Jumat, 04 Maret 2016

Chapter 3 : Detektif Cilik


Hari Selasa.
Sejak bangun tidur, raut muka Cyra tidak berubah. Di rumah, Abi dan Mami hanya melihat muka cemberut Cyra. Abi yang pintar menggoda pun tidak berhasil mendapat senyum khas Cyra, bahkan Mami yang sudah memasakkan Cyra nasi goreng spesial pun tetap tidak mendapatkan sapaan pagi Cyra yang selalu ceria. Hingga Abi yang mengantarkan Cyra sampai depan gerbang sekolah pun hanya mendapatkan ciuman di tangan dan ucapan salam tanpa senyum.
Di ruang kelas, teman sebangku Cyra pun keheranan dengan muka kesal Cyra sejak masuk kelas tadi. Cyra hanya duduk dengan memasang muka kesal, teman sebangkunya tidak berani bertanya terlebih dahulu sebelum Cyra membuka pembicaraan. Teman sebangkunya ikut diam memperhatikan Cyra.
Sampai waktu istirahat, teman sebangkunya itu akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Cyra.
“Cyra, jajan ke kantin yuk, tadi pagi aku belum sempat sarapan, laper nih,ajak Anis, teman sebangku Cyra.
“Tadi aku sudah sarapan, jadi malas jajan,” Cyra menjawab tanpa sedikit pun melihat ke arah Anis.
Sekarang perhatian Cyra hanya tertuju pada kertas yang ia tulis sejak tadi. Anis berprasangka bahwa benar ada sesuatu hal yang menimpa Cyra, namun ia belum menemukan apa penyebab yang membuat Cyra bermuka kesal semenjak masuk kelas tadi pagi.
Cyra adalah seorang pribadi yang sangat terbuka, tanpa ditanya ia akan bercerita banyak hal, mulai dari pribadi, keluarga sampai hal-hal yang tidak penting. Jadi agak aneh ketika Cyra melakukan aksi bungkam dari awal masuk kelas tadi, dan itu yang membuat teman sebangkunya keheranan melihat tingkah laku Cyra.
Anis betul-betul dibuat penasaran dan ingin mencoba memancing perbincangan yang menarik dengan Cyra.
Oiya Cyra, tadi pagi kamu diantar Abi ya?, memang Kak Aland kemana?” Anis membuka percakapan. Rasa penasarannya mengalahkan niatnya untuk jajan ke kantin. Ia menatap Cyra berharap mendapat perhatian Cyra.
“Memang kenapa harus Kak Aland yang mengantarku ke sekolah, Abi juga bisa kok, lagipula…,” Intonasi awal kalimat yang diucapkan Cyra cukup tinggi, namun intonasi tinggi itu seketika melemah di akhir kalimat. Cyra kembali mengalihkan perhatiannya ke arah kertas di atas meja yang ia pegang dari tadi. Anis cukup kaget mendapatkan muka sinis Cyra kepadanya, tak disangka pertanyaan pembuka kalimat tadi langsung dijawab oleh Cyra dengan nada yang tinggi. Anis mencoba berpikir.
Eh hari Ahad kemarin aku lihat kakakmu bersama temannya di depan rumah tetanggaku, kupikir kau ikut tapi setelah ku lihat lagi kakakmu hanya bersama seorang temannya,Anis mencoba mengalihkan pembicaraan di awal tadi dengan bercerita hal lain. Namun tak disangka tiba-tiba Cyra menatapnya tajam, reaksi atas ceritanya tadi. Anis sampai kebingungan, dan mengerutkan keningnya.
Hei kenapa kamu?, dari tadi cemberut sekarang mukanya serem gitu,Anis mencoba untuk mencandai Cyra, namun respon Cyra tidak berubah.
“Hari Ahad kemarin kamu benar-benar lihat Kak Aland?”
Anis hanya tersenyum mengangguk, senang akhirnya dapat mengambil perhatian Cyra. Dengan anggukan yang mantap Anis menjawab pertanyaan Cyra dan berusaha meyakinkannya.
“Ada acara apa Kak Aland disana?” Cyra mulai mencoba menelusuri cerita teman sebangkunya itu. Sepenuhnya menghadapkan dirinya di hadapan Anis.
“Aku tidak tahu itu, tadi kan aku bilang hanya lihat Kak Aland pagi-pagi ada di rumah tetanggaku, waktu itu aku lagi menyapu jalan depan rumah. Eits sebelumnya, aku juga ingin tahu kenapa dari tadi pagi kamu bertampang kesal seperti itu?” Anis tersenyum, ingin mengenyahkan rasa pensarannya sejak masuk kelas tadi atas tingkah laku Cyra.
Hmmm.., ini juga berhubungan dengan Kak Aland. Akhir-akhir ini aku tidak memahami kegiatan Kak Aland. Jarang ada di rumah, menangis di depan Abi, berpenampilan berbeda dari biasanya, dan yang pasti tidak pernah mengajakku jalan-jalan lagi hampir sebulan ini. Dan dua hari yang lalu Kak Aland janji akan tidur di kamarku tadi malam, tapi kenyataannya dari kemarin sore hingga tadi pagi sebelum berangkat sekolah Kak Aland tidak ada di rumah. Kata Mami Kak Aland sudah minta ijin untuk menginap di rumah temannya. Tapi kenapa tidak minta ijin padaku padahal Kak Aland tidak pernah mengingkari janjinya,” Cyra menjelaskan panjang lebar, seperti biasa Cyra akan terus bercerita tanpa ditanya.
“Itu yang bikin aku kesal banget hari ini. Sejak kemarin pagi aku menanti janji Kak Aland. Nah, hari Ahad itu Kak Aland pergi seharian dari setelah sholat shubuh sampai sebelum sholat Maghrib. Aku tidak diberitahu kemana perginya Kak Aland, Abi dan Mami pun seakan merahasiakannya dariku,” Cyra melanjutkan ceritanya. Sementara Anis terus menyimak cerita Cyra. Hingga tiba-tiba Cyra menatap tajam wajah Anis.
“Kau kenal dengan tetanggamu itu?, bagaimana kalau besok pulang sekolah aku main ke rumahmu dan kau ajak aku ke rumah tetanggamu itu. Sungguh aku penasaran Kak Aland bertemu dengan siapa di hari Ahad itu,” Wajah Cyra berubah sumringah, menganggap dirinya telah menemukan ide yang cemerlang.
“Stop, tunggu dulu. Kamu benar-benar akan menyelidiki kakakmu dari belakang?, kenapa kamu tidak langsung tanya kepada kakakmu saja?, mungkin itu jalan lebih baik,Anis mencoba memberikan saran yang cukup bijak, meskipun di akhir kalimatnya dia tidak yakin dengan sarannya sendiri. Karena tidak bisa dipungkiri, ia juga penasaran dengan keingintahuan Cyra.
“Aku tidak tahu, tapi semua orang rumah tidak ada yang mempedulikan keingintahuanku. Kau mau bantu aku tidak?” Cyra tetap merayu teman sebangkunya.
Mmm baiklah. Aku bantu kau, tapi jangan berharap aku akan mengantarmu ke rumah tetanggaku. Aku akan memberikan jalan lain,Anis tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, ia sudah terbius ajakan Cyra untuk menyusun suatu rencana penyelidikan.
Perbincangan dua teman itu seketika berhenti karena waktu istirahat telah berakhir, dan guru matematika sudah masuk ke ruang kelas. Sementara guru matematika memulai jam pelajarannya, dua murid yang duduk sebangku itu saling berbalas senyum, mereka akan menyusun suatu rencana investigasi.
Teman sebangku itu menulis di suatu kertas dan segera menyerahkan kertas itu ke Cyra.
Tetanggaku itu seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya, ibu itu tidak galak tapi cukup disegani diantara tetangga-tetanggaku, dan aku pun tidak berani bertemu dengan ibu itu hanya untuk menyelidiki kakakmu. Tapi tenang saja, aku sering melihat cucu ibu itu bermain sendiri, dia sering bermain di rumah neneknya, dan kita bisa menanyainya.
Cyra segera menulis balasannya di kertas itu.
Sudah kuduga kau tentu akan mendukungku, nanti malam aku akan minta ijin ke Mami kalau besok mau belajar di rumahmu sepulang sekolah, semoga dijinkan. Makasih teman..
Teman sebangku tersenyum dan segera menulis balasannya di kertas itu.
Bukankah kau tahu bahwa dari dulu aku ingin menjadi detektif cilik, aku selalu menyukai penyelidikan.
Belum sempat Cyra menulis balasannya di kertas itu, Guru Matematika sudah memanggil nama Cyra.
“Cyra, kamu kerjakan PR nomor satu di papan tulis,” suara guru matematika cukup keras menyadarkan Cyra dan teman sebangkunya untuk menghentikan berbalas pesan di kertas itu. Dan seketika itu, senyuman Cyra berubah menjadi raut muka ketegangan, matanya bekerja cepat melihat buku matematikanya, dan giginya menggigit keras bibir bawahnya. Ia teringat bahwa semalam dia lupa mengerjakan PR matematika, matanya segera menatap teman sebangkunya.

--- ooo ---

Satu malam menuju hari selasa.
Aland benar-benar lupa akan janjinya kepada Cyra Seharusnya malam ini ia berada di kamar Cyra, menemani dan bercerita dengan Cyra sesuai janjinya kemarin. Sejak siang tadi Aland sudah bergegas dan minta ijin ke Mami untuk menginap di rumah sahabatnya. Aland sudah pergi sebelum Cyra pulang dari sekolah.
Sebenarnya Mami sangat tidak suka jika kedua putrinya menginap di rumah teman, bahkan untuk alasan mengerjakan tugas Mami berusaha keras mencegah kedua putrinya menginap di rumah teman. Pernah suatu hari, Aland mengerjakan tugas kampus yang cukup mendesak di rumah temannya sampai jam 8 malam. Aland segera menghubungi Mami untuk meminta ijin bahwa dirinya akan menginap di rumah temannya malam itu. Namun Mami menolak memberikan ijin dan meminta Aland untuk segera menyelesaikan tugasnya sampai jam sepuluh dan memberitahukan bahwa Abi akan menjemputnya di rumah temannya. Mami tidak pernah mau memberikan alasan yang jelas tentang larangan itu, apalagi Abi hanya tersenyum ketika kedua putrinya menanyakan hal tersebut. Namun untuk malam ini Abi dan Mami bersepakat mengijinkan Aland menginap di rumah Tara.
Dan malam ini, Aland berada di kamar Tara. Setelah makan malam dan sholat berjamaah Isya, kedua sahabat itu masing-masing membaca buku. Sesekali Tara melirik ke arah Aland, lalu membaca lagi. Tara heran bukankah tujuan Aland menginap malam ini karena Aland ingin bercerita banyak hal tapi kenapa Aland malah terus membaca buku. Tara paham diri Aland, sahabatnya sejak SMU itu belum berubah sampai saat ini. Aland perlu dipancing untuk bercerita, Aland memang cukup pendiam, namun sekali bercerita akan terus becerita hingga lawan bicaranya terpaksa diam mendengarkannya. Pribadi Aland ini cukup berbeda dengan adiknya. Tara berniat memulai percakapan dengan Aland.
“Aland, kamu tahu ga kenapa sejak awal aku minta bantuan Mas Rian dalam urusanmu dengan Kak Adnan?” Tara sengaja membuka percakapan itu dengan topik hubungan Aland dan Adnan. Tara tahu bahwa sahabatnya itu ingin mencurahkan isi hatinya tentang Adnan dan keluarganya yang telah ia temui hari kemarin.
Dan berhasil, Aland langsung menutup buku yang sedang ia baca dan segera menatap wajah Tara dengan dahi berkerut, tanda ia sedang penasaran.
“Kau belum pernah cerita tentang hal itu, dan sebenarnya dari awal pun aku ingin tahu alasanmu melibatkan Mas Rian,” perhatian Aland mulai terfokus dalam percakapan ini.
Tara segera menutup bukunya, dan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sendiri kepada Aland.
“Aku takut. Aku tidak pernah lupa satu cerita dari .....”
“Cerita apa?, ustadz siapa?, kok kamu tidak pernah cerita ke aku?” Aland memotong kata-kata Tara dengan rentetan pertanyaan yang menunjukkan penasarannya yang sangat tinggi, bukunya yang tadi dibacanya sudah lepas dari tangannya.
“Ini kan aku mau cerita, ceritanya aku ingat betul tapi siapa yang menceritakannya aku lupa betul,” Tara melanjutkan ceritanya, tidak terlalu peduli dari siapa ia mendapatkan cerita itu.
Dan Aland pun benar-benar lupa akan janjinya kepada adik semata wayangnya.

--- ooo ---

Hari Rabu.
Hai Cyra, orangtuamu mengijinkanmu untuk ke rumahku sepulang sekolah nanti?”.
Pagi itu, Cyra baru masuk kelas dan langsung disambut oleh Anis dengan pertanyaan tersebut. “Tidak ada masalah, lihat saja ini bekal makan siangku bertambah. Mungkin Mami cukup khawatir aku akan kelaparan di rumahmu nanti,” jawaban Cyra membuat Anis lebih bersemangat untuk menyusun rencana penyelidikannya.
Selama pelajaran berlangsung hingga siang hari, Anis terus menceritakan tentang seluk beluk keluarga yang akan Cyra selidiki. Ia mendapatkan informasi cukup lengkap dari ibunya yang kebetulan satu kelompok pengajian dengan ibu dari keluarga itu.
Sang ibu tinggal bersama salah seorang anak lelakinya yang sudah lulus kuliah dan belum menikah. Salah satu cucunya hampir setiap hari bermain di rumah sang ibu itu sepulang sekolah sambil menunggu jemputan ayahnya di sore hari. Si cucu sering bermain di depan rumah karena neneknya tidak mengijinkan untuk jauh-jauh dari rumah. Singkatnya seperti itu cerita yang disampaikan oleh Anis kepada Cyra. Rencana pertama mereka yaitu berkenalan dengan si cucu tersebut.
Ok. Hari ini kita harus bertemu dengan si cucu itu, lalu aku akan dapat informasinya,” Cyra menyusun rencananya dengan mantap.
Eits tunggu dulu, kan aku detektifnya, jadi kamu harus mengikuti rencanaku. Hari ini target kita bertemu dengan si cucu dan berkenalan. Jangan langsung ditodong dengan rasa penasaranmu. Dia masih anak kelas empat. Setuju tidak?” Anis menawarkan strateginya.
Hmm ok, apa strategi selanjutnya?” belum sempat Cyra mendengar jawaban dari Anis, Guru Bahasa Indonesia sudah memasuki kelas. Dan selama pelajaran hingga tengah hari Cyra dan Anis terus membahas rencana-rencana penyelidikannya. Mereka terlihat begitu semangat.

--- ooo ---

Siang itu Cyra sudah berada di rumah Anis. Setelah menghabiskan bekal makan siangnya, Cyra duduk santai di teras rumah. Sebelumnya ia berniat membantu Anis merapikan ruang makan, namun dilarang oleh ibu Anis. Akhirnya ia memilih pergi ke teras sambil menunggu penyelidikannya dimulai. Lokasi rumah target masih satu deret dengan rumah Anis hanya berjarak lima rumah saja.  
Sesuai dengan rencana penyelidikan, target sasaran sedang bermain sendiri di halaman rumah neneknya. Cyra segera mengajak Anis untuk memulai rencananya.
“Assalamu’alaikum adik cantik, neneknya ada di rumah?” Anis mulai menyapa target sasaran.
Eh kakak, wa’alaikumsalam. Ga biasanya kakak mau main ke rumah, kakak mau bertemu dengan nenek?, nenek ada di dalam mungkin sedang nonton tv, sebentar ya.”
Eh sebentar, ga perlu dipanggilkan dik. Kakak hanya ingin kasih ini, titipan dari ibu,” Anis memberikan sebuah mangkuk berisikan soto ayam.
Wah enaknya, aku suka soto ayam lho kak, kok kakak bisa tahu?”.
“Kakak tahu dong. Eh kakak pulang dulu ya, sampaikan saja itu dari Bu Indah. Kakak pulang dulu ya adik cantik,” Anis segera meraih tangan Cyra dan mengajaknya kembali lagi ke rumah.
Cyra yang sejak tadi diam melihat dialog antara Anis dengan sang target mulai heran. Sampai di rumah Anis, ia langsung mempertanyakan pertemuan tadi.
Hei kenapa tadi kita tidak langsung bertanya dan mencari informasi ke anak itu?” nada bicara Cyra sedikit protes, menunjukkan ia sangat tidak sabar dengan proses penyelidikan ini.
Hmm ada yang lupa nih. Sudah kujelaskan tadi di kelas bahwa tahap pertama adalah menciptakan kesan baik. Kan sudah ku bilang kalau aku tidak berani bertemu dengan neneknya, dan kau juga jangan coba-coba sendiri ya nanti aku yang kena lagi”.
“Iya, sebenernya tadi aku tidak paham maksud tahap pertama itu apa. Kenapa harus dengan soto ayam?, lalu kapan kita bisa mulai menggali informasi dari anak itu?” raut wajah Cyra berubah dari wajah protes menjadi wajah bingung dan penasaran.
Hmm kamu itu memang kalau lagi kurang sabar otaknya jadi melambat. Nanti kamu sendiri akan tahu maksudnya. Oiya tadi ibu membuat es buah, kita santap dulu yuk,” jawaban Anis mengalihkan topic pembicaraan.
“Iya dan kamu selalu tidak mau segera menjawab dan membuatku penasaran. Ok lah minum es buah dulu,” rasa penasaran Cyra sementara tertutup dengan segarnya es buah buatan ibunya Anis.

--- ooo ---

Aku suka gaya Cyra. “Cyra, ayo aku mendukungmu,” bisikku dalam hati. Aku tersenyum sendiri. Rasa penasaranku sama seperti Cyra, dan aku ingin selalu mengikuti langkah penyelidikannya. “Cyra, kalau aku jadi kamu, aku pasti akan memberanikan diri langsung bertemu dengan nenek itu, aku akan bertanya tentang Adnan, apa hubungannya dengan Aland, ada perlu apa Aland ke rumah nenek waktu itu, dan ah masih banyak yang ingin kutanyakan,” aku tersenyum sendiri, berkhayal sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Sebetulnya aku juga sedang sedih. Teman baikku sedang pergi jauh, dan ia tak tahu kapan kembali. Ia masuk suatu sekolah, aku tidak diajak karena belum cukup umur. Kata temanku suatu saat nanti aku juga akan masuk sekolah itu. Aku tidak tahu tempat macam apa itu. Tunggu saja aku akan investigasi setelah ia kembali pulang. Aku tertawa, ingat dengan investigasi yang dilakukan Cyra.
Aland, bagaimana kabarmu?, tahukah kau bahwa adikmu sangat takut kehilanganmu?, aku pun begitu. Semalam aku bermimpi sangat indah. Aku bertemu denganmu, di bawah pohon yang sangat teduh, diatas hamparan rumput segar bak permadani hijau. Kita bersama menatap lukisan pelangi di kejauhan. Kau terdiam, aku pun begitu. Senyuman indah terlahir dari bibirmu, dan aku sangat bahagia memandangnya.

--- ooo ---

Pukul 16.30, Abi dan Cyra sudah tiba di rumah. Cyra disambut Aland yang sedang menyantap eskrim di teras rumah, lalu menawarkan eskrim kepada adiknya yang terlihat cukup lelah.
“Adik kakak yang sholihah, sepertinya lelah sekali selesai ngerjain tugas. Enak nih makan eskrim sambil duduk-duduk santai disini,” Aland menggoda Cyra yang sedang duduk melepas sepatunya.
“Lagi ga pengen eskrim Kak. Tadi Cyra sudah minum es buah di rumah teman. Eskrimnya untuk kakak atau Abi saja,” Cyra menjawab datar sambil berlalu masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa Aland.
Sejak kemarin siang, tepat setelah Aland benar-benar mengingkari janjinya kepada adiknya, Cyra dengan sengaja memperlihatkan sikap tidak ramahnya kepada Aland.
Sore harinya Aland sudah minta maaf dengan tulus kepada Cyra. Cyra sudah memaafkan, namun ia tetap ingin memperlihatkan sikap tidak ramahnya di hadapan Aland.
Sebenarnya Cyra tidak benar-benar memiliki sifat tidak ramah, ia hanya ingin membuat kakaknya merasa bersalah atas janjinya yang diingkari. Ia pun belum menentukan batas waktu sampai kapan ia akan berlaku seperti itu.
Cyra menyadari bahwa Aland sedang membujuknya. Semalam Aland membuatkan mi instan kesukaannya, sore ini membelikan eskrim kesukaannya juga. Sebenarnya ia cukup tergoda dengan rayuan-rayuan Aland, namun ia terus berusaha menahan diri. Di satu sisi ia senang atas perhatian Aland yang cukup berlebih, namun di sisi lain ia juga tidak tahan untuk terus memasang muka masam di hadapan kakaknya.
Usaha Aland tidak cukup maksimal dalam membujuk Cyra. Ada hal lain yang lebih menyita pikirannya dibandingkan harus terus-menerus membujuk Cyra yang sedang mencari perhatian darinya. Waktu Aland tidak banyak untuk mempersiapkan rencana besarnya, ia harus mulai bersiap diri.
Setelah makan malam bersama, Cyra minta ijin untuk segera masuk kamar. Ia beralasan ada banyak tugas yang harus dikerjakannya. Aland tersenyum, malam ini ia tidak akan membujuk Cyra. Sangat kebetulan ini menjadi waktu yang tepat bagi Aland untuk memulai bicara serius dengan Abi dan Mami tentang rencana besarnya.
Mami membuka perbincangan, setelah melihat Aland dan Abi menyelesaikan makan malamnya.
Oiya Aland, pudingnya kurang manis ya?. Entah kenapa tadi Mami bisa-bisanya lupa memasukkan gula, beruntungnya masih ada fla jadi bisa cukup menyamarkan rasa hambarnya,” Mami tertawa kecil. Namun sebenarnya bukan hal itu yang ingin Mami tanyakan ke Aland, Mami merasa agak aneh dengan dirinya tidak berani menanyakan hal itu langsung ke Aland.
Eh, enak kok. Puding dan fla menyatu di lidah, sama sekali ga ada tempat untuk rasa hambarnya,” Aland ikut tertawa. Ia pun bingung hendak memulai pembicaraan serius itu dari mana.
“Kalau begitu, besok-besok buat pudingnya seperti ini saja Mi, daripada kebanyakan gula nanti bisa diabetes,” Abi ikut memberi komentar tentang pudding itu. Semuanya pun tertawa membicarakan pudding hambar itu, padahal dalam hati Mami dan Aland ada hal lebih penting yang ingin disampaikan.
Oiya Aland, bagaimana pertemuanmu dengan keluarganya kemarin?, Abi juga ingin segera bertemu dengan Adnan,” Abi mengalihkan topik pembicaraan, semuanya berhenti tertawa.
Aland menyambut pertanyaan Abi dengan senyuman. Pertanyaan ini yang sudah Aland nantikan. Mami pun tersenyum, menanti jawaban darinya.
“Alhamdulillah, mmm kemarin Aland sudah bertemu dengan ibunya. Dia tinggal berdua dengan ibunya saja, mmm ayahnya sudah meninggal. Kakak-kakaknya telah berkeluarga, dia anak bungsu. Mmmm.., “ Setiap membicarakan topic ini seperti biasanya Aland menjawab pertanyaan Abi dengan kepala tetunduk dan bicara agak terbata.
“Terus?” tanya Abi dan Mami bersamaan, karena Aland menggantungkan nada bicaranya.
Aland mulai menegakkan kepalanya, lalu menatap wajah  Abi dan Mami.
“Ibunya menyambut baik kedatangan Aland. Mmm Aland diajak masak bareng Mi, sepertinya Aland mulai harus kursus belajar masak sama Mami ya,” Aland meneruskan bicaranya sambil menatap Mami.
Mami hanya tersenyum.
“Mami, kali ini Aland serius Mi…” raut muka Aland terlihat sangat memohon. Aland menyadari, ia sering bicara seperti itu dari semenjak awal kuliah, namun tidak pernah diikuti dengan aksi nyata. Ya, sehari dua hari rutin membantu Mami di dapur, setelah itu hanya waktu senggang saja ia berada di dapur membantu Mami memasak menu keluarga.
“Iya..” Mami kembali tersenyum.
Mau dimulai kapan kursusnya?, atau kita mulai susun jadwal menu sekarang?” Mami menantang keseriusan Aland.
“Iya Mi. Mmm nanti Aland saja yang susun jadwalnya,” jawab Aland serius.
“Menunya variatif ya. Jangan-jangan nanti seminggu penuh Abi makan daging ayam saja,” seperti biasa Abi selalu menggoda Aland, apalagi urusan memasak ini. Abi menyadari untuk urusan dapur Aland memang belum memiliki kemampuan yang setara dengan Maminya dulu di saat awal pernikahan.
“Abi, jangan begitu. Ini saatnya kita mendukung Aland bahkan agak memaksa untuk urusan satu ini,” Mami mencoba membela Aland.
Aland pun benar-benar sadar, ternyata kemampuan dasar memasak ini harus segera ia miliki. Urusan ini serius, sama pentingnya dengan persiapan yang lain, batinnya dalam hati.

Akhirnya, perbincangan di meja makan itu hanya diisi dengan urusan dapur dan masak memasak. Padahal banyak hal lain yang ingin Aland sampaikan ke Abi dan Mami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar