Selasa, 01 Maret 2016

Chapter 2 : Bertemu Ahli Masak


Hari Ahad.
Satu jam sebelum adzan shubuh berkumandang, Aland menghabiskan waktunya duduk berdiam diri di atas sajadahnya. Sajadah yang tidak pernah keluar dari kamarnya karena itu sajadah kesukaannya. Tubuh Aland hanya duduk terdiam, namun otak dan hatinya terus bekerja untuk memanjatkan segala doa yang Aland pinta kepada Sang Penggenggam Jiwa Manusia.
Aland melaksanakan sholat tahajud sebelas rakaat. Ia selalu merasa bahwa ia tidak pandai berdoa, ia merasa takut jika doa yang ia panjatkan berlebihan atau menyinggung kekuasaan Allah atau bahkan doanya itu memaksa kehendak-Nya.
Ya Allah...
Hanya kepadaMu kami berserah diri,
Hanya kepadaMu kami memohon pertolongan,
Hanya kepadaMu kami menggantungkan hidup kami,
Ya Allah...
Tuntunlah kami kepada jalan Mu yang lurus,
Jalan yang Engkau ridhoi,
Jalan orang-orang beriman,
Jalan orang-orang yang mencintaiMu dan RosulMu,
Jalan orang-orang yang senantiasa menyerukan agamaMu,
Ya Allah...
Jauhkanlah kami dari bisikan dan godaan setan,
Jagalah hati kami, pikiran kami, lisan kami, penglihatan kami, pendengaran kami, penciuman kami, tangan, kaki dan seluruh tubuh kami dari perbuatan sia-sia yang menjerumuskan kami kepada jalan yang sesat,
Ya Allah...
Masukkanlah kami ke dalam barisan orang-orang mukmin yang senantiasa menebar kebajikan dan nilai manfaat di muka bumi-Mu ini,
Jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang memberikan goresan dalam sejarah memperjuangkan agamaMu,
Ya Allah...
Kami hanya manusia lemah yang memiliki niatan suci,
Niat suci itu tidak akan terlaksana tanpa ijin dan kehendakMu,
Ya Allah...
Kami hanya makhluk tanpa daya yang memiliki tekad untuk mengikuti sunnah RosulMu,
Sunnah yang diikuti oleh Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah, Utsman bin Affan dengan Ruqayyah, dan para sahabat serta keturunan Rasulullah SAW,
Ya Allah...
Ampunilah dosa-dosa kami, dosa orangtua kami, dosa keluarga kami, dan dosa kaum muslimin yang senantisa beriman kepadaMu.
Tutuplah rapat-rapat aib kami, jadikan itu sebagai pecut bagi kami dalam meningkatkan amal ibadah kami dan menjauhkan diri dari kemaksiatan.
Allahummaghfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayani soghiroo.

Doa-doa itu senantiasa Aland ucapkan berulang kali hingga adzan shubuh berkumandang. Setelah itu Aland melipat sajadah dan mukenanya untuk berwudhu.
Aland punya kewajiban untuk mengajak Mami dan Cyra sholat shubuh berjamaah di rumah, bukan karena Mami sering bangun kesiangan, namun Abi yang memberikan tanggungjawab tersebut kepada Aland sejak usianya menginjak 17 tahun. Aland senantiasa diingatkan oleh Abi bahwa saatnya nanti Aland juga akan menjadi seperti Mami yang memikul tanggungjawab besar.
Setelah kembali mengenakan mukena, Aland mengetuk kamar Mami, terdengar sayup suara Mami sedang mengaji.
Mi.., Aland sudah siap,” Aland mengajak Mami sambil sedikit membuka pintu kamar Mami.
“Cyra juga sudah siap?” Mami mencoba mengingatkan bahwa membangunkan Cyra juga tanggungjawab Aland.
“Belum Mi, sudah berkali-kali diketuk belum juga bangun, tumben juga kamarnya dikunci. Coba Mami yang bangunkan,” Aland meminta bantuan Mami.
Mami menggelengkan, “Biarkan dia sesekali menyesali perbuatannya, Mami yakin dia sudah cukup terbiasa bangun tepat waktu kecuali jika tadi malam dia tidur larut. Kita berjamaah berdua saja.” Mami memberikan tanggapan yang tepat bagi Aland, karena Aland harus segera pergi setelah sholat shubuh.
“Iya Mi..” kemudian Aland segera menyusul Mami menuju musholla.

--- ooo ---

“Abi, Mami, Aland pamit dulu. Aland mohon doa dari Abi dan Mami.” Setelah berpamitan dengan Abi dan Mami, Aland langsung keluar rumah menuju depan komplek untuk kemudian pergi ke rumah sahabatnya dengan menumpang angkot. Aland sengaja tidak berpamitan dengan Cyra karena ia tidak ingin Cyra melihat kakaknya bermata sembap bekas menangis semalam.
Selama di perjalanan Aland mencoba menghilangkan raut tangisannya semalam, ia hanya memakai alas bedak dan bedak untuk mencerahkan wajahnya. Ia ingin tampil terbaik di momen yang baginya sangat bersejarah ini.
Tiga puluh menit perjalanan, Aland sampai di rumah sahabatnya, Tara. Tara adalah sahabat Aland sejak di bangku SMU. Tara yang mengenalkan Aland untuk berjilbab dengan baik dan benar. Sebelum masuk SMU, Aland memakai jilbab hanya untuk ke sekolah saja karena SMU-nya adalah sekolah Islam. Setelah bertemu Tara, Aland sadar bahwa jilbab bukan hanya untuk bersekolah saja.
Wah...temanku yang jago ontime ini sekarang malah ga ontime,” Tara menyambut Aland di depan rumahnya, kebetulan Tara sedang menyapu teras rumahnya.
Hei...aku tidak telat,” Aland membela diri sambil memeriksa jam di tangannya.
“Iya.., tapi kamu terlalu ontime, 30 menit sebelum waktu yang dijanjikan,” Tara dan Aland tertawa. Memang betul Aland janji untuk ke rumah Tara pukul 06.30 sedankan sekarang masih pukul 06.00.
“Jadi jangan salahkan aku, kalau aku belum siap-siap. Ayo tunggu di kamarku saja” Tara menggandeng Aland yang masih tersenyum malu. Aland memang tidak ingin terlambat semenit pun untuk momen bersejaranhnya ini.
Di rumah itu, Tara tinggal dengan kakak laki-lakinya yang telah berkeluarga namun belum dikaruniai anak. Orangtua Tara tinggal di desa, Tara memilih untuk tinggal bersama dengan kakaknya di kota karena ia ingin bersekolah dengan kualitas pendidikan yang baik.
Oiya Tara, Kak Akbar dan Kak Anggi ada?, tadi aku beli empat bungkus bubur ayam di depan komplek, tentu kamu belum sarapan kan?, ini bubur ayam untuk Kak Akbar dan Kak Anggi, dan kau bawakan dua mangkok untuk kita ya,” Aland memberikan dua bungkus bubur ayam kepada Tara, kemudian Aland masuk ke kamar Tara.
Wah...kebetulan Kak Anggi memang belum menyiapkan sarapan. Tunggu di kamar ya, biar kubawakan mangkok untuk kita sarapan,” Tara begegas ke dapur.
Yuk sarapan dulu.., kita akan tepat pergi dari sini jam 06.30,” Tara segera menuangkan bubur ayam ke dalam mangkok.
“Tara, rumahnya itu jauh ga sih?, dulu pernah dua kali rapat diadakan di rumahnya, tapi kebetulan sekali dua kali itu aku sedang berhalangan tidak dapat ikut rapat,” Aland menunjukkan rasa ingin tahunya sambil terus menyantap bubur ayam.
Hmmm sekitar 20 menit dari sini, nanti kamu hafalkan sendiri saja jalanny ya,” Tara menjawab singkat sambil tersenyum.
Oiya Tara, saranmu itu sangat dahsyat,” Aland memuji sahabatnya.
“Saran yang mana?”
“Itu yang kamu sarankan untuk tidak menyimpan nomor hp-nya dan pantang untuk tanya ke orang lain. Meskipun sebulan ini kita sudah dipertemukan tiga kali, tapi tetap saja kalau sudah sampai di rumah rasanya ada saja yang ingin kutanyakan lagi padanya. Bayangkan saja kalau aku simpan nomor hp-nya mungkin awalnya aku hanya ingin tahu satu hal saja, tapi bagaimana jika dia ingin tahu dua hal, lalu aku akan menjawab dan bertanya, dan tidak akan pernah selesai. Aku sadar bahwa baik aku maupun dia belum benar kuat-kuat dapat menjaga hati ini, namun alhamdulillah ak punya sahabat sepertimu.” Aland memang hanya bisa menceritakan kisah ini ke Tara yang telah cukup memahami watak dan kepribadian Aland.
“Sudah, kalau kamu mulai cerita lagi kita tidak akan berangkat sampai nanti siang. Cepat habiskan bubur ayamnya,” Tara memberikan tanggapan yang tidak memuaskan bagi Aland, tapi memang harus segera disudahi. Aland dan Tara harus segera pergi melaksanakan misi selanjutnya.
Setelah Aland menghabiskan bubur ayamnya, ia bergegas pergi ke dapur untuk mencuci mangkok meskipun Tara mencegahnya. Seelah itu ia kembali masuk ke kamar Tara untuk memastikan penampilannya sudah cukup sempurna, berkali-kali dia membenahi jilbabnya.

--- ooo ---

Tiba di sebuah permukiman di perbatasan antara Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. Tara menghentikan sepeda motornya di depan mulut gang, ia mengeluarkan hp-nya.
Tara, kok berhenti disini?, kamu lupa alamatnya?” Aland bertanya sedikit cemas.
“Tenang saja, aku hanya ingin memastikan saudaraku sudah sampai di tempat tujuan,” Tara menjawab kecemasan Aland dengan santai. Tara memang meminta saudaranya untuk menemani pertemuan ini. Dua kali pertemuan selama sebulan ini juga dibantu oleh Tara dan Rian, saudaranya.
Ya, pertemuan Aisya Alandia dengan Adnan Abdurrahman.
Pertemuan pertama, keinginan Adnan untuk bertemu Aland. Aland adalah salah satu anggota organisasi yang dipimpin oleh Adnan. Pertemuan pertama tersebut bukan untuk membahas organisasi melainkan berlatarbelakang hasrat yang mengganggu Adnan lima bulan terakhir ini. Hasrat yang ingin segera Adnan sampaikan karena khawatir dengan kepergian Aland setelah mengundurkan diri dari organisasi yang dipimpinnya saat itu. Adnan mengajak bertemu Aland seorang diri, namun Aland tetap mengajak Tara. Pertemuan pertama berlangsung di perpustakaan kampus, selama 45 menit. Cukup singkat memang, karena Adnan adalah lelaki yang senang berterus terang.
“Alhamdulillah, tidak perlu saya ragukan, saya percaya bahwa Aland tidak akan datang seorang diri. Terimakasih ya Tara, sudah mau menemani Aland atas ajakan saya.” Adnan membuka pertemuan pertama itu dengan sangat mantap, sekali memandang Aland kemudian beralih ke Tara kemudian berakhir di jari-jemarinya yang ia gerak-gerakkan di atas meja.
“Iya, saya memang tidak meminta ijin Kak Adnan untuk mengajak Tara disini, Insya Allah Tara adalah sahabat saya yang sangat saya percaya. Ada perlu apa ya Kak?, Apa ada yang bisa Aland bantu?” Aland sangat percaya diri. Aland mengajak Tara bukan karena dia pemalu tapi Aland tidak ingin timbul fitnah dan itu sudah dipahami oleh Tara.
“Lima bulan terakhir ini ada satu nama yang selalu saya lihat di daftar hadir rapat. Jika nama itu menghadiri rapat, maka saya lebih semangat dalam memimpin rapat. Saya sadar kepengurusan ini akan berakhir di bulan ini, dan saya khawatir tidak dapat menemukan nama itu lagi, nama yang selalu membuat saya semangat. Akhirnya, dua hari yang lalu saya memutuskan untuk merencanakan pertemuan dengannya, mengungkapkan seluruh apa yang ada dalam pikiran saya kepada seorang perempuan yang memiliki nama itu. Dan Alhamdulillah detik ini pemilik nama itu berada di depan saya. Saya bermaksud untuk ber-ta’aruf dengan Dik Aland.” Adnan menyelesaikan kalimatnya dengan desahan perlahan dan tersenyum lega, sekali lagi memandang diri Aland kemudian kembali beralih ke jari-jemarinya.
Perlu waktu enam puluh detik untuk menjawab kalimat Adnan. Aland tidak ragu bahwa pemilik nama yang dimaksud Adnan itu adalah dirinya, tentu bukan Tara yang tidak ikut organisasi bersama Adnan dan Aland.
“Aland sangat menghargai pertemuan ini, pun maksud dari pertemuan ini. Aland belum dapat menanggapi maksud Kak Adnan tadi. Beri waktu bagi Aland untuk mempertimbangkannya.” Aland terdengar yakin menjawab meskipun terdengar banyak jeda di antara kalimatnya. Aland mengarahkan pandangan sepenuhnya ke Tara, dan Tara paham maksud pandangan itu. 
“Kak Adnan, Insya Allah akan ada pertemuan setelah ini. Sahabat saya tentu tidak ingin menzhalimi orang lain dengan menggantungkan jawaban. Waktunya belum dapat dipastikan, tapi saya akan segera kabari Kak Adnan setelah Aland menyepakati waktunya. Oiya, Kak Adnan dekat dengan Mas Rian?” Tara beralih menjadi pengatur acara di pertemuan itu.
“Iya cukup dekat, teman sejurusan, kebetulan teman main di taekwondo juga. Ada apa?” Adnan singkat menjawab pertanyaan Tara.
“Mas Rian itu kakak sepupu saya. Jika pertemuan selanjutnya mengajak Mas Rian, apa Kak Adnan keberatan?. Supaya saya tidak terkesan menjadi mak comblang, rencana selanjutnya akan saya komunikasikan dengan Mas Rian. Bagaimana kak?” Tara memberikan saran yang melegakan Aland. Supaya Tara tidak berkomunikasi langsung dengan Adnan.
“Oke. Tidak masalah. Nanti saya akan sampaikan pertemuan ini ke Rian.
Tara tersenyum ke Aland, seperti memahami pikirannya. Aland membalas tersenyum lebar. Tara mengetahui perasaan sahabatnya, tanpa Aland memberikan jawaban pun senyuman lebar Aland menyiratkan hatinya yang sedang berbunga.
Perbincangan selanjutnya berkisar topik organisasi. Lima belas menit kemudian pertemuan pertama itu selesai. Hasil dari pertemuan pertama itu Tara meminta Adnan untuk menghapus nomor hp Aland dan begitu juga kepada Aland untuk menghapus nomor hp Adnan. Tara tahu untuk urusan organisasi mereka dapat berkomunikasi melalui buku pesan yang disimpan di sekretariat.
Pertemuan kedua, terjadi pada dua pekan setelah pertemuan pertama. Pertemuan yang direncanakan oleh Tara dan Rian. Berlokasi di perpustakaan fakultas, hanya berlangsung sekitar 30 menit. Adnan dan Aland membawa biodata, pas foto serta foto keluarga masing-masing untuk saling ditukarkan.
Untuk urusan foto, Aland sengaja minta agar menggunakan pas foto, sebelumnya Aland dibuat bingung berhari-hari hanya karena foto macam apa yang akan ia berikan kepada Adnan. Akhirnya ia putuskan menggunakan pas foto yang tanpa ekspresi raut muka. Di pertemuan kedua ini Aland meminta komitmen Adnan untuk menyegerakan proses ini. Aland menyadari perasaannya kepada Adnan sudah mulai bersemi sejak dua pekan lalu. Aland tidak memungkiri sejak dirinya bergabung di organisasi itu, Aland sudah mengagumi sosok Adnan. Selama ini Aland berhasil menutup rasa kagumnya kepada Adnan, namun hari ini tepat dua pekan sejak Adnan mengutarakan niatnya kepada Aland, seketika itu rasa kagum Aland kepada Adnan tumbuh dan terus berkembang menjadi rasa yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kalimat. Hanya dengan permintaan komitmen kepada Adnan, itu menjadi ungkapan rasa yang terpendam di dalam hati Aland.
Pertemuan ketiga, direncanakan dua pekan setelah pertemuan kedua. Pertemuan yang diajukan oleh Adnan di hari Ahad ini, yaitu pertemuan keluarga Adnan dengan Aland. Sesungguhnya itu murni keinginan ibunda Adnan. Adnan pun tak dapat menolak untuk menyegerakan proses ta’aruf ini dan berlanjut ke proses selanjutnya. Ya, di hari Ahad ini ibunda Adnan ingin berkenalan dengan Aland, Aland yang telah menyiapkan dirinya dengan penampilan terbaiknya untuk bertemu calon keluarganya, Aland yang mengenakan gamis cantik biru muda.
Ternyata Mas Rian sudah sampai di rumah Kak Adnan,” Tara menggoda Aland yang sepertinya sedang melamun. “Sudah siapkah anda?, mari kita segera menuju rumah Bapak Adnan,” Tara terus menggoda Aland yang terlihat tegang.
“Tara, apa saja yang nanti aku harus bicarakan dengan ibunya?, ibunya galak ga ya?” Pikiran Aland terus menerawang di atas motor Tara yang terus melaju.
“Anggap saja kamu akan bertemu ibuku, kamu tidak akan setegang ini kan tentunya,” Tara menjawab santai sambil mencari-cari rumah yang dituju.
Hmm.. Sudah sejak sepekan lalu pikiranku dipenuhi dengan bayangan pertemuan nanti, bagaimana bisa aku mendadak mengganti pemeran dalam bayangan itu,” Ketegangan Aland sudah mulai mencair. Tara tertawa kecil.
Sepuluh menit perjalanan dari mulut gang tadi, sampailah Aland dan Tara di depan rumah yang dituju. Adnan dan Rian sudah berdiri menunggu di halaman rumahnya yang cukup lapang. Selepas Aland membuka helmnya, ia langsung mendapatkan sambutan dan senyum hangat dari Adnan yang membuat kecepatan detakan jantungnya meningkat. Namun ia segera menunduk.
“Assalamu’alaikum,” Tara memasuki halaman rumah diikuti Aland dibelakangnya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Adnan dan Rian bersamaan.
“Mas Adnan, Mba Aland sudah datang?” tiba-tiba dari dalam rumah keluar seorang anak berlari menghampiri Adnan, kemudian memperhatikan sosok Aland dari atas sampai bawah. Anak itu berjalan mendekati Aland.
“Ini Mba Aland ya?, tidak beda jauh dengan fotonya, Mba Aland cantik,” kata anak itu dengan malu-malu.
Aland tersenyum, kemudian sedikit membungkuk, dan menjulurkan tangan mengajak anak itu bersalaman. “Iya, ini Mba Aland, adik manis ini siapa namanya?” Aland tersenyum hangat, dengan berpura-pura menanyakan nama adik itu yang sebenarnya ia sudah tahu dari foto keluarga yang diberikan Adnan dua pekan lalu, di foto itu juga tertulis namanya.
“Namaku Firda, Mas Adnan ini om-ku, semalam sengaja menginap di sini, karena Ummi bilang kalau Mba Aland mau ke sini pagi-pagi. Firda penasaran sama Mba Aland, kemarin Mas Adnan cuma ngeliatin fotonya Mba Aland saja,” Firda terus terang cerita kepada Aland. Aland hanya tersenyum, di hatinya semakin berbunga mendengar sambutan dari Firda.
“Sudah Firda, ngobrolnya nanti lagi. Mba Aland dan Mba Tara masuk ke dalam dulu,” Adnan menegur Firda dengan lembut, kemudian mengajak Aland dan Tara masuk rumah.
“Ummi, ini tamu yang Ummi tunggu sudah datang,” Adnan tersenyum, setengah berteriak memanggil Ibunya yang sedang ada di dapur. Aland tetap menunduk malu, sempat dua detik melirik Adnan karena penasaran ingin melihat ekspresi raut muka Adnan atas kedatangan dirinya.

--- ooo ---

“Dik Aland bantu Ummi masak di dapur yuk, Dik Tara juga boleh kalau mau bantu, kebetulan nanti siang ada arisan di rumah jadi Ummi harus masak dari pagi,” Ummi menggandeng tangan Aland yang masih duduk, Aland pun segera berdiri mengikuti ajakan Ummi, diikuti Tara.
Sebelumnya, perkenalan di ruang tamu itu hanya berlangsung sekitar 15 menit. Ummi menanyakan tentang aktivitas Aland dan keluarga Aland. Setelah itu Ummi ingin mengenal lebih dalam diri Aland dengan mengajaknya memasak.
Memasak, hal itu sama sekali diluar dugaan Aland. Aland hanya berpikir obrolan apa yang akan ia perbincangkan dengan Ummi. Hal itu benar-benar membuatnya berkeringat dingin. Ia sangat jarang berada di dapur. Ia akan memasak ketika ada Mami di dapur, artinya ia hanya mampu membantu Mami memasak. Mami sangat pandai memasak, namun belum ia manfaatkan secara maksimal untuk menumbuhkan kemampuan masaknya.
Aland mengalami kesulitan di saat momen istimewanya, yaitu bertemu dengan calon pemimpinnya dan calon ibu mertuanya. Ia tidak pernah membayangkan akan sesulit ini pertemuan ketiga dengan Adnan. Saat itu, dirinya sangat panik ketika berjalan mengikuti Ummi ke dapur, Ia menengok ke arah Tara, ia tahu sahabatnya itu sangat pandai memasak, Tara sering memasak bersama kakak iparnya. Terbersit di hatinya khawatir jika Ummi lebih senang kepada Tara, namun Tara selalu memahami perasaannya.
“Tetap santai ya, dekati Ummi, aku juga ga bisa masak,” Tara berbisik kepada Aland, Aland tersenyum.
“Ummi, mau masak apa untuk arisan nanti?” Aland mencoba mencairkan suasana hatinya yang tegang, lalu menghampiri Ummi yang sedang membersihkan daun pisang.
“Ummi kalau masak sendiri begini, masak yang gampang-gampang saja, nasi kuning sama goreng tempe kering. Aland bisa masak kan?, ini bantu Ummi potongin tempe dulu ya,” Ummi memberikan tiga bungkus tempe besar.
Sebelum Aland menjawab, tiba-tiba Adnan masuk ke dapur menghampiri Ummi.
Mi, masaknya masih lama kan?, Adnan mau pergi ke pameran komputer dulu sama Ryan, Firda juga mau ikut,” Adnan meminta ijin kepada Ummi.
“Iya, ya ga akan sampai selepas dhuhur, kan acaranya nanti siang, makanya biar Aland bantu Ummi disini dulu ya,” Jawab Ummi dengan tangan tetap sibuk.
Sip, Aland senang masak kok Mi, kalau belum bisa diajarin saja,” Adnan tersenyum sambil memeluk Ummi dari belakang dan melirik ke arah Aland. Aland tersenyum tapi lebih terlihat senyuman terpaksa.
“Adnan pergi dulu ya Ummi, Aland, Tara,” Adnan pamit sambil berlalu meninggalkan dapur.
“Ummi, daun pisangnya untuk apa?” Aland mulai mengakrabkan diri dengan Ummi, sambil terus memotong tempe, Tara membantu mengupas bawang.
“Oiya ini untuk kreasi aja, nanti nasi kuningnya dibungkus dengan daun pisang, jadi bentuknya seperti nasi timbel,” Ummi tersenyum.
“Kalau tempenya sudah dipotong-potong mulai digoreng aja, harus cukup lama biar sampai kering,” Ummi tidak segan mengajari Aland, dan begitu juga Aland tidak canggung untuk belajar dan bertanya. Ummi sedang menyiapkan bumbu nasi kuning, Aland dan Tara bekerjasama membuat goreng tempe kering, Aland sangat bersyukur disampingnya ada Tara yang sedari tadi membantu Aland agar tidak gagap masak.
Setelah nasi kuning tanak dan goreng tempe kering sudah selesai, Ummi mendinginkan nasi kuning kemudian dibantu Aland dan Tara memotong-motong daun pisang untuk bungkus nasi kuning.
Sesekali Ummi bertanya kepada Aland tentang kehidupan keluarga Aland, namun lebih banyak bercerita tentang keluarganya, dan hal itu yang sangat ditunggu Aland.
“Aland, bersyukur ya masih ada Ayah dan Ibu, Adnan sudah ditinggal ayahnya ketika awal kuliah. Kakak-kakaknya semua sudah menikah, apa yang ada di rumah ini semua milik Adnan. Tabungannya mungkin menipis karena dikeluarkan untuk membiayai isi rumah ini meskipun Ummi tidak minta. Makanya Ummi sarankan agar Adnan segera menikah agar hasil jerih payahnya dimanfaatkan oleh keluarga kecilnya, bukan hanya untuk mengurus Ummi. Alhamdulillah sekarang ada Aland,” Ummi menatap Aland dan tersenyum kepadanya, sambil tangannya tetap terus bekerja membungkus nasi kuning.
Pada awalnya, Aland tidak lihai merekatkan ujung daun pisangnya. Namun ia terus memperhatikan tangan Ummi yang cekatan dan akhirnya ia berhasil membuat kedua ujungnya tertutup rapat.
Tanpa perlu menunggu tanggapan Aland, Ummi terus melanjutkan ceritanya.
“Sejak SD Adnan suka membuat cerpen juga cerita bersambung, ia ikut di berbagai lomba kepenulisan, setiap uang yang didapatkan dari hasil lomba ia kumpulkan. Lalu di usia 10 tahun Adnan sudah membuka rekening di Bank yang membolehkan anak SD memiliki tabungan. Ia masukkan uang-uang hasil lomba tadi di rekening itu. Setelah saldonya mencukupi, ia membuat kartu ATM dan menyerahkannya ke Ummi. Awalnya Ummi menolak karena sebenarnya uang pensiunan ayah mencukupi kehidupan Ummi dan Adnan. Saat itu ketiga kakaknya sudah hidup mandiri. Kesungguhan Adnan yang membuat Ummi tidak bisa menolak. Uang di dalam ATM itu jarang Ummi gunakan, hanya untuk kebutuhan biaya masuk sekolah waktu itu yang cukup tinggi. Saatnya nanti Ummi berikan untuk kehidupan kalian. Sejak SMP dia rutin menjadi penulis cerbung di surat kabar lokal, setiap bulan ia masukkan penghasilannya ke rekening tersebut, sampai sekarang,” Ummi menghentikan ceritanya ketika bungkusan nasi kuning juga telah selesai.
Oiya Ummi lupa belum beli dusnya, minta tolong belikan ke Adnan saja. Aland tolong sampaikan ke Adnan ya, tolong belikan dus makan 2 lusin sekaligus tisu makannya jug,a” Ummi cukup panik, karena saat itu sudah hampir masuk waktu dhuhur.
“Tokonya dimana Mi?, biar Aland saja yang belikan, Tara kan bawa motor,” Aland mencoba menawarkan alternatif lain setelah ia sadar tidak menyimpan nomor hp Adnan.
