![]() |
| Darul Arqam in my memory |
Enam tahun di Darul
Arqam (DA) bagi saya itu merupakan salah satu fase hidup. Ketika baru masuk
menjadi santri baru, saya berpikir sepertinya saya akan menjalani sisa hidup
hanya di pondok tersebut (padahal saat itu masih berusia 11 tahun). Tapi
pikiran tersebut menjadi penyesalan di tahun terakhir saya di DA, karena justru
enam tahun saya di pondok bukan menjalani sisa hidup namun masa karantina (ini
bahasa saya). Sejauh mana seorang alumni DA menjadi “orang” kemungkinan besar
dipengaruhi oleh enam tahun masa karantina tersebut. Pernah saya mencoba
mencari foto saya saat sebelum masuk DA dan setelah lulus dari DA, saya sangat
yakin bahwa hal yang membentuk diri saya sehingga berbentuk seperti saat ini yaitu
karena kehidupan masa karantina tersebut. Coba teman-teman melakukan hal
seperti itu bahkan sampai identifikasi diri mulai dari hal yang kecil, seperti
makanan kesukaan dan yang tidak disukai.
Contohnya : sebelum masuk DA saya
sangat anti dengan telur asin dan telur ceplok setengah matang, hasil setelah
enam tahun yaitu saat ini saya sangat hobi makan telur asin dan lebih suka
masak telur ceplok setengah matang. Setelah identifikasi yang teman-teman
lakukan itu tentu akan menghasilkan suatu persepsi yang berbeda-beda dari
masing-masing alumni untuk memaknai masa enam tahun di Darul Arqam.
Saya ingin sedikit
berbagi cerita, ketika saya mulai melakukan identifikasi tersebut. Saya mencoba
mengingat-ingat masa enam tahun itu. Kenangan yang masih membekas yaitu
masa-masa ketika sudah menjadi santri aliyah, karena di masa itu saya merasa
menjadi santri yang “bener-bener”, karena menurut saya santri yang “bener-bener”
itu santri yang menamatkan waktunya selama enam tahun, bagaimanapun hasilnya. Ingatan
saya terhenti ketika mencoba mengingat kejadian-kejadian saat kelas 1
tsanawiyah, tidak banyak hal mengesankan yang saya ingat, hanya beberapa
kejadian yang tiba-tiba muncul dalam ingatan saya. Kejadian-kejadian itu
mungkin tidak cukup mengesankan, tapi saya berpikir kejadian tersebut hanya
akan dialami seorang santri baru Darul Arqam.
Pertama. Saat saya
masih kelas 1 tsanawiyah, asrama putri kelas 1 berhadap-hadapan dengan kelas 6.
Setiap hari kami dihadapkan dengan keseharian kakak kelas 6 yang jauh berbeda
dengan keseharian kami, tentu saja karena kami masih santri baru yang polos dan
belum tahu apa-apa. Suatu sore saya pergi mandi, karena melihat di komplek
kamar mandi kelas 1 banyak yang sudah antri akhirnya saya pergi ke komplek
kamar mandi aliyah, sebenarnya tidak ada batasan yang jelas karena kakak kelas
aliyah juga sering berada di komplek kami. Kebetulan ada yang kosong dan saya
langsung masuk, belum ada 3 menit di kamar mandi sudah ada yang mengetuk pintu
kamar mandi yang saya perkirakan itu suara kakak kelas 6. Pertanyaan pertama :
“masih lama?”, saya jawab “ baru masuk”, ada nada keluhan dari luar, pertanyaan
kedua : “berapa bata?”, saya diam, pertanyaan kedua itu terulang lagi “berapa
bata?”, dalam hati saya berkata sungguh saya belum pernah mendengar soal yang
mempertanyakan hitungan seperti ini, pertanyaan itu kembali datang dengan nada
sedikit emosi dan terus berulang dengan ditambahi sedikit kata-kata kasar dalam
bahasa sunda dan terdengar tertawaan dari orang-orang diluar. Akhirnya saya
memilih untuk segera keluar dari kamar mandi, dan saya pun keluar dengan kepala
tertunduk, ingin rasanya menangis. Sampai di asrama, saya bercerita kepada
teman-teman, dan ternyata beberapa teman juga pernah mengalami hal serupa
meskipun dengan kejadian yang berbeda. Setahun kemudian ketika tahun ajaran
baru, penempatan asrama putri berubah, asrama santri baru berhadap-hadapan
dengan asrama kami, saya tidak tahu apakah perubahan itu ada pengaruh dari
keluhan-keluhan kami kepada pembina.
Kedua. Jika anda
pecinta binatang kodok disinilah tempatnya, kodok bisa ditemui dimana-mana, di
kamar mandi, di jalanan, di depan asrama, bahkan kodok bisa iseng masuk asrama
hingga membuat geger seluruh penghuni asrama. Masih di kelas 1 tsanawiyah, saya
pernah memiliki rutinitas yang sangat tidak menarik. Bersama dengan seorang
teman, selepas makan malam, kami pergi ke daerah rumah-rumah pembina. Kami
menyusuri selokan sambil sesekali mengendap ke halaman rumah pembina, untuk
menangkap kodok. Ya, ada kepuasan tersendiri ketika kami melihat kodok lalu
mengejarnya dan mencarinya hingga kami dapat menangkapnya (tentu tidak dengan
tangan telanjang) dan memasukkannya ke dalam kantong keresek. Setelah puas
mendapatkan 1 atau 2 kodok, kami bawa ke depan asrama dan memberi “kejutan”
kepada teman yang akan masuk asrama. Jika boleh jujur, saat ini saya cukup
merasa jijik dengan kodok, maka setelah saya mengingat-ingat kejadian itu saya
berpikir apakah ada sisi lain dari diri saya yang masih tersembunyi sampai saat
ini.
Ketiga. Darul Arqam
cocok untuk aktivitas uji nyali, tentu bukan santri DA yang belum pernah
mendengar cerita misteri tentang DA. Masih di kelas 1 tsanawiyah, seorang teman
memiliki ide untuk mengadakan uji nyali, beberapa teman tertarik, saya tidak
cukup mengerti apa tujuannya, tapi bagi saya yang penting saya ingin
menunjukkan bahwa saya pemberani. Kami pun menyepakati untuk rute lokasi uji
nyali yaitu hanya mengelilingi setengah luas pondok, mulai dari sebelah kelas 3
putri (sekarang jadi asrama putri) terus menyusuri jalan ke belakang pondok,
melalui laboratorium komputer, dapur, jemuran asrama putri, lalu menyusuri
jalan rumah pembina sampai masuk kembali jalan menuju asrama. Waktu uji nyali
dimulai setelah pelajaran malam selesai, yaitu pukul 21.00. Uji nyali perdana
hanya diikuti tidak lebih dari 10 orang, lalu kami mulai berjalan menyusuri
jalan, bulu kuduk kami mulai berdiri ketika melewati jalanan belakang pondok,
tapi kami sudah sepakat bahwa tidak boleh seorang pun lari, dan akhirnya kami
sukses membuktikan bahwa kami santri baru pemberani yang tidak percaya terhadap
gosip-gosip murahan tentang “jurig”.
Tentu masih banyak
kejadian-kejadian yang tidak akan anda temui ketika saling bertukar cerita
dengan saudara, teman kuliah, teman kantor yang tidak melewati masa enam
tahunnya di Darul Arqam. Beruntunglah para alumni Darul Arqam. J
(wita-angkatan 11
putri Darul Arqam)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar