Selasa, 05 April 2016

Bahagia dengan Membahagiakan


Kisah ini berasal dari sebuah rumah petak berukuran lima kali tujuh meter di salah satu kota besar di Indonesia. Ghani namanya, seorang laki-laki desa dengan perawakannya yang santun dan sangat mencintai istri satu-satunya. Ia kini terdampar dalam profesi seorang guru demi meneruskan perjuangan ayahnya. Namun, bukan menjadi seorang guru lah cita-cita Ghani, melainkan seorang programmer. Saat ini, sambil terus merajut cita-citanya, ia tetap bertanggungjawab pada profesi gurunya, juga pada keluarga kecilnya.
Suatu hari, Ghani menemui kawan lamanya saat di SMU, seorang pengusaha sukses d kota itu. Alhasil dari pertemuan itu, Ghani mendapatkan uang yang ia inginkan dan laptopnya pun tergadaikan di tangan kawan lamanya. Laptop itu menjadi satu-satunya harta yang masih ia harapkan akan membawanya kepada cita-citanya. Dari uang itu ia akan segera membayar sewa rumah dan membelikan sesuatu untuk istrinya.
Dua hari setelah itu, malam yang ia nanti-nantikan pun datang. Jauh dari yang ia bayangkan, tidak ia sangka apa yang ia berikan benar-benar dapat membuat istrinya bahagia, dan sejatinya kebahagiaan yang ia rasakan jauh melampaui kebahagiaan sang istri.
Malam itu, setelah sholat maghrib berjamaah, Ghani berdiri di luar pintu rumahnya. Ia tak sabar menanti pesanannya datang. Satu jam kemudian, mobil bak yang membawa paket besar pesanannya itu pun datang ke rumah petaknya. Sambil menunggu istrinya yang masih sibuk di dapur, ia meletakkan paket besar itu di samping pintu. Sesuai dengan posisi yang ia bayangkan, karena tidak mudah menyimpan barang besar di rumah petaknya itu. Ia tak sabar menanti istrinya datang dan menanyakan apa isi paket besar itu sambil tersenyum dan menahan rasa bahagia di wajah cantiknya.
Sesaat kemudian, istrinya datang ke ruang depan dengan membawa satu piring besar.
“Malam ini kita makan istimewa Mas, coba lihat apa isi piring ini.”
Ada lobster dengan saus special, menu ini adalah favoritnya, namun jarang ia dapatkan dalam menu makan di rumahnya, karena ia sadar uang belanja untuk istrinya tentu sangat terbatas.
“Tadi siang Bu Tun, tetangga yang rumahnya di ujung gang ini memberikan lobster mentah, katanya habis panen besar. Eh Mas, itu ada dus besar apa?”
Ia hampir lupa dengan kejutan untuk istrinya gara-gara efek menggiurkan dari lobster masakan istrinya.
“Kita habiskan isi piring besar ini dulu, baru kemudian adik boleh membuka dus besar itu, kalau sudah dingin jadi tidak enak nanti.” Istrinya pun mengikuti ajakannya.
Namun, istrinya tidak pernah benar-benar memakan lobster masakannya itu. Ia mempunyai alergi tingkat tinggi terhadap makhluk udang besar itu, memegangnya pun sudah membuat tangannya gatal-gatal. Tapi itu ajaibnya, ini kali ketiga dia memasakkan suaminya lobster, dan sudah tiga kali itu ia sangat bahagia melihat suaminya makan sampai habis tiga piring dengan senyuman khasnya yang selalu ia rindukan.
Acara makan malam pun selesai, dan Ghani pun tidak pernah benar-benar tahu bahwa istrinya tidak pernah mencicipi menu favoritnya itu. Saatnya dia yang memberikan kejutan untuk istrinya, ia meminta istrinya untuk membuka dus besar itu.
Jauh melampaui bayangannya, ia melihat sinar bahagia dan mata yang berbinar dari wajah cantik istrinya setelah istrinya membuka dus besar itu. Ia mendapat pelukan dari istrinya, hal yang sangat jarang istrinya lakukan pada dirinya.
“Terimakasih Mas, barang ini yang sudah jadi impian adik sejak sekolah dulu. Terimakasih Mas.. terimakasih,” ucap istrinya jelas dengan menahan haru.
Satu bulan kemudian, rumah petak itu semakin terasa sempit dengan gulungan-gulungan kain, benang berwarna-warni dan tentu mesin jahit pemberian Ghani. Hanya memerlukan waktu satu bulan, lulusan SMK jurusan busana itu sudah menambah pundi-pundi penghasilan Ghani.
Begitulah bahagia, saling membahagiakan dengan saling mengorbankan itu bukan suatu masalah dibandingkan dengan kebahagiaan yang tercipta dari sepasang kekasih. Istri Ghani tak perlu tahu dari mana suaminya memiliki uang untuk membelikannya mesin jahit. Begitu juga Ghani tak perlu tahu bagaimana kesusahan istrinya setiap memasak lobster menu favoritnya. Hanya kebahagiaan dari membahagiakan sang kekasih, itulah yang mereka ketahui.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar