Malam itu,
setelah perbincangan urusan dapur selesai, Aland bergegas masuk kamar. Ia ingin
segera menuliskan rencana-rencana kecil yang harus dilakukan beberapa bulan ke
depan. Aland mengingat kembali pesan yang disampaikan Abi tadi, Abi ingin
segera berkenalan dengan Adnan.
Sebelum
Aland mulai menuliskan target-targetnya di buku kuning, ia mengambil hp-nya dan
mengirim pesan untuk Tara.
(Sahabatku
yang baik dan cantik. Sepertinya kita perlu bertemu dengan Kak Adnan. Abi ingin
segera ketemu dengan beliau, tapi aku berencana ada pertemuan dulu, aku ingin
kasih prolog dulu. Ku tunggu kabar baik segera.)
Tak lama
kemudian datang balasan pesan dari Tara. (Baik sahabatku yang tak kalah cantik.
Malam ini aku akan hubungi Mas Rian untuk urusan penting ini.)
Aland
tersenyum lega. Ia berharap esok akan mendapat kepastian waktunya dari Tara. Buku
kuning dan pulpennya pun kembali dalam genggamannya.
Beberapa
menit berlalu, halaman buku itu masih kosong. Aland masih serius berpikir,
pulpen masih berada di tangannya, menggantung di atas kertas.
“Aku perlu
membaca, aku butuh referensi, aku belum yakin harus memulai dari mana untuk
mempersiapkan semua ini,” Aland berbisik dalam pikirannya sendiri. Matanya pun
beralih pada rak buku bertingkat empat di sudut kamarnya. Ia mengambil beberapa
buku miliknya.
Beberapa buku yang memang sengaja ia beli untuk persiapan ini, namun sayang buku-buku itu belum pernah dibacanya.
Beberapa buku yang memang sengaja ia beli untuk persiapan ini, namun sayang buku-buku itu belum pernah dibacanya.
Sekilas ia
membaca satu persatu buku itu, dan mulai menulis di buku kuning. Lima poin
utama dalam rangka persiapan.
1. Mental
2. Ilmu
3. Fisik
4. Keuangan
5. Teknis acara
Aland paham
dan sepenuhnya menyadari bahwa hal paling penting yang harus dipersiapkan
adalah masa setelah hari besar itu. Ia pun mulai menyusun target-target beserta
timeline-nya. Namun, timeline itu pun masih menggantung
karena ia dan Adnan sama-sama belum menyepakati waktunya.
Sebelum
beranjak tidur, Aland mengumpulkan beberapa buku dari rak bukunya. Beberapa buku
yang perlu ia baca serius dalam mempersiapkan semua ini. Beberapa buku itu lalu
memenuhi meja belajarnya.
“Oiya, aku belum punya buku menu masakan.
Bagaimana aku akan membuat jadwal belajar memasak dengan Mami. Hmm sepertinya untuk urusan ini aku
perlu merundingkannya bersama Mami. Ok,
besok masih ada waktu rapat dengan Mami. Ternyata urusan dapur ini serius juga
ya,” Aland tersenyum sendiri.
Sesaat
matanya terpejam, hp-nya berbunyi menandakan ada pesan baru masuk. Pesan dari
Tara. (Rapat kilat malam ini pun menghasilkan hasil yang kilat, tadi Mas Rian
sudah kasih kabar kalau Kak Adnan akan menunggu kita besok jam sembilan pagi di
masjid raya. Besok Mas Rian tidak bisa ikut, tidak keberatan?.)
Aland
segera mengirim balasannya. (Tara cantik memang bisa diandalkan. Baik, besok
kita ketemu di masjid jam delapan ya. Selamat mimpi indah.)
“Besok
pakai baju apa ya?....” Pertanyaan yang tiba-tiba melintas di pikirannya. “Astaghfirullah,
sejak kapan aku memikirkan pakaian yang akan kupakai untuk esok hari. Ya
Allah…jaga hati kami, hindarkan kami dari bisikan angin malam yang begitu
dingin menggoda iman ini.”
Aland
berdoa dalam hati, matanya kembali terpejam dan segera tidur. Ada suara ketukan
lirih di pintu kamar. Namun tak sampai di telinganya.
Mami
mencoba mengetuk pintu kamar Aland untuk kedua kalinya sambil berucap lirih,
“Aland sudah tidur belum?, Mami ingin bicara sebentar.“
Detik demi detik
berlalu. Masih tetap tidak ada respon suara dari dalam kamar. Akhirnya Mami membuka
pintu kamar Aland. Dilihatnya sang putri sulung sudah tertidur pulas. Mami
mendekatinya, mencium keningnya dan mengusap rambutnya.
“Sudah lama
Mami tidak mencium keningmu, Nak,” bisik Mami sambil tersenyum.
Sebelum
keluar kamar, Mami melihat setumpuk buku di atas meja belajar. Mami hanya tersenyum,
dan berbisik dalam hati, “Sebesar apapun rasa tegangmu menjalani masa persiapan
ini dan menghadapi rencana besarmu, bersyukur kau tetap dapat tertidur pulas
dengan cepat. Karena tentu lebih besar rasa tegang Mami saat ini, yang akan
melepasmu dan membiarkan keningmu dikecup lelaki selain Abi. Karena Mami sudah
melewati ketegangan di masa itu, dan rasa yang Mami alami saat ini jauh lebih
menegangkan dari masa itu. Semoga Allah senantiasa membersamai setiap langkahmu,
Nak.”
Mami
tersenyum dan kembali menutup kamar Aland dengan perlahan. Tanpa ia sadari bulir
air mata telah membasahi pipinya, lalu bergegas ke kamar mandi sebelum wajahnya
dilihat oleh Abi yang sedang duduk di ruang tengah.
---
ooo ---
Keesokan
paginya, tepat pukul delapan lebih sepuluh menit, Aland sudah berada di halaman
masjid raya. Di bawah pohon rindang, ia menanti sahabatnya. Sesaat kemudian wujud
Tara sudah nampak di tempat parkir dan segera berjalan menuju tempatnya duduk.
“Kamu sudah
sarapan?, nih aku bawa roti isi,” Aland
mengeluarkan dua bugkus roti dari dalam tasnya.
“Kamu mengerti
saja. Tadi aku tidak sempat bantu Kak Anggi masak di dapur. Aku suka jadi tidak
nyaman kalau hanya ikut makan saja, padahal ditawarin juga tapi aku tetap
sungkan jadi lebih baik langsung cabut,” Tara senyum-senyum sendiri.
“Iya ini
ambil saja. Kalau aku tadi sudah makan, aku cuma khawatir ketika sudah sampai
disini perutku masih bunyi, dan itu benar terjadi,” Aland menertawakan dirinya
sendiri, lalu memberikan sebungkus roti untuk Tara dan segera membuka sebungkus
roti miliknya.
Sepotong roti
masih tersisa di genggamanya ketika terdengar sapaan salam dari arah belakang
mereka. Aland dan Tara langsung menoleh ke sumber suara itu.
“Assalamu’alaikum,”
Itu salam kedua yang Adnan ucapkan, karena salam pertamanya tidak terjawab dan
hanya mendapati dua raut wajah kaget.
“Wa’alaikumsalam,”
Aland dan Tara segera menjawab salam Adnan.
Aland
melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya, pukul 08.20. Belum
sempat Aland berfikir, Adnan sudah menegur kembali.
“Eh lagi pada sarapan ya?. Maaf saya
tidak bermaksud mengganggu sarapannya. Dari jam 7 tadi saya sudah di masjid,
kebetulan ada kajian. Jam 8.10 sudah lihat Dik Aland duduk sendiri, 5 menit
kemudian Tara juga datang, jadi saya berinisiatif sendiri untuk menghampiri
kalian, barangkali bisa dimulai, eh
taunya lagi pada sarapan,” Adnan masih berdiri di seberang Aland dan Tara.
“Hanya ngemil roti saja. Mmm dimulai sekarang mungkin lebih baik, bukan begitu Tara?” Aland
menoleh ke arah Tara, menunjukkan bahwa ia sudah melipat bungkus roti yang
belum habis dan menyimpannya ke dalam tas.
“Oh iya, tidak apa-apa,” Tara juga
memasukkan bungkus roti ke dalam tasnya, dua potong yang dimakan tadi sudah
cukup mengganjal perutnya.
Adnan,
Aland dan Tara duduk dalam satu meja persegi di halaman masjid raya. Mereka
mulai berbincang.
“Oiya Kak Adnan, Abi ingin segera bertemu
dengan Kak Adnan, kira-kira bagaimana menurut Kak Adnan?” Aland tidak lupa
menyampaikan pesan Abi.
“Sebenarnya
saya juga ingin segera berkenalan dengan Pak Arman. Bagaimana jika hari Ahad
besok?, bisa saya langsung mengkhitbah Dik Aland pada hari itu?” Adnan dengan
tegas menyatakan niatnya. Niat yang sudah cukup lama ia tanam dalam hati. Namun
tanpa Adnan sadari pertanyaannya tadi membuat pikiran Aland buyar seketika.
“Aland, tadi
Kak Adnan kasih pertanyaan, kok tidak
dijawab?” Tara berbisik mendekat di telinga Aland, namun cukup didengar oleh
Adnan.
“Sebentar
Kak,” pikiran Aland berusaha kembali pada keadaan sadar sepenuhnya.
“Ini
pertemuan kita yang keempat. Disini saya berharap mendapatkan tambahan
informasi tentang diri dan keluarga Kak Adnan. Setelah itu kita bahas tentang
pertanyaan Kak Adnan tadi,” Aland berbicara dengan tetap tertunduk,
jari-jarinya memainkan ujung tas yang ada di pangkuannya. Tanda ia sedang
sangat gelisah.
“Iya, baik.
Dik Aland ingin saya mulai cerita dari mana?” Adnan menyadari bahwa
pertanyaannya tadi cukup mengagetkan Aland, dan ia berusaha mencairkan kembali
suasana.
“Terserah
Kak Adnan, dari mana saja yang dapat menggambarkan keluarga Kak Adnan,” Aland
masih terlihat gelisah.
Adnan mulai
menceritakan tentang keluarganya. Namun hati Aland masih gelisah. Pikirannya tidak
fokus antara mendengarkan seksama cerita Adnan dan menenangkan hatinya yang
sedang bergejolak. Ya, hatinya bergejolak dengan pertanyaan Adnan tadi. Aland
tidak memungkiri bahwa sebenarnya ia ingin segera mengiyakan pertanyaan itu. Ia
pun ingin segera dan menyegerakan. Namun ia paham pernikahan bukan sekedar
kesenangan dan perubahan status. Banyak hal yang harus ia persiapkan.
Bunga-bunga
dalam hati Aland sedang berkembang merekah hingga cerita Adnan tidak mampu mengsiknya.
Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyuman kecil bahagia, senyuman yang tanpa
sengaja ditangkap oleh kedua mata Adnan.
“Dik Aland,
ada yang mau ditanyakan lagi?, atau ada yang ingin diketahui lebih dalam lagi?”
Adnan mencoba mendapatkan fokus perhatian Aland kembali.
“Ohya, Kak Adnan sudah bekerja atau
sekarang sedang aktif dimana?” Aland berusaha agar terlihat fokus.
“Sudah tiga
bulan ini saya bergabung di penerbit buku, tapi semoga itu hanya menjadi batu
loncatan saja, ada rencana besar yang ingin saya kerjakan. Namun pada intinya,
dimanapun saya bekerja nanti saya ingin selalu membersamai Ummi. Dik Aland
tidak keberatan kan?, bahkan jika nanti perlu merantau saya ingin tetap
mengajak Ummi,” Adnan bertanya serius kepada Aland.
“Eh,
merantau kemana maksud Kak Adnan?” Aland cukup kaget dengan pertanyaan itu.
“Ya tentu
di luar kota ini, masih di Indonesia lah, kalau di pelosok bagaimana?” Adnan
bertanya dengan nada bergurau, berharap dapat mencairkan ketegangan di wajah
Aland.
“Insya Allah
saya siap, tapi untuk lokasi nanti bisa dibicarakan lagi jika sudah tiba
saatnya,” Aland tidak terpancing dengan gurauan Adnan.
Sudah satu
jam pertemuan itu berlangsung. Aland ingin segera menyudahinya. Ia tidak dapat
menahan hatinya yang bergejolak setiap tatapan matanya bertemu dengan tatapan
Adnan. Ia tidak ingin terhanyut oleh suasana hatinya, itu saja. Aland teringat
pertanyaan Adnan di awal tadi.
“Jadinya,
hari Ahad besok Kak Adnan akan ke rumah untuk bertemu dengan Abi?”,
“Iya,
boleh?”,
“Iya, kalau
hari Ahad biasanya Abi ada di rumah, nanti saya tanyakan dulu. Selanjutnya
nanti saya akan kabari Kak Adnan melalui Tara. Untuk khitbah yang Kak Adnan
tanyakan tadi, sejujurnya saya bahagia mendengarnya. Saya juga ingin segera dan
menyegerakan, namun saya tidak menyangka bahwa proses ini begitu cepat
menghampiri saya sehingga ada beberapa hal yang masih perlu saya persiapkan. Insya
Allah tidak membutuhkan waktu yang lama, maksimal satu bulan dari sekarang saya
akan sampaikan kesiapan saya untuk dikhitbah, apa Kak Adnan setuju?” Aland
begitu lancar mengungkapkan isi hati yang bergejolak sejak awal pertemuan tadi.
“Alhamdulillah,
insya Allah saya akan tunggu. Oiya tiap
hari Sabtu dan Ahad dik Aland ada kegiatan rutin?”,
“Kalau
kegiatan rutin tidak ada,” Aland menjawab singkat.
“Alhamdulillah,
boleh saya usul satu agenda untuk Dik Aland lakukan selama dua bulan ke depan?”
Adnan menyodorkan lembaran brosur kepada Aland.
“Tadi
ketika kajian, saya melihat brosur itu. Entah kenapa saya sangat berharap Dik
Aland bisa mengikuti acara tersebut. Kebetulan salah satu panitianya itu
tetangga saya dan tadi saya sudah menghubunginya. Sangat disayangkan kuotanya
sudah penuh. Setelah saya berusaha negosiasi, alhamdulilah bisa masuk satu orang
lagi, saya daftarkan nama dik Aland. Sebelumnya saya tanyakan apa ada nama
tersebut yang sudah mendaftar dan katanya belum. Dik Aland bisa ikut kan?,
kuliah perdananya mulai besok Sabtu.” Adnan menatap wajah Aland yang sedang
cermat membaca brosur, kemudian ia tersadar dan berpaling.
“Insya
Allah saya bisa ikut. Terimakasih Kak Adnan, saya memang berharap ada kegiatan
seperti ini, dan saya baru lihat info ini sekarang. Ohya kuotanya tidak bisa ditambah dua orang lagi?” Aland bertanya
kepada Adnan, kemudian berpaling ke arah Tara yang sejak tadi hanya diam
mendengarkan Aland dan Adnan saling berbincang.
“Tara, kamu
mau ikut juga kan?”
“Wah sayang sekali, besok pagi aku akan
mudik sampai pekan depan. Tapi coba besok kamu tanyakan dulu, apa boleh ada
tambahan peserta.” Tara seksama membaca brosur itu, ia pun berharap bisa ikut
kuliah itu.
“Iya Dik
Aland, besok coba ketemu dengan Nisa. Dia tetangga saya yang menjadi panitia kegiatan
tersebut, barangkali bisa menambah satu orang lagi.” Adnan membantu menjawab permintaan
Tara.
Sembilan puluh
menit berlalu. Pertemuan keempat itu usai dengan menyisakan gejolak hati yang
kian bertambah di hati Aland dan Adnan. Mereka berdua sama-sama ingin segera
meredakan gejolak itu dengan jalan yang halal dan berkah. Di setiap akhir
pertemuan, mereka selalu saling mengingatkan untuk senantiasa rajin
melaksanakan shaum sunnah.
---
ooo ---
Sudah tiga
hari ini aku hanya duduk sendiri di bangku ini, di taman kota ini. Aku tidak
dapat meneruskan kisah ini seorang diri. Aku tidak mengerti apa yang sedang
Aland rencanakan bersama Adnan, rencana besar itu, betul-betul membuatku
penasaran.
Aku akan
tetap berada di taman ini. Aku akan menunggu hingga temanku kembali pulang. Hanya
dia yang dapat kuandalkan saat ini. “Kawan, cepatlah pulang,” bisikku dalam hati,
terbersit rasa rindu dari relung hati.
Bagiku
taman ini merupakan tempat yang sangat nyaman, nyaman untuk menunggu, berbagi
cerita, atau bahkan sekedar melamun. Kau tentu juga pernah berada di taman ini,
taman dengan hamparan rumput yang sangat luas ini. Jika kau tidak lupa atau
tidak melupakannya.
Taman ini
seperti menggantung dibawah awan jika kau memandang ke arah sungai yang
mengalir di bawahnya. Namun jika kau memandang ke atas, taman ini seperti
berada di salah satu ujung pelangi, hamparan layar tak terbatas, begitu
dekatnya dengan segala keindahan.
---
ooo ---
Malam itu,
setelah selesai makan malam bersama, setelah Aland dan Cyra membantu Mami
membereskan meja makan dan dapur, Abi memanggil Aland di ruang tamu. Aland berpikir
Abi akan membicarakan hal itu. Ia melihat Cyra bersama Mami sedang asyik
menonton televisi di ruang tengah. “Semoga Cyra tidak menyadari panggilan Abi
tadi,” batinnya, lalu segera menuju ruang tamu.
“Aland,
bagaimana tentang permintaan Abi?, kapan bisa dilaksanakan?” Abi berterus
terang menanyakan hal itu setelah Aland duduk di sampingnya.
Tepat
seperti dugaan Aland, ia pun langsung menjawab pertanyaan Abi.
“Hari Ahad
besok Abi ada di rumah?” Aland mencoba untuk menyesuaikan dengan jadwal Abi
terlebih dahulu.
Abi berpikir
sejenak, “Insya Allah hari Ahad Abi tidak ada agenda. Ya, Abi ada di rumah,
selain untuk jamaah sholat di masjid.” Abi tersenyum menatap Aland.
“Alhamdulillah,
besok Aland pastikan lagi jam berapa Kak Adnan akan ke rumah,” suara Aland
terdengar cukup pelan. Ia benar-benar khawatir Cyra akan mengetahui pembicaraan
ini. Meskipun Aland ingin membicarakan banyak hal tentang ini kepada Abi, ia
memutuskan untuk menyudahi percakapannya dan segera bergabung bersama Cyra dan
Mami di ruang tengah. Sebelum Cyra menyadari pembicaraan ini.
“Abi, Aland
kembali ke ruang tengah dulu ya.” Aland beranjak dari kursinya.
“Iya, Abi
ingin baca buku dulu di sini.” Abi memahami tingkah Aland yang tidak tenang
sejak ia memanggilnya tadi.
Aland
segera menuju ruang tengah dan duduk di samping Cyra. Ia mencoba mengajak
adiknya bercanda. Hari ini tepatnya sejak tadi pagi sikap Cyra belum kembali
seperti biasanya, khususnya kepada dirinya.
Cyra adalah
anak yang ceria dan periang. Sulit sekali menemukan waktu kapan dia murung atau
bermuka masam. Kalaupun Cyra sedang kesal, batas waktunya tidak lebih dari
setengah hari, dan Abi yang paling jago melelehkan rasa kesal Cyra. Sedangkan
Aland sering gagal mendekati Cyra ketika hatinya sedang kesal, apalagi untuk
kasus ingkar janji kemarin. Aland berpikir sepertinya butuh pendekatan ekstra
dan serius untuk mengembalikan wajah periang adiknya. Aland menyadari bahwa ia
rindu adik satu-satunya itu.
“Cyra,
sedang nonton film apa sih kok tidak
ajak kakak?, kan tidak seru kalau
ketawa sendiri.” Aland menggoda adiknya yang sedang asyik nonton film.
“Dulu kakak
pernah nonton film ini kok. Cyra juga
sudah pernah nonton, cuma masih lucu aja meskipun ditonton lagi.” Cyra menjawab
datar tanpa menoleh ke arah kakaknya.
“Eh, Mami masih mau nonton filmnya?, dipikir-pikir bosan juga kalau sudah pernah
nonton, Cyra mau bobo saja ya Mi.” Tiba-tiba
mulut Cyra menguap sambil bicara ke arah Mami.
“Mami mau
ganti acara lain saja. Ga seru juga
kalau ketawa sendiri.” Mami menunjukkan raut muka cemberut. Niatnya mencoba
untuk mendamaikan kedua putrinya itu.
“Mmm Cyra ngantuk ya Mi. Cyra mau bobo saja.”
Cyra beranjak dari tempat duduknya dan berlalu menuju kamarnya tanpa permisi
dan melihat ke arah Aland.
Aland hanya
menatap adiknya pergi menuju kamar, ia menyadari betul bahwa adiknya belum bisa
didekati. Hati Aland mulai agak gelisah dan cemas dengan sikap Cyra kepadanya
sejak ia mengingkari janjinya itu. Ia tak menyangka bahwa lupa yang ia tak
sengaja itu dapat membuat Cyra mendiamkannya lebih dari sehari.
“Hmm sepertinya Cyra masih marah ya ke
Aland?” Aland bertanya ke Mami.
“Tidak
apa-apa, tidak perlu khawatir. Mungkin besok-besok juga sudah kembali ceriwis lagi. Usia seperti Cyra itu
memang sangat ingin menunjukkan sikap ke-aku-annya, khususnya dihadapan
orang-orang terdekatnya.” Mami mencoba menenangkan kecemasan Aland, namun
kata-kata Mami terlihat ragu dan membuat Aland semakin tidak enak hati.
“Aland
harus bagaimana ya Mi?, Aland tidak
pandai membujuk rayu nih. Mami atau
Abi coba tanya dia ya,” raut muka Aland memohon penuh harap kepada Mami.
“Mami tidak
mau menegur sikapnya itu, sampai Cyra
sendiri yang akan cerita ke Mami. Mami yakin betul tentu dia juga tidak nyaman
dengan sikapnya seperti itu ke kamu, dan tidak akan bertahan lama. Sudah,
sekarang kamu memikirkan hal lain yang lebih penting. Oiya bagaimana jadwal kursus memasaknya sudah disusun belum?” Mami
mengalihkan topik pembicaraan.
Sebenarnya
Aland masih ingin membahas sikap Cyra, tapi Mami telah mengingatkan akan hal
penting yang perlu ia diskusikan dengan Mami.
“Eh iya itu Mi, perbendaharaan menu masakan yang Aland hafal kan masih sedikit.
Bagaimana kalau Mami yang menyusun menu masakan apa saja yang perlu Aland kuasai
betul sebelum masa itu datang. Bagaimana Mi?”
Aland meminta tolong bantuan Mami lebih tepatnya membujuk Mami.
“Ah kamu, berarti Mami yang sedang
persiapan. Kamu coba dulu menyusun jadwalnya, nanti Mami kasih saran dan
masukan. Begitu ya,” Mami tegas menolak bujukan Aland.
“Mmm iya deh Mi. Nanti Aland browsing
di internet dulu, selanjutnya Aland serahkan ke Mami ya,” Aland menuruti
kata-kata Mami.
“Nah begitu dong. Persiapan itu harus total.” Mami tersenyum menggoda Aland.
Sebenarnya
Mami ingin menanyakan banyak hal tentang persiapan yang sedang Aland kerjakan,
lebih dari sekedar persiapan urusan dapur. Mungkin bisa dikatakan Mami ingin
berbagi banyak hal tentang persiapan hati, lebih tepatnya Mami ingin
mencurahkan isi hatinya yang semakin hari semakin gelisah. Namun Mami menyadari
bahwa Mami tidak ingin terbawa perasaan saja dan hanya akan menambah beban isi pikiran
dan hati Aland. Aland yang harus mempersiapkan banyak hal untuk meninggalkannya
“Mami
kenapa?, kok tiba-tiba terdiam sambil
lihat Aland seperti itu,” Aland memecah lamunan Mami.
“Mami sudah
ngantuk ya?, tidur saja yuk, filmnya
juga sudah selesai.”
Mami
tersadar dari lamunannya.
“Yuk, Mami juga mau tidur saja,” Mami
spontan menjawab pertanyaan Aland.
“Aland ke
kamar duluan saja, Mami tunggu Abi dulu.” Mami tersenyum sambil melihat Abi
yang masih membaca buku di ruang tamu.
“Ok, Assalamu’alaikum.” Aland pun
membalas senyuman hangat Mami dan berlalu menuju kamarnya.
Di dalam
kamarnya, Aland kembali duduk di depan meja belajar. Sebenarnya ia belum begitu
mengantuk, ia hanya ingin segera melihat sejauh mana persiapannya. Ia kembali
membuka buku kuningnya. Ya, buku catatan besampul kuning yang ia khususkan
untuk menuliskan segala persiapan menuju masa itu.
“Oiya hari Sabtu dan Ahad harus mulai aku
jadwalkan untuk kuliah pranikah itu,” Aland teringat informasi yang diberikan
Adnan tadi pagi. Ia mengambil brosur itu dari dalam tasnya.
Kuliah
pranikah itu akan dimulai hari Sabtu besok dan akan berlangsung selama dua
belan kedepan. Dimulai dari jam tujuh pagi hingga jam sepuluh pagi. Tiap
harinya akan diisi dengan topik yang telah ditentukan oleh panitia dan
dibawakan oleh penceramah yang berkompeten untuk topik tersebut.
“Alhamdulillah,
jadwalnya cukup ideal. Topik-topiknya pun disusun menarik. Insya Allah ini
bekal ilmu yang berharga di saat waktu yang tepat,” Aland tersenyum sendiri.
Lalu menyalin beberapa catatan penting dari brosur itu ke dalam buku kuningnya.
Ada
beberapa topik utama yang akan dibahas dalam perkuliahan itu, antara lain :
a. Mempersiapkan bekal pernikahan
b. Khitbah dan proses ta’aruf
c. Kesehatan pra dan pasca menikah
d. Seputar walimatul ‘ursy
e. Manajemen konflik dalam rumah tangga
“Oiya aku juga harus browsing menu masakan yang akan kupraktekkan bersama Mami.” Aland
teringat hal penting lain dan segera menyalakan laptopnya.
Ia mulai
memilih menu-menu dasar yang harus ia kuasai, mulai dari belanja bahannya, cara
memasaknya hingga cara menyajikannya. Tidak sampai satu jam untuk menemukan
menu-menu yang ia pilih, kemudian ia segera menuliskannya di buku kuningnya. Sekitar
lebih dari 10 menu yang sudah ia catat, antara lain : sayur lodeh, sayur asem,
bumbu bacem, bumbu balado, bumbu semur, bumbu bali, sayur bayam, soto ayam,
opor ayam, sup buntut, ayam goreng tepung, cap cay, cumi asam manis, bumbu
kari, nasi kuning, nasi uduk, rawon daging, tumis kangkung, bumbu gulai.
“Hmm banyak juga ya, semoga bisa
terlaksana semua. Aku juga ingin bisa membuat kue-kue dan menu pelengkap
lainnya yang sering Mami buat, harus aku jadwalkan betul ini bersama Mami,
waktuku tidak banyak.” Aland menutup buku kuningnya dan segera mematikan
laptopnya, ternyata matanya sudah cukup mengantuk.
Tak
berselang lama, ia sudah berada di atas tempat pembaringan dengan mata terpejam
dan tertidur pulas.
Maaf sedikit berkomentar, ada tulisan-tulisan yang menurut saya sedikit salah “Kamu sudah sarapan?, nih aku bawa roti isi,
BalasHapus(Kamu sudah sarapan?)Menurut aku setelah tanda tanya tidak usah lagi di beri (koma)
dan satu lagi 'tanda kurung' () seharusnya digunakan untuk penjelasan, bukannya yang berisi pesan atau sebagainya biar enak dibaca.. Kita bisa menulisnya dengan tanda kutip dan dimiringkan, biar lebih enak dibaca..
Oh iya jangan lupa mampir dan komentar tulisan saya disini http://motivasil4l.blogspot.co.id/ yahh widrita .. DITUNGGU...
Trimakasih banyak,, komentarnya sangat bermanfaat :). Next post akan lebih cermat...
BalasHapusSesegera sy akan berkunjung ksana ;)