“Toko dusnya jauh, ga ada yang dekat sini. Coba hubungi Adnan saja dulu, barangkali dia sudah mau pulang,” Ummi tetap meminta Aland menghubungi Adnan.
Tara menghampiri Aland dan berbisik,Nih pake hp ku saja, telpon ke nomor Mas Rian.” Tara memberikan hp nya, kemudian Aland menghubungi ke nomor Rian.
“Wa’alaikumussalam, Kak Rian bisa bicara dengan Kak Adnan?” Aland terdengar ragu akan berbicara di telepon dengan Adnan. Sejak di organisasi pun Aland tidak pernah berkomunikasi langsung dengan ketuanya itu hanya sebatas lewat sms saja, apalagi sejak pertemuan pertama itu Aland bahkan tidak lagi pernah berkirim sms dengan Adnan.
“Assalamu’alaikum, ini Adnan, ada apa ya?” terdengar suara Adnan lantang di seberang telepon.
“Ini Aland kak, Kak Adnan sedang dimana?, tadi Ummi minta Kak Adnan untuk membelikan dus makanan,” Aland mencoba mengeraskan suaranya dengan lantang.
Saya sudah mau pulang dari pameran, Ummi minta dibelikan berapa lusin dik?” Nada suara Adnan berubah.
“Ummi minta dibelikan 2 lusin, sekalian tisu makannya juga. Ummi minta segera ya Kak, karena acaranya setelah sholat dhuhur nanti,” Jawab Aland masih dengan suara datar.
“Siap, saya segera pulang. Bagaimana belajar masaknya bareng Ummi?” Adnan mencoba memperlebar arah pembicaraan.
“Alhamdulillah baik. Sudah ya Kak. Ummi minta Kak Adnan segera pulang. Assalamu’alaikum,” Aland berusaha menegaskan suaranya, meskipun sisi lain hatinya juga ingin terus berbincang dengan Adnan.
Oh iya. Wa’alaikumussalam,” kemudian Adnan langsung menutup sambungan teleponnya.
Aland menghembuskan nafas lega, kemudian menatap Tara. Tara membalas dengan senyuman kepada sahabatnya itu.
Aland melanjutkan pekerjaan di dapur, mencuci piring dan membersihkan dapur bersama Tara. Ummi sedang menyeduh teh.
“Dik Aland dan Dik Tara, maaf ya jadi direpotin sama Ummi. Nanti siang masih disini kan?, bantuin Ummi ya,” Ummi tersenyum, sedikit memohon kepada Aland.
“Sama sekali ga ngerepotin Ummi, Aland seneng kok, jadi belajar masak juga. Iya Mi, InsyaAllah Aland sama Tara masih disini nanti siang,” Aland membalas senyuman kepada Ummi.
“Sudah adzan dhuhur, kita jamaah sholat dhuhur dulu di sini ya. Jadi nanti Adnan datang, kita bisa langsung memasukkan nasi kuning dengan lauk dan lalapannya di dus,” Ummi menggandeng lengan Aland. Aland merasa salah tingkah. Ummi sosok ibu yang sangat lembut, namun dari sosoknya yang lembut itu juga telah berhasil mendidik putra putrinya menjadi orang sukses. Tanpa Aland sadari muncul benih rasa sayang dalam diri Aland terhadap Ummi, mendahului rasa sayang kepada calon suaminya.

--- ooo ---

Sore hari, setelah Aland dan Tara ikut membereskan rumah, Aland pamit kepada Ummi dan Adnan.
“Ummi, Kak Adnan, Dik Firda, Aland pamit pulang dulu ya. Semoga silaturrahmi ini dapat terus berlanjut. Maafkan Aland ya Mi kalau Aland ada salah ucap dan perbuatan. Hari ini Aland banyak belajar dari Ummi,” Aland tersenyum lebar kepada Ummi.
Ummi melingkarkan tangan kanannya di atas bahu Aland.
“Ummi juga terimakasih sama Dik Aland dan Dik Tara, jauh-jauh kesini malah disuruh Ummi bantuin masak. Tadi teman-teman arisan Ummi bilang goreng tempenya enak lho,” Ummi mencoba menggoda putra bungsunya tentang hasil masakan Aland.
Padahal koki utamanya itu Tara, Aland membatin dan tetap tersenyum.
“Kapan-kapan main kesini lagi ya Dik Aland, nanti pas anak-anak dan cucu-cucu Ummi lagi ngumpul disini, biar Adnan juga bisa ngenalin Dik Aland ke kakak-kakaknya yang lain ya,Tangan kanan Ummi semakin erat memeluk bahu Aland.
“Iya Mi, InsyaAllah,” Aland tidak tahu harus menanggapi dengan pernyataan apa atas ajakan Ummi tadi.
“Pokoknya Mba Aland harus main kesini lagi ya, nanti Firda kenalkan dengan adik kecil Firda, namanya Farid,” Firda memperlihatkan raut wajah memaksa kepada Aland.
“Iya, InsyaAllah. Kami pulang dulu ya,” Aland mencium tangan Ummi, lalu Ummi memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri. Kemudian ia bersalaman dengan Firda, diikuti Tara dibelakangnya.
Adnan dan Rian turut mengantarkan Aland dan Tara sampai di gerbang rumah.
“Dik Aland, Terimakasih ya, sudah bersedia menyediakan waktu untuk Ummi,” Adnan tersenyum dengan sekilas menatap mata Aland.
Aland mengangguk kemudian segera menaiki motor, duduk di belakang Tara dan mengucapkan salam kepada Adnan.
Sepanjang perjalanan Aland hanya diam, ia tidak tahu harus mulai dari mana membagi perasaan bahagianya dengan Tara. Tara yang telah menemaninya melalui momen-momen bahagia.
“Tara, besok malam kamu ada waktu?, jika Mami mengijinkan aku ingin menginap di rumahmu, banyak yang ingin kuceritakan,” Aland mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Tara yang sedang melajukan motornya cukup kencang.
“Bisa, tapi nanti aku minta ijin ke Mas Akbar dulu ya, besok pagi akan kukabari kau,” Tara sedikit menoleh ke belakang agar jawabannya didengar oleh Aland.
“Ok, kutunggu kabarnya ya. Nanti aku diturunkan di perempatan depan itu saja, ada jalur angkot yang langsung menuju rumah. Makasih ya Tara,” Aland mengarahkan jarinya ke depan agar terlihat oleh Tara.
“Ok, siap.” Tara mengangguk.

--- ooo ---

Aku tersenyum sendiri, ada getaran bahagia. Mungkin perasaan bahagia Aland merambat ke dalam diriku. Senyumanku masih terkembang, namun aku juga kebingungan kenapa banyak nama di cerita tadi. Aku masih sulit mengingat banyak nama. Kenapa Aland bertemu banyak orang di hari itu. Aku mencoba mengingat lagi nama-nama itu, ada Tara, Adnan, Rian, Ummi, Firda dan juga Farid. Tapi dari sekian banyak nama itu aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang Tara dan Adnan. Siapa Tara, kenapa dia selalu mengerti perasaan Aland. Dan siapa juga Adnan, namanya mirip dengan Aland, dia juga selalu membuat Aland tertunduk malu.
Aku mencari temanku yang selalu kaya dengan informasi yang aku butuhkan. Dan aku menemukannya di taman kota.
Hai..aku sedang memerlukan bantuanmu,” Aku menyapa temanku yang sedang duduk sendiri.
“Ada apa?, kau pasti ingin mengetahui informasi tentang nama-nama yang disebutkan dalam cerita itu bukan?” Temanku itu menjawab datar, namun tepat sasaran sesuai dengan yang aku pikirkan. Aku tersenyum, ternyata aku juga punya teman yang selalu mengerti perasaanku.
“Iya betul sekali, aku kesulitan mengingat nama, aku hanya ingin tahu tentang Tara dan Adnan. Siapa mereka berdua itu?” Aku menunjukkan rasa penasaranku.
“Tapi maaf, aku tidak tahu tentang yang kau tanyakan. Dan kupikir kau tidak perlu tahu sekarang, kau akan lebih baik mengetahui di waktu yang tepat, dan waktu itu akan datang sendiri padamu,” Dia tidak memberikan jawaban yang kuharapkan, aku sedikit kecewa.
“Kenapa?” Aku sedikit memaksa kepadanya.
“Karena aku pun tak tahu jawaban dari pertanyaanmu itu. Jadi kupikir lebih baik kau ikuti saja alur ceritanya, hingga kau menemukannya didalam dirimu.
Aku sulit mencerna kata-katanya. Sebelum aku ingin mengajukan pertanyaan lagi, dia sudah berlalu pergi meninggalkanku.
Ya sudahlah, aku pun tak tahu harus kemana lagi untuk mendapatkan jawabannya. Adnan Abdurrahman, siapakah dirimu?, yang membuat Aland tidak berani menatap wajahmu, yang membuat lidahnya kelu ketika berbincang denganmu, dan satu lagi yang belum berhasil kutangkap yaitu perasaannya kepadamu. Aku belum memahami sepenuhnya. Aku hanya berharap semoga kau adalah lelaki yang sanggup melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang lelaki dan juga seorang ayah .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar