Senin, 04 April 2016

Menjadi Santri Baru di Darul Arqam

Darul Arqam in my memory
Enam tahun di Darul Arqam (DA) bagi saya itu merupakan salah satu fase hidup. Ketika baru masuk menjadi santri baru, saya berpikir sepertinya saya akan menjalani sisa hidup hanya di pondok tersebut (padahal saat itu masih berusia 11 tahun). Tapi pikiran tersebut menjadi penyesalan di tahun terakhir saya di DA, karena justru enam tahun saya di pondok bukan menjalani sisa hidup namun masa karantina (ini bahasa saya). Sejauh mana seorang alumni DA menjadi “orang” kemungkinan besar dipengaruhi oleh enam tahun masa karantina tersebut. Pernah saya mencoba mencari foto saya saat sebelum masuk DA dan setelah lulus dari DA, saya sangat yakin bahwa hal yang membentuk diri saya sehingga berbentuk seperti saat ini yaitu karena kehidupan masa karantina tersebut. Coba teman-teman melakukan hal seperti itu bahkan sampai identifikasi diri mulai dari hal yang kecil, seperti makanan kesukaan dan yang tidak disukai.
Contohnya : sebelum masuk DA saya sangat anti dengan telur asin dan telur ceplok setengah matang, hasil setelah enam tahun yaitu saat ini saya sangat hobi makan telur asin dan lebih suka masak telur ceplok setengah matang. Setelah identifikasi yang teman-teman lakukan itu tentu akan menghasilkan suatu persepsi yang berbeda-beda dari masing-masing alumni untuk memaknai masa enam tahun di Darul Arqam.
Saya ingin sedikit berbagi cerita, ketika saya mulai melakukan identifikasi tersebut. Saya mencoba mengingat-ingat masa enam tahun itu. Kenangan yang masih membekas yaitu masa-masa ketika sudah menjadi santri aliyah, karena di masa itu saya merasa menjadi santri yang “bener-bener”, karena menurut saya santri yang “bener-bener” itu santri yang menamatkan waktunya selama enam tahun, bagaimanapun hasilnya. Ingatan saya terhenti ketika mencoba mengingat kejadian-kejadian saat kelas 1 tsanawiyah, tidak banyak hal mengesankan yang saya ingat, hanya beberapa kejadian yang tiba-tiba muncul dalam ingatan saya. Kejadian-kejadian itu mungkin tidak cukup mengesankan, tapi saya berpikir kejadian tersebut hanya akan dialami seorang santri baru Darul Arqam. 
Pertama. Saat saya masih kelas 1 tsanawiyah, asrama putri kelas 1 berhadap-hadapan dengan kelas 6. Setiap hari kami dihadapkan dengan keseharian kakak kelas 6 yang jauh berbeda dengan keseharian kami, tentu saja karena kami masih santri baru yang polos dan belum tahu apa-apa. Suatu sore saya pergi mandi, karena melihat di komplek kamar mandi kelas 1 banyak yang sudah antri akhirnya saya pergi ke komplek kamar mandi aliyah, sebenarnya tidak ada batasan yang jelas karena kakak kelas aliyah juga sering berada di komplek kami. Kebetulan ada yang kosong dan saya langsung masuk, belum ada 3 menit di kamar mandi sudah ada yang mengetuk pintu kamar mandi yang saya perkirakan itu suara kakak kelas 6. Pertanyaan pertama : “masih lama?”, saya jawab “ baru masuk”, ada nada keluhan dari luar, pertanyaan kedua : “berapa bata?”, saya diam, pertanyaan kedua itu terulang lagi “berapa bata?”, dalam hati saya berkata sungguh saya belum pernah mendengar soal yang mempertanyakan hitungan seperti ini, pertanyaan itu kembali datang dengan nada sedikit emosi dan terus berulang dengan ditambahi sedikit kata-kata kasar dalam bahasa sunda dan terdengar tertawaan dari orang-orang diluar. Akhirnya saya memilih untuk segera keluar dari kamar mandi, dan saya pun keluar dengan kepala tertunduk, ingin rasanya menangis. Sampai di asrama, saya bercerita kepada teman-teman, dan ternyata beberapa teman juga pernah mengalami hal serupa meskipun dengan kejadian yang berbeda. Setahun kemudian ketika tahun ajaran baru, penempatan asrama putri berubah, asrama santri baru berhadap-hadapan dengan asrama kami, saya tidak tahu apakah perubahan itu ada pengaruh dari keluhan-keluhan kami kepada pembina.
Kedua. Jika anda pecinta binatang kodok disinilah tempatnya, kodok bisa ditemui dimana-mana, di kamar mandi, di jalanan, di depan asrama, bahkan kodok bisa iseng masuk asrama hingga membuat geger seluruh penghuni asrama. Masih di kelas 1 tsanawiyah, saya pernah memiliki rutinitas yang sangat tidak menarik. Bersama dengan seorang teman, selepas makan malam, kami pergi ke daerah rumah-rumah pembina. Kami menyusuri selokan sambil sesekali mengendap ke halaman rumah pembina, untuk menangkap kodok. Ya, ada kepuasan tersendiri ketika kami melihat kodok lalu mengejarnya dan mencarinya hingga kami dapat menangkapnya (tentu tidak dengan tangan telanjang) dan memasukkannya ke dalam kantong keresek. Setelah puas mendapatkan 1 atau 2 kodok, kami bawa ke depan asrama dan memberi “kejutan” kepada teman yang akan masuk asrama. Jika boleh jujur, saat ini saya cukup merasa jijik dengan kodok, maka setelah saya mengingat-ingat kejadian itu saya berpikir apakah ada sisi lain dari diri saya yang masih tersembunyi sampai saat ini.
Ketiga. Darul Arqam cocok untuk aktivitas uji nyali, tentu bukan santri DA yang belum pernah mendengar cerita misteri tentang DA. Masih di kelas 1 tsanawiyah, seorang teman memiliki ide untuk mengadakan uji nyali, beberapa teman tertarik, saya tidak cukup mengerti apa tujuannya, tapi bagi saya yang penting saya ingin menunjukkan bahwa saya pemberani. Kami pun menyepakati untuk rute lokasi uji nyali yaitu hanya mengelilingi setengah luas pondok, mulai dari sebelah kelas 3 putri (sekarang jadi asrama putri) terus menyusuri jalan ke belakang pondok, melalui laboratorium komputer, dapur, jemuran asrama putri, lalu menyusuri jalan rumah pembina sampai masuk kembali jalan menuju asrama. Waktu uji nyali dimulai setelah pelajaran malam selesai, yaitu pukul 21.00. Uji nyali perdana hanya diikuti tidak lebih dari 10 orang, lalu kami mulai berjalan menyusuri jalan, bulu kuduk kami mulai berdiri ketika melewati jalanan belakang pondok, tapi kami sudah sepakat bahwa tidak boleh seorang pun lari, dan akhirnya kami sukses membuktikan bahwa kami santri baru pemberani yang tidak percaya terhadap gosip-gosip murahan tentang “jurig”.
Tentu masih banyak kejadian-kejadian yang tidak akan anda temui ketika saling bertukar cerita dengan saudara, teman kuliah, teman kantor yang tidak melewati masa enam tahunnya di Darul Arqam. Beruntunglah para alumni Darul Arqam. J

(wita-angkatan 11 putri Darul Arqam)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar