Sabtu, 12 Maret 2016

Chapter 4 : Persiapan Dimulai


Malam itu, setelah perbincangan urusan dapur selesai, Aland bergegas masuk kamar. Ia ingin segera menuliskan rencana-rencana kecil yang harus dilakukan beberapa bulan ke depan. Aland mengingat kembali pesan yang disampaikan Abi tadi, Abi ingin segera berkenalan dengan Adnan.
Sebelum Aland mulai menuliskan target-targetnya di buku kuning, ia mengambil hp-nya dan mengirim pesan untuk Tara.
(Sahabatku yang baik dan cantik. Sepertinya kita perlu bertemu dengan Kak Adnan. Abi ingin segera ketemu dengan beliau, tapi aku berencana ada pertemuan dulu, aku ingin kasih prolog dulu. Ku tunggu kabar baik segera.)
Tak lama kemudian datang balasan pesan dari Tara. (Baik sahabatku yang tak kalah cantik. Malam ini aku akan hubungi Mas Rian untuk urusan penting ini.)
Aland tersenyum lega. Ia berharap esok akan mendapat kepastian waktunya dari Tara. Buku kuning dan pulpennya pun kembali dalam genggamannya.
Beberapa menit berlalu, halaman buku itu masih kosong. Aland masih serius berpikir, pulpen masih berada di tangannya, menggantung di atas kertas.
“Aku perlu membaca, aku butuh referensi, aku belum yakin harus memulai dari mana untuk mempersiapkan semua ini,” Aland berbisik dalam pikirannya sendiri. Matanya pun beralih pada rak buku bertingkat empat di sudut kamarnya. Ia mengambil beberapa buku miliknya.
Beberapa buku yang memang sengaja ia beli untuk persiapan ini, namun sayang buku-buku itu belum pernah dibacanya.
Sekilas ia membaca satu persatu buku itu, dan mulai menulis di buku kuning. Lima poin utama dalam rangka persiapan.
1.      Mental
2.      Ilmu
3.      Fisik
4.      Keuangan
5.      Teknis acara
Aland paham dan sepenuhnya menyadari bahwa hal paling penting yang harus dipersiapkan adalah masa setelah hari besar itu. Ia pun mulai menyusun target-target beserta timeline-nya. Namun, timeline itu pun masih menggantung karena ia dan Adnan sama-sama belum menyepakati waktunya.
Sebelum beranjak tidur, Aland mengumpulkan beberapa buku dari rak bukunya. Beberapa buku yang perlu ia baca serius dalam mempersiapkan semua ini. Beberapa buku itu lalu memenuhi meja belajarnya.
Oiya, aku belum punya buku menu masakan. Bagaimana aku akan membuat jadwal belajar memasak dengan Mami. Hmm sepertinya untuk urusan ini aku perlu merundingkannya bersama Mami. Ok, besok masih ada waktu rapat dengan Mami. Ternyata urusan dapur ini serius juga ya,” Aland tersenyum sendiri.
Sesaat matanya terpejam, hp-nya berbunyi menandakan ada pesan baru masuk. Pesan dari Tara. (Rapat kilat malam ini pun menghasilkan hasil yang kilat, tadi Mas Rian sudah kasih kabar kalau Kak Adnan akan menunggu kita besok jam sembilan pagi di masjid raya. Besok Mas Rian tidak bisa ikut, tidak keberatan?.)
Aland segera mengirim balasannya. (Tara cantik memang bisa diandalkan. Baik, besok kita ketemu di masjid jam delapan ya. Selamat mimpi indah.)
“Besok pakai baju apa ya?....” Pertanyaan yang tiba-tiba melintas di pikirannya. “Astaghfirullah, sejak kapan aku memikirkan pakaian yang akan kupakai untuk esok hari. Ya Allah…jaga hati kami, hindarkan kami dari bisikan angin malam yang begitu dingin menggoda iman ini.”
Aland berdoa dalam hati, matanya kembali terpejam dan segera tidur. Ada suara ketukan lirih di pintu kamar. Namun tak sampai di telinganya.
Mami mencoba mengetuk pintu kamar Aland untuk kedua kalinya sambil berucap lirih, “Aland sudah tidur belum?, Mami ingin bicara sebentar.“
Detik demi detik berlalu. Masih tetap tidak ada respon suara dari dalam kamar. Akhirnya Mami membuka pintu kamar Aland. Dilihatnya sang putri sulung sudah tertidur pulas. Mami mendekatinya, mencium keningnya dan mengusap rambutnya.
“Sudah lama Mami tidak mencium keningmu, Nak,” bisik Mami sambil tersenyum.
Sebelum keluar kamar, Mami melihat setumpuk buku di atas meja belajar. Mami hanya tersenyum, dan berbisik dalam hati, “Sebesar apapun rasa tegangmu menjalani masa persiapan ini dan menghadapi rencana besarmu, bersyukur kau tetap dapat tertidur pulas dengan cepat. Karena tentu lebih besar rasa tegang Mami saat ini, yang akan melepasmu dan membiarkan keningmu dikecup lelaki selain Abi. Karena Mami sudah melewati ketegangan di masa itu, dan rasa yang Mami alami saat ini jauh lebih menegangkan dari masa itu. Semoga Allah senantiasa membersamai setiap langkahmu, Nak.”
Mami tersenyum dan kembali menutup kamar Aland dengan perlahan. Tanpa ia sadari bulir air mata telah membasahi pipinya, lalu bergegas ke kamar mandi sebelum wajahnya dilihat oleh Abi yang sedang duduk di ruang tengah.

--- ooo ---

Keesokan paginya, tepat pukul delapan lebih sepuluh menit, Aland sudah berada di halaman masjid raya. Di bawah pohon rindang, ia menanti sahabatnya. Sesaat kemudian wujud Tara sudah nampak di tempat parkir dan segera berjalan menuju tempatnya duduk.
“Kamu sudah sarapan?, nih aku bawa roti isi,” Aland mengeluarkan dua bugkus roti dari dalam tasnya.
“Kamu mengerti saja. Tadi aku tidak sempat bantu Kak Anggi masak di dapur. Aku suka jadi tidak nyaman kalau hanya ikut makan saja, padahal ditawarin juga tapi aku tetap sungkan jadi lebih baik langsung cabut,” Tara senyum-senyum sendiri.
“Iya ini ambil saja. Kalau aku tadi sudah makan, aku cuma khawatir ketika sudah sampai disini perutku masih bunyi, dan itu benar terjadi,” Aland menertawakan dirinya sendiri, lalu memberikan sebungkus roti untuk Tara dan segera membuka sebungkus roti miliknya.
Sepotong roti masih tersisa di genggamanya ketika terdengar sapaan salam dari arah belakang mereka. Aland dan Tara langsung menoleh ke sumber suara itu.
“Assalamu’alaikum,” Itu salam kedua yang Adnan ucapkan, karena salam pertamanya tidak terjawab dan hanya mendapati dua raut wajah kaget.
“Wa’alaikumsalam,” Aland dan Tara segera menjawab salam Adnan.
Aland melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya, pukul 08.20. Belum sempat Aland berfikir, Adnan sudah menegur kembali.
Eh lagi pada sarapan ya?. Maaf saya tidak bermaksud mengganggu sarapannya. Dari jam 7 tadi saya sudah di masjid, kebetulan ada kajian. Jam 8.10 sudah lihat Dik Aland duduk sendiri, 5 menit kemudian Tara juga datang, jadi saya berinisiatif sendiri untuk menghampiri kalian, barangkali bisa dimulai, eh taunya lagi pada sarapan,” Adnan masih berdiri di seberang Aland dan Tara.
“Hanya ngemil roti saja. Mmm dimulai sekarang mungkin lebih baik, bukan begitu Tara?” Aland menoleh ke arah Tara, menunjukkan bahwa ia sudah melipat bungkus roti yang belum habis dan menyimpannya ke dalam tas.
Oh iya, tidak apa-apa,” Tara juga memasukkan bungkus roti ke dalam tasnya, dua potong yang dimakan tadi sudah cukup mengganjal perutnya.
Adnan, Aland dan Tara duduk dalam satu meja persegi di halaman masjid raya. Mereka mulai berbincang.
Oiya Kak Adnan, Abi ingin segera bertemu dengan Kak Adnan, kira-kira bagaimana menurut Kak Adnan?” Aland tidak lupa menyampaikan pesan Abi.
“Sebenarnya saya juga ingin segera berkenalan dengan Pak Arman. Bagaimana jika hari Ahad besok?, bisa saya langsung mengkhitbah Dik Aland pada hari itu?” Adnan dengan tegas menyatakan niatnya. Niat yang sudah cukup lama ia tanam dalam hati. Namun tanpa Adnan sadari pertanyaannya tadi membuat pikiran Aland buyar seketika.
“Aland, tadi Kak Adnan kasih pertanyaan, kok tidak dijawab?” Tara berbisik mendekat di telinga Aland, namun cukup didengar oleh Adnan.
“Sebentar Kak,” pikiran Aland berusaha kembali pada keadaan sadar sepenuhnya.
“Ini pertemuan kita yang keempat. Disini saya berharap mendapatkan tambahan informasi tentang diri dan keluarga Kak Adnan. Setelah itu kita bahas tentang pertanyaan Kak Adnan tadi,” Aland berbicara dengan tetap tertunduk, jari-jarinya memainkan ujung tas yang ada di pangkuannya. Tanda ia sedang sangat gelisah.
“Iya, baik. Dik Aland ingin saya mulai cerita dari mana?” Adnan menyadari bahwa pertanyaannya tadi cukup mengagetkan Aland, dan ia berusaha mencairkan kembali suasana.
“Terserah Kak Adnan, dari mana saja yang dapat menggambarkan keluarga Kak Adnan,” Aland masih terlihat gelisah.
Adnan mulai menceritakan tentang keluarganya. Namun hati Aland masih gelisah. Pikirannya tidak fokus antara mendengarkan seksama cerita Adnan dan menenangkan hatinya yang sedang bergejolak. Ya, hatinya bergejolak dengan pertanyaan Adnan tadi. Aland tidak memungkiri bahwa sebenarnya ia ingin segera mengiyakan pertanyaan itu. Ia pun ingin segera dan menyegerakan. Namun ia paham pernikahan bukan sekedar kesenangan dan perubahan status. Banyak hal yang harus ia persiapkan.
Bunga-bunga dalam hati Aland sedang berkembang merekah hingga cerita Adnan tidak mampu mengsiknya. Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyuman kecil bahagia, senyuman yang tanpa sengaja ditangkap oleh kedua mata Adnan.
“Dik Aland, ada yang mau ditanyakan lagi?, atau ada yang ingin diketahui lebih dalam lagi?” Adnan mencoba mendapatkan fokus perhatian Aland kembali.
Ohya, Kak Adnan sudah bekerja atau sekarang sedang aktif dimana?” Aland berusaha agar terlihat fokus.
“Sudah tiga bulan ini saya bergabung di penerbit buku, tapi semoga itu hanya menjadi batu loncatan saja, ada rencana besar yang ingin saya kerjakan. Namun pada intinya, dimanapun saya bekerja nanti saya ingin selalu membersamai Ummi. Dik Aland tidak keberatan kan?, bahkan jika nanti perlu merantau saya ingin tetap mengajak Ummi,” Adnan bertanya serius kepada Aland.
“Eh, merantau kemana maksud Kak Adnan?” Aland cukup kaget dengan pertanyaan itu.
“Ya tentu di luar kota ini, masih di Indonesia lah, kalau di pelosok bagaimana?” Adnan bertanya dengan nada bergurau, berharap dapat mencairkan ketegangan di wajah Aland.
“Insya Allah saya siap, tapi untuk lokasi nanti bisa dibicarakan lagi jika sudah tiba saatnya,” Aland tidak terpancing dengan gurauan Adnan.
Sudah satu jam pertemuan itu berlangsung. Aland ingin segera menyudahinya. Ia tidak dapat menahan hatinya yang bergejolak setiap tatapan matanya bertemu dengan tatapan Adnan. Ia tidak ingin terhanyut oleh suasana hatinya, itu saja. Aland teringat pertanyaan Adnan di awal tadi.
“Jadinya, hari Ahad besok Kak Adnan akan ke rumah untuk bertemu dengan Abi?”,
“Iya, boleh?”,
“Iya, kalau hari Ahad biasanya Abi ada di rumah, nanti saya tanyakan dulu. Selanjutnya nanti saya akan kabari Kak Adnan melalui Tara. Untuk khitbah yang Kak Adnan tanyakan tadi, sejujurnya saya bahagia mendengarnya. Saya juga ingin segera dan menyegerakan, namun saya tidak menyangka bahwa proses ini begitu cepat menghampiri saya sehingga ada beberapa hal yang masih perlu saya persiapkan. Insya Allah tidak membutuhkan waktu yang lama, maksimal satu bulan dari sekarang saya akan sampaikan kesiapan saya untuk dikhitbah, apa Kak Adnan setuju?” Aland begitu lancar mengungkapkan isi hati yang bergejolak sejak awal pertemuan tadi.
“Alhamdulillah, insya Allah saya akan tunggu. Oiya tiap hari Sabtu dan Ahad dik Aland ada kegiatan rutin?”,
“Kalau kegiatan rutin tidak ada,” Aland menjawab singkat.
“Alhamdulillah, boleh saya usul satu agenda untuk Dik Aland lakukan selama dua bulan ke depan?” Adnan menyodorkan lembaran brosur kepada Aland.
“Tadi ketika kajian, saya melihat brosur itu. Entah kenapa saya sangat berharap Dik Aland bisa mengikuti acara tersebut. Kebetulan salah satu panitianya itu tetangga saya dan tadi saya sudah menghubunginya. Sangat disayangkan kuotanya sudah penuh. Setelah saya berusaha negosiasi, alhamdulilah bisa masuk satu orang lagi, saya daftarkan nama dik Aland. Sebelumnya saya tanyakan apa ada nama tersebut yang sudah mendaftar dan katanya belum. Dik Aland bisa ikut kan?, kuliah perdananya mulai besok Sabtu.” Adnan menatap wajah Aland yang sedang cermat membaca brosur, kemudian ia tersadar dan berpaling.
“Insya Allah saya bisa ikut. Terimakasih Kak Adnan, saya memang berharap ada kegiatan seperti ini, dan saya baru lihat info ini sekarang. Ohya kuotanya tidak bisa ditambah dua orang lagi?” Aland bertanya kepada Adnan, kemudian berpaling ke arah Tara yang sejak tadi hanya diam mendengarkan Aland dan Adnan saling berbincang.
“Tara, kamu mau ikut juga kan?”
Wah sayang sekali, besok pagi aku akan mudik sampai pekan depan. Tapi coba besok kamu tanyakan dulu, apa boleh ada tambahan peserta.” Tara seksama membaca brosur itu, ia pun berharap bisa ikut kuliah itu.
“Iya Dik Aland, besok coba ketemu dengan Nisa. Dia tetangga saya yang menjadi panitia kegiatan tersebut, barangkali bisa menambah satu orang lagi.” Adnan membantu menjawab permintaan Tara.
Sembilan puluh menit berlalu. Pertemuan keempat itu usai dengan menyisakan gejolak hati yang kian bertambah di hati Aland dan Adnan. Mereka berdua sama-sama ingin segera meredakan gejolak itu dengan jalan yang halal dan berkah. Di setiap akhir pertemuan, mereka selalu saling mengingatkan untuk senantiasa rajin melaksanakan shaum sunnah.

--- ooo ---

Sudah tiga hari ini aku hanya duduk sendiri di bangku ini, di taman kota ini. Aku tidak dapat meneruskan kisah ini seorang diri. Aku tidak mengerti apa yang sedang Aland rencanakan bersama Adnan, rencana besar itu, betul-betul membuatku penasaran.
Aku akan tetap berada di taman ini. Aku akan menunggu hingga temanku kembali pulang. Hanya dia yang dapat kuandalkan saat ini. “Kawan, cepatlah pulang,” bisikku dalam hati, terbersit rasa rindu dari relung hati.
Bagiku taman ini merupakan tempat yang sangat nyaman, nyaman untuk menunggu, berbagi cerita, atau bahkan sekedar melamun. Kau tentu juga pernah berada di taman ini, taman dengan hamparan rumput yang sangat luas ini. Jika kau tidak lupa atau tidak melupakannya.
Taman ini seperti menggantung dibawah awan jika kau memandang ke arah sungai yang mengalir di bawahnya. Namun jika kau memandang ke atas, taman ini seperti berada di salah satu ujung pelangi, hamparan layar tak terbatas, begitu dekatnya dengan segala keindahan.  
--- ooo ---

Malam itu, setelah selesai makan malam bersama, setelah Aland dan Cyra membantu Mami membereskan meja makan dan dapur, Abi memanggil Aland di ruang tamu. Aland berpikir Abi akan membicarakan hal itu. Ia melihat Cyra bersama Mami sedang asyik menonton televisi di ruang tengah. “Semoga Cyra tidak menyadari panggilan Abi tadi,” batinnya, lalu segera menuju ruang tamu.
“Aland, bagaimana tentang permintaan Abi?, kapan bisa dilaksanakan?” Abi berterus terang menanyakan hal itu setelah Aland duduk di sampingnya.
Tepat seperti dugaan Aland, ia pun langsung menjawab pertanyaan Abi.
“Hari Ahad besok Abi ada di rumah?” Aland mencoba untuk menyesuaikan dengan jadwal Abi terlebih dahulu.
Abi berpikir sejenak, “Insya Allah hari Ahad Abi tidak ada agenda. Ya, Abi ada di rumah, selain untuk jamaah sholat di masjid.” Abi tersenyum menatap Aland.
“Alhamdulillah, besok Aland pastikan lagi jam berapa Kak Adnan akan ke rumah,” suara Aland terdengar cukup pelan. Ia benar-benar khawatir Cyra akan mengetahui pembicaraan ini. Meskipun Aland ingin membicarakan banyak hal tentang ini kepada Abi, ia memutuskan untuk menyudahi percakapannya dan segera bergabung bersama Cyra dan Mami di ruang tengah. Sebelum Cyra menyadari pembicaraan ini.
“Abi, Aland kembali ke ruang tengah dulu ya.” Aland beranjak dari kursinya.
“Iya, Abi ingin baca buku dulu di sini.” Abi memahami tingkah Aland yang tidak tenang sejak ia memanggilnya tadi.
Aland segera menuju ruang tengah dan duduk di samping Cyra. Ia mencoba mengajak adiknya bercanda. Hari ini tepatnya sejak tadi pagi sikap Cyra belum kembali seperti biasanya, khususnya kepada dirinya.
Cyra adalah anak yang ceria dan periang. Sulit sekali menemukan waktu kapan dia murung atau bermuka masam. Kalaupun Cyra sedang kesal, batas waktunya tidak lebih dari setengah hari, dan Abi yang paling jago melelehkan rasa kesal Cyra. Sedangkan Aland sering gagal mendekati Cyra ketika hatinya sedang kesal, apalagi untuk kasus ingkar janji kemarin. Aland berpikir sepertinya butuh pendekatan ekstra dan serius untuk mengembalikan wajah periang adiknya. Aland menyadari bahwa ia rindu adik satu-satunya itu.
“Cyra, sedang nonton film apa sih kok tidak ajak kakak?, kan tidak seru kalau ketawa sendiri.” Aland menggoda adiknya yang sedang asyik nonton film.
“Dulu kakak pernah nonton film ini kok. Cyra juga sudah pernah nonton, cuma masih lucu aja meskipun ditonton lagi.” Cyra menjawab datar tanpa menoleh ke arah kakaknya.
Eh, Mami masih mau nonton filmnya?, dipikir-pikir bosan juga kalau sudah pernah nonton, Cyra mau bobo saja ya Mi.” Tiba-tiba mulut Cyra menguap sambil bicara ke arah Mami.
“Mami mau ganti acara lain saja. Ga seru juga kalau ketawa sendiri.” Mami menunjukkan raut muka cemberut. Niatnya mencoba untuk mendamaikan kedua putrinya itu.
Mmm Cyra ngantuk ya Mi. Cyra mau bobo saja.” Cyra beranjak dari tempat duduknya dan berlalu menuju kamarnya tanpa permisi dan melihat ke arah Aland.
Aland hanya menatap adiknya pergi menuju kamar, ia menyadari betul bahwa adiknya belum bisa didekati. Hati Aland mulai agak gelisah dan cemas dengan sikap Cyra kepadanya sejak ia mengingkari janjinya itu. Ia tak menyangka bahwa lupa yang ia tak sengaja itu dapat membuat Cyra mendiamkannya lebih dari sehari.
Hmm sepertinya Cyra masih marah ya ke Aland?” Aland bertanya ke Mami.
“Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir. Mungkin besok-besok juga sudah kembali ceriwis lagi. Usia seperti Cyra itu memang sangat ingin menunjukkan sikap ke-aku-annya, khususnya dihadapan orang-orang terdekatnya.” Mami mencoba menenangkan kecemasan Aland, namun kata-kata Mami terlihat ragu dan membuat Aland semakin tidak enak hati.
“Aland harus bagaimana ya Mi?, Aland tidak pandai membujuk rayu nih. Mami atau Abi coba tanya dia ya,” raut muka Aland memohon penuh harap kepada Mami.
“Mami tidak mau menegur sikapnya itu, sampai Cyra sendiri yang akan cerita ke Mami. Mami yakin betul tentu dia juga tidak nyaman dengan sikapnya seperti itu ke kamu, dan tidak akan bertahan lama. Sudah, sekarang kamu memikirkan hal lain yang lebih penting. Oiya bagaimana jadwal kursus memasaknya sudah disusun belum?” Mami mengalihkan topik pembicaraan.
Sebenarnya Aland masih ingin membahas sikap Cyra, tapi Mami telah mengingatkan akan hal penting yang perlu ia diskusikan dengan Mami.
Eh iya itu Mi, perbendaharaan menu masakan yang Aland hafal kan masih sedikit. Bagaimana kalau Mami yang menyusun menu masakan apa saja yang perlu Aland kuasai betul sebelum masa itu datang. Bagaimana Mi?” Aland meminta tolong bantuan Mami lebih tepatnya membujuk Mami.
Ah kamu, berarti Mami yang sedang persiapan. Kamu coba dulu menyusun jadwalnya, nanti Mami kasih saran dan masukan. Begitu ya,” Mami tegas menolak bujukan Aland.
Mmm iya deh Mi. Nanti Aland browsing di internet dulu, selanjutnya Aland serahkan ke Mami ya,” Aland menuruti kata-kata Mami.
Nah begitu dong. Persiapan itu harus total.” Mami tersenyum menggoda Aland.
Sebenarnya Mami ingin menanyakan banyak hal tentang persiapan yang sedang Aland kerjakan, lebih dari sekedar persiapan urusan dapur. Mungkin bisa dikatakan Mami ingin berbagi banyak hal tentang persiapan hati, lebih tepatnya Mami ingin mencurahkan isi hatinya yang semakin hari semakin gelisah. Namun Mami menyadari bahwa Mami tidak ingin terbawa perasaan saja dan hanya akan menambah beban isi pikiran dan hati Aland. Aland yang harus mempersiapkan banyak hal untuk meninggalkannya
“Mami kenapa?, kok tiba-tiba terdiam sambil lihat Aland seperti itu,” Aland memecah lamunan Mami.
“Mami sudah ngantuk ya?, tidur saja yuk, filmnya juga sudah selesai.”
Mami tersadar dari lamunannya.
Yuk, Mami juga mau tidur saja,” Mami spontan menjawab pertanyaan Aland.  
“Aland ke kamar duluan saja, Mami tunggu Abi dulu.” Mami tersenyum sambil melihat Abi yang masih membaca buku di ruang tamu.
Ok, Assalamu’alaikum.” Aland pun membalas senyuman hangat Mami dan berlalu menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya, Aland kembali duduk di depan meja belajar. Sebenarnya ia belum begitu mengantuk, ia hanya ingin segera melihat sejauh mana persiapannya. Ia kembali membuka buku kuningnya. Ya, buku catatan besampul kuning yang ia khususkan untuk menuliskan segala persiapan menuju masa itu.
Oiya hari Sabtu dan Ahad harus mulai aku jadwalkan untuk kuliah pranikah itu,” Aland teringat informasi yang diberikan Adnan tadi pagi. Ia mengambil brosur itu dari dalam tasnya.
Kuliah pranikah itu akan dimulai hari Sabtu besok dan akan berlangsung selama dua belan kedepan. Dimulai dari jam tujuh pagi hingga jam sepuluh pagi. Tiap harinya akan diisi dengan topik yang telah ditentukan oleh panitia dan dibawakan oleh penceramah yang berkompeten untuk topik tersebut.
“Alhamdulillah, jadwalnya cukup ideal. Topik-topiknya pun disusun menarik. Insya Allah ini bekal ilmu yang berharga di saat waktu yang tepat,” Aland tersenyum sendiri. Lalu menyalin beberapa catatan penting dari brosur itu ke dalam buku kuningnya.
Ada beberapa topik utama yang akan dibahas dalam perkuliahan itu, antara lain :       
a.       Mempersiapkan bekal pernikahan
b.      Khitbah dan proses ta’aruf
c.       Kesehatan pra dan pasca menikah
d.      Seputar walimatul ‘ursy
e.       Manajemen konflik dalam rumah tangga

Oiya aku juga harus browsing menu masakan yang akan kupraktekkan bersama Mami.” Aland teringat hal penting lain dan segera menyalakan laptopnya.
Ia mulai memilih menu-menu dasar yang harus ia kuasai, mulai dari belanja bahannya, cara memasaknya hingga cara menyajikannya. Tidak sampai satu jam untuk menemukan menu-menu yang ia pilih, kemudian ia segera menuliskannya di buku kuningnya. Sekitar lebih dari 10 menu yang sudah ia catat, antara lain : sayur lodeh, sayur asem, bumbu bacem, bumbu balado, bumbu semur, bumbu bali, sayur bayam, soto ayam, opor ayam, sup buntut, ayam goreng tepung, cap cay, cumi asam manis, bumbu kari, nasi kuning, nasi uduk, rawon daging, tumis kangkung, bumbu gulai.
Hmm banyak juga ya, semoga bisa terlaksana semua. Aku juga ingin bisa membuat kue-kue dan menu pelengkap lainnya yang sering Mami buat, harus aku jadwalkan betul ini bersama Mami, waktuku tidak banyak.” Aland menutup buku kuningnya dan segera mematikan laptopnya, ternyata matanya sudah cukup mengantuk.

Tak berselang lama, ia sudah berada di atas tempat pembaringan dengan mata terpejam dan tertidur pulas.  

2 komentar:

  1. Maaf sedikit berkomentar, ada tulisan-tulisan yang menurut saya sedikit salah “Kamu sudah sarapan?, nih aku bawa roti isi,

    (Kamu sudah sarapan?)Menurut aku setelah tanda tanya tidak usah lagi di beri (koma)

    dan satu lagi 'tanda kurung' () seharusnya digunakan untuk penjelasan, bukannya yang berisi pesan atau sebagainya biar enak dibaca.. Kita bisa menulisnya dengan tanda kutip dan dimiringkan, biar lebih enak dibaca..

    Oh iya jangan lupa mampir dan komentar tulisan saya disini http://motivasil4l.blogspot.co.id/ yahh widrita .. DITUNGGU...

    BalasHapus
  2. Trimakasih banyak,, komentarnya sangat bermanfaat :). Next post akan lebih cermat...
    Sesegera sy akan berkunjung ksana ;)

    BalasHapus