Selasa, 26 Juli 2016

Chapter 5 : Princess Hania


Hari Jumat. Beberapa kendaraan di komplek itu keluar lebih pagi dari hari biasanya. Sang Bupati menerapkan pola hidup sehat bagi seluruh pekerja di kota ini. Senam pagi di hari Jumat menjadi salah satu yang diterapkan oleh mayoritas perusahaan.
Pukul 6 pagi, Abi dan Cyra sedang bergegas menghabiskan sarapan mereka di ruang makan. Sementara Mami menyiapkan perlengkapan Abi, dan Aland sibuk membereskan peralatan masak di dapur.
“Mami, rasa nasi gorengnya agak beda, lebih enak. Ditambah pake apa Mi?” Cyra bertanya ke Mami dengan setengah berteriak dan sambil terus mengunyah. Alih-alih mendapat jawaban dari Mami, Cyra mendapat teguran dari Abi.
“Ayo Cyra, kita harus bergegas. Ini hari Jumat, Abi harus berangkat lebih pagi, atau mau diantar Kak Aland saja?”. Abi sudah beranjak dari kursinya.
Eh, tidak Bi, Cyra diantar Abi saja. Cyra juga harus berangkat lebih awal.” Cyra terus menyelesaikan sarapannya sambil tersenyum merayu Abi.
Setelah minum air putih dan memasukkan bekal makannya ke dalam tas, Cyra mengingatkan Abi, “Abi nanti sepulang Abi dari kantor, Abi jemput Cyra lagi di rumah Anis seperti kemarin hari Rabu itu ya, kan jauh Bi kalau Cyra naik angkot sendiri. Nanti sepulang sekolah Cyra harus mengerjakan tugas lagi di rumah Anis, boleh kan Mi?” sambil memakai sepatunya di teras rumah, Cyra meminta ijin ke Mami dan Abi yang sudah menunggunya di halaman rumah. Mami mengerutkan dahinya mendengar permintaan Cyra.

“Itu bukan meminta ijin yang baik Cyra. Jarang sekali Cyra anak Mami yang sholihah minta ijin akan terlambat pulang di waktu akan berangkat sekolah. Biasanya Cyra akan meminta ijin baik-baik di malam sebelumnya. Kalau Cyra minta ijin akan terlambat pulang di saat berangkat sekolah seperti ini namanya Cyra sedang menodong Mami.” Sebenarnya Mami masih ingin panjang lebar menegur sikap Cyra seperti itu, tapi terhenti setelah melihat Abi melirik jam tangannya dan ingat bahwa Abi harus segera berangkat.
Hmm ya sudah. Nanti sore Cyra boleh terlambat pulang dan mengerjakan tugas di rumah Anis. Tapi lain kali kalau Cyra seperti ini lagi Mami tidak akan memberi ijin. Mami juga tidak memberikan makanan tambahan di kotak bekalmu itu, jadi jangan salahkan Mami ya,” Mami memutuskan untuk memberi ijin Cyra.
Cyra menyambut baik jawaban Mami. Kemudian ia mencium tangan Mami dan menariknya turun sehingga Cyra dapat mencium pipi kanan dan kiri Mami.
“Makasih Mami cantik. Tentang bekal makanan tidak perlu Mami khawatirkan, Cyra tidak akan kelaparan kok,” Cyra memberikan senyuman manisnya untuk membujuk Mami yang tadi emosinya sempat terpancing, Cyra segera bergegas masuk mobil.
Segera Abi menginjak pedal gas, sambil mengucap salam ke Mami. Cyra pun mengucap salam sambil melambaikan tangan dan melebarkan senyumannya.
Mami membalas salam sambil melambaikan tangan dan tersenyum.
Ah Cyra.., pagi-pagi mendapat ciuman pipi dari Cyra dan melihat senyuman manisnya tentu tidak akan ada yang membuat emosi Mami terpancing sepanjang hari ini,” Mami berbisik dalam hati dan terbentuklah sebuah senyuman di wajahnya.
Aland yang sedang sibuk di dapur dari tadi pun mendengar percakapan Cyra dengan Mami di teras rumah. Karena letak dapur berada setelah area parkir mobil. Ia kembali merisaukan sikap Cyra kepada dirinya. Adiknya itu masih ingin berangkat sekolah bersama Abi, dan juga ingin dijemput oleh Abi setelah mengerjakan tugas di rumah temannya. Padahal sebelum kejadian kemarin, kemana-mana Cyra selalu ingin diantar olehnya.
Tiba-tiba Aland tersenyum dan teringat salah satu kalimat Cyra di ruang makan tadi yang membuatnya tersenyum bangga. “Cyra, kalau kau tahu siapa koki yang memasak nasi goreng tadi, apa kau akan tetap memujinya?” Aland berbisik dalam hati.
“Langsung dapat pujian istimewa nih untuk uji coba perdananya. Mami aja sampai belum sempat menyicipinya tadi. Yuk sarapan dulu, perut Mami juga ikut penasaran nih sama nasi goreng buatan putri sulung Mami,” Mami sudah berada di samping Aland dan sempat membuat Aland kaget.
“Ayo Mi, sudah Aland siapkan di meja makan. Aland juga sudah lapar, dari setelah sholat shubuh tadi langsung bertempur di dapur.” Aland menggandeng tangan Mami sambil tersenyum puas, puas akan hasil uji coba perdananya langsung dipuji oleh Cyra.

--- ooo ---

Dalam perjalanan Abi mengantar Cyra ke sekolah.
“Cyra, benar ada tugas yang harus dikerjakan di rumah teman sepulang sekolah nanti?” Abi bertanya serius ke Cyra.
“Ya benar Bi, kok pertanyaan Abi seperti meragukan Cyra begitu?” Cyra berusaha menjawab setenang mungkin, ia tahu bahwa Abi sedang mencurigai dirinya.
“Biasanya kan kalau ada tugas sekolah, Cyra yang paling semangat mengajak teman-teman untuk mengerjakan di rumah. Sekarang tidak biasanya Cyra yang selalu ke rumah teman. Abi percaya kok sama Cyra, Cyra kan sudah besar, sebentar lagi mau masuk SMP,” Abi tersenyum dan sekilas melihat ke arah Cyra yang duduk di sampingnya.
Cyra berusaha setenang mungkin sambil mencari alasan logis yang harus ia segera berikan ke Abi. Dan entah dari mana alasan untuk menutupi kebohongan itu cepat sekali datang dalam pikirannya.
“Itu Bi, di acara kelulusan nanti ada beberapa karya yang harus kita persembahkan. Nah Cyra kebagian membuat suatu produk bersama tiga teman lainnya yang mungkin pengerjaannya membutuhkan waktu beberapa bulan. Kita juga tidak akan mengerjakannya setiap hari, kan ada tugas sekolah juga yang harus kita kerjakan masing-masing di rumah,” Cyra lancar mengarang jawaban untuk Abi.
“Kenapa harus di rumah teman dan tidak Cyra ajak ke rumah saja?, Mami kan tentu lebih senang,” Abi masih penasaran.
“Iya itu Bi, produknya sudah terlanjur dimulai dikerjakan di rumah Anis. Kalau dipindah-pindah nanti bisa rusak karya kita,” Cyra melanjutkan karangan jawabannya dengan mantap tanpa terdengar ragu.
Abi menyudahi pertanyaannya kepada Cyra karena mobil sudah merapat di tepi jalan depan sekolah.
Cyra segera bersiap, kemudian mencium tangan Abi dan mengucap salam.
“Assalamu’alaikum. Abi, nanti sore jangan lupa jemput Cyra di rumah Anis ya.” Cyra sekali lagi mengingatkan Abi.
“Wa’alaikumsalam. Iya, nanti jam empat sore Abi jemput disana. Hati-hati, Abi percaya Cyra.” Abi memberikan senyuman tajam ke arah Cyra yang telah berdiri di sisi luar pintu mobil.
Cyra hanya dapat membalas senyuman itu, sebelum mobil itu kembali melaju menuju kantor Abi. Sambil berjalan menuju arah kelas, Cyra berpikir dalam hati, “Untungnya tadi aku dapat menjawab semua pertanyaan Abi dengan lancar tanpa terdengar keraguan sedikit pun. Dan Abi pun langsung percaya seketika dengan penjelasanku tadi. Tapi kok aku merasa senyuman Abi tadi aneh ya, ah mungkin itu hanya perasaanku saja.” Cyra tersenyum sendiri dan bergegas memasuki ruang kelas.
Cyra adalah siswa pertama yang datang memasuki ruang kelas enam pagi ini. Maklum, ia memang berangkat cukup lebih pagi dari biasanya karena mengikuti jam masuk kantor Abi di hari Jumat.
Sambil menunggu Anis datang. Ia kembali memeriksa beberapa buku pelajaran sekolah. Ia tidak ingin kejadian tiga hari yang lalu terulang lagi. Kejadian yang membuatnya harus dihukum karena lupa tidak mengerjakan tugas.
Lima belas menit kemudian, Anis pun datang dan langsung disambut Cyra dengan senyuman cerianya.
“Bagaimana, hari ini kita dapat melanjutkan penyelidikan kita?”, Anis yang baru saja duduk di sampingnya langsung ditodong dengan sebuah pertanyaan.
“Sebentar ya Cyra, aku mau sarapan roti dulu, tadi aku belum sempat sarapan di rumah,” jawab Anis sambil mengeluarkan bungkusan roti dari dalam tasnya.
Ok, silakan.” Cyra memahami betul temannya itu kalau sedang lapar tidak ingin diganggu. Ia kembali membuka buku-buku sekolahnya.
Setelah Cyra melihat Anis menyelesaikan sarapannya, Cyra kembali meluncurkan pertanyaannya “Nah, jadi bagaimana ?”.
“Hari ini sesuai rencanaku, kita bisa melanjutkan penyelidikan kita.” Anis menjawab pertanyaan Cyra setelah minum bekal minumnya dan membersihkan mulutnya.
“Kamu sudah ijin untuk ke rumahku lagi sepulang sekolah nanti?” Anis bertanya balik kepada Cyra.
“Tentu sudah, Mami sudah memberiku ijin. Nanti Abi yang akan menjemputku lagi di rumahmu seperti kemarin itu.” Cyra tersenyum lebar meyakinkan.
Memang sesuai rencana Anis. Setelah hari Rabu mereka mengantarkan semangkok soto ayam ke rumah target. Kemarin sore sang target berkunjung ke rumah Anis untuk mengembalikan mangkok yang berisi menu lain. Kunjungan sang target sore itu dimanfaatkan Anis untuk bertanya-tanya beberapa hal. Dan hasilnya sang target meminjam dua buku cerita milik Anis yang harus ia kembalikan ke rumah Anis nanti siang. Begitulah singkat cerita rencana awal yang dilakukan oleh Anis, dan sejauh ini berhasil dan berjalan sesuai rencana. 
“Pertemuan nanti, kamu tetap belum boleh menanyakan hal-hal tentang kakakmu dan keluarganya, ikuti alurnya dulu. Nanti adalah kesempatanmu untuk berkenalan dan mendekatinya lebih dulu.” Anis kembali mengingatkan aturan penyelidikan yang direncanakannya.
Hah.. lalu kapan aku akan mendapatkan jawaban tentang kakakku, masih lama kah?, tujuanku kan hanya ingin menyelidiki Kak Aland,” Cyra menawar aturan yang dibuat oleh Anis.
“Sabar dulu, jangan sampai target yang sudah kudapatkan ini tiba-tiba menghindar karena merasa tidak nyaman jika langsung ditanya tentang hal itu oleh orang yang baru dikenalnya. Kamu tunggu dulu, nanti saatnya akan datang, ketika kau sudah benar berhasil mendekatinya,” Anis mencoba meyakinkan Cyra untuk mengikuti aturannya.
Hmm ok, aku akan ikuti alur rencanamu.” Akhirnya Cyra menerima aturan yang dibuat oleh Anis, meskipun agak terpaksa.
Mereka berdua tersenyum, terlebih Anis karena dirinya merasa benar-benar seperti seorang detektif yang sedang menyusun rencana dan strategi penyelidikan.

--- ooo ---

Pukul 14.00.
Cyra sedang duduk di teras rumah Anis, asyik mengobrol dengan teman sebangkunya itu. Mereka berdua sedang menunggu kedatangan sang target, yang janjinya kemarin akan datang kembali ke rumah Anis pukul dua siang.
“Assalamu’alaikum, Kak Anis..” suara seorang anak perempuan itu langsung mengalihkan perhatian Cyra dan Anis. Sang target datang tepat lebih sepuluh menit dari janjinya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Cyra dan Anis bersamaan.
“Kak Anis, eh ada teman Kak Anis ya?”
Firda, seorang anak perempuan yang menjadi target penyelidikan Cyra dan Anis, memasuki halaman rumah Anis. Ia seorang anak yang sangat ramah dan mudah berteman dengan siapapun, terlebih kepada teman seusianya. Baru dua hari yang lalu ia berkenalan dengan Anis, rasanya sudah seperti teman karib.
Firda melepas sandalnya lalu duduk bergabung dengan Cyra dan Anis di teras rumah.
“Ini teman Kak Anis ya, namanya siapa?, aku Firda, nenekku tinggal di ujung gang ini, tapi aku tidak tinggal disini, hanya tiap pulang sekolah sering bermain ke rumah nenek.” Firda mengajak Cyra berkenalan, tangan kanannya mengarah ke tangan Cyra.
Eh iya, aku temannya Anis. Lebih tepatnya teman sebangkunya di kelas. Namaku Cyra. Firda kelas berapa sekarang?, sekolah di SD mana?” Cyra menyambut tangan Firda dan bersalaman. Ia yang aslinya memang seorang yang mudah akrab langsung menunjukkan sikap ramahnya. Ia memberikan senyuman manisnya.
Firda tak segera menjawab pertanyaan Cyra, bahkan ia pun belum melepas genggaman tangan Cyra. Ia hanya menatap wajah Cyra cukup lama.
Cyra mulai salah tingkah dan melihat ke arah Anis yang juga heran melihat sikap Firda berkenalan dengan Cyra.
“Firda sudah pernah bertemu dengan Kak Cyra ya sebelumnya?” pertanyaan Anis menyadarkan Firda dari lamunannya.
“Eh?” Cyra menatap Anis dengan raut wajah tidak mengerti.
“Pernah belum ya Kak?” Firda justru bertanya ke Cyra.
“Firda hanya merasa seperti pernah melihat wajah Kak Cyra, tapi di mana Firda juga lupa,” Firda tertawa kecil agak malu.
“Kalau Kak Cyra merasa pernah melihat Firda tidak?” Firda melemparkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka oleh Cyra.
“Ini anak lucu juga, polos banget,” Cyra hanya membatin dalam hati, tanpa ia sadari bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
“Kak Cyra kok malah senyum sendiri sih?” Firda masih memperhatikan Cyra.
“Pernah atau belum ya, pernah mungkin ya, di televisi. Firda bintang iklan ya?” Cyra justru menggoda Firda sambil tertawa kecil.
Cyra dan Firda saling bercanda, mereka memiliki watak yang hampir sama. Sifat periangnya, mudah akrab dalam berteman, ramah, dan suka bercanda. Sementara itu yang bisa diamati oleh Anis. Sejak kedatangan Firda, Anis terus mengamati tingkah laku Cyra dan Firda. Melihat perkembangan sampai saat ini, strategi penyelidikan yang direncanakan oleh Anis sepertinya akan bergerak cepat untuk mencapai hasilnya.
“Tidak perlu aku dekatkan, mereka berdua sudah langsung akrab sendiri seperti kakak adik. Semoga Cyra masih dapat menahan rasa penasaran untuk bertanya tentang kakaknya. Pertemuan pertama masih belum tepat untuk menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi.” Pikiran Anis masih terus bekerja layaknya seorang detektif cilik, sambil tetap mendengarkan obrolan Cyra dan Firda.
Anis teringat sesuatu. Buku yang sedang di tangan Firda itu yang rencananya akan membuat Cyra dan Firda lebih akrab lagi. Buku itu masih dalam genggaman Firda, belum menjadi topik pembicaraan mereka berdua.
Oiya Firda, bukunya sudah selesai dibaca?” Anis menyela obrolan Cyra dan Firda saat mereka berdua sempat saling diam.
“Sudah Kak, bahkan sebenarnya kemarin sore juga sudah selesai ketika masih di rumah nenek. Tapi Ayah sudah menjemput, jadi tidak sempat mengembalikannya kemarin sore. Ceritanya bagus Kak, Firda suka. Kak Anis punya serial lanjutannya tidak?” pandangan Firda beralih ke Anis, ia ingat tujuan awalnya ke rumah Anis untuk mengembalikan buku yang telah dipinjamnya.
Nah, bagus kalau Firda suka. Kebetulan sekali Firda ketemu Kak Cyra siang ini. Kak Cyra ini mempunyai koleksi terlengkap buku dongeng serial Princess Hania, iya kan Cyra?” Anis tersenyum melemparkan pertanyaan ke Cyra.
“Eh betul, serial Princess Hania itu cerita favorit kakak. Kakak punya sepuluh serinya di rumah. Bulan lalu kakakku juga baru saja memberikan video animasinya. Katanya baru diluncurkan edisi filmnya, jadi belum lengkap sesuai dengan serial bukunya. Baru ada tiga seri videonya yang kakak tahu.” Cyra menyambut pertanyaan Anis dan menjawabnya dengan antusias, seperti seorang sales sedang mempromosikan dagangannya. Ia mengerti maksud Anis, si Princess Hania ini yang akan menjadi daya pikat sang target untuk menjalankan investigasi selanjutnya. Dan ia mengerti apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Gambar sang Princess Hania di video itu sama bagusnya dengan yang ada di buku, bahkan lebih terlihat bagus dan menawan, tiara mahkotanya pun berkilau,” Cyra melanjutkan promosinya, ia mulai menangkap sinyal bagus dari Firda.
Wah.. Firda mau baca semuanya Kak. Jadi ceritanya Firda punya Om, Om ini yang dulu pernah memberikan buku seri pertama Princess Hania ke Firda. Dari seri pertama itu Firda sudah langsung suka ceritanya. Bukunya saja Firda kasih sampul bagus supaya tidak rusak karena Firda suka mengulang-ulang baca buku itu. Nah berhubung Ayah dan Ibu Firda jarang mengajak ke toko buku, begitu juga si Om ini yang selalu sibuk. Jadi Firda tidak tahu kalau cerita Princess Hania itu ada serial lanjutannya, bahkan sampai sepuluh ya Kak Cyra?. Kemarin itu Firda lihat-lihat koleksi buku cerita Kak Anis, mata Firda langsung menuju satu buku bergambar sang Princess yang berbeda dengan yang Firda punya. Beruntungnya, Kak Anis yang baik hati ini mau meminjamkan buknya untuk Firda baca di rumah.” Firda menjelaskan panjang lebar.
Nah, Kakak kasih tahu sekarang. Koleksi buku kakak masih kalah jauh dibanding dengan koleksi buku-buku cerita punya Kak Cyra. Kalau Firda sudah melihat rak buku milik Kak Cyra pasti lebih bingung lagi mau mulai baca yang mana.” Mata Anis melirik ke arah Cyra.
Cyra tak menyangka bahwa ternyata sang target memiliki minat baca yang cukup tinggi seperti dirinya, juga kertertarikannya pada serial cerita itu. Ia senang melihat keadaan ini, Firda sang target memiliki karakter yang mirip dengannya.
“Kalau Firda penasaran, ayo main ke rumah kakak. Firda bisa sepuasnya meminjam buku cerita yang mau Firda baca,” Cyra tahu tawarannya sangat menarik hati Firda.
Mau sekali Kak Cyra. Eh tapi rumah Kak Cyra dimana?, di komplek ini juga?” Firda senang sekali menjawab tawaran Cyra.
“Bukan di komplek ini, rumah kakak agak jauh dari sini,” Cyra menjawab dengan pasti.
Yah.. mana boleh Firda main ke rumah teman yang jauh dari sini. Ayah dan Ibu tentu tidak akan memberi ijin Firda,” Firda menunjukkan ekspresi wajah kecewa.
“Kalau begitu kalian bisa sering bertemu disini, rumah Kak Anis terbuka untuk kalian berdua.” Anis mencoba menawarkan solusi yang merupakan bagian dari rencana selanjutnya.
“Atau kalau boleh kakak yang bermain di rumahmu atau rumah nenekmu yang ada di ujung gang ini,” Cyra menambahkan tawaran solusinya yang langsung disambut tatapan tajam dari kedua mata Anis. Dahi Anis agak berkerut dan ia menggeleng perlahan.
Cyra paham maksud tatapan dan isyarat dari Anis, Cyra tidak ingin mengacaukan rencana Anis yang telah berbaik hati membantunya, lebih baik mengikuti sarannya saja.
Oh iya, lebih baik disini saja ya Firda, di rumah Kak Anis. Kak Anis ini sahabat kakak dari dulu, orangtua kakak sudah cukup kenal, jadi tidak terlalu sulit untuk meminta ijin bermain di rumah Kak Anis sepulang sekolah.” Cyra segera meralat tawaran solusinya sebelum Firda menanggapi serius tawaran pertama yang ia berikan.
“Iya boleh Kak Cyra. Padahal kalau kakak mau bermain di rumah nenek, Firda pikir nenek justru akan senang. Karena rumah nenek sepi, hanya ada nenek dan om yang selalu sibuk di luar rumah.” Firda tersenyum.
Sebelum membuat janji pertemuan selanjutnya antara Cyra dan Firda, terdengar suara klakson mobil di depan rumah Anis. Tidak terasa sudah hampir pukul empat sore. Mereka bertiga asyik mengobrol sampai tidak mendengar adzan Ashar yang sudah berkumandang sekitar empat puluh menit yang lalu.
“Itu Abi,” Cyra berpikir secepat kilat apa yang harus ia lakukan.
“Firda, maaf ya. Kakak harus pulang dulu, itu kakak sudah dijemput. Nanti Kak Anis yang beri tahu kapan kakak bisa main kesini lagi.” Cyra sibuk bersiap diri, mengambil tas ranselnya dan memakai sepatunya. Sambil melirik ke arah mobil yang terparkir di depan, ia melihat Abi sudah turun dari mobil. Ia harus segera keluar rumah sebelum Abi yang lebih dahulu masuk ke halaman rumah Anis.
“Anis, kau atur saja ya pertemuan selanjutnya. Aku akan mengikuti rencanamu.” Cyra setengah berbisik di telinga Anis. Kemudian ia segera berpamitan dengan ibunya Anis yang sedang berada di dapur.
“Firda, maaf ya kakak duluan.” Cyra mengulang permohonan maafnya, lalu setengah berlari menuju Abi yang telah menunggu di samping mobil.
Cyra segera masuk mobil, menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah Anis dan Firda. Ia menangkap muka Firda yang kebingungan.
“Semoga Anis dapat menjelaskan dengan baik akhir pertemuan hari ini.” Cyra berbisik dalam hati.
“Kita pulang sekarang Cyra?” Abi menegur Cyra yang terlihat melamun menatap jendela.
Ok Abi, tunggu apa lagi,” Cyra langsung berbalik ke arah Abi dan memberikan senyuman manisnya.  
Mobil itu segera menjauh dari rumah Anis dan melaju menuju rumah Cyra.
Di dalam mobil, tidak banyak percakapan antara Abi dan Cyra. Abi sempat melihat Cyra menguap beberapa kali.
“Senangnya, Abi tidak banyak bertanya lagi perihal pengerjaan tugas di rumah Anis ini,” batin Cyra dalam hati, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Tak lama kemudian matanya mulai menutup perlahan. Kantuk berat melandanya.
Namun tiba-tiba matanya kembali terbuka lebar dan badannya tersentak bangun, “Astaghfirullah, aku belum sholat ashar, sampai rumah aku harus langsung ke kamar mandi dan sholat di kamar. Jangan sampai aku lupa.” Ingatan itu datang menyerbu ke dalam pikirannya.
“Kenapa Cyra?” Abi bertanya agak cemas, laju mobilnya perlahan berkurang. Ternyata, hentakan tubuh Cyra tadi tertangkap oleh pandangan Abi.
Eh tidak ada apa-apa Bi.” Cyra tersenyum menoleh ke arah Abi, kepalanya kembali tersandar di kursi mobil. Sesaat kemudian, matanya kembali terpejam. Mobil itu pun kembali melaju cepat.
--- ooo ---

Kisahnya semakin jauh, sedangkan aku masih duduk sendiri disini. Entah berapa lama aku harus singgah di kota penantian ini. Perintah itu memang mengatakan singgah, terdengar hanya mampir dan sebentar. Namun aku sudah berhari-hari disini dan belum ada tanda-tanda kedatangan sang pembawa perintah itu.
Aku hanya diberikan selembar daun lebar ini, di dalamnya terdapat kisah yang harus kulihat dan kuamati di bawah sinar cahaya dan di atas aliran sungai yang sangat jernih ini. Sama dengan kisah yang sedang kau baca saat ini. Itulah yang menyebabkan aku tidak beranjak dari taman ini. Disini tempat yang nyaman untuk dapat melihat kisah ini. Di bawah pohon yang rindang, di tepian sungai yang alirannya berirama indah. Aku duduk di atas sebuah batu, kedua tanganku lurus ke depan memegang daun itu, tepat di atas aliran sungai. Sinar cahaya datang menembus daun itu dan masuk ke dalam sungai, seketika itu muncullah sebuah kisah dalam selembar daun ini.
Awalnya, aku sangat antusias melihat dan terus mengamati kisah ini seorang diri. Beberapa kali bertemu kawanku yang selalu memberikan informasi. Namun setelah kawanku pergi, aku mulai merasa kesepian. Sebenarnya aku tidak tahu arti kesepian, karena dari awal aku memang seorang diri.
Aku memandang aliran sungai ini hingga ujung batas aku tak dapat melihatnya lagi. Sungai ini memang indah, namun apalah arti sebuah keindahan jika aku menikmatinya seorang diri. Tiba-tiba datang sebuah ide dalam pikiranku.
Peraturan melihat kisah ini hanya satu yaitu meletakkan daun ini di atas sungai dan tertembus sinar cahaya. Aku bisa menyusuri sungai ini yang ujungnya entah dimana, dengan begitu mungkin aku akan bertemu dengan kawan baru dan hal-hal menarik lainnya.
Aku melompat turun dari batu besar ini, sesaat melihat ke sekeliling. Ah sudahlah, kawanku itu mungkin tak akan datang lagi dan mencariku disini. Namun tak ada salahnya aku meninggalkan sebuah pesan untuknya disini. Aku mengambil sebuah batu kecil di pinggiran sungai, mengukir sebuah pesan di batang pohon besar yang rindang itu, sebuah pesan untuk kawanku.
Aku mulai menyusuri aliran sungai yang indah ini. Ketika sudah cukup lelah, aku mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat dan melihat kelanjutan kisah ini. Bagaimanapun, aku cukup penasaran dengan apa yang sedang direncanakan oleh Cyra.  

--- ooo ---

Keesokan harinya, Cyra sedang duduk menghabiskan sarapannya bersama Mami di ruang makan. Dan Abi seperti biasa, pagi hari di akhir pekan adalah waktu olahraga bagi Abi. Sejak pukul lima tadi Abi sudah keluar rumah untuk lari pagi. Cyra memang belum pernah mengikuti Abi lari pagi, karena rute yang dipakai Abi untuk lari pagi cukup jauh, dan Cyra belum cukup kuat untuk lari sejauh itu.
Sedangkan Aland, sejak pukul enam tadi sudah berpakaian rapi dan pergi dengan sepeda motornya.
“Mami, Kak Aland pergi kemana?” Sejak kejadian hari Selasa, ini untuk pertama kalinya Cyra menanyakan tentang Aland kepada Mami.
Ooo Kak Aland, ada kegiatan di masjid dekat kampus Kak Aland dulu. Nanti siang sudah pulang kok kata Kak Aland,” jawab Mami sambil tersenyum dan menatap wajah Cyra.
“Tidak biasanya Cyra menanyakan Kak Aland pergi kemana, akhir-akhir ini Cyra biasanya tidak mau tahu Kak Aland sedang kemana, ada yang mau Cyra ceritakan ke Mami?” Mami mulai menggoda Cyra.
Ah, tidak ada apa-apa kok. Oiya Mi, Cyra mau telepon Anis dulu ya Mi. Kemarin sore Cyra pulang terburu-buru, padahal Cyra belum membantu Anis merapikan rumahnya setelah mengerjakan tugas.” Cyra masih belum ingin membahas tentang Aland dan segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Kebetulan Kak Aland sedang pergi dan Abi juga belum pulang. Aku penasaran ingin menanyakan tentang kejadian kemarin kepada Anis,” pikir Cyra.
“Iya boleh, sarapannya segera dihabiskan dulu.” Nada suara Mami tedengar kecewa, karena ia berharap putri bungsunya itu akan menceritakan apa yang ia sembunyikan darinya. Mami merasa akhir-akhir ini Cyra agak berubah dan jarang bercerita ke Mami. Padahal Cyra adalah anak yang selalu meramaikan rumah, baik dengan cerita-ceritanya ataupun tingkah lakunya yang menggemaskan. Ya, bagi Mami, Cyra masih menjadi anak yang lucu dan menggemaskan.
Setelah Cyra menyelesaikan sarapannya dan segera beranjak ke ruang tengah, raut muka Mami mendadak sedih. Mami memandang Cyra dari ruang makan. Dilihatnya Cyra sedang asyik berbincang dengan temannya melalui telepon rumah.
“Cyra memang sudah beranjak remaja, rasa keingintahuannya semakin besar, dan perasaannya pun mulai sensitif.” Hanya itu yang ada di dalam pikiran Mami.
Mami segera membereskan ruang makan dan dapur, ia harus mengalihkan perhatiannya, ia tidak ingin berlarut dengan suasana perasaannya saat ini.
Hei Cyra, tidak biasanya kamu meneleponku sepagi ini, di hari libur pula. Apa ada tugas pekerjaan rumah yang ingin kamu tanyakan?” suara dari seberang telepon terdengar menggoda Cyra.
“Anis, sahabatku yang baik hati, waktuku tidak banyak nih untuk bercanda di telepon, kamu tahu sendiri alasannya. Sekarang segera kamu ceritakan saja keadaan di rumahmu setelah aku pulang kemarin.” Cyra sedang tidak ingin bercanda, dan mengajak lawan bicaranya di telepon untuk serius menjawab pertanyannya.
Ok, baik. Kamu ingat ketika pertama bertemu dengan Firda, dan dia berpikir pernah melihatmu?”
“Iya aku ingat, kenapa?” Cyra menjawab singkat.
“Nah, dia juga mengatakan hal yang serupa tentang Abimu. Dia berpikir pernah melihat Abi. Ini tentu sangat menarik bukan?, sang target merasa pernah melihat penyelidik bahkan Abinya juga.”
Hmm menurutku biasa saja. Lalu bagaimana lanjutan pertemuanku dengannya?, apa sudah kau rencakan?, kapan?” Cyra memberikan pertanyaan beruntun dengan merendahkan nada suaranya
Ah, kamu tidak memiliki kepekaan jiwa detektif. Ok, sepertinya kamu tidak bisa berbicara di telepon lama-lama. Aku akan ceritakan kejadiannya kemarin.” Anis menangkap sinyal bahwa ada pihak lain yang sedang mendekati posisi Cyra saat ini, dan tentu Cyra tidak ingin pihak lain itu mengetahui isi perbincangan ini. Anis pun melanjutkan ceritanya.
“Jadi setelah kamu pulang, aku meminta Firda untuk mengingat-ingat kapan dan dimana dia pernah melihatmu dan Abi. Tapi selang beberapa waktu dia belum juga dapat menemukan jawabannya. Kemudian aku menanyakan tentang rencana pertemuan kalian selanjutnya. Awalnya dia ingin hari ini, dia sudah tak sabar ingin melanjutkan kisah serial Princess Hania itu. Lalu aku jawab kalau sekolah kita hari Sabtu libur. Kemudian dia ingin hari Senin, lalu aku jawab lagi kalau hari Senin kita ada pelajaran tambahan khusus untuk kelas enam, dan itu sampai sore hari. Aku katakan kalau kamu tidak mungkin main ke rumahku sesore itu karena rumahmu jauh dan orangtuamu mungkin tidak akan mengijinkan.”
“Iya betul, lalu?” Cyra menanggapi dengan singkat.
“Iya lalu aku katakan hari Selasa saja, sepulang sekolah nanti kamu akan ke rumahku lagi membawakan buku-buku serial Princess Hania untuknya. Sudah sekian ceritanya, dia setuju lalu kembali pulang ke rumah neneknya. Oiya Cyra, hari Selasa itu kamu bawakan seri ketiga sampai kelima dulu saja, jangan langsung semuanya, sehingga akan ada alasan untuk pertemuan selanjutnya.”
Hah?, kenapa masih harus diperlambat?, kita sudah berkenalan cukup baik. Jadi sepertinya aku bisa langsung menanyakan tentang tujuanku.” Suara Cyra masih terdengar setengah berbisik.
“Tunggu dulu, mungkin masih memerlukan dua atau tiga pertemuan lagi untuk langsung membahas ke pokok tujuan kita. Ikuti saja rencanaku ya.”
“Ya sudah, aku setuju. Sudah dulu ya, sampai ketemu besok Senin di sekolah. Jangan lupa matematika ada tugas.” Nada suara Cyra sudah kembali normal.
Hahaha, seharusnya aku yang mengingatkanmu, jangan sampai lupa lagi mengerjakan tugas matematika. Di sampingmu ada Abi atau Kak Aland ya?” Anis tertawa, lebih tepatnya menertawakan Cyra.
“Kamu tahu saja. Sudah ya, assalamu’alaikum.” Cyra menjawabnya datar dan segera menyudahi perbincangan itu.
“Iya, wa’alaikumussalam.” Anis menjawab salam sambil masih tertawa.
Kedua anak remaja tanggung itu bersamaan menutup gagang telepon di tempatnya. Cyra melihat Mami masih duduk di ruang makan menemani Abi yang sedang sarapan. Mami dan Abi sedang berbincang cukup serius. Keduanya tak ada yang melihat ke arah Cyra setelah Cyra menyudahi pembicaraannya di telepon.
“Baguslah, Abi dan Mami sedang serius ngobrol. Mereka tidak akan mencurigai pembicaraanku di telepon dengan Anis tadi.” Cyra bergumam dalam hati.
Sesaat kemudian Cyra menyalakan televisi. Tak ada siaran yang menarik, pikir Cyra setelah menekan tombol remote televisi beberapa kali. Pandangannya kembali ke arah Abi dan Mami yang masih berbincang serius di ruang makan.
Cyra cukup penasaran dengan apa yang diperbincangkan Abi dan Mami. Mungkin saja Abi dan Mami sedang membicarakannya. Tanpa pikir panjang ia beranjak dari depan televisi menuju ruang makan.
Cyra menyapa Abi, “Lari pagi sampai mana Bi?, rute lama atau rute baru?” tanya Cyra sambil membuka kaleng biskuit di meja makan.
“Ya rute baru dong, supaya pemandangannya berbeda” jawab Abi sambil tersenyum kepada Cyra.
Oiya Cyra, kamu ingin pergi ke toko buku?, sepertinya sudah cukup lama Kak Aland tidak mengajakmu ke toko buku ya?”
Mau banget, kok Abi tahu sih yang Cyra harapkan?” Cyra menutup kaleng biskuitnya, menatap ke arah Abi penuh semangat. “Kapan Bi?, sekarang?” Cyra bertanya antusias.
“Hari ini Abi tidak bisa, besok juga Abi ada acara,”
Raut muka Cyra berubah seketika, “Lalu kenapa tadi Abi mengajak Cyra?”.
Abi tersenyum, “Abi kan tidak mengajak, hanya bertanya. Kalau kamu mau, besok bisa temani Mami pergi ke toko buku. Nanti Abi titip uang ke Mami untuk membelikan buku yang kamu inginkan, bagaimana?”.
Cyra langsung menoleh ke arah Mami, sedangkan Mami hanya membalas tersenyum.
Cyra kembali berbicara kepada Abi, “Abi, sejak kapan Mami mau pergi ke toko buku?, biasanya juga kalau mengajak Cyra ke pasar atau supermarket atau salon”.
“Sejak Cyra mau menemani Mami,” Abi menjawab singkat.
Cyra beralih bicara kepada Mami, “Mami benar ingin ke toko buku?, memang Mami mau cari buku apa?”.
“Iya, ada buku yang ingin Mami cari. Kalau bersama Cyra tentu lebih mudah mendapatkan buku yang Mami cari itu. Cyra mau kan menemani Mami?” Mami tersenyum membujuk Cyra.
“Siap Mami. Besok Cyra siap mengantar nyonya Mami pergi ke toko buku.” Cyra memberi sikap hormat dan tersenyum lebar.
Abi dan Mami tertawa. “Sudah sana sekarang Cyra mandi dulu, selesai sarapan kok malah asyik menelepon teman,” kata Abi sambil berpura-pura menutup hidungnya.
Ok”, tanpa pikir panjang Cyra segera berbalik badan menuju kamar mandi sebelum Abi melanjutkan pertanyaannya tentang perbincangannya tadi di telepon.
“Abi, apa yang kita lakukan ini baik untuk Cyra?” Mami bertanya kepada Abi, setelah memastikan putri bungsunya itu masuk ke kamar mandi. Ada sedikit keraguan dalam pertanyaan Mami.
“Semoga waktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini ke Cyra segera datang, Abi juga tidak ingin berlama-lama menyembunyikan hal ini dari Cyra. Cyra juga harus segera tahu tentang rencana kakaknya.” Abi mencoba meyakinkan keraguan Mami.
“Lalu kenapa sampai sekarang Cyra masih belum diberitahu?”
“Ini permintaan Aland. Aland masih belum siap memberi tahu tentang hal ini kepada adiknya. Dalam pandangan Abi, itu karena Aland sangat menyayangi Cyra. Abi juga akan mengingatkan Aland untuk tidak menunda-nunda lagi berterus terang ke Cyra.”

Mami mengangguk perlahan, mencoba untuk memahami jawaban Abi.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar