Malam itu,
setelah perbincangan urusan dapur selesai, Aland bergegas masuk kamar. Ia ingin
segera menuliskan rencana-rencana kecil yang harus dilakukan beberapa bulan ke
depan. Aland mengingat kembali pesan yang disampaikan Abi tadi, Abi ingin
segera berkenalan dengan Adnan.
Sebelum
Aland mulai menuliskan target-targetnya di buku kuning, ia mengambil hp-nya dan
mengirim pesan untuk Tara.
(Sahabatku
yang baik dan cantik. Sepertinya kita perlu bertemu dengan Kak Adnan. Abi ingin
segera ketemu dengan beliau, tapi aku berencana ada pertemuan dulu, aku ingin
kasih prolog dulu. Ku tunggu kabar baik segera.)
Tak lama
kemudian datang balasan pesan dari Tara. (Baik sahabatku yang tak kalah cantik.
Malam ini aku akan hubungi Mas Rian untuk urusan penting ini.)
Aland
tersenyum lega. Ia berharap esok akan mendapat kepastian waktunya dari Tara. Buku
kuning dan pulpennya pun kembali dalam genggamannya.
Beberapa
menit berlalu, halaman buku itu masih kosong. Aland masih serius berpikir,
pulpen masih berada di tangannya, menggantung di atas kertas.
“Aku perlu
membaca, aku butuh referensi, aku belum yakin harus memulai dari mana untuk
mempersiapkan semua ini,” Aland berbisik dalam pikirannya sendiri. Matanya pun
beralih pada rak buku bertingkat empat di sudut kamarnya. Ia mengambil beberapa
buku miliknya.