Hari Selasa.
Sejak bangun tidur, raut muka Cyra tidak
berubah. Di rumah, Abi dan Mami hanya melihat muka cemberut Cyra. Abi yang pintar
menggoda pun tidak berhasil mendapat
senyum khas Cyra, bahkan Mami yang sudah memasakkan
Cyra nasi goreng spesial pun tetap tidak mendapatkan sapaan pagi Cyra yang selalu
ceria. Hingga Abi yang mengantarkan Cyra sampai depan gerbang sekolah pun hanya
mendapatkan ciuman di tangan dan ucapan salam tanpa senyum.
Di ruang kelas, teman
sebangku Cyra pun keheranan dengan muka kesal Cyra sejak masuk kelas tadi. Cyra
hanya duduk dengan memasang muka kesal, teman sebangkunya tidak berani bertanya
terlebih dahulu sebelum Cyra membuka pembicaraan. Teman sebangkunya ikut diam
memperhatikan Cyra.
Sampai waktu istirahat,
teman sebangkunya itu akhirnya
memberanikan diri bertanya kepada Cyra.
“Cyra, jajan ke kantin yuk,
tadi
pagi aku belum
sempat sarapan, laper nih,”
ajak Anis, teman sebangku Cyra.
“Tadi aku sudah sarapan, jadi malas jajan,” Cyra menjawab tanpa
sedikit pun melihat ke arah Anis.
Sekarang perhatian Cyra
hanya tertuju pada kertas yang ia
tulis sejak tadi. Anis
berprasangka bahwa benar ada sesuatu hal yang menimpa Cyra, namun ia belum
menemukan apa penyebab yang
membuat Cyra bermuka kesal semenjak masuk kelas tadi pagi.
Cyra adalah seorang pribadi
yang sangat terbuka, tanpa ditanya ia akan
bercerita banyak hal, mulai dari pribadi, keluarga sampai hal-hal yang tidak
penting. Jadi agak aneh ketika Cyra melakukan aksi bungkam dari awal masuk
kelas tadi, dan itu yang membuat teman sebangkunya keheranan melihat tingkah
laku Cyra.
Anis
betul-betul dibuat penasaran dan
ingin mencoba memancing perbincangan
yang menarik dengan Cyra.
“Oiya Cyra, tadi pagi kamu diantar Abi ya?, memang Kak Aland
kemana?” Anis
membuka percakapan. Rasa penasarannya mengalahkan niatnya untuk jajan ke
kantin. Ia menatap Cyra berharap
mendapat perhatian Cyra.
“Memang kenapa harus Kak
Aland yang mengantarku ke sekolah, Abi juga bisa kok, lagipula…,” Intonasi awal kalimat
yang diucapkan Cyra cukup tinggi, namun
intonasi tinggi itu seketika melemah di akhir kalimat. Cyra kembali
mengalihkan perhatiannya ke arah kertas di atas meja yang ia pegang dari tadi. Anis cukup kaget
mendapatkan muka sinis Cyra kepadanya, tak disangka pertanyaan pembuka kalimat
tadi langsung dijawab oleh Cyra dengan nada yang tinggi. Anis mencoba berpikir.
“Eh hari Ahad kemarin aku lihat kakakmu bersama temannya di depan
rumah tetanggaku, kupikir kau ikut tapi setelah ku lihat lagi kakakmu hanya
bersama seorang temannya,”
Anis mencoba mengalihkan
pembicaraan di awal tadi dengan bercerita hal lain. Namun tak disangka tiba-tiba Cyra menatapnya tajam,
reaksi atas ceritanya tadi. Anis sampai
kebingungan, dan mengerutkan
keningnya.
“Hei kenapa kamu?, dari tadi cemberut sekarang mukanya serem gitu,” Anis mencoba untuk
mencandai Cyra, namun respon Cyra tidak berubah.
“Hari Ahad kemarin kamu benar-benar lihat
Kak Aland?”
Anis hanya
tersenyum mengangguk, senang
akhirnya dapat mengambil perhatian Cyra. Dengan anggukan yang mantap Anis menjawab pertanyaan
Cyra dan berusaha meyakinkannya.
“Ada acara apa Kak
Aland disana?” Cyra mulai mencoba menelusuri cerita teman sebangkunya itu.
Sepenuhnya menghadapkan dirinya di hadapan
Anis.
“Aku tidak tahu itu, tadi kan aku bilang hanya lihat Kak Aland pagi-pagi
ada di rumah tetanggaku, waktu itu aku lagi menyapu jalan depan rumah. Eits sebelumnya, aku juga ingin tahu
kenapa dari tadi pagi kamu bertampang kesal seperti itu?” Anis tersenyum, ingin
mengenyahkan rasa pensarannya sejak masuk kelas tadi atas tingkah laku Cyra.
“Hmmm.., ini juga berhubungan dengan Kak Aland. Akhir-akhir ini aku
tidak memahami kegiatan Kak Aland. Jarang ada di rumah, menangis di depan Abi,
berpenampilan berbeda dari biasanya, dan yang pasti tidak pernah mengajakku
jalan-jalan lagi hampir sebulan ini. Dan dua hari yang lalu Kak Aland janji akan
tidur di kamarku tadi malam,
tapi kenyataannya dari kemarin sore hingga tadi pagi sebelum berangkat sekolah
Kak Aland tidak ada di rumah.
Kata Mami Kak Aland
sudah minta ijin untuk menginap di rumah temannya.
Tapi kenapa tidak minta
ijin padaku padahal Kak Aland tidak pernah mengingkari janjinya,” Cyra menjelaskan
panjang lebar, seperti biasa Cyra akan terus bercerita tanpa ditanya.
“Itu yang bikin aku
kesal banget hari ini. Sejak kemarin
pagi
aku menanti janji Kak Aland. Nah,
hari Ahad itu Kak Aland pergi seharian dari setelah sholat shubuh sampai sebelum sholat Maghrib.
Aku tidak diberitahu kemana perginya Kak Aland, Abi dan Mami pun seakan merahasiakannya dariku,” Cyra melanjutkan
ceritanya.
Sementara Anis terus menyimak cerita
Cyra. Hingga
tiba-tiba Cyra menatap tajam wajah
Anis.
“Kau kenal dengan
tetanggamu itu?, bagaimana kalau besok pulang sekolah aku main ke rumahmu dan
kau ajak aku ke rumah tetanggamu itu. Sungguh aku penasaran Kak Aland bertemu
dengan siapa di hari
Ahad itu,” Wajah Cyra berubah sumringah, menganggap dirinya telah
menemukan ide yang cemerlang.
“Stop, tunggu dulu.
Kamu benar-benar akan menyelidiki kakakmu dari belakang?, kenapa kamu tidak langsung tanya kepada
kakakmu saja?, mungkin itu jalan lebih baik,”
Anis mencoba memberikan
saran yang cukup bijak, meskipun di akhir kalimatnya dia tidak yakin dengan sarannya
sendiri. Karena tidak bisa dipungkiri, ia juga penasaran dengan keingintahuan
Cyra.
“Aku tidak tahu, tapi semua orang
rumah tidak ada yang mempedulikan keingintahuanku. Kau mau bantu aku tidak?”
Cyra tetap merayu teman sebangkunya.
“Mmm baiklah. Aku bantu kau, tapi jangan berharap aku akan
mengantarmu ke rumah tetanggaku. Aku akan memberikan jalan lain,” Anis tersenyum sambil
mengedipkan sebelah matanya, ia sudah terbius
ajakan Cyra untuk menyusun suatu rencana penyelidikan.
Perbincangan dua teman
itu seketika berhenti karena waktu istirahat telah berakhir, dan guru matematika
sudah masuk ke ruang kelas. Sementara guru matematika memulai jam pelajarannya,
dua murid yang duduk sebangku itu saling berbalas senyum, mereka akan menyusun
suatu rencana investigasi.
Teman sebangku itu
menulis di suatu kertas dan segera menyerahkan kertas itu ke Cyra.
Tetanggaku
itu seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya, ibu itu tidak galak tapi cukup disegani
diantara tetangga-tetanggaku, dan aku pun tidak berani bertemu dengan ibu itu
hanya untuk menyelidiki kakakmu. Tapi tenang saja, aku sering melihat cucu ibu itu bermain
sendiri,
dia sering bermain di rumah neneknya, dan kita bisa menanyainya.
Cyra segera menulis
balasannya di kertas itu.
Sudah
kuduga kau tentu akan mendukungku, nanti malam aku akan minta ijin ke Mami
kalau besok mau belajar di rumahmu sepulang sekolah, semoga dijinkan. Makasih
teman..
Teman sebangku
tersenyum dan segera menulis balasannya di kertas itu.
Bukankah
kau tahu bahwa dari dulu aku ingin menjadi detektif cilik, aku selalu menyukai
penyelidikan.
Belum sempat Cyra
menulis balasannya di kertas itu, Guru Matematika sudah memanggil nama Cyra.
“Cyra, kamu kerjakan PR
nomor satu di papan tulis,”
suara guru matematika cukup keras menyadarkan Cyra dan teman sebangkunya untuk
menghentikan berbalas pesan di kertas itu. Dan seketika itu, senyuman Cyra berubah
menjadi raut muka ketegangan, matanya bekerja cepat melihat buku matematikanya,
dan giginya menggigit keras bibir bawahnya. Ia
teringat bahwa semalam dia lupa mengerjakan PR matematika, matanya segera
menatap teman sebangkunya.
---
ooo ---
Satu malam menuju hari
selasa.
Aland benar-benar lupa
akan janjinya kepada Cyra Seharusnya
malam ini ia berada di kamar Cyra, menemani dan bercerita dengan Cyra sesuai
janjinya kemarin. Sejak siang tadi Aland sudah bergegas dan minta ijin ke Mami
untuk menginap di rumah sahabatnya.
Aland sudah pergi sebelum Cyra pulang dari sekolah.
Sebenarnya Mami sangat
tidak suka jika kedua putrinya menginap di rumah teman, bahkan untuk alasan
mengerjakan tugas Mami berusaha keras mencegah kedua putrinya menginap di rumah
teman. Pernah suatu hari, Aland mengerjakan tugas kampus yang cukup mendesak di
rumah temannya sampai jam 8 malam.
Aland segera menghubungi Mami untuk meminta ijin bahwa dirinya akan menginap di
rumah temannya malam itu.
Namun Mami menolak
memberikan ijin dan meminta Aland untuk segera menyelesaikan tugasnya sampai
jam sepuluh dan memberitahukan
bahwa Abi akan menjemputnya di rumah temannya. Mami tidak pernah mau memberikan
alasan yang jelas tentang larangan itu, apalagi Abi hanya tersenyum ketika
kedua putrinya menanyakan hal tersebut. Namun untuk malam ini Abi dan Mami
bersepakat mengijinkan Aland menginap di rumah Tara.
Dan malam
ini, Aland berada di kamar Tara. Setelah makan malam dan sholat berjamaah Isya,
kedua sahabat itu masing-masing membaca buku. Sesekali Tara melirik ke arah
Aland, lalu membaca lagi.
Tara heran bukankah tujuan Aland menginap malam ini karena Aland ingin
bercerita banyak hal tapi kenapa Aland malah terus membaca buku. Tara paham
diri Aland, sahabatnya sejak SMU itu belum berubah sampai saat ini. Aland perlu dipancing
untuk bercerita, Aland memang cukup pendiam, namun sekali bercerita akan terus
becerita hingga lawan bicaranya terpaksa diam mendengarkannya. Pribadi Aland ini cukup
berbeda dengan adiknya. Tara berniat memulai percakapan dengan Aland.
“Aland, kamu tahu ga kenapa sejak awal aku minta bantuan
Mas Rian dalam urusanmu dengan Kak Adnan?”
Tara sengaja membuka percakapan itu dengan topik hubungan Aland dan Adnan. Tara tahu bahwa
sahabatnya itu ingin mencurahkan isi hatinya tentang Adnan dan keluarganya yang
telah ia temui hari kemarin.
Dan berhasil, Aland
langsung menutup buku yang sedang ia baca dan segera menatap wajah Tara dengan
dahi berkerut, tanda ia sedang penasaran.
“Kau belum pernah
cerita tentang hal itu, dan sebenarnya dari awal pun aku ingin tahu alasanmu
melibatkan Mas Rian,”
perhatian Aland mulai terfokus dalam percakapan ini.
Tara segera menutup
bukunya, dan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sendiri
kepada Aland.
“Aku takut. Aku tidak
pernah lupa satu cerita dari .....”
“Cerita apa?, ustadz
siapa?, kok kamu tidak pernah cerita ke aku?”
Aland memotong kata-kata Tara dengan rentetan pertanyaan yang menunjukkan
penasarannya yang sangat tinggi, bukunya yang tadi dibacanya sudah lepas dari
tangannya.
“Ini kan aku mau cerita, ceritanya aku ingat
betul tapi
siapa yang menceritakannya aku lupa betul,”
Tara melanjutkan ceritanya, tidak terlalu peduli dari siapa ia mendapatkan
cerita itu.
Dan Aland pun
benar-benar lupa akan janjinya kepada adik semata wayangnya.
---
ooo ---
Hari Rabu.
“Hai Cyra, orangtuamu mengijinkanmu untuk
ke rumahku sepulang sekolah nanti?”.
Pagi itu,
Cyra baru masuk kelas dan langsung disambut oleh Anis dengan pertanyaan tersebut.
“Tidak ada masalah, lihat saja ini bekal makan siangku bertambah. Mungkin Mami
cukup khawatir aku akan kelaparan di rumahmu nanti,” jawaban Cyra membuat Anis lebih
bersemangat untuk menyusun rencana penyelidikannya.
Selama
pelajaran berlangsung hingga siang hari, Anis terus menceritakan tentang seluk
beluk keluarga yang akan Cyra selidiki. Ia mendapatkan informasi cukup lengkap
dari ibunya yang kebetulan satu kelompok pengajian dengan ibu dari keluarga
itu.
Sang ibu
tinggal bersama salah seorang anak lelakinya yang sudah lulus kuliah dan belum
menikah. Salah satu cucunya hampir setiap hari bermain di rumah sang ibu itu
sepulang sekolah sambil menunggu jemputan ayahnya di sore hari. Si cucu sering
bermain di depan rumah karena neneknya tidak mengijinkan untuk jauh-jauh dari
rumah. Singkatnya seperti itu cerita yang disampaikan oleh Anis kepada Cyra.
Rencana pertama mereka yaitu berkenalan dengan si cucu tersebut.
“Ok. Hari ini kita harus bertemu dengan
si cucu itu, lalu aku akan dapat informasinya,” Cyra menyusun rencananya dengan
mantap.
“Eits tunggu dulu, kan aku detektifnya, jadi kamu harus mengikuti rencanaku. Hari ini
target kita bertemu dengan si cucu dan berkenalan. Jangan langsung ditodong
dengan rasa penasaranmu. Dia masih anak kelas empat. Setuju tidak?” Anis menawarkan strateginya.
“Hmm ok, apa strategi selanjutnya?” belum
sempat Cyra mendengar jawaban dari Anis, Guru Bahasa Indonesia sudah memasuki
kelas. Dan selama pelajaran hingga tengah hari Cyra dan Anis terus membahas
rencana-rencana penyelidikannya. Mereka terlihat begitu semangat.
---
ooo ---
Siang itu Cyra
sudah berada di rumah Anis. Setelah menghabiskan bekal makan siangnya, Cyra duduk
santai di teras rumah. Sebelumnya ia berniat membantu Anis merapikan ruang
makan, namun dilarang oleh ibu Anis. Akhirnya ia memilih pergi ke teras sambil
menunggu penyelidikannya dimulai. Lokasi rumah target masih satu deret dengan
rumah Anis hanya berjarak lima rumah saja.
Sesuai
dengan rencana penyelidikan, target sasaran sedang bermain sendiri di halaman
rumah neneknya. Cyra segera mengajak Anis untuk memulai rencananya.
“Assalamu’alaikum
adik cantik, neneknya ada di rumah?” Anis mulai menyapa target sasaran.
“Eh kakak, wa’alaikumsalam. Ga biasanya kakak mau main ke rumah, kakak mau bertemu
dengan nenek?, nenek ada di dalam mungkin sedang nonton tv, sebentar ya.”
“Eh sebentar, ga perlu dipanggilkan dik. Kakak hanya ingin kasih ini, titipan
dari ibu,” Anis memberikan sebuah mangkuk berisikan soto ayam.
“Wah enaknya, aku suka soto ayam lho kak, kok kakak bisa tahu?”.
“Kakak tahu
dong. Eh kakak pulang dulu ya,
sampaikan saja itu dari Bu Indah. Kakak pulang dulu ya adik cantik,” Anis
segera meraih tangan Cyra dan mengajaknya kembali lagi ke rumah.
Cyra yang
sejak tadi diam melihat dialog antara Anis dengan sang target mulai heran.
Sampai di rumah Anis, ia langsung mempertanyakan pertemuan tadi.
“Hei kenapa tadi kita tidak langsung
bertanya dan mencari informasi ke anak itu?” nada bicara Cyra sedikit protes,
menunjukkan ia sangat tidak sabar dengan proses penyelidikan ini.
“Hmm ada yang lupa nih. Sudah kujelaskan tadi di kelas bahwa tahap pertama adalah menciptakan
kesan baik. Kan sudah ku bilang kalau
aku tidak berani bertemu dengan neneknya, dan kau juga jangan coba-coba sendiri
ya nanti aku yang kena lagi”.
“Iya,
sebenernya tadi aku tidak paham maksud tahap pertama itu apa. Kenapa harus
dengan soto ayam?, lalu kapan kita bisa mulai menggali informasi dari anak
itu?” raut wajah Cyra berubah dari wajah protes menjadi wajah bingung dan
penasaran.
“Hmm kamu itu memang kalau lagi kurang
sabar otaknya jadi melambat. Nanti kamu sendiri akan tahu maksudnya. Oiya tadi ibu membuat es buah, kita
santap dulu yuk,” jawaban Anis
mengalihkan topic pembicaraan.
“Iya dan
kamu selalu tidak mau segera menjawab dan membuatku penasaran. Ok lah minum es buah dulu,” rasa
penasaran Cyra sementara tertutup dengan segarnya es buah buatan ibunya Anis.
---
ooo ---
Aku suka
gaya Cyra. “Cyra, ayo aku mendukungmu,” bisikku dalam hati. Aku tersenyum sendiri.
Rasa penasaranku sama seperti Cyra, dan aku ingin selalu mengikuti langkah
penyelidikannya. “Cyra, kalau aku jadi kamu, aku pasti akan memberanikan diri
langsung bertemu dengan nenek itu, aku akan bertanya tentang Adnan, apa
hubungannya dengan Aland, ada perlu apa Aland ke rumah nenek waktu itu, dan ah
masih banyak yang ingin kutanyakan,” aku tersenyum sendiri, berkhayal sesuatu
yang tak mungkin terjadi.
Sebetulnya
aku juga sedang sedih. Teman baikku sedang pergi jauh, dan ia tak tahu kapan
kembali. Ia masuk suatu sekolah, aku tidak diajak karena belum cukup umur. Kata
temanku suatu saat nanti aku juga akan masuk sekolah itu. Aku tidak tahu tempat
macam apa itu. Tunggu saja aku akan investigasi setelah ia kembali pulang. Aku
tertawa, ingat dengan investigasi yang dilakukan Cyra.
Aland,
bagaimana kabarmu?, tahukah kau bahwa adikmu sangat takut kehilanganmu?, aku
pun begitu. Semalam aku bermimpi sangat indah. Aku bertemu denganmu, di bawah
pohon yang sangat teduh, diatas hamparan rumput segar bak permadani hijau. Kita
bersama menatap lukisan pelangi di kejauhan. Kau terdiam, aku pun begitu. Senyuman
indah terlahir dari bibirmu, dan aku sangat bahagia memandangnya.
---
ooo ---
Pukul
16.30, Abi dan Cyra sudah tiba di rumah. Cyra disambut Aland yang sedang
menyantap eskrim di teras rumah, lalu menawarkan eskrim kepada adiknya yang
terlihat cukup lelah.
“Adik kakak
yang sholihah, sepertinya lelah sekali selesai ngerjain tugas. Enak nih makan eskrim sambil duduk-duduk
santai disini,” Aland menggoda Cyra yang sedang duduk melepas sepatunya.
“Lagi ga pengen eskrim Kak. Tadi Cyra sudah
minum es buah di rumah teman. Eskrimnya untuk kakak atau Abi saja,” Cyra
menjawab datar sambil berlalu masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa Aland.
Sejak
kemarin siang, tepat setelah Aland benar-benar mengingkari janjinya kepada
adiknya, Cyra dengan sengaja memperlihatkan sikap tidak ramahnya kepada Aland.
Sore
harinya Aland sudah minta maaf dengan tulus kepada Cyra. Cyra sudah memaafkan,
namun ia tetap ingin memperlihatkan sikap tidak ramahnya di hadapan Aland.
Sebenarnya
Cyra tidak benar-benar memiliki sifat tidak ramah, ia hanya ingin membuat
kakaknya merasa bersalah atas janjinya yang diingkari. Ia pun belum menentukan
batas waktu sampai kapan ia akan berlaku seperti itu.
Cyra menyadari
bahwa Aland sedang membujuknya. Semalam Aland membuatkan mi instan kesukaannya,
sore ini membelikan eskrim kesukaannya juga. Sebenarnya ia cukup tergoda dengan
rayuan-rayuan Aland, namun ia terus berusaha menahan diri. Di satu sisi ia
senang atas perhatian Aland yang cukup berlebih, namun di sisi lain ia juga
tidak tahan untuk terus memasang muka masam di hadapan kakaknya.
Usaha Aland
tidak cukup maksimal dalam membujuk Cyra. Ada hal lain yang lebih menyita
pikirannya dibandingkan harus terus-menerus membujuk Cyra yang sedang mencari
perhatian darinya. Waktu Aland tidak banyak untuk mempersiapkan rencana
besarnya, ia harus mulai bersiap diri.
Setelah
makan malam bersama, Cyra minta ijin untuk segera masuk kamar. Ia beralasan ada
banyak tugas yang harus dikerjakannya. Aland tersenyum, malam ini ia tidak akan
membujuk Cyra. Sangat kebetulan ini menjadi waktu yang tepat bagi Aland untuk memulai
bicara serius dengan Abi dan Mami tentang rencana besarnya.
Mami membuka
perbincangan, setelah melihat Aland dan Abi menyelesaikan makan malamnya.
“Oiya Aland, pudingnya kurang manis ya?.
Entah kenapa tadi Mami bisa-bisanya lupa memasukkan gula, beruntungnya masih
ada fla jadi bisa cukup menyamarkan rasa hambarnya,” Mami tertawa kecil. Namun
sebenarnya bukan hal itu yang ingin Mami tanyakan ke Aland, Mami merasa agak
aneh dengan dirinya tidak berani menanyakan hal itu langsung ke Aland.
“Eh, enak kok. Puding dan fla menyatu di lidah, sama sekali ga ada tempat
untuk rasa hambarnya,” Aland ikut tertawa. Ia pun bingung hendak memulai
pembicaraan serius itu dari mana.
“Kalau begitu,
besok-besok buat pudingnya seperti ini saja Mi,
daripada kebanyakan gula nanti bisa diabetes,” Abi ikut memberi komentar
tentang pudding itu. Semuanya pun tertawa membicarakan pudding hambar itu,
padahal dalam hati Mami dan Aland ada hal lebih penting yang ingin disampaikan.
“Oiya Aland, bagaimana pertemuanmu dengan
keluarganya kemarin?, Abi juga ingin segera bertemu dengan Adnan,” Abi
mengalihkan topik pembicaraan, semuanya berhenti tertawa.
Aland
menyambut pertanyaan Abi dengan senyuman. Pertanyaan ini yang sudah Aland
nantikan. Mami pun tersenyum, menanti jawaban darinya.
“Alhamdulillah,
mmm kemarin Aland sudah bertemu
dengan ibunya. Dia tinggal berdua dengan ibunya saja, mmm ayahnya sudah meninggal. Kakak-kakaknya telah berkeluarga, dia
anak bungsu. Mmmm.., “ Setiap
membicarakan topic ini seperti biasanya Aland menjawab pertanyaan Abi dengan
kepala tetunduk dan bicara agak terbata.
“Terus?”
tanya Abi dan Mami bersamaan, karena Aland menggantungkan nada bicaranya.
Aland mulai
menegakkan kepalanya, lalu menatap wajah Abi dan Mami.
“Ibunya
menyambut baik kedatangan Aland. Mmm Aland
diajak masak bareng Mi, sepertinya Aland
mulai harus kursus belajar masak sama Mami ya,” Aland meneruskan bicaranya
sambil menatap Mami.
Mami hanya
tersenyum.
“Mami, kali
ini Aland serius Mi…” raut muka Aland
terlihat sangat memohon. Aland menyadari, ia sering bicara seperti itu dari
semenjak awal kuliah, namun tidak pernah diikuti dengan aksi nyata. Ya, sehari dua
hari rutin membantu Mami di dapur, setelah itu hanya waktu senggang saja ia
berada di dapur membantu Mami memasak menu keluarga.
“Iya..”
Mami kembali tersenyum.
“Mau dimulai kapan kursusnya?, atau kita
mulai susun jadwal menu sekarang?” Mami menantang keseriusan Aland.
“Iya Mi. Mmm
nanti Aland saja yang susun jadwalnya,” jawab Aland serius.
“Menunya
variatif ya. Jangan-jangan nanti seminggu penuh Abi makan daging ayam saja,”
seperti biasa Abi selalu menggoda Aland, apalagi urusan memasak ini. Abi menyadari
untuk urusan dapur Aland memang belum memiliki kemampuan yang setara dengan
Maminya dulu di saat awal pernikahan.
“Abi,
jangan begitu. Ini saatnya kita mendukung Aland bahkan agak memaksa untuk
urusan satu ini,” Mami mencoba membela Aland.
Aland pun
benar-benar sadar, ternyata kemampuan dasar memasak ini harus segera ia miliki.
Urusan ini serius, sama pentingnya dengan persiapan yang lain, batinnya dalam
hati.
Akhirnya,
perbincangan di meja makan itu hanya diisi dengan urusan dapur dan masak
memasak. Padahal banyak hal lain yang ingin Aland sampaikan ke Abi dan Mami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar