Hari Ahad.
Satu jam sebelum adzan
shubuh berkumandang, Aland menghabiskan waktunya
duduk berdiam diri di atas sajadahnya.
Sajadah yang tidak
pernah keluar dari kamarnya karena itu sajadah kesukaannya. Tubuh Aland hanya duduk terdiam,
namun otak dan hatinya terus bekerja untuk memanjatkan segala doa yang Aland
pinta kepada Sang Penggenggam
Jiwa Manusia.
Aland melaksanakan
sholat tahajud sebelas rakaat. Ia
selalu merasa bahwa ia tidak pandai berdoa, ia merasa takut jika doa yang ia
panjatkan berlebihan atau menyinggung kekuasaan Allah atau bahkan doanya itu
memaksa kehendak-Nya.
Ya
Allah...
Hanya
kepadaMu kami berserah diri,
Hanya
kepadaMu kami memohon pertolongan,
Hanya
kepadaMu kami menggantungkan hidup kami,
Ya
Allah...
Tuntunlah
kami kepada jalan Mu yang lurus,
Jalan
yang Engkau ridhoi,
Jalan
orang-orang beriman,
Jalan
orang-orang yang mencintaiMu dan RosulMu,
Jalan
orang-orang yang senantiasa menyerukan agamaMu,
Ya
Allah...
Jauhkanlah
kami dari bisikan dan godaan setan,
Jagalah
hati kami, pikiran
kami, lisan kami, penglihatan kami, pendengaran kami, penciuman kami, tangan,
kaki dan seluruh tubuh kami dari perbuatan sia-sia yang menjerumuskan kami
kepada jalan yang sesat,
Ya
Allah...
Masukkanlah
kami ke dalam barisan orang-orang mukmin yang senantiasa menebar kebajikan dan
nilai manfaat di muka bumi-Mu ini,
Jadikanlah
kami bagian dari orang-orang yang memberikan goresan dalam sejarah
memperjuangkan agamaMu,
Ya
Allah...
Kami
hanya manusia lemah yang memiliki niatan suci,
Niat
suci itu tidak akan terlaksana tanpa ijin dan kehendakMu,
Ya
Allah...
Kami
hanya makhluk tanpa daya yang memiliki tekad untuk mengikuti sunnah RosulMu,
Sunnah
yang diikuti oleh Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah, Utsman bin Affan dengan
Ruqayyah, dan para sahabat serta keturunan Rasulullah SAW,
Ya
Allah...
Ampunilah
dosa-dosa kami, dosa orangtua kami, dosa keluarga kami, dan dosa kaum muslimin
yang senantisa beriman kepadaMu.
Tutuplah
rapat-rapat aib kami, jadikan itu sebagai pecut bagi kami dalam meningkatkan amal ibadah kami dan
menjauhkan diri dari kemaksiatan.
Allahummaghfirlii
wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayani soghiroo.
Doa-doa itu senantiasa
Aland ucapkan berulang kali hingga adzan shubuh berkumandang. Setelah itu Aland
melipat sajadah dan mukenanya untuk berwudhu.
Aland punya kewajiban
untuk mengajak Mami dan Cyra sholat shubuh berjamaah di rumah, bukan karena Mami
sering bangun kesiangan, namun
Abi yang memberikan tanggungjawab tersebut
kepada Aland sejak usianya menginjak
17 tahun. Aland senantiasa
diingatkan oleh Abi bahwa saatnya nanti Aland juga akan menjadi seperti Mami yang
memikul tanggungjawab besar.
Setelah kembali
mengenakan mukena, Aland mengetuk kamar Mami, terdengar sayup suara Mami sedang
mengaji.
“Mi.., Aland sudah siap,”
Aland mengajak Mami sambil sedikit membuka pintu kamar Mami.
“Cyra juga sudah siap?”
Mami mencoba mengingatkan bahwa membangunkan Cyra juga tanggungjawab Aland.
“Belum Mi, sudah berkali-kali diketuk belum
juga bangun, tumben juga kamarnya dikunci.
Coba Mami yang bangunkan,”
Aland meminta bantuan Mami.
Mami menggelengkan, “Biarkan dia sesekali
menyesali perbuatannya, Mami
yakin dia sudah cukup terbiasa bangun tepat waktu kecuali jika tadi malam dia
tidur larut. Kita berjamaah berdua saja.”
Mami memberikan tanggapan yang tepat bagi Aland, karena Aland harus segera pergi
setelah sholat shubuh.
“Iya Mi..” kemudian Aland segera menyusul Mami menuju musholla.
---
ooo ---
“Abi, Mami, Aland pamit
dulu. Aland mohon doa dari Abi dan Mami.”
Setelah berpamitan dengan Abi dan Mami, Aland langsung keluar rumah menuju
depan komplek untuk kemudian pergi ke rumah sahabatnya dengan menumpang angkot.
Aland sengaja tidak berpamitan dengan Cyra karena ia tidak ingin Cyra melihat
kakaknya bermata sembap bekas menangis semalam.
Selama di perjalanan Aland mencoba menghilangkan
raut tangisannya semalam, ia hanya memakai alas bedak dan bedak untuk
mencerahkan wajahnya. Ia
ingin tampil terbaik di momen yang baginya sangat bersejarah ini.
Tiga puluh menit
perjalanan, Aland
sampai di rumah sahabatnya, Tara.
Tara adalah sahabat Aland sejak di bangku SMU. Tara yang mengenalkan Aland
untuk berjilbab dengan baik dan benar. Sebelum masuk SMU, Aland memakai jilbab
hanya untuk ke sekolah saja karena SMU-nya adalah sekolah Islam. Setelah
bertemu Tara, Aland sadar bahwa jilbab bukan hanya untuk bersekolah saja.
“Wah...temanku yang jago ontime
ini sekarang malah ga ontime,”
Tara menyambut Aland di depan rumahnya, kebetulan Tara sedang menyapu teras
rumahnya.
“Hei...aku tidak telat,”
Aland membela diri sambil memeriksa jam di tangannya.
“Iya.., tapi kamu terlalu ontime, 30 menit sebelum waktu
yang dijanjikan,”
Tara dan Aland tertawa. Memang betul Aland janji untuk ke rumah Tara pukul
06.30 sedankan sekarang masih pukul
06.00.
“Jadi jangan salahkan
aku, kalau aku belum siap-siap. Ayo tunggu di kamarku saja” Tara menggandeng
Aland yang masih tersenyum malu. Aland memang tidak ingin terlambat semenit pun
untuk momen bersejaranhnya
ini.
Di rumah
itu, Tara tinggal dengan kakak laki-lakinya yang telah
berkeluarga namun belum dikaruniai anak. Orangtua Tara tinggal di desa, Tara
memilih untuk tinggal bersama dengan kakaknya di kota karena ia ingin
bersekolah dengan kualitas pendidikan yang baik.
“Oiya Tara, Kak Akbar dan Kak Anggi ada?, tadi aku beli empat
bungkus bubur ayam di depan komplek, tentu kamu belum sarapan kan?, ini bubur ayam untuk Kak Akbar dan
Kak Anggi, dan kau bawakan dua mangkok untuk kita ya,” Aland memberikan dua
bungkus bubur ayam kepada Tara, kemudian Aland masuk ke kamar Tara.
“Wah...kebetulan Kak Anggi memang belum menyiapkan sarapan. Tunggu di
kamar ya, biar kubawakan mangkok untuk kita sarapan,” Tara begegas ke dapur.
“Yuk sarapan dulu.., kita akan tepat pergi dari sini jam 06.30,” Tara segera menuangkan bubur ayam
ke dalam mangkok.
“Tara, rumahnya itu jauh ga sih?, dulu pernah dua kali rapat diadakan di rumahnya, tapi
kebetulan sekali dua kali itu aku sedang berhalangan tidak dapat ikut rapat,” Aland menunjukkan rasa ingin tahunya
sambil terus menyantap bubur ayam.
“Hmmm sekitar 20 menit dari sini, nanti kamu hafalkan sendiri saja
jalanny ya,”
Tara menjawab singkat sambil tersenyum.
“Oiya Tara, saranmu itu sangat dahsyat,” Aland memuji sahabatnya.
“Saran yang mana?”
“Itu yang kamu sarankan
untuk tidak menyimpan nomor hp-nya dan pantang untuk tanya ke orang lain.
Meskipun sebulan ini kita sudah dipertemukan tiga kali, tapi tetap saja kalau
sudah sampai di rumah
rasanya ada saja yang ingin
kutanyakan lagi padanya. Bayangkan saja kalau aku simpan nomor hp-nya mungkin
awalnya aku hanya ingin tahu
satu hal saja, tapi bagaimana jika dia ingin tahu dua hal, lalu aku akan
menjawab dan bertanya, dan tidak akan pernah selesai. Aku sadar bahwa baik aku
maupun dia belum benar kuat-kuat dapat
menjaga hati ini,
namun alhamdulillah ak punya sahabat sepertimu.”
Aland memang hanya bisa menceritakan
kisah ini ke Tara yang telah cukup memahami watak dan kepribadian Aland.
“Sudah, kalau kamu
mulai cerita lagi kita tidak akan berangkat sampai nanti siang. Cepat habiskan
bubur ayamnya,”
Tara memberikan tanggapan yang tidak memuaskan bagi Aland, tapi memang harus segera
disudahi. Aland dan Tara harus segera pergi
melaksanakan misi selanjutnya.
Setelah Aland
menghabiskan bubur ayamnya, ia bergegas pergi
ke dapur untuk mencuci mangkok meskipun Tara mencegahnya. Seelah itu ia kembali masuk ke kamar Tara untuk
memastikan penampilannya sudah cukup sempurna, berkali-kali dia membenahi
jilbabnya.
---
ooo ---
Tiba di sebuah
permukiman di perbatasan antara Kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. Tara menghentikan
sepeda motornya di depan mulut gang, ia mengeluarkan hp-nya.
“Tara, kok berhenti disini?, kamu
lupa alamatnya?” Aland bertanya sedikit cemas.
“Tenang saja, aku hanya
ingin memastikan saudaraku
sudah sampai di tempat tujuan,”
Tara menjawab kecemasan Aland dengan santai. Tara memang meminta saudaranya
untuk menemani pertemuan ini.
Dua
kali pertemuan selama sebulan ini
juga
dibantu oleh Tara dan Rian, saudaranya.
Ya, pertemuan Aisya
Alandia dengan Adnan Abdurrahman.
Pertemuan pertama,
keinginan Adnan untuk bertemu Aland. Aland adalah salah satu anggota organisasi
yang dipimpin oleh Adnan. Pertemuan pertama tersebut bukan untuk membahas
organisasi melainkan berlatarbelakang hasrat yang mengganggu Adnan lima bulan
terakhir ini. Hasrat yang ingin segera Adnan sampaikan karena khawatir dengan kepergian Aland
setelah mengundurkan diri dari organisasi yang dipimpinnya saat itu. Adnan
mengajak bertemu Aland seorang diri, namun Aland tetap mengajak Tara. Pertemuan
pertama berlangsung di perpustakaan kampus, selama 45 menit. Cukup singkat
memang, karena Adnan adalah
lelaki yang senang berterus terang.
“Alhamdulillah, tidak
perlu saya ragukan, saya percaya bahwa Aland tidak akan datang seorang diri.
Terimakasih ya Tara, sudah mau menemani Aland atas ajakan saya.” Adnan membuka
pertemuan pertama itu dengan sangat mantap, sekali memandang Aland kemudian
beralih ke Tara kemudian berakhir di jari-jemarinya yang ia gerak-gerakkan di
atas meja.
“Iya, saya memang tidak
meminta ijin Kak Adnan untuk mengajak Tara disini, Insya Allah Tara adalah
sahabat saya yang sangat saya percaya. Ada perlu apa ya Kak?, Apa ada yang bisa
Aland bantu?” Aland sangat percaya diri. Aland mengajak Tara bukan karena dia
pemalu tapi Aland tidak ingin timbul fitnah dan itu sudah dipahami oleh Tara.
“Lima bulan terakhir
ini ada satu nama yang selalu saya lihat di daftar hadir rapat. Jika nama itu
menghadiri rapat, maka saya lebih semangat dalam memimpin rapat. Saya sadar
kepengurusan ini akan berakhir di bulan ini, dan saya khawatir tidak dapat
menemukan nama itu lagi, nama yang selalu membuat saya semangat. Akhirnya, dua
hari yang lalu saya memutuskan untuk merencanakan
pertemuan dengannya, mengungkapkan seluruh apa
yang ada dalam pikiran saya kepada seorang perempuan yang memiliki nama itu.
Dan Alhamdulillah detik ini pemilik nama itu berada di depan saya. Saya bermaksud untuk ber-ta’aruf dengan Dik Aland.”
Adnan menyelesaikan kalimatnya dengan desahan perlahan dan tersenyum lega,
sekali lagi memandang diri Aland kemudian kembali beralih ke jari-jemarinya.
Perlu waktu enam puluh
detik untuk menjawab kalimat Adnan. Aland tidak ragu bahwa pemilik nama yang
dimaksud Adnan itu adalah dirinya, tentu bukan Tara yang tidak ikut organisasi
bersama Adnan dan Aland.
“Aland sangat
menghargai pertemuan ini, pun maksud dari pertemuan ini. Aland belum dapat
menanggapi maksud
Kak Adnan tadi. Beri waktu bagi Aland untuk mempertimbangkannya.” Aland
terdengar yakin menjawab meskipun terdengar banyak jeda di antara kalimatnya.
Aland mengarahkan pandangan sepenuhnya ke Tara, dan Tara paham maksud pandangan
itu.
“Kak Adnan, Insya Allah akan ada
pertemuan setelah ini. Sahabat saya tentu tidak ingin menzhalimi orang lain
dengan menggantungkan jawaban. Waktunya belum dapat dipastikan, tapi saya akan segera
kabari Kak Adnan setelah Aland menyepakati waktunya. Oiya, Kak Adnan dekat
dengan Mas Rian?” Tara beralih menjadi pengatur acara di pertemuan itu.
“Iya cukup dekat, teman
sejurusan, kebetulan teman main di taekwondo juga. Ada apa?” Adnan singkat
menjawab pertanyaan Tara.
“Mas Rian itu kakak
sepupu saya. Jika pertemuan selanjutnya mengajak Mas Rian, apa Kak Adnan
keberatan?. Supaya saya
tidak terkesan menjadi mak comblang,
rencana selanjutnya akan saya komunikasikan dengan Mas Rian. Bagaimana kak?” Tara
memberikan saran yang melegakan Aland. Supaya
Tara tidak berkomunikasi
langsung dengan Adnan.
“Oke. Tidak masalah.
Nanti saya akan sampaikan pertemuan ini ke Rian.”
Tara tersenyum ke
Aland, seperti memahami pikirannya. Aland membalas
tersenyum lebar. Tara mengetahui perasaan sahabatnya, tanpa Aland memberikan
jawaban pun senyuman lebar Aland menyiratkan hatinya yang sedang berbunga.
Perbincangan
selanjutnya berkisar topik organisasi. Lima belas menit kemudian pertemuan
pertama itu selesai. Hasil dari pertemuan pertama itu Tara meminta Adnan untuk
menghapus nomor hp Aland dan begitu juga
kepada Aland untuk menghapus nomor hp Adnan.
Tara tahu untuk urusan organisasi mereka
dapat berkomunikasi melalui buku
pesan yang disimpan di sekretariat.
Pertemuan kedua, terjadi pada dua pekan
setelah pertemuan pertama.
Pertemuan yang direncanakan
oleh Tara dan
Rian. Berlokasi di perpustakaan fakultas, hanya berlangsung sekitar 30 menit.
Adnan dan Aland membawa biodata, pas foto serta foto keluarga masing-masing
untuk saling ditukarkan.
Untuk urusan foto,
Aland sengaja minta agar menggunakan
pas foto, sebelumnya Aland dibuat bingung berhari-hari hanya karena foto macam
apa yang akan ia berikan kepada Adnan.
Akhirnya ia putuskan
menggunakan pas foto yang tanpa ekspresi raut muka. Di pertemuan kedua ini
Aland meminta komitmen Adnan untuk menyegerakan proses ini. Aland menyadari
perasaannya kepada Adnan sudah mulai bersemi sejak dua pekan lalu. Aland tidak memungkiri
sejak dirinya bergabung di organisasi itu,
Aland sudah mengagumi sosok Adnan. Selama ini Aland berhasil menutup rasa
kagumnya kepada Adnan, namun hari ini tepat dua pekan sejak Adnan mengutarakan
niatnya kepada Aland, seketika itu rasa kagum Aland kepada Adnan tumbuh dan
terus berkembang menjadi rasa yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kalimat.
Hanya dengan permintaan komitmen kepada Adnan, itu menjadi ungkapan rasa yang
terpendam di dalam
hati Aland.
Pertemuan ketiga, direncanakan dua pekan
setelah pertemuan kedua.
Pertemuan yang diajukan oleh Adnan
di hari Ahad ini, yaitu
pertemuan keluarga Adnan dengan Aland. Sesungguhnya
itu murni keinginan ibunda
Adnan. Adnan pun tak dapat
menolak untuk menyegerakan proses ta’aruf
ini dan berlanjut ke proses selanjutnya. Ya, di hari Ahad ini ibunda Adnan ingin
berkenalan dengan Aland, Aland yang telah menyiapkan dirinya dengan penampilan
terbaiknya untuk bertemu calon keluarganya, Aland yang mengenakan gamis cantik
biru muda.
“Ternyata Mas Rian sudah sampai
di rumah Kak Adnan,”
Tara menggoda Aland yang sepertinya sedang melamun. “Sudah siapkah anda?,
mari kita segera menuju rumah Bapak Adnan,”
Tara terus menggoda Aland yang terlihat tegang.
“Tara, apa saja yang
nanti aku harus bicarakan dengan ibunya?, ibunya galak ga ya?”
Pikiran Aland terus menerawang di atas motor Tara yang terus melaju.
“Anggap saja kamu akan
bertemu ibuku, kamu tidak akan setegang ini kan tentunya,” Tara menjawab santai sambil
mencari-cari rumah yang dituju.
“Hmm.. Sudah sejak sepekan lalu pikiranku dipenuhi dengan bayangan
pertemuan nanti, bagaimana bisa aku mendadak mengganti pemeran dalam bayangan
itu,” Ketegangan Aland sudah
mulai mencair. Tara tertawa kecil.
Sepuluh menit
perjalanan dari mulut gang tadi, sampailah Aland dan Tara di depan rumah yang
dituju. Adnan dan Rian sudah berdiri menunggu di halaman rumahnya yang cukup
lapang. Selepas Aland membuka helmnya, ia langsung mendapatkan sambutan dan
senyum hangat dari Adnan yang membuat kecepatan
detakan jantungnya meningkat.
Namun ia segera menunduk.
“Assalamu’alaikum,” Tara memasuki halaman
rumah diikuti Aland dibelakangnya.
“Wa’alaikumussalam
warahmatullahi wabarakatuh” Jawab Adnan dan Rian bersamaan.
“Mas Adnan, Mba Aland
sudah datang?” tiba-tiba dari dalam rumah keluar
seorang
anak berlari menghampiri Adnan, kemudian memperhatikan sosok Aland dari atas
sampai bawah. Anak itu berjalan mendekati Aland.
“Ini Mba Aland ya?, tidak beda jauh
dengan fotonya, Mba Aland cantik,”
kata anak itu dengan malu-malu.
Aland tersenyum,
kemudian sedikit membungkuk, dan menjulurkan tangan mengajak anak itu
bersalaman. “Iya, ini
Mba Aland, adik manis ini siapa namanya?” Aland tersenyum hangat, dengan
berpura-pura menanyakan nama adik itu yang sebenarnya ia sudah tahu dari foto
keluarga yang diberikan Adnan dua
pekan lalu, di foto itu juga tertulis namanya.
“Namaku Firda, Mas
Adnan ini om-ku, semalam sengaja menginap di sini, karena Ummi bilang kalau Mba Aland
mau ke sini pagi-pagi. Firda
penasaran sama Mba Aland, kemarin Mas Adnan cuma
ngeliatin fotonya Mba Aland saja,” Firda terus terang
cerita kepada Aland. Aland hanya tersenyum, di hatinya semakin berbunga
mendengar sambutan dari Firda.
“Sudah Firda, ngobrolnya nanti lagi. Mba Aland dan Mba Tara masuk ke
dalam dulu,”
Adnan menegur Firda dengan lembut, kemudian mengajak Aland dan Tara masuk
rumah.
“Ummi, ini tamu yang
Ummi tunggu sudah datang,”
Adnan tersenyum, setengah berteriak memanggil Ibunya yang sedang ada di dapur.
Aland tetap menunduk malu, sempat dua detik melirik Adnan karena penasaran
ingin melihat ekspresi raut muka Adnan atas kedatangan dirinya.
---
ooo ---
“Dik Aland bantu Ummi
masak di dapur yuk, Dik Tara juga
boleh kalau mau bantu, kebetulan nanti siang ada arisan di rumah jadi Ummi
harus masak dari pagi,”
Ummi menggandeng tangan Aland yang masih duduk, Aland pun segera berdiri
mengikuti ajakan Ummi, diikuti Tara.
Sebelumnya, perkenalan
di ruang tamu itu hanya berlangsung sekitar 15 menit. Ummi menanyakan tentang
aktivitas Aland dan keluarga Aland. Setelah itu Ummi ingin mengenal lebih dalam
diri Aland dengan mengajaknya memasak.
Memasak, hal itu sama
sekali diluar dugaan Aland. Aland hanya berpikir obrolan apa yang akan ia
perbincangkan dengan Ummi. Hal itu benar-benar membuatnya berkeringat dingin. Ia sangat jarang berada
di dapur. Ia akan memasak ketika ada Mami di dapur,
artinya ia hanya mampu membantu Mami memasak. Mami sangat pandai memasak, namun
belum ia manfaatkan secara
maksimal untuk menumbuhkan kemampuan masaknya.
Aland mengalami
kesulitan di saat momen istimewanya, yaitu bertemu dengan calon pemimpinnya dan
calon ibu mertuanya. Ia
tidak pernah membayangkan akan sesulit ini pertemuan ketiga dengan Adnan. Saat itu, dirinya
sangat panik ketika berjalan mengikuti Ummi ke dapur, Ia menengok ke arah Tara,
ia tahu sahabatnya itu sangat pandai memasak, Tara sering memasak bersama kakak
iparnya. Terbersit di hatinya khawatir jika Ummi lebih senang kepada Tara, namun
Tara selalu memahami perasaannya.
“Tetap santai ya,
dekati Ummi, aku juga ga bisa masak,”
Tara berbisik kepada Aland, Aland tersenyum.
“Ummi, mau masak apa
untuk arisan nanti?” Aland mencoba mencairkan suasana hatinya yang tegang, lalu menghampiri Ummi yang sedang
membersihkan daun pisang.
“Ummi kalau masak
sendiri begini, masak yang
gampang-gampang saja,
nasi kuning sama goreng tempe kering. Aland bisa masak kan?, ini bantu Ummi
potongin tempe dulu ya,”
Ummi memberikan tiga bungkus tempe besar.
Sebelum Aland menjawab,
tiba-tiba Adnan masuk ke dapur menghampiri Ummi.
“Mi, masaknya masih lama kan?, Adnan mau pergi ke pameran komputer
dulu sama Ryan, Firda juga mau ikut,”
Adnan meminta ijin kepada Ummi.
“Iya, ya ga akan
sampai selepas dhuhur, kan
acaranya nanti siang, makanya biar
Aland bantu Ummi disini dulu ya,”
Jawab Ummi dengan tangan tetap sibuk.
“Sip, Aland senang
masak kok
Mi,
kalau belum bisa diajarin saja,” Adnan tersenyum sambil
memeluk Ummi dari belakang dan melirik ke arah Aland. Aland tersenyum tapi lebih
terlihat senyuman terpaksa.
“Adnan pergi dulu ya
Ummi, Aland, Tara,”
Adnan pamit sambil berlalu meninggalkan dapur.
“Ummi, daun pisangnya
untuk apa?” Aland mulai mengakrabkan diri dengan Ummi, sambil terus memotong
tempe, Tara membantu mengupas bawang.
“Oiya ini untuk kreasi
aja, nanti nasi kuningnya dibungkus dengan daun pisang, jadi bentuknya seperti
nasi timbel,”
Ummi tersenyum.
“Kalau tempenya sudah
dipotong-potong mulai digoreng
aja, harus cukup lama biar sampai kering,”
Ummi tidak segan mengajari Aland, dan begitu juga Aland tidak canggung untuk
belajar dan bertanya. Ummi sedang menyiapkan bumbu nasi kuning, Aland dan Tara
bekerjasama membuat goreng tempe kering, Aland sangat bersyukur disampingnya
ada Tara yang sedari tadi membantu Aland agar tidak gagap masak.
Setelah nasi kuning
tanak dan goreng tempe kering sudah selesai, Ummi mendinginkan nasi kuning
kemudian dibantu Aland dan Tara memotong-motong daun pisang untuk bungkus nasi
kuning.
Sesekali Ummi bertanya
kepada Aland tentang kehidupan keluarga Aland, namun lebih banyak bercerita
tentang keluarganya,
dan hal itu yang sangat ditunggu Aland.
“Aland, bersyukur ya masih ada
Ayah dan Ibu, Adnan sudah ditinggal ayahnya ketika
awal kuliah. Kakak-kakaknya semua sudah menikah,
apa yang ada di
rumah ini semua milik Adnan.
Tabungannya mungkin
menipis karena dikeluarkan untuk membiayai isi rumah ini meskipun Ummi tidak minta. Makanya
Ummi sarankan agar Adnan segera menikah agar hasil jerih payahnya dimanfaatkan
oleh keluarga kecilnya, bukan hanya untuk mengurus Ummi. Alhamdulillah sekarang
ada Aland,”
Ummi menatap Aland dan tersenyum kepadanya, sambil tangannya tetap terus
bekerja membungkus nasi kuning.
Pada awalnya, Aland tidak lihai merekatkan ujung daun
pisangnya.
Namun ia terus memperhatikan
tangan Ummi yang cekatan dan akhirnya ia berhasil membuat kedua ujungnya
tertutup rapat.
Tanpa perlu menunggu
tanggapan Aland, Ummi terus melanjutkan ceritanya.
“Sejak SD Adnan suka
membuat cerpen juga cerita bersambung,
ia ikut di berbagai lomba kepenulisan, setiap uang yang didapatkan dari hasil
lomba ia kumpulkan. Lalu di usia 10 tahun Adnan sudah membuka rekening di Bank
yang membolehkan anak SD memiliki tabungan.
Ia masukkan uang-uang
hasil lomba tadi di rekening itu.
Setelah saldonya mencukupi, ia membuat kartu ATM dan
menyerahkannya ke Ummi. Awalnya Ummi menolak karena sebenarnya uang pensiunan
ayah mencukupi kehidupan Ummi dan Adnan.
Saat itu ketiga kakaknya
sudah hidup mandiri.
Kesungguhan Adnan yang
membuat Ummi tidak bisa menolak.
Uang di dalam ATM itu jarang Ummi gunakan, hanya untuk kebutuhan
biaya masuk sekolah waktu itu yang cukup tinggi. Saatnya nanti Ummi berikan
untuk kehidupan kalian. Sejak SMP dia rutin menjadi penulis cerbung di surat
kabar lokal, setiap bulan ia masukkan penghasilannya ke rekening tersebut,
sampai sekarang,”
Ummi menghentikan ceritanya
ketika bungkusan nasi kuning juga telah selesai.
“Oiya Ummi lupa belum beli dusnya, minta tolong belikan ke Adnan saja. Aland
tolong sampaikan ke Adnan ya, tolong
belikan dus makan 2 lusin sekaligus
tisu makannya jug,a”
Ummi cukup panik, karena saat itu sudah hampir masuk waktu dhuhur.
“Tokonya dimana Mi?, biar Aland saja yang belikan, Tara
kan bawa motor,”
Aland mencoba menawarkan alternatif lain setelah ia sadar tidak menyimpan nomor
hp Adnan.
“Toko dusnya jauh, ga ada yang dekat sini. Coba hubungi
Adnan saja dulu, barangkali dia sudah mau pulang,” Ummi tetap meminta Aland menghubungi
Adnan.
Tara menghampiri Aland
dan berbisik,
“Nih pake hp ku saja, telpon ke nomor
Mas Rian.” Tara memberikan hp
nya, kemudian Aland menghubungi ke nomor Rian.
“Wa’alaikumussalam, Kak
Rian bisa bicara dengan Kak Adnan?”
Aland terdengar ragu akan berbicara di telepon dengan Adnan. Sejak di
organisasi pun Aland tidak pernah berkomunikasi langsung dengan ketuanya itu
hanya sebatas lewat sms saja, apalagi sejak pertemuan pertama itu Aland bahkan
tidak lagi pernah berkirim sms dengan Adnan.
“Assalamu’alaikum, ini
Adnan, ada apa ya?” terdengar suara Adnan lantang di seberang telepon.
“Ini Aland kak, Kak
Adnan sedang dimana?, tadi Ummi minta Kak Adnan untuk membelikan dus makanan,” Aland mencoba mengeraskan
suaranya dengan lantang.
“Saya sudah mau pulang dari pameran, Ummi minta
dibelikan berapa lusin dik?” Nada suara Adnan berubah.
“Ummi minta dibelikan 2
lusin, sekalian tisu makannya juga. Ummi minta segera ya Kak, karena acaranya
setelah sholat dhuhur nanti,”
Jawab Aland masih dengan suara datar.
“Siap, saya segera pulang.
Bagaimana belajar masaknya
bareng Ummi?” Adnan mencoba memperlebar arah pembicaraan.
“Alhamdulillah baik.
Sudah ya Kak. Ummi minta Kak Adnan segera pulang. Assalamu’alaikum,” Aland berusaha
menegaskan suaranya, meskipun sisi lain hatinya juga ingin terus berbincang
dengan Adnan.
“Oh iya. Wa’alaikumussalam,”
kemudian Adnan langsung menutup sambungan teleponnya.
Aland menghembuskan
nafas lega,
kemudian menatap Tara.
Tara membalas dengan senyuman kepada
sahabatnya itu.
Aland melanjutkan
pekerjaan di dapur, mencuci piring dan membersihkan dapur bersama Tara. Ummi
sedang menyeduh teh.
“Dik Aland dan Dik Tara, maaf ya jadi
direpotin sama Ummi. Nanti siang masih disini kan?, bantuin Ummi ya,” Ummi tersenyum,
sedikit memohon kepada Aland.
“Sama sekali ga ngerepotin Ummi, Aland seneng kok, jadi belajar masak
juga. Iya Mi,
InsyaAllah Aland sama Tara masih disini
nanti siang,” Aland membalas senyuman kepada Ummi.
“Sudah adzan dhuhur,
kita jamaah sholat dhuhur dulu di sini ya. Jadi nanti Adnan datang, kita bisa
langsung memasukkan nasi kuning dengan lauk dan lalapannya di dus,” Ummi menggandeng lengan Aland. Aland
merasa salah tingkah. Ummi sosok ibu
yang sangat lembut, namun dari sosoknya yang lembut itu juga telah berhasil
mendidik putra putrinya menjadi orang
sukses. Tanpa Aland sadari muncul benih rasa sayang dalam diri Aland terhadap
Ummi, mendahului rasa sayang kepada calon suaminya.
---
ooo ---
Sore hari, setelah
Aland dan Tara ikut membereskan rumah,
Aland pamit kepada Ummi dan Adnan.
“Ummi, Kak Adnan, Dik
Firda, Aland pamit pulang
dulu ya. Semoga silaturrahmi ini dapat terus berlanjut. Maafkan Aland ya Mi
kalau Aland ada salah ucap dan perbuatan. Hari ini Aland banyak belajar dari
Ummi,” Aland tersenyum lebar kepada Ummi.
Ummi melingkarkan tangan kanannya di atas
bahu Aland.
“Ummi juga terimakasih sama Dik Aland
dan Dik Tara, jauh-jauh kesini malah disuruh Ummi bantuin masak. Tadi
teman-teman arisan Ummi bilang goreng tempenya enak lho,” Ummi mencoba menggoda
putra bungsunya tentang hasil masakan Aland.
Padahal koki utamanya
itu Tara, Aland membatin dan tetap tersenyum.
“Kapan-kapan main
kesini lagi ya Dik Aland, nanti pas anak-anak dan cucu-cucu Ummi lagi ngumpul disini, biar Adnan juga bisa
ngenalin Dik Aland ke kakak-kakaknya
yang lain ya,”
Tangan kanan Ummi semakin erat memeluk bahu Aland.
“Iya Mi,
InsyaAllah,”
Aland tidak tahu harus menanggapi dengan pernyataan apa atas ajakan Ummi tadi.
“Pokoknya Mba Aland
harus main kesini lagi ya, nanti Firda kenalkan dengan adik kecil Firda,
namanya Farid,”
Firda memperlihatkan raut wajah memaksa kepada Aland.
“Iya, InsyaAllah. Kami pulang
dulu ya,” Aland mencium tangan Ummi, lalu Ummi memberikan ciuman
di pipi kanan dan kiri. Kemudian ia bersalaman dengan Firda, diikuti Tara
dibelakangnya.
Adnan dan Rian turut
mengantarkan Aland dan Tara sampai di gerbang rumah.
“Dik Aland, Terimakasih
ya, sudah bersedia
menyediakan waktu untuk Ummi,”
Adnan tersenyum dengan sekilas menatap mata Aland.
Aland mengangguk
kemudian segera menaiki motor,
duduk di belakang Tara dan mengucapkan salam kepada Adnan.
Sepanjang perjalanan
Aland hanya diam, ia tidak tahu harus mulai dari mana membagi perasaan bahagianya
dengan Tara. Tara yang telah menemaninya melalui momen-momen bahagia.
“Tara, besok malam kamu
ada waktu?, jika Mami mengijinkan aku ingin menginap di rumahmu, banyak yang
ingin kuceritakan,”
Aland mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Tara yang sedang melajukan
motornya cukup kencang.
“Bisa, tapi nanti aku
minta ijin ke Mas Akbar dulu ya, besok pagi akan kukabari kau,” Tara sedikit menoleh
ke belakang agar jawabannya didengar oleh Aland.
“Ok, kutunggu kabarnya
ya. Nanti aku diturunkan di perempatan depan itu saja, ada jalur angkot yang
langsung menuju rumah. Makasih ya Tara,”
Aland mengarahkan jarinya ke depan agar terlihat oleh Tara.
“Ok, siap.” Tara
mengangguk.
---
ooo ---
Aku tersenyum sendiri,
ada getaran bahagia. Mungkin perasaan bahagia Aland merambat ke dalam diriku. Senyumanku
masih terkembang, namun aku juga kebingungan kenapa banyak nama di cerita tadi.
Aku masih sulit mengingat banyak nama. Kenapa Aland bertemu banyak orang di
hari itu. Aku mencoba mengingat lagi nama-nama itu, ada Tara, Adnan, Rian,
Ummi, Firda dan juga Farid. Tapi dari sekian banyak nama itu aku hanya ingin
tahu lebih banyak tentang Tara dan Adnan. Siapa Tara, kenapa dia selalu
mengerti perasaan Aland. Dan siapa juga Adnan, namanya mirip dengan Aland, dia
juga selalu membuat Aland tertunduk malu.
Aku mencari temanku
yang selalu kaya dengan informasi yang aku butuhkan. Dan aku menemukannya di taman kota.
“Hai..aku sedang memerlukan bantuanmu,” Aku menyapa temanku yang sedang duduk
sendiri.
“Ada apa?, kau pasti
ingin mengetahui informasi tentang nama-nama yang disebutkan dalam cerita itu
bukan?” Temanku itu menjawab datar, namun tepat sasaran sesuai dengan yang aku pikirkan. Aku tersenyum,
ternyata aku juga punya teman yang selalu mengerti perasaanku.
“Iya betul sekali, aku
kesulitan mengingat nama, aku hanya ingin tahu tentang Tara dan Adnan. Siapa
mereka berdua itu?” Aku menunjukkan rasa penasaranku.
“Tapi maaf, aku tidak
tahu tentang yang kau tanyakan. Dan kupikir kau tidak perlu tahu sekarang, kau
akan lebih baik mengetahui di waktu yang tepat, dan waktu itu akan datang
sendiri padamu,”
Dia tidak memberikan jawaban yang kuharapkan, aku sedikit kecewa.
“Kenapa?” Aku sedikit
memaksa kepadanya.
“Karena aku pun tak
tahu jawaban dari pertanyaanmu itu. Jadi kupikir lebih baik kau ikuti saja alur
ceritanya, hingga kau menemukannya didalam dirimu.”
Aku sulit mencerna
kata-katanya.
Sebelum aku ingin
mengajukan pertanyaan lagi,
dia sudah berlalu pergi meninggalkanku.
Ya sudahlah, aku pun
tak tahu harus kemana lagi untuk mendapatkan jawabannya. Adnan Abdurrahman, siapakah
dirimu?, yang membuat Aland tidak berani menatap wajahmu, yang membuat lidahnya
kelu ketika berbincang denganmu, dan satu lagi yang belum berhasil kutangkap
yaitu perasaannya
kepadamu. Aku belum memahami sepenuhnya. Aku hanya berharap
semoga kau adalah lelaki yang sanggup melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang
lelaki dan juga seorang ayah .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar