Kisah ini berasal dari sebuah rumah
petak berukuran lima kali tujuh meter di salah satu kota besar di Indonesia.
Ghani namanya, seorang laki-laki desa dengan perawakannya yang santun dan
sangat mencintai istri satu-satunya. Ia kini terdampar dalam profesi seorang
guru demi meneruskan perjuangan ayahnya. Namun, bukan menjadi seorang guru lah
cita-cita Ghani, melainkan seorang programmer. Saat ini, sambil terus merajut
cita-citanya, ia tetap bertanggungjawab pada profesi gurunya, juga pada
keluarga kecilnya.
Suatu hari, Ghani menemui kawan
lamanya saat di SMU, seorang pengusaha sukses d kota itu. Alhasil dari
pertemuan itu, Ghani mendapatkan uang yang ia inginkan dan laptopnya pun tergadaikan
di tangan kawan lamanya. Laptop itu menjadi satu-satunya harta yang masih ia
harapkan akan membawanya kepada cita-citanya. Dari uang itu ia akan segera
membayar sewa rumah dan membelikan sesuatu untuk istrinya.
Dua hari setelah itu, malam yang ia
nanti-nantikan pun datang. Jauh dari yang ia bayangkan, tidak ia sangka apa
yang ia berikan benar-benar dapat membuat istrinya bahagia, dan sejatinya
kebahagiaan yang ia rasakan jauh melampaui kebahagiaan sang istri.
Malam itu, setelah sholat maghrib
berjamaah, Ghani berdiri di luar pintu rumahnya. Ia tak sabar menanti
pesanannya datang. Satu jam kemudian, mobil bak yang membawa paket besar
pesanannya itu pun datang ke rumah petaknya. Sambil menunggu istrinya yang
masih sibuk di dapur, ia meletakkan paket besar itu di samping pintu. Sesuai
dengan posisi yang ia bayangkan, karena tidak mudah menyimpan barang besar di
rumah petaknya itu. Ia tak sabar menanti istrinya datang dan menanyakan apa isi
paket besar itu sambil tersenyum dan menahan rasa bahagia di wajah cantiknya.
Sesaat kemudian, istrinya datang ke
ruang depan dengan membawa satu piring besar.
“Malam ini kita makan istimewa Mas, coba lihat apa isi
piring ini.”
Ada lobster dengan saus special, menu ini adalah
favoritnya, namun jarang ia dapatkan dalam menu makan di rumahnya, karena ia
sadar uang belanja untuk istrinya tentu sangat terbatas.
“Tadi siang Bu Tun, tetangga yang rumahnya di ujung
gang ini memberikan lobster mentah, katanya habis panen besar. Eh Mas, itu ada
dus besar apa?”
Ia hampir lupa dengan kejutan untuk istrinya gara-gara
efek menggiurkan dari lobster masakan istrinya.
“Kita habiskan isi piring besar ini dulu, baru
kemudian adik boleh membuka dus besar itu, kalau sudah dingin jadi tidak enak
nanti.” Istrinya pun mengikuti ajakannya.
Namun, istrinya tidak pernah benar-benar
memakan lobster masakannya itu. Ia mempunyai alergi tingkat tinggi terhadap
makhluk udang besar itu, memegangnya pun sudah membuat tangannya gatal-gatal.
Tapi itu ajaibnya, ini kali ketiga dia memasakkan suaminya lobster, dan sudah
tiga kali itu ia sangat bahagia melihat suaminya makan sampai habis tiga piring
dengan senyuman khasnya yang selalu ia rindukan.
Acara makan malam pun selesai, dan
Ghani pun tidak pernah benar-benar tahu bahwa istrinya tidak pernah mencicipi
menu favoritnya itu. Saatnya dia yang memberikan kejutan untuk istrinya, ia
meminta istrinya untuk membuka dus besar itu.
Jauh melampaui bayangannya, ia
melihat sinar bahagia dan mata yang berbinar dari wajah cantik istrinya setelah
istrinya membuka dus besar itu. Ia mendapat pelukan dari istrinya, hal yang
sangat jarang istrinya lakukan pada dirinya.
“Terimakasih Mas, barang ini yang sudah jadi impian
adik sejak sekolah dulu. Terimakasih Mas.. terimakasih,” ucap istrinya jelas
dengan menahan haru.
Satu bulan kemudian, rumah petak
itu semakin terasa sempit dengan gulungan-gulungan kain, benang berwarna-warni
dan tentu mesin jahit pemberian Ghani. Hanya memerlukan waktu satu bulan,
lulusan SMK jurusan busana itu sudah menambah pundi-pundi penghasilan Ghani.
Begitulah bahagia, saling membahagiakan
dengan saling mengorbankan itu bukan suatu masalah dibandingkan dengan
kebahagiaan yang tercipta dari sepasang kekasih. Istri Ghani tak perlu tahu
dari mana suaminya memiliki uang untuk membelikannya mesin jahit. Begitu juga
Ghani tak perlu tahu bagaimana kesusahan istrinya setiap memasak lobster menu
favoritnya. Hanya kebahagiaan dari membahagiakan sang kekasih, itulah yang
mereka ketahui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar