Jumat, 26 Februari 2016

Chapter 1 : A Family


“Cyra..., kau sedang apa?, sepedamu sudah Abi siapkan di depan, ayo segera!” Abi berteriak dari teras rumah.
Teriakan Abi jelas mengganggu lamunan Cyra yang masih memikirkan kakaknya. Cyra masih di dalam kamar setelah sholat shubuh tadi, dan ia sedang berpikir keras. Tiba-tiba terlintas sebuah ide setelah Cyra mendengar teriakan Abi tadi.
“Tunggu bi, Cyra lagi ganti baju dulu,” Cyra berteriak tidak kalah keras dari teriakan Abi. Cyra berpikir dengan olahraga pagi bersama Abi tentu akan Cyra manfaatkan untuk menyelidiki apa yang terjadi dengan kakaknya.
Setiap hari Ahad, Abi tidak pernah luput sekalipun mengajak Cyra olahraga pagi, baik bersepeda mengelilingi kota atau sekedar lari pagi di alun-alun kota. Pesan Abi yang selalu diingat Cyra yaitu jangan pernah mengeluh sakit kalau tidak rajin olahraga. Abi bukan seorang atlet olahraga, tapi komitmennya untuk berolahraga melebihi seorang atlet lari. Bahkan tidak ada pengurangan jatah waktu olahraga pagi di Bulan Ramadhan. Olahraga pagi setiap hari Ahad itu hanya pernah absen ketika bersamaan dengan Hari Raya Idul Fithri, Hari Raya Idul Adha, dan ketika Abi sedang dalam perjalanan. Konon tiga jam sebelum Abi mengucapkan ijab qobul saat menikahi Mami, Abi menyempatkan untuk lari pagi keliling kampung halamannya Mami.
Ayo Bi, Cyra suda siap. Abi, nanti kita ngebubur dulu ya di alun-alun,” Cyra menghampiri Abi yang sudah siap menaiki sepedanya. Cyra pun mengambil sepedanya setelah melihat anggukan Abi. Cyra dan Abi pun mulai bersepeda.
Sekitar 150 meter dari rumahnya, Cyra sudah tertinggal di belakang Abi. Cyra segera mempercepat lajunya dan bertekad untuk memulai penyelidikannya perihal Kak Aland yang bertingkah aneh dari semalam.
“Abi.., Kak Aland kemana?, kenapa hari ini boleh absen olahraga pagi?” Cyra bertanya dengan setengah berteriak karena Abi berada dua meter di depan Cyra. Abi pura-pura tidak mendengar dan tetap santai mengayuh sepedanya.
“Abi !! Kak Aland kemana?” Cyra meninggikan suaranya. Namun Abi tetap pura-pura tidak mendengar. Setelah tiga kali Cyra berteriak, Abi memperlambat laju sepedanya hingga sejajar dengan sepeda Cyra.
“Kak Aland ada keperluan yang membuatnya harus berangkat pagi-pagi, jadi tidak bisa ikut olah raga pagi, tapi Kak Aland berjanji besok pagi akan besepeda sendiri,Abi tersenyum menggoda Cyra.
Senyuman Abi membuat senyuman terbalik di bibir Cyra. Itu sama sekali bukan jawaban yang diharapkan Cyra. Cyra memasang muka kesal ketika Abi melihatnya.
“Yang jelas Kak Aland pergi bukan dengan alasan olahraga bersama teman padahal akhirnya bermain di rumah teman,” Abi menambah kekesalan Cyra dengan menyinggung kebohongan yang pernah Cyra lakukan sebulan yang lalu.
Kemudian Abi mempercepat kayuhan sepedanya meninggalkan Cyra di belakang, sambil berteriak “ Ayo... siapa tadi yang mau sarapan bubur ayam.”
Cyra jelas kesal, ia melambatkan kayuhan sepedanya dan berpikir akan membiarkan Abi menunggunya di alun-alun.
Namun sampai di tenda bubur ayam yang menjadi tempat kesukaannya, ia tidak melihat Abi. Ia kebingungan sambil kembali mengelilingi alun-alun, barangkali ia akan melihat Abi. Tiga kali putaran ia tetap tidak melihat Abi. Terpaksa ia harus pulang tanpa bubur ayam, karena ia tidak menemukan Abi dan menyadari bahwa ia tidak membawa uang sepeser pun.
Cyra segera pulang dengan lelah, lapar dan haus. Rencana penyelidikannya sementara menguap diganti dengan kekesalan kepada Abi yang telah meninggalkannya. Ia mengayuh sepeda sangat pelan karena tenaganya sudah cukup terkuras. Tiba di rumah, ia melihat Mami sedang berkebun di halaman depan.
Mami sedang merapikan tanaman yang sudah mulai tidak beraturan di taman kecilnya depan rumah. Mami memang jarang ikut Abi olahraga pagi, dan Abi tidak pernah memaksanya. Mami selalu beralasan senam yang diikutinya dua kali sepekan sudah cukup untuk menjaga kesehatan badannya. Pernah sekali Mami ikut Abi olahraga pagi, namun waktu istirahatnya di alun-alun dua kali lebih lama dari waktu bersepedanya. Maka dari itu Abi lebih menuntut dua putrinya untuk mengikuti rutinitasnya olahraga pagi.
Mami melihat putri bungsunya tiba rumah dengan raut wajah terlipat kusut, Mami hanya tersenyum kepada Cyra.
“Taruh saja sepedanya di samping sepeda Abi, nanti Mami yang masukkan ke garasi,” Mami membantu mengurangi kelelahan Cyra. “Oiya bubur ayamnya sudah Mami siapkan di atas meja makan,” Mami jelas mengurai raut wajah Cyra yang terlipat.
Trimakasih Mi...” Cyra tersenyum.
Di ruang makan, Abi telah menghabiskan bubur ayamnya. Cyra mengambil bubur ayamnya tanpa menghiraukan Abi di depannya. Cyra memilih menyantap bubur ayamnya di teras rumah sambil menemani Mami yang masih sibuk mengurusi tanaman.
Kepada Mami, Cyra melanjutkan penyelidikannya sambil menyantap bubur ayam.
Mi, Kak Aland pergi kemana sih pagi-pagi?.., Abi ga mau ngasih tau tuh” Cyra menyantap bubur ayam sambil memulai penyelidikannya.
Mami yang sedang memotong ranting-ranting pohon berpikir harus memberi jawaban apa kepada Cyra.
“Kak Aland akan bertemu seseorang yang Kakak hormati, makanya kakak berusaha berpenampilan rapi dan berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat dengan janjinya bertemu orang tersebut, Mami terus merapikan pohon kamboja kesayangannya.
“Cyra ga ngerti mi, siapa orang itu?” Cyra bertanya-tanya sambil terus menyantap bubur ayamnya yang hampir habis.
“Cyra sekarang usianya berapa?”
Sepuluh tahun Mi, kenapa?”
“Usia Cyra 10 tahun, usia Kak Aland 22 tahun. Nanti Cyra akan mengerti urusan Kak Aland ketika usia Cyra menginjak 22 tahun, bisa lebih cepat atau lebih lama. Sudah, sekarang urusan untuk gadis berusia 10 tahun yaitu segera masuk ke dalam dan bawa piring kotor ke dapur. Ok.” Penjelasan Mami membuat Cyra malas untuk melanjutkan bertanya lagi dan segera mengikuti apa yang diperintah Mami. Cyra masuk ke dalam, ia kembali memasang muka kesal ketika berpapasan dengan Abi.
Hari Ahad itu, Cyra menghabiskan waktu seharian di rumah membantu Mami. Di dapur, membersihkan rumah, dan kembali berkebun bersama Mami di sore hari. Cyra ingin memanfaatkan waktu jika ada kesempatan untuk melanjutkan penyelidikannya.
Cyra tidak peduli urusan macam apa untuk manusia berusia 22 tahun, yang penting dia ingin tahu ada apa dengan kakaknya akhir-akhir ini. Dalam hatinya berbisik, “Aku tidak peduli urusan apa itu, tapi yang jelas urusan itu telah mencuri waktuku bersama kakak. Sepekan ini aku tidak ada waktu bercerita dengan kakak, ketika kakak di rumah sering hanya berdiam di dalam kamar dan tidak ingin diganggu. Jika urusan itu benar-benar akan mengambil waktuku bersama kakak, lalu siapa yang akan mengajakku jalan-jalan ke toko buku, Abi tidak pernah mau berlama-lama di toko buku apalagi Mami di ajak ke toko buku pun tak mau. Sepekan lalu aku diajarkan cara memakai jilbab untuk berangkat sekolah, lalu berjilbab untuk sekedar jalan-jalan, ke rumah teman dan ketika olahraga bagaimana, kakak belum memberi tahuku caranya. Kakak jangan meninggalkan Cyra ya. Tiba-tiba hatinya berdesir.

--- ooo ---

Sebelum adzan Maghrib berkumandang, Aland sudah tiba di rumah disambut Abi yang sedang bersiap pergi ke masjid. Abi memang harus sudah sampai di masjid sebelum adzan berkumandang, jika Abi terlambat pergi ke masjid maka adzan di komplek perumahan itu pun akan terlambat berkumandang. Abi adalah muadzin utama di masjid itu, di hari libur Abi mengumandangkan adzan 5 kali sehari, namun hanya 3 kali di hari kerja.
Abi hanya sempat menjawab ucapan salam Aland.
Aland disambut Mami dan Cyra yang sedang menyiapkan makan malam di ruang makan. Aland ikut duduk bergabung di ruang makan.
Hmm Mami masak apa nih?” Aland penasaran sambil melihat-lihat apa saja yang ada di meja makan.
Tapi bukan Mami yang menjawab pertanyaan Aland, melainkan Cyra.
“Kita masak spesial Kak, karena Kakak seharian ini pergi bertemu dengan orang yang Kakak hormati, betul ya Kak?” Cyra sudah tidak sabar ingin menyelidiki kakaknya.
Aland dan Mami saling pandang. Aland mengerutkan kening dan Mami hanya tersenyum.
“Orang itu siapa Cyra?” Aland berbalik tanya kepada Cyra.
“Kata Mami, Kakak hari ini bertemu dengan orang yang Kakak hormati, makanya Kakak pagi-pagi sudah berangkat dengan penampilan yang sangat rapi,” Cyra melanjutkan penyelidikannya.
Tidak ingin dipersalahkan, Mami memotong perbincangan Aland dan Cyra, “Cyra, ayo segera wudhu, kita sholat di masjid. Kak Aland tentu lelah, biarkan Kak Aland mandi dulu dan sholat di rumah.
Aland menyambut baik kata-kata Mami, “Iya Mi, Aland ke kamar dulu ya,” Aland senyum kepada adiknya kemudian segera berlalu ke kamarnya.
Cyra menyambut tidak baik dengan muka kesal, lalu bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Cyra sangat senang sholat berjamaah di masjid, ia senang suasana pergi ke masjid bersama Mami dan Kak Aland, juga suasana pulang bersama Abi, Mami dan Kak Aland. Namun saat itu Cyra hanya pergi berdua bersama Mami.
“Mami, kenapa tadi Kak Aland tidak menjawab pertanyaan Cyra?” Cyra bertanya sambil menutup pagar rumah. Ia merasa ada yang disembunyikan oleh Mami.
Ssst...kita akan pergi ke masjid, Cyra mau pahala langkah kita ke masjid hilang hanya karena kita membicarakan orang lain?” jawaban Mami menjadi senjata ampuh yang membungkam mulut Cyra.
“Tidak,” kemudian Cyra memilih diam selama perjalanan ke masjid.
Masjid komplek perumahan itu merupakan satu-satunya masjid bagi sekitar 500 penduduk yang tinggal di perumahan itu. Masjid itu terletak di samping pintu gerbang masuk perumahan, sedangkan rumah Abi terletak di belakang perumahan, jarak ke masjid sekitar 200 m. Untuk Abi yang bertugas sebagai muadzin utama, jarak itu tidak menjadi masalah, apalagi perjalanan pulang dari masjid di waktu Maghrib selalu bersama Mami dan kedua putrinya, hanya saja Aland sering absen karena aktivitasnya yang membuat Aland sering pulang ke rumah selepas Maghrib.
Saat perjalanan pulang dari masjid ke rumah, Cyra memilih diam. Meskipun Abi bercerita tentang perkembangan jamaah di masjid, itu sama sekali tidak menarik perhatian Cyra. Cyra berpikir bahwa Abi dan Mami tidak mempedulikan keingintahuannya. Ia bergegas jalan, ia ingin segera sampai di rumah dan bertanya kepada Aland.
Sampai di rumah, Cyra mendengar Kak Aland sedang mengaji. Sebelum membuka pintu kamar Aland, Mami sudah menyuruhnya terlebih dahulu.
“Cyra, tolong siapkan piring dan gelas di meja makan ya!” Mami mengetahui apa yang akan Cyra lakukan. Terpaksa Cyra harus melakukan apa yang Mami perintahkan.
Tidak lama kemudian Abi, Mami dan Kak Aland sudah berkumpul di meja makan. Perbincangan selama di meja makan dikuasai oleh Abi yang semangat menceritakan tentang peningkatan jamaah di masjid. Abi sama sekali tidak menyinggung kepergian Aland seharian ini. Cyra pun menjadi tidak berminat melakukan penyelidikannya saat makan malam, karena ia berpikir Abi dan Mami memang sengaja membuatnya tidak perlu tahu apa yang telah Aland kerjakan seharian ini. Ia berniat setelah sholat Isya nanti ia akan ngobrol dengan Aland berdua. Cyra sudah tidak sabar menyudahi makan malamnya.
Setelah sholat Isya, Cyra segera menuju kamar Aland.
“Kak, Cyra malam ini tidur bareng kakak ya,” Cyra memulai rencananya.
“Kenapa?, bulan kemarin Cyra sudah berjanji lho seterusnya akan tidur di kamar sendiri, Cyra kan sudah gadis yang berani sekarang,” Aland tersenyum mencoba untuk menolak permintaan Cyra.
“Cyra bukan tidak berani Kak, tapi Cyra sedang ingin cerita sama Kakak,” Cyra tetap memaksa Aland.
“Hari ini Kakak benar-benar lelah, besok malam Kakak janji tidur di kamar Cyra, bagaimana?” Aland mencoba memberikan pilihan lain kepada adiknya.
“Tapi kakak janji ya.
“Iya, sekarang Cyra ke kamar, belajar lalu tidur ya.”
Setidaknya Aland memiliki waktu untuk memikirkan bagaimana cara menjelaskan ke Cyra, adik yang sangat ia sayangi. Cyra sudah beranjak menjadi gadis remaja, keingintahuannya sangat tinggi. Satu hal pasti yang membuat Aland belum dapat menjelaskan ke Cyra yaitu ungkapan Cyra setahun lalu ketika Abi membujuk Cyra untuk masuk sekolah asrama di luar kota, “Cyra ga mau berpisah dengan Kakak, sebelum Cyra benar-benar jadi perempuan shalihah seperti Kakak. Tidak perlu sekolah di asrama, Kakak juga pasti akan membimbing Cyra”. Saat itu Cyra bersikeras menolak permintaan Abi, Abi pun tidak dapat memaksa putri bungsunya.

--- ooo ---

Ahaa... Aku sudah tahu nama lengkap kakak yang cantik itu, bahkan nama lengkap seluruh penghuni rumah itu. Temanku yang memberi tahuku, ia mendapatkan informasi itu dari sebuah buku yang dibawa oleh makhluk bersayap. Aku tak tahu siapa itu, yang lebih penting aku telah mendapatkan informasi tentangnya. Ya, ia yang ingin kuceritakan padamu.
Abi, sang ayah Aland dan Cyra ini bernama lengkap Arman Farabi, dipanggil Abi sejak usia 1 tahun hingga saat ini. Panggilan Abi bagi kedua putrinya ini tentu mengikuti gaya bicara sang Mami. Mami yang berdarah sunda ini dipertemukan Allah SWT dengan Abi yang berdarah jawa di sebuah kota yang tidak mengenal ras sunda dan jawa, Manchester Inggris. Mami dibawa oleh ayahnya ketika lulus tingkat SMP untuk disekolahkan di Inggris. Ayah Mami adalah seorang staf koki di sebuah restoran, ia merupakan tenaga yang sangat terampil dan disiplin sehingga memikat hati pemilik restoran tersebut dengan memberikan penghargaan kepadanya berupa biaya sekolah untuk putri bungsunya, yaitu Mami.
Mami turut membantu biaya hidup ayahnya dengan mengajar mengaji bagi anak-anak muslim di sebuah lembaga islam di kota tersebut. Masjid tempat mengajarnya itu cukup berdekatan dengan apartemen yang ia tinggali bersama ayahnya, dan berseberangan dengan rumah yang disewa oleh Abi dengan beberapa rekannya. Abi yang memiliki kebiasaan istimewa mengumandangkan adzan itu pun hampir setiap hari pergi ke masjid. Sepuluh menit sebelum adzan maghrib, itulah waktu yang sering mempertemukan Abi dan Mami, ketika Mami sedang membereskan perlengkapan mengajarnya dan Abi yang tentu datang lebih awal untuk mengumandangkan adzan maghrib.
Tiga tahun setelah Abi meraih gelar masternya dan Mami menyelesaikan studi setingkat SMU, Abi mengucapkan ijab qobul di depan ayah dari mempelai pengantin perempuan yang bernama Amira. Ya, Amira yang memiliki nama panggilan Ami itu pun berubah menjadi Mami ketika putri pertamanya berusia 1,5 tahun. Putrinya memanggilnya dengan pangilan “Ami” karena sering mendengar Abi sering mengucapkan “Ami”, seketika itu Abi mengajari Aland untuk memanggilnya dengan panggilan “Mami”.
Itulah kisah pertemuan Abi dan Mami yang kemudian dikaruniai Allah dua putri yang cantik jelita, Aisya Alandia dan Amicyra Azzahra. Aku tidak akan pernah melupakan nama-nama yang indah ini, aku berjanji sampai kapanpun. Aku pun ingin saatnya nanti memiliki nama yang indah, seindah nama-nama yang kusebutkan tadi.
“Tentu saja kau akan memiliki nama yang indah..., namun ada syaratnya.Tiba-tiba temanku yang memberikan informasi tadi berbisik kepadaku.
“Apa syaratnya?” tentu aku sangat ingin tahu.
“Jika kelak orang yang akan menjadi ayahmu nanti melakukan kewajibannya sebagai ayah terhadap anaknya,” temanku berkata mantap memberikan jawabannya, namun aku masih belum paham.
“Kewajiban apa seorang ayah terhadap anaknya?” rasa penasaranku meningkat.
“Setahuku ada tiga. Yang pertama yaitu memilihkan seorang ibu yang baik dan sholihah bagi anaknya. Lalu yang kedua yaitu memberikan nama bagi anaknya dengan nama yang baik. Dan yang ketiga yaitu mengajarkan bagi anaknya agama dan adab,” dengan sangat yakin temanku menjelaskan ketiganya sekaligus, namun aku kemudian bertanya-tanya.
“Dari mana kau tahu semua kewajiban itu?”
“Dari makhluk bersayap yang telah memberikan informasi penting untukmu tadi. Tapi jangan kau tanya dimana ia tinggal, karena tadi aku hanya kebetulan bertemu dengannya dan ketika kutanya dimana rumahnya, dia tak mau menjawab dan langsung pergi sambil tersenyum kepadaku”.

Beruntung sekali temanku ini, pikirku. Jika aku bertemu dengannya aku akan mengajaknya berteman, dan tentu aku akan mendapat banyak informasi yang ingin aku ketahui. 

PROLOG


Alhamdulillah.
Bagaimana perasaanmu saat pertama kali kau mengetahui siapa yang akan menjadi ibumu, apa kau masih ingat?.
Bagaimana perasaanmu?.
Aku tahu, sepertinya memorimu tak sanggup memutar kembali ke saat itu.
Kau beruntung, aku disini ingin berbagi perasaan yang sedang kualami saat ini. Perasaan ini tidak dapat kutuliskan dengan kata-kata karena aku belum belajar menulis, dan perasaan ini pun tidak dapat kugambarkan dengan lukisan karena aku tak tahu bagaimana cara menggambar. Perasaan ini tentu pernah kau alami, karena kau mengalami kejadian sama seperti yang sedang aku alami saat ini. Perasaan yang tidak akan pernah kau bayangkan selama hidupmu. Kau hanya lupa, lupa akan perasaan pada saat kejadiaan yang sesungguhnya pernah kau alami, seperti yang sedang aku alami saat ini. Jika kau dapat melihat kehidupan ibumu sebelum kau terlahir di dunia, tentu kau tak akan pernah sanggup melukai hati ibumu bahkan untuk menunjukkan wajah murungmu.
Sekali lagi, kau beruntung, aku akan menceritakan sebuah kisah untukmu disini jika kau bersedia untuk duduk sejenak membacanya. Aku adalah satu jiwa, begitu juga kalian yang memiliki satu jiwa –tidak lebih-. Aku adalah satu jiwa yang sedang dipersiapkan oleh Sang Penggenggam Jiwa ini untuk pergi ke suatu kota, aku tak tahu dimana itu. Tapi kata temanku, kota itu sangat indah dan menantang. Karena itu, Dia Yang Mulia memberiku kesempatan untuk sementara berada disini dan mencari tahu banyak hal.

--- ooo ---

Pada suatu tengah malam, di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter, seorang gadis kecil sedang gelisah. Dia sudah berusaha memejamkan mata, namun tetap saja tidak dapat memungkiri bahwa otaknya sedang berpikir keras. Pikirannya kembali mengingat apa yang diucapkan oleh sang ayah kepada kakaknya di ruang tamu. Saat itu dia mendengar ayahnya mengatakan -kenapa kamu menangis nak?- kepada kakaknya, namun ia sudah terlanjur melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar dan tidak mungkin  kembali lagi keluar. Karena sesaat sebelumnya, ia telah diminta sang ayah untuk segera masuk kamar dan tidur. Bagaimana jadinya jika ia tiba-tiba keluar kamar, tentu kakak dan ayahnya tidak jadi berbincang di ruang tamu. Gadis kecil itu berharap setelah menutup pintu kamar tetap dapat mendengar percakapan antara ayah dan kakaknya, meskipun samar. Namun ternyata ia tak dapat mendengar apapun suara dari luar. Hanya satu hal yang membuatnya sangat ingin tahu terhadap isi percakapan itu, karena ia belum pernah sekalipun melihat kakaknya menangis.
Di tengah malam itu, si gadis kecil berusaha keras mengingat seluruh kejadian di hari-hari sebelumnya. Mungkin ada suatu hal yang menyebabkan kakaknya menangis. Semakin ia mengingatnya, semakin tidak menemukan jawabannya. Ia sampai berpikir apakah penyebab kakaknya menangis itu sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikiran gadis berusia sepuluh tahun.
Akhirnya, gadis kecil itu tertidur pulas setelah lewat tengah malam. Setelah pikirannya penuh dengan rasa penasaran. Hingga ia bangun terlambat 45 menit setelah adzan shubuh. Segera ia beranjak bangun untuk berwudhu dan sholat shubuh sebelum orangtuanya menyadari bahwa ia bangun kesiangan.
Tiba-tiba ada yang menghentikan langkahnya setelah keluar dari kamar mandi menuju musholla kecil yang ada di belakang rumah. Ia melihat sosok gadis cantik mengenakan baju terusan panjang berwarna biru laut dengan jilbab warna kuning lembut, dua warna berbeda yang sangat serasi membalut tubuh dan wajah cantik sosok itu.
Pikirannya kembali bekerja, mengingat bahwa tidak pernah ada anggota keluarganya yang memiliki pakaian seperti itu. Mulai dari ibunya, kakaknya ataupun ia sendiri tidak pernah menggunakan pakaian seperti itu. Pikirannya kembali tersadarkan setelah sosok gadis itu berbalik dan menatap tajam ke arahnya, lalu sedetik kemudian ia sadar bahwa gadis itu tidak cantik lagi bahkan ia langsung sadar bahwa wajah itu tidak lain dan tidak bukan adalah wajah galak kakaknya yang sering ia lihat.
“Sudah bangun jam segini kok malah melamun, cepat segera sholat sebelum Allah mengambil waktu shubuhmu”. Ucapan kakaknya selalu singkat, padat, jelas dan sedikit dengan nada galak yang selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik menghindar daripada mendapat omelan panjang. Seusai sholat shubuh disertai dengan doa kilat, tanpa pikir panjang ia segera menuju kamar kakaknya untuk menanyakan maksud kakaknya mengenakan pakaian seperti itu di waktu yang masih terbilang sangat pagi ini. Namun ia tidak dapat menemukan kakaknya di kamarnya.
Ia melihat kakaknya sedang duduk manis di ruang tamu, lalu terdengar suara ayahnya sedang berbicara kepada kakaknya. “Insya Allah Abi ikhlas jika itu sudah keputusanmu, Abi bangga atas keberanianmu mengambil keputusan itu.
Suasana hening, ia tidak dapat melihat lagi kakaknya karena tempatnya berdiri mendengar perbincangan itu tepat di belakang lemari yang berada di belakang kursi kakaknya. Ia hanya mendengar kakaknya berpamitan lalu pergi keluar rumah.

--- ooo ---

Gadis kecil itu bernama Cyra, aku tidak tahu nama lengkapnya. Kakak yang pada malam harinya menangis dan pagi harinya bergegas pergi keluar rumah, memiliki nama yang cantik secantik parasnya, Aland, untuk kali ini aku benar-benar lupa siapa nama lengkapnya.
Aland adalah gadis berusia 22 tahun, anak pertama dari ayah dan ibunya. Adik satu-satunya yang sering ia marahi namun sejatinya itu tanda sayang seorang kakak kepada adiknya, berusia 10 tahun. Aland terlahir di Kota Garut, tiga belas bulan setelah pernikahan ayahnya dengan seorang gadis sunda yang terpaut sepuluh tahun lebih muda. Sembilan tahun setelah ayahnya menyelesaikan studi masternya di Inggris, saat ini keluarga kecil itu menetap di Indonesia, tepatnya di Kota Gresik.
Jika Cyra adalah seorang gadis belia yang tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada kakaknya, tentu aku disini lebih tidak mengerti. Namun, ada sirat kebaikan yang aku tangkap dari cerita di atas. Aku juga tak tahu apakah sirat kebaikan itu dari pakaian terusan kakaknya yang berwarna biru, atau kepergiannya meninggalkan rumah selepas shubuh, atau bahkan karena dia menangis. Tetapi aku harus jujur, kenyataan sang kakak menangis membuatku ikut menangis, apapun sebabnya yang aku tahu menangis itu muncul karena ada getaran dari hati, sedangkan aku merasa seluruh ragaku adalah hati. Jadi bisa kau bayangkan bagaimana ragaku bergetar hebat melihat sebuah tangisan, khususnya tangisan sang kakak, Aland.

Aku ingin Aland baik-baik saja, dan dia memang harus baik-baik saja disana.