Sabtu, 12 Maret 2016

Chapter 4 : Persiapan Dimulai


Malam itu, setelah perbincangan urusan dapur selesai, Aland bergegas masuk kamar. Ia ingin segera menuliskan rencana-rencana kecil yang harus dilakukan beberapa bulan ke depan. Aland mengingat kembali pesan yang disampaikan Abi tadi, Abi ingin segera berkenalan dengan Adnan.
Sebelum Aland mulai menuliskan target-targetnya di buku kuning, ia mengambil hp-nya dan mengirim pesan untuk Tara.
(Sahabatku yang baik dan cantik. Sepertinya kita perlu bertemu dengan Kak Adnan. Abi ingin segera ketemu dengan beliau, tapi aku berencana ada pertemuan dulu, aku ingin kasih prolog dulu. Ku tunggu kabar baik segera.)
Tak lama kemudian datang balasan pesan dari Tara. (Baik sahabatku yang tak kalah cantik. Malam ini aku akan hubungi Mas Rian untuk urusan penting ini.)
Aland tersenyum lega. Ia berharap esok akan mendapat kepastian waktunya dari Tara. Buku kuning dan pulpennya pun kembali dalam genggamannya.
Beberapa menit berlalu, halaman buku itu masih kosong. Aland masih serius berpikir, pulpen masih berada di tangannya, menggantung di atas kertas.
“Aku perlu membaca, aku butuh referensi, aku belum yakin harus memulai dari mana untuk mempersiapkan semua ini,” Aland berbisik dalam pikirannya sendiri. Matanya pun beralih pada rak buku bertingkat empat di sudut kamarnya. Ia mengambil beberapa buku miliknya.

Jumat, 04 Maret 2016

Chapter 3 : Detektif Cilik


Hari Selasa.
Sejak bangun tidur, raut muka Cyra tidak berubah. Di rumah, Abi dan Mami hanya melihat muka cemberut Cyra. Abi yang pintar menggoda pun tidak berhasil mendapat senyum khas Cyra, bahkan Mami yang sudah memasakkan Cyra nasi goreng spesial pun tetap tidak mendapatkan sapaan pagi Cyra yang selalu ceria. Hingga Abi yang mengantarkan Cyra sampai depan gerbang sekolah pun hanya mendapatkan ciuman di tangan dan ucapan salam tanpa senyum.
Di ruang kelas, teman sebangku Cyra pun keheranan dengan muka kesal Cyra sejak masuk kelas tadi. Cyra hanya duduk dengan memasang muka kesal, teman sebangkunya tidak berani bertanya terlebih dahulu sebelum Cyra membuka pembicaraan. Teman sebangkunya ikut diam memperhatikan Cyra.
Sampai waktu istirahat, teman sebangkunya itu akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Cyra.
“Cyra, jajan ke kantin yuk, tadi pagi aku belum sempat sarapan, laper nih,ajak Anis, teman sebangku Cyra.
“Tadi aku sudah sarapan, jadi malas jajan,” Cyra menjawab tanpa sedikit pun melihat ke arah Anis.
Sekarang perhatian Cyra hanya tertuju pada kertas yang ia tulis sejak tadi. Anis berprasangka bahwa benar ada sesuatu hal yang menimpa Cyra, namun ia belum menemukan apa penyebab yang membuat Cyra bermuka kesal semenjak masuk kelas tadi pagi.

Selasa, 01 Maret 2016

Chapter 2 : Bertemu Ahli Masak


Hari Ahad.
Satu jam sebelum adzan shubuh berkumandang, Aland menghabiskan waktunya duduk berdiam diri di atas sajadahnya. Sajadah yang tidak pernah keluar dari kamarnya karena itu sajadah kesukaannya. Tubuh Aland hanya duduk terdiam, namun otak dan hatinya terus bekerja untuk memanjatkan segala doa yang Aland pinta kepada Sang Penggenggam Jiwa Manusia.
Aland melaksanakan sholat tahajud sebelas rakaat. Ia selalu merasa bahwa ia tidak pandai berdoa, ia merasa takut jika doa yang ia panjatkan berlebihan atau menyinggung kekuasaan Allah atau bahkan doanya itu memaksa kehendak-Nya.
Ya Allah...
Hanya kepadaMu kami berserah diri,
Hanya kepadaMu kami memohon pertolongan,
Hanya kepadaMu kami menggantungkan hidup kami,
Ya Allah...
Tuntunlah kami kepada jalan Mu yang lurus,
Jalan yang Engkau ridhoi,
Jalan orang-orang beriman,
Jalan orang-orang yang mencintaiMu dan RosulMu,
Jalan orang-orang yang senantiasa menyerukan agamaMu,
Ya Allah...
Jauhkanlah kami dari bisikan dan godaan setan,
Jagalah hati kami, pikiran kami, lisan kami, penglihatan kami, pendengaran kami, penciuman kami, tangan, kaki dan seluruh tubuh kami dari perbuatan sia-sia yang menjerumuskan kami kepada jalan yang sesat,