggingkan senyum kecil.
“Kak Cyra
kok malah senyum sendiri sih?” Firda masih memperhatikan Cyra.
“Pernah
atau belum ya, pernah mungkin ya, di televisi. Firda bintang iklan ya?” Cyra
justru menggoda Firda sambil tertawa kecil.
Cyra dan
Firda saling bercanda, mereka memiliki watak yang hampir sama. Sifat periangnya,
mudah akrab dalam berteman, ramah, dan suka bercanda. Sementara itu yang bisa
diamati oleh Anis. Sejak kedatangan Firda, Anis terus mengamati tingkah laku
Cyra dan Firda. Melihat perkembangan sampai saat ini, strategi penyelidikan
yang direncanakan oleh Anis sepertinya akan bergerak cepat untuk mencapai
hasilnya.
“Tidak
perlu aku dekatkan, mereka berdua sudah langsung akrab sendiri seperti kakak
adik. Semoga Cyra masih dapat menahan rasa penasaran untuk bertanya tentang
kakaknya. Pertemuan pertama masih belum tepat untuk menanyakan hal-hal yang
bersifat pribadi.” Pikiran Anis masih terus bekerja layaknya seorang detektif
cilik, sambil tetap mendengarkan obrolan Cyra dan Firda.
Anis
teringat sesuatu. Buku yang sedang di tangan Firda itu yang rencananya akan
membuat Cyra dan Firda lebih akrab lagi. Buku itu masih dalam genggaman Firda,
belum menjadi topik pembicaraan mereka berdua.
“Oiya Firda, bukunya sudah selesai dibaca?”
Anis menyela obrolan Cyra dan Firda saat mereka berdua sempat saling diam.
“Sudah Kak,
bahkan sebenarnya kemarin sore juga sudah selesai ketika masih di rumah nenek.
Tapi Ayah sudah menjemput, jadi tidak sempat mengembalikannya kemarin sore. Ceritanya
bagus Kak, Firda suka. Kak Anis punya serial lanjutannya tidak?” pandangan
Firda beralih ke Anis, ia ingat tujuan awalnya ke rumah Anis untuk mengembalikan
buku yang telah dipinjamnya.
“Nah, bagus kalau Firda suka. Kebetulan
sekali Firda ketemu Kak Cyra siang ini. Kak Cyra ini mempunyai koleksi
terlengkap buku dongeng serial Princess Hania, iya kan Cyra?” Anis tersenyum
melemparkan pertanyaan ke Cyra.
“Eh betul,
serial Princess Hania itu cerita favorit kakak. Kakak punya sepuluh serinya di
rumah. Bulan lalu kakakku juga baru saja memberikan video animasinya. Katanya
baru diluncurkan edisi filmnya, jadi belum lengkap sesuai dengan serial bukunya.
Baru ada tiga seri videonya yang kakak tahu.” Cyra menyambut pertanyaan Anis
dan menjawabnya dengan antusias, seperti seorang sales sedang mempromosikan
dagangannya. Ia mengerti maksud Anis, si Princess Hania ini yang akan menjadi
daya pikat sang target untuk menjalankan investigasi selanjutnya. Dan ia
mengerti apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Gambar
sang Princess Hania di video itu sama bagusnya dengan yang ada di buku, bahkan
lebih terlihat bagus dan menawan, tiara mahkotanya pun berkilau,” Cyra
melanjutkan promosinya, ia mulai menangkap sinyal bagus dari Firda.
“Wah.. Firda mau baca semuanya Kak. Jadi ceritanya Firda punya Om, Om ini yang
dulu pernah memberikan buku seri pertama Princess Hania ke Firda. Dari seri
pertama itu Firda sudah langsung suka ceritanya. Bukunya saja Firda kasih sampul
bagus supaya tidak rusak karena Firda suka mengulang-ulang baca buku itu. Nah berhubung Ayah dan Ibu Firda jarang
mengajak ke toko buku, begitu juga si Om ini yang selalu sibuk. Jadi Firda
tidak tahu kalau cerita Princess Hania itu ada serial lanjutannya, bahkan
sampai sepuluh ya Kak Cyra?. Kemarin itu Firda lihat-lihat koleksi buku cerita
Kak Anis, mata Firda langsung menuju satu buku bergambar sang Princess yang
berbeda dengan yang Firda punya. Beruntungnya, Kak Anis yang baik hati ini mau
meminjamkan buknya untuk Firda baca di rumah.” Firda menjelaskan panjang lebar.
“Nah, Kakak kasih tahu sekarang. Koleksi
buku kakak masih kalah jauh dibanding dengan koleksi buku-buku cerita punya Kak
Cyra. Kalau Firda sudah melihat rak buku milik Kak Cyra pasti lebih bingung
lagi mau mulai baca yang mana.” Mata
Anis melirik ke arah Cyra.
Cyra tak
menyangka bahwa ternyata sang target memiliki minat baca yang cukup tinggi
seperti dirinya, juga kertertarikannya pada serial cerita itu. Ia senang
melihat keadaan ini, Firda sang target memiliki karakter yang mirip dengannya.
“Kalau
Firda penasaran, ayo main ke rumah kakak. Firda bisa sepuasnya meminjam buku
cerita yang mau Firda baca,” Cyra tahu tawarannya sangat menarik hati Firda.
“Mau sekali Kak Cyra. Eh tapi rumah Kak Cyra dimana?, di
komplek ini juga?” Firda senang sekali menjawab tawaran Cyra.
“Bukan di
komplek ini, rumah kakak agak jauh dari sini,” Cyra menjawab dengan pasti.
“Yah.. mana boleh Firda main ke rumah
teman yang jauh dari sini. Ayah dan Ibu tentu tidak akan memberi ijin Firda,”
Firda menunjukkan ekspresi wajah kecewa.
“Kalau
begitu kalian bisa sering bertemu disini, rumah Kak Anis terbuka untuk kalian
berdua.” Anis mencoba menawarkan solusi yang merupakan bagian dari rencana
selanjutnya.
“Atau kalau
boleh kakak yang bermain di rumahmu atau rumah nenekmu yang ada di ujung gang
ini,” Cyra menambahkan tawaran solusinya yang langsung disambut tatapan tajam
dari kedua mata Anis. Dahi Anis agak berkerut dan ia menggeleng perlahan.
Cyra paham
maksud tatapan dan isyarat dari Anis, Cyra tidak ingin mengacaukan rencana Anis
yang telah berbaik hati membantunya, lebih baik mengikuti sarannya saja.
“Oh iya, lebih baik disini saja ya Firda,
di rumah Kak Anis. Kak Anis ini sahabat kakak dari dulu, orangtua kakak sudah
cukup kenal, jadi tidak terlalu sulit untuk meminta ijin bermain di rumah Kak
Anis sepulang sekolah.” Cyra segera meralat tawaran solusinya sebelum Firda
menanggapi serius tawaran pertama yang ia berikan.
“Iya boleh
Kak Cyra. Padahal kalau kakak mau
bermain di rumah nenek, Firda pikir nenek justru akan senang. Karena rumah nenek
sepi, hanya ada nenek dan om yang selalu sibuk di luar rumah.” Firda tersenyum.
Sebelum
membuat janji pertemuan selanjutnya antara Cyra dan Firda, terdengar suara
klakson mobil di depan rumah Anis. Tidak terasa sudah hampir pukul empat sore.
Mereka bertiga asyik mengobrol sampai tidak mendengar adzan Ashar yang sudah berkumandang
sekitar empat puluh menit yang lalu.
“Itu Abi,”
Cyra berpikir secepat kilat apa yang harus ia lakukan.
“Firda,
maaf ya. Kakak harus pulang dulu, itu kakak sudah dijemput. Nanti Kak Anis yang
beri tahu kapan kakak bisa main kesini lagi.” Cyra sibuk bersiap diri,
mengambil tas ranselnya dan memakai sepatunya. Sambil melirik ke arah mobil
yang terparkir di depan, ia melihat Abi sudah turun dari mobil. Ia harus segera
keluar rumah sebelum Abi yang lebih dahulu masuk ke halaman rumah Anis.
“Anis, kau
atur saja ya pertemuan selanjutnya. Aku akan mengikuti rencanamu.” Cyra
setengah berbisik di telinga Anis. Kemudian ia segera berpamitan dengan ibunya
Anis yang sedang berada di dapur.
“Firda,
maaf ya kakak duluan.” Cyra mengulang permohonan maafnya, lalu setengah berlari
menuju Abi yang telah menunggu di samping mobil.
Cyra segera
masuk mobil, menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah Anis dan
Firda. Ia menangkap muka Firda yang kebingungan.
“Semoga Anis
dapat menjelaskan dengan baik akhir pertemuan hari ini.” Cyra berbisik dalam
hati.
“Kita
pulang sekarang Cyra?” Abi menegur Cyra yang terlihat melamun menatap jendela.
“Ok Abi, tunggu apa lagi,” Cyra langsung
berbalik ke arah Abi dan memberikan senyuman manisnya.
Mobil itu
segera menjauh dari rumah Anis dan melaju menuju rumah Cyra.
Di dalam
mobil, tidak banyak percakapan antara Abi dan Cyra. Abi sempat melihat Cyra
menguap beberapa kali.
“Senangnya,
Abi tidak banyak bertanya lagi perihal pengerjaan tugas di rumah Anis ini,”
batin Cyra dalam hati, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Tak lama
kemudian matanya mulai menutup perlahan. Kantuk berat melandanya.
Namun tiba-tiba
matanya kembali terbuka lebar dan badannya tersentak bangun, “Astaghfirullah,
aku belum sholat ashar, sampai rumah aku harus langsung ke kamar mandi dan
sholat di kamar. Jangan sampai aku lupa.” Ingatan itu datang menyerbu ke dalam
pikirannya.
“Kenapa
Cyra?” Abi bertanya agak cemas, laju mobilnya perlahan berkurang. Ternyata, hentakan
tubuh Cyra tadi tertangkap oleh pandangan Abi.
“Eh tidak ada apa-apa Bi.” Cyra tersenyum menoleh ke arah Abi,
kepalanya kembali tersandar di kursi mobil. Sesaat kemudian, matanya kembali
terpejam. Mobil itu pun kembali melaju cepat.
---
ooo ---
Kisahnya
semakin jauh, sedangkan aku masih duduk sendiri disini. Entah berapa lama aku
harus singgah di kota penantian ini. Perintah itu memang mengatakan singgah,
terdengar hanya mampir dan sebentar. Namun aku sudah berhari-hari disini dan
belum ada tanda-tanda kedatangan sang pembawa perintah itu.
Aku hanya
diberikan selembar daun lebar ini, di dalamnya terdapat kisah yang harus
kulihat dan kuamati di bawah sinar cahaya dan di atas aliran sungai yang sangat
jernih ini. Sama dengan kisah yang sedang kau baca saat ini. Itulah yang
menyebabkan aku tidak beranjak dari taman ini. Disini tempat yang nyaman untuk
dapat melihat kisah ini. Di bawah pohon yang rindang, di tepian sungai yang
alirannya berirama indah. Aku duduk di atas sebuah batu, kedua tanganku lurus
ke depan memegang daun itu, tepat di atas aliran sungai. Sinar cahaya datang
menembus daun itu dan masuk ke dalam sungai, seketika itu muncullah sebuah
kisah dalam selembar daun ini.
Awalnya,
aku sangat antusias melihat dan terus mengamati kisah ini seorang diri.
Beberapa kali bertemu kawanku yang selalu memberikan informasi. Namun setelah
kawanku pergi, aku mulai merasa kesepian. Sebenarnya aku tidak tahu arti
kesepian, karena dari awal aku memang seorang diri.
Aku
memandang aliran sungai ini hingga ujung batas aku tak dapat melihatnya lagi.
Sungai ini memang indah, namun apalah arti sebuah keindahan jika aku
menikmatinya seorang diri. Tiba-tiba datang sebuah ide dalam pikiranku.
Peraturan
melihat kisah ini hanya satu yaitu meletakkan daun ini di atas sungai dan
tertembus sinar cahaya. Aku bisa menyusuri sungai ini yang ujungnya entah
dimana, dengan begitu mungkin aku akan bertemu dengan kawan baru dan hal-hal
menarik lainnya.
Aku
melompat turun dari batu besar ini, sesaat melihat ke sekeliling. Ah sudahlah, kawanku itu mungkin tak
akan datang lagi dan mencariku disini. Namun tak ada salahnya aku meninggalkan
sebuah pesan untuknya disini. Aku mengambil sebuah batu kecil di pinggiran
sungai, mengukir sebuah pesan di batang pohon besar yang rindang itu, sebuah
pesan untuk kawanku.
Aku mulai
menyusuri aliran sungai yang indah ini. Ketika sudah cukup lelah, aku mencari
tempat yang nyaman untuk beristirahat dan melihat kelanjutan kisah ini.
Bagaimanapun, aku cukup penasaran dengan apa yang sedang direncanakan oleh
Cyra.
---
ooo ---
Keesokan
harinya, Cyra sedang duduk menghabiskan sarapannya bersama Mami di ruang makan.
Dan Abi seperti biasa, pagi hari di akhir pekan adalah waktu olahraga bagi Abi.
Sejak pukul lima tadi Abi sudah keluar rumah untuk lari pagi. Cyra memang belum
pernah mengikuti Abi lari pagi, karena rute yang dipakai Abi untuk lari pagi
cukup jauh, dan Cyra belum cukup kuat untuk lari sejauh itu.
Sedangkan
Aland, sejak pukul enam tadi sudah berpakaian rapi dan pergi dengan sepeda
motornya.
“Mami, Kak
Aland pergi kemana?” Sejak kejadian hari Selasa, ini untuk pertama kalinya Cyra
menanyakan tentang Aland kepada Mami.
“Ooo Kak Aland, ada kegiatan di masjid
dekat kampus Kak Aland dulu. Nanti siang sudah pulang kok kata Kak Aland,” jawab
Mami sambil tersenyum dan menatap wajah Cyra.
“Tidak
biasanya Cyra menanyakan Kak Aland pergi kemana, akhir-akhir ini Cyra biasanya
tidak mau tahu Kak Aland sedang kemana, ada yang mau Cyra ceritakan ke Mami?”
Mami mulai menggoda Cyra.
“Ah, tidak ada apa-apa kok. Oiya Mi, Cyra mau telepon Anis dulu ya
Mi. Kemarin sore Cyra pulang terburu-buru, padahal Cyra belum membantu Anis
merapikan rumahnya setelah mengerjakan tugas.” Cyra masih belum ingin membahas
tentang Aland dan segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Kebetulan
Kak Aland sedang pergi dan Abi juga belum pulang. Aku penasaran ingin
menanyakan tentang kejadian kemarin kepada Anis,” pikir Cyra.
“Iya boleh,
sarapannya segera dihabiskan dulu.” Nada suara Mami tedengar kecewa, karena ia
berharap putri bungsunya itu akan menceritakan apa yang ia sembunyikan darinya.
Mami merasa akhir-akhir ini Cyra agak berubah dan jarang bercerita ke Mami. Padahal
Cyra adalah anak yang selalu meramaikan rumah, baik dengan cerita-ceritanya
ataupun tingkah lakunya yang menggemaskan. Ya, bagi Mami, Cyra masih menjadi
anak yang lucu dan menggemaskan.
Setelah
Cyra menyelesaikan sarapannya dan segera beranjak ke ruang tengah, raut muka
Mami mendadak sedih. Mami memandang Cyra dari ruang makan. Dilihatnya Cyra
sedang asyik berbincang dengan temannya melalui telepon rumah.
“Cyra
memang sudah beranjak remaja, rasa keingintahuannya semakin besar, dan
perasaannya pun mulai sensitif.” Hanya itu yang ada di dalam pikiran Mami.
Mami segera
membereskan ruang makan dan dapur, ia harus mengalihkan perhatiannya, ia tidak
ingin berlarut dengan suasana perasaannya saat ini.
“Hei Cyra, tidak biasanya kamu
meneleponku sepagi ini, di hari libur pula. Apa ada tugas pekerjaan rumah yang
ingin kamu tanyakan?” suara dari seberang telepon terdengar menggoda Cyra.
“Anis,
sahabatku yang baik hati, waktuku tidak banyak nih untuk bercanda di telepon, kamu tahu sendiri alasannya.
Sekarang segera kamu ceritakan saja keadaan di rumahmu setelah aku pulang
kemarin.” Cyra sedang tidak ingin bercanda, dan mengajak lawan bicaranya di
telepon untuk serius menjawab pertanyannya.
“Ok, baik. Kamu ingat ketika pertama
bertemu dengan Firda, dan dia berpikir pernah melihatmu?”
“Iya aku
ingat, kenapa?” Cyra menjawab singkat.
“Nah, dia
juga mengatakan hal yang serupa tentang Abimu. Dia berpikir pernah melihat Abi.
Ini tentu sangat menarik bukan?, sang target merasa pernah melihat penyelidik
bahkan Abinya juga.”
“Hmm menurutku biasa saja. Lalu bagaimana
lanjutan pertemuanku dengannya?, apa sudah kau rencakan?, kapan?” Cyra memberikan
pertanyaan beruntun dengan merendahkan nada suaranya
“Ah, kamu tidak memiliki kepekaan jiwa
detektif. Ok, sepertinya kamu tidak
bisa berbicara di telepon lama-lama. Aku akan ceritakan kejadiannya kemarin.”
Anis menangkap sinyal bahwa ada pihak lain yang sedang mendekati posisi Cyra
saat ini, dan tentu Cyra tidak ingin pihak lain itu mengetahui isi perbincangan
ini. Anis pun melanjutkan ceritanya.
“Jadi
setelah kamu pulang, aku meminta Firda untuk mengingat-ingat kapan dan dimana
dia pernah melihatmu dan Abi. Tapi selang beberapa waktu dia belum juga dapat
menemukan jawabannya. Kemudian aku menanyakan tentang rencana pertemuan kalian
selanjutnya. Awalnya dia ingin hari ini, dia sudah tak sabar ingin melanjutkan
kisah serial Princess Hania itu. Lalu aku jawab kalau sekolah kita hari Sabtu
libur. Kemudian dia ingin hari Senin, lalu aku jawab lagi kalau hari Senin kita
ada pelajaran tambahan khusus untuk kelas enam, dan itu sampai sore hari. Aku
katakan kalau kamu tidak mungkin main ke rumahku sesore itu karena rumahmu jauh
dan orangtuamu mungkin tidak akan mengijinkan.”
“Iya betul,
lalu?” Cyra menanggapi dengan singkat.
“Iya lalu
aku katakan hari Selasa saja, sepulang sekolah nanti kamu akan ke rumahku lagi
membawakan buku-buku serial Princess Hania untuknya. Sudah sekian ceritanya,
dia setuju lalu kembali pulang ke rumah neneknya. Oiya Cyra, hari Selasa itu kamu bawakan seri ketiga sampai kelima
dulu saja, jangan langsung semuanya, sehingga akan ada alasan untuk pertemuan
selanjutnya.”
“Hah?, kenapa masih harus diperlambat?,
kita sudah berkenalan cukup baik. Jadi sepertinya aku bisa langsung menanyakan
tentang tujuanku.” Suara Cyra masih terdengar setengah berbisik.
“Tunggu
dulu, mungkin masih memerlukan dua atau tiga pertemuan lagi untuk langsung
membahas ke pokok tujuan kita. Ikuti saja rencanaku ya.”
“Ya sudah,
aku setuju. Sudah dulu ya, sampai ketemu besok Senin di sekolah. Jangan lupa
matematika ada tugas.” Nada suara Cyra sudah kembali normal.
“Hahaha, seharusnya aku yang
mengingatkanmu, jangan sampai lupa lagi mengerjakan tugas matematika. Di
sampingmu ada Abi atau Kak Aland ya?” Anis tertawa, lebih tepatnya menertawakan
Cyra.
“Kamu tahu
saja. Sudah ya, assalamu’alaikum.” Cyra menjawabnya datar dan segera menyudahi
perbincangan itu.
“Iya,
wa’alaikumussalam.” Anis menjawab salam sambil masih tertawa.
Kedua anak
remaja tanggung itu bersamaan menutup gagang telepon di tempatnya. Cyra melihat
Mami masih duduk di ruang makan menemani Abi yang sedang sarapan. Mami dan Abi
sedang berbincang cukup serius. Keduanya tak ada yang melihat ke arah Cyra
setelah Cyra menyudahi pembicaraannya di telepon.
“Baguslah,
Abi dan Mami sedang serius ngobrol.
Mereka tidak akan mencurigai pembicaraanku di telepon dengan Anis tadi.” Cyra
bergumam dalam hati.
Sesaat
kemudian Cyra menyalakan televisi. Tak ada siaran yang menarik, pikir Cyra
setelah menekan tombol remote televisi beberapa kali. Pandangannya kembali ke arah
Abi dan Mami yang masih berbincang serius di ruang makan.
Cyra cukup
penasaran dengan apa yang diperbincangkan Abi dan Mami. Mungkin saja Abi dan
Mami sedang membicarakannya. Tanpa pikir panjang ia beranjak dari depan
televisi menuju ruang makan.
Cyra
menyapa Abi, “Lari pagi sampai mana Bi?, rute lama atau rute baru?” tanya Cyra
sambil membuka kaleng biskuit di meja makan.
“Ya rute
baru dong, supaya pemandangannya
berbeda” jawab Abi sambil tersenyum kepada Cyra.
“Oiya Cyra, kamu ingin pergi ke toko
buku?, sepertinya sudah cukup lama Kak Aland tidak mengajakmu ke toko buku ya?”
“Mau banget, kok Abi tahu sih yang
Cyra harapkan?” Cyra menutup kaleng biskuitnya, menatap ke arah Abi penuh
semangat. “Kapan Bi?, sekarang?” Cyra bertanya antusias.
“Hari ini
Abi tidak bisa, besok juga Abi ada acara,”
Raut muka
Cyra berubah seketika, “Lalu kenapa tadi Abi mengajak Cyra?”.
Abi
tersenyum, “Abi kan tidak mengajak, hanya bertanya. Kalau kamu mau, besok bisa temani Mami pergi ke
toko buku. Nanti Abi titip uang ke Mami untuk membelikan buku yang kamu
inginkan, bagaimana?”.
Cyra
langsung menoleh ke arah Mami, sedangkan Mami hanya membalas tersenyum.
Cyra
kembali berbicara kepada Abi, “Abi, sejak kapan Mami mau pergi ke toko buku?,
biasanya juga kalau mengajak Cyra ke pasar atau supermarket atau salon”.
“Sejak Cyra
mau menemani Mami,” Abi menjawab singkat.
Cyra
beralih bicara kepada Mami, “Mami benar ingin ke toko buku?, memang Mami mau cari buku apa?”.
“Iya, ada
buku yang ingin Mami cari. Kalau bersama Cyra tentu lebih mudah mendapatkan
buku yang Mami cari itu. Cyra mau kan
menemani Mami?” Mami tersenyum membujuk Cyra.
“Siap Mami.
Besok Cyra siap mengantar nyonya Mami pergi ke toko buku.” Cyra memberi sikap
hormat dan tersenyum lebar.
Abi dan
Mami tertawa. “Sudah sana sekarang Cyra mandi dulu, selesai sarapan kok malah asyik menelepon teman,” kata
Abi sambil berpura-pura menutup hidungnya.
“Ok”, tanpa pikir panjang Cyra segera
berbalik badan menuju kamar mandi sebelum Abi melanjutkan pertanyaannya tentang
perbincangannya tadi di telepon.
“Abi, apa
yang kita lakukan ini baik untuk Cyra?” Mami bertanya kepada Abi, setelah
memastikan putri bungsunya itu masuk ke kamar mandi. Ada sedikit keraguan dalam
pertanyaan Mami.
“Semoga
waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini ke Cyra segera datang, Abi juga
tidak ingin berlama-lama menyembunyikan hal ini dari Cyra. Cyra juga harus
segera tahu tentang rencana kakaknya.” Abi mencoba meyakinkan keraguan Mami.
“Lalu
kenapa sampai sekarang Cyra masih belum diberitahu?”
“Ini
permintaan Aland. Aland masih belum siap memberi tahu tentang hal ini kepada
adiknya. Dalam pandangan Abi, itu karena Aland sangat menyayangi Cyra. Abi juga
akan mengingatkan Aland untuk tidak menunda-nunda lagi berterus terang ke
Cyra.”
Mami
mengangguk perlahan, mencoba untuk memahami jawaban Abi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